[SEASON 2]
Sekuel kedua dari cerita 'Pegasus From Diamond Planet'
"Aroma jiwamu sudah menyatu dengan kegelapanku. Aku akan menjemputmu saat rembulan memerah."
Sebuah mawar hitam misterius di atas meja akademi menghancurkan penyamaran gender White. Gadis berambut putih perak itu mengira ia hanyalah manusia biasa, sampai takdir menyeretnya ke dalam pusaran cinta posesif Ethan, calon Alpha serigala cahaya (Werewolf), dan kerajaan obsesif Aslan Dexter, sang raja iblis (Demon).
Di balik wajah sucinya, ada rahasia mengerikan: White terlahir dari sebuah kristal misterius yang jatuh dari langit, membawa esensi jiwa parasit masa lalu yang di cari oleh seluruh klan imortal.
Saat kutukan darah mulai bangkit dan aliansi antarras terancam pecah, White di hadapkan pada dua pilihan: menyerah pada kegelapan masa lalu, atau bertahan di bawah perlindungan pelukan sang Alpha?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Soobin Chan, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 7. Luka Di Balik Rambut Palsu
Seketika itu juga, Sarah dan Lucas saling berpandangan di dalam keremangan kamar tidur mereka. Sebuah gelombang ketakutan baru yang jauh lebih mengerikan kini merayap perlahan, mencengkeram relung hati kedua suami istri petani tersebut.
Krisis mereka saat ini bukan lagi sekadar memikirkan bagaimana cara menyembunyikan kaca jendela yang membeku dari penglihatan para petani desa Arcania, melainkan tentang fakta mengerikan bahwa para predator malam supernatural di luar sana—mungkin saat ini—sudah mulai menegakkan telinga mereka, mengendus aroma sisa energi es White yang mulai bocor ke atmosfer Arcania.
****
18 tahun kemudian...
"Haus sekali," gumam White.
Pelajar yang mengenakan seragam laki-laki itu menepikan sepeda bututnya di tepi jalan setapak.
Begitu jemarinya merogoh tas sekolah, ia mendapati botol minumnya telah kosong.
"Ah, sial," desahnya frustrasi.
Tanpa pikir panjang, ia melangkah menuju aliran sungai jernih yang kebetulan berada di pinggir jalan. Ia berjongkok, lalu menenggak air itu langsung dengan tangannya.
"Segarnya air pegunungan," ucapnya lega.
Namun, saat kembali menciduk air untuk tegukan berikutnya, White sesaat melupakan kekuatan aneh di dalam tubuhnya. Seketika itu juga, aliran sungai di sekitar jemarinya mendingin drastis. Air bergolak menjadi beku hingga telapak tangannya ikut mati rasa.
"Aduh, gawat!" serunya panik.
Ia buru-buru berdiri, menyambar sepedanya, lalu berlari tunggang-langgang sebelum aksinya ketahuan oleh warga sekitar.
Sesampainya di depan rumah yang berdiri di atas bukit, White memarkirkan sepedanya di depan pagar, tepat di bawah naungan pohon persik yang rindang. Dengan napas memburu, ia mengelap keringat di dahi, menarik napas panjang, lalu mengetuk pintu.
"Ibu, Aku pulang."
Suara itu lolos begitu saja dari bibir White. Terdengar datar, dingin, dan nyaris tak kentara, seperti embusan angin musim gugur yang membeku di ambang pintu rumah tua itu.
Matahari siang di langit Kota Arcania sebenarnya sedang terik-teriknya. Namun anehnya, bayangan yang jatuh di atas lantai kayu ruang tamu ini justru terasa begitu kelam dan sedingin es. Di bawah temaram cahaya yang menembus ventilasi, siapa pun yang melintas pasti akan mengira sosok ramping itu adalah seorang pemuda tampan.
Seragam maskulin khas SMA Luminara melekat pas di tubuhnya yang tegak. Potongan celana kain hitam dan kemeja putih berkerah kaku menyembunyikan lekuk tubuh yang seharusnya mencirikan seorang perempuan.
Namun, jika seseorang berani menatap lebih dekat, mereka akan menemukan kejanggalan pada sepasang manik mata gadis itu. Sepasang mata ungu yang redup, kosong, dan membawa beban yang terlalu berat untuk remaja seusianya.
"Siapa kamu?! Kenapa makhluk asing berani menginjakkan kaki di rumahku?! Pergi kau dari sini! Pergi!"
Lengkingan histeris itu memotong keheningan, memantul kasar di dinding-dinding kayu yang mulai melapuk dimakan usia.
Sarah Ester muncul dari kegelapan ruang tengah. Wanita berusia enam puluh tiga tahun itu berdiri dengan tubuh gemetar hebat. Wajahnya yang dipenuhi kerutan dalam tampak menegang, dikuasai oleh amarah delusional. Sorot matanya liar, bergerak ke sana kemari sebelum akhirnya mengunci sosok White seolah-olah gadis di ambang pintu itu adalah monster yang mengancam nyawanya.
Tanpa menunggu penjelasan, Sarah berbalik dan berlari ke arah dapur dengan langkah kaki tak beraturan.
Prang! Clang!
Suara denting logam terdengar riuh dari arah dapur. Sarah menyambar apa saja yang bisa digapai oleh jemarinya yang kurus di atas kompor. Detik berikutnya, wanita tua itu kembali ke ruang tamu membawa wajan besi hitam dan beberapa panci aluminium di pelukannya. Dengan sisa tenaga dari kegilaannya, ia melemparkan benda-benda logam itu ke arah White sekuat tenaga.
Prang! Prang! Prang!
Benda-benda itu menghantam lantai, menciptakan suara dentuman yang memekakkan telinga. Hebatnya, White sama sekali tidak menghindar. Jangankan melompat menyelamatkan diri, berkedip pun tidak. Ia membiarkan tubuh rampingnya menjadi sasaran empuk kemarahan ibunya sendiri.
Namun, sebelum logam-logam tajam itu menggores kulitnya, insting magis di dalam tubuh White bergerak refleks. Hembusan hawa beku yang tak kasat mata keluar dari tubuhnya, memotong laju benda-benda tersebut di udara hingga semuanya meleset dan hanya menghantam lantai kayu hingga cacat.
Bagi White, penolakan Sarah sudah menjadi makanan sehari-hari. Sejak pertama kali Sarah mengalami gejala demensia, White sudah terbiasa dengan hantaman benda-benda tersebut. Rasa hancur di dadanya selalu sama setiap kali melihat sang ibu menatapnya dengan tatapan benci seolah melihat seorang musuh.
"Berhenti, Sarah! Hentikan semua ini! Jangan sakiti anakmu lagi!"
Sebuah teriakan parau memecah badai histeria tersebut. Lucas Emerson mendorong pintu rumah dengan kasar. Pria paruh baya itu baru saja memarkirkan kuda tunggangannya yang masih memburu kasar di halaman depan.
Penampilan Lucas sangat mengenaskan. Kemeja kerjanya basah kuyup oleh keringat, dan debu jalanan menempel tebal di wajahnya yang kuyu. Ia tampak sepuluh tahun lebih tua dari usia aslinya akibat kelelahan bekerja melintasi perbatasan demi pekerjaan kecil.
"Dia bukan anakku, Lucas! Dia bukan!" Sarah menjerit sekuat tenaga, suaranya melengking menyakitkan telinga.
Wanita tua itu menerjang maju. Ia mengabaikan suaminya, lalu mencengkeram kerah seragam White dengan kuku-kukunya yang tajam dan gemetar.
"Di mana anakku?! Di mana anak laki-lakiku?! Cepat kembalikan dia padaku, pencuri! Kamu menyembunyikannya, kan?!"
Sarah mengguncang tubuh White dengan histeris, menuntut jawaban dari delusi yang menggerogoti otaknya. Putrinya hanya diam, membiarkan dirinya diguncang bagai daun kering yang pasrah ditiup angin.
Lucas menarik napas dalam-dalam, menelan seluruh kepedihan yang menghimpit dadanya. Tiga tahun telah berlalu sejak diagnosis penyakit Alzheimer menghancurkan seluruh kewarasan Sarah.
Sejak hari itu, rumah ini berubah menjadi medan perang ingatan yang luar biasa kejam. Penyakit itu mengunci Sarah dalam labirin masa lalu yang kelam. Otaknya telah menghapus seluruh eksistensi White. Sebaliknya, Sarah justru memuja-muja ingatan tentang anak kembar laki-lakinya yang telah hilang secara misterius dua puluh empat tahun silam—sebuah tragedi masa lalu yang belum pernah terpecahkan.
Dengan kelembutan yang dipaksakan, Lucas memegang tangan Sarah dan melepas paksa cengkeraman wanita itu dari kerah kemeja White.
"Sudah cukup, Sarah. Cukup. Lebih baik kamu istirahat di kamar sekarang. Ayo," ucap Lucas rendah, sekuat tenaga menahan gejolak emosi.
Lucas menuntun istrinya yang masih meracau menuju kamar di lantai bawah. Sementara itu, White tetap berdiri kaku di tempatnya. Matanya yang kosong menatap punggung kedua orang tuanya dengan pandangan yang menyayat hati.
Ketika pintu kamar akhirnya tertutup dan suara racauan Sarah mereda menjadi gumaman pelan, seluruh ketegangan di bahu White runtuh. Ia berbalik dengan langkah gontai, berjalan keluar menuju teras kecil rumah mereka, lalu mendudukkan diri di atas kursi kayu yang sudah lapuk. Gadis itu membiarkan angin siang menerpa wajahnya, berharap hawa dingin bisa sedikit menghilangkan rasa lelahnya.
Tidak butuh waktu lama bagi Lucas untuk keluar menyusul. Pria paruh baya itu membawa sebuah kotak P3K kecil di tangannya. Sepasang matanya berkaca-kaca melihat wajah pucat putrinya.
"Untuk apa Ayah membawa kotak P3K? Ayah tenang saja, seperti biasa kali ini aku berhasil menghindar dan semuanya aman terkendali," ucap White sendu.
"Kau serius? Tidak ada yang luka? Maafkan Ayah, White... Ayah gagal lagi," bisik Lucas, suaranya pecah oleh isak tangis yang mati-matian ia tahan.
"Ayah tidak bisa melindungimu, dan Ayah juga tidak bisa menjaga ibumu dengan baik."
"Aku baik-baik saja, Ayah," jawab White, suaranya nyaris menyerupai bisikan angin.
Pandangan matanya lurus menembus pagar halaman yang berkarat, menatap deretan pohon pinus sepi di depan rumah mereka.
"Seharusnya aku yang meminta maaf kepada Ayah dan Ibu. Mungkin... semua ini memang salahku sejak awal. Kehadiranku di rumah ini yang justru membuat Ibu semakin menderita karena terus-menerus diingatkan pada apa yang telah hilang dari hidupnya."
"Tidak, White! Jangan pernah berpikir seperti itu!" Lucas menyanggah dengan nada keras.
Bersamaan dengan kalimat tegas itu, jemari Lucas bergerak ke bagian belakang kepala White. Ia menarik ujung wig cokelat pendek yang menempel ketat di kepala putrinya sejak pagi.
Begitu wig murah itu terlepas, identitas asli yang selama ini terperangkap seolah meledak keluar.
Rambut asli White yang berwarna putih salju—sebuah anomali genetik yang teramat langka, berkilau, dan luar biasa indah—tergerai jatuh dengan anggun menutupi bahunya yang ramping.
Helaian rambut panjang yang menyerupai untaian kristal itu berkilau magis di bawah siraman cahaya matahari siang, menciptakan pemandangan yang sangat kontras dengan seragam maskulin SMA yang membungkus tubuhnya. White terlihat seperti makhluk dari dunia lain, cantik namun rapuh.
Biasanya, White selalu mengenakan wig berwarna hitam legam demi memicu ingatan visual ibunya tentang sang anak lelaki yang hilang puluhan tahun lalu. Namun, karena wig hitam andalannya rusak parah akibat robek dicuri seekor kera nakal saat ia sedang membersihkan diri di sungai beberapa hari lalu, dan mereka tidak memiliki uang sepeser pun untuk membeli yang baru, White terpaksa memakai wig cokelat murah ini ke sekolah.
Sialnya, perubahan warna rambut palsu yang mendadak itu justru memicu delusi terburuk Sarah, membuat wanita tua itu menganggap White sebagai penyusup asing yang berbahaya.
"Ayah ingin kamu menjadi dirimu sendiri, Nak. Sekali saja... bisakah kamu menuruti permintaan Ayah yang satu ini? Berhentilah bersembunyi di balik pakaian pria dan wig ini," tanya Lucas, suaranya melembut kembali sembari memeriksa kulit kepala White untuk memastikan tidak ada bekas luka baru yang tersembunyi di balik helai rambut putihnya.
White menggeleng pelan, seulas senyum pahit terukir di bibirnya yang pucat. "Aku tidak bisa, Ayah. Aku tidak mau membuat Ibu semakin membenciku jika melihat rambut putih ini. Biarlah aku tetap menjadi bayangan di rumah ini."
Lucas menghela napas panjang, sebuah embusan napas yang sarat keputusasaan yang mendalam. Ia tahu betul betapa keras kepalanya putri angkatnya ini, terutama dalam hal mencintai wanita yang telah membesarkannya, meski dengan cara yang teramat kejam. Namun, Lucas juga sadar bahwa situasi ini telah mencapai titik paling kritis.
Rahasia besar tentang hilangnya anak kembar mereka dua puluh empat tahun lalu, dikombinasikan dengan trauma psikologis Sarah yang semakin memburuk, telah menjelma menjadi bom waktu yang siap meledak kapan saja.
Pria itu tidak bisa membiarkan masa muda putrinya habis di rumah tua yang pengap ini.
"Kalau begitu... tidak ada pilihan lain bagi kita," Lucas menjeda kalimatnya. Ia menatap lurus ke dalam manik mata ungu White dengan tatapan yang luar biasa serius. "Besok, kamu harus pergi dari rumah ini, White. Ayah sudah mengurus semua dokumen kepindahanmu secara diam-diam. Kamu akan bersekolah di kota seberang, Kota Vespera."
White tersentak, matanya melebar. "Kota Vespera? Tapi Ayah, bagaimana dengan Ibu? Siapa yang akan membantu Ayah menjaganya?"