NovelToon NovelToon
Teror Arwah Ci Sepi

Teror Arwah Ci Sepi

Status: sedang berlangsung
Genre:Horor / Misteri / Balas Dendam
Popularitas:539
Nilai: 5
Nama Author: Soobin Chan

Sekuel keempat dari buku Sebelumnya: 'Cinderela Ubi Rebus, Kutukan Mbah Golok Sakti dan Skandal Jus Jeruk: Istri Sang CEO'.

Menghadapi operasi bedah jantung? dr. Rahsya ahlinya. Tapi dipaksa jadi bidan sapi persalinan tengah malam oleh preman kampung berkolor tali rafia? Itu bencana!

Liburan tenang Rahsya di Desa Ci Sepi berubah total menjadi arena pawai hantu sejak ia menolong seorang anak kecil bernama Nathan.

Di tengah kekacauan mistis dan hilangnya para warga secara tragis, hadir Amel—gadis berisik yang selalu merepotkan namun berhasil mengacaukan detak jantung dokternya. Bisakah sang dokter rasional bertahan hidup, atau jiwanya akan tertinggal di dimensi lain telaga?

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Soobin Chan, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bab 2. Teror Mistis dan Teror Pelaminan

"AAAAA SETAANN!" teriak Rahsya histeris.

Tanpa pikir panjang, ia melompati kepala itu bak atlet lari gawang asal Kenya. Namun—

Wekkkk!

Itu bukan suara bebek liar, bebek milik warga, apalagi kodok terjepit. Itu adalah suara celana kain Rahsya yang sobek karena melompat terlalu lebar.

Namun, ia sudah tidak peduli. Soal harga diri, biarlah dipikirkan belakangan. Toh, di sini gelap dan tidak ada yang melihat juga. Kalaupun ada yang melihat, paling-paling hanya si hantu kepala tadi.

Ia terus memacu langkahnya menembus hutan jati dan perkebunan warga. Persetan dengan tanaman jagung yang ia terjang atau sawah yang membuatnya hampir tergelincir; yang ada di pikirannya hanyalah menjauh dari telaga terkutuk itu. Singkong di pundaknya bergoyang hebat, menambah beban larinya yang sudah kepayahan akibat dilanda kepanikan luar biasa.

Brukk!

Sesampainya di depan halaman vila, Rahsya langsung membanting singkong itu ke tanah hingga menimbulkan suara debum keras.

Dengan tangan yang bergetar hebat, ia merogoh kantong celananya. "Mana sih kuncinya?! Suka mendadak nyebelin, enggak bisa diajak kerja sama!" gerutunya di sela napas yang tersengal-sengal. Ia mulai membongkar tas medisnya dengan panik, mencari benda logam kecil tersebut.

"Mas... Mas cari ini, ya?"

Sebuah suara lembut namun sedingin es terdengar dari arah samping.

Rahsya yang masih sibuk mengubek tasnya langsung menoleh tanpa berpikir panjang.

"Makasih ban—"

Kalimatnya terputus di udara. Saat ia mendongak untuk melihat siapa sang "penolong" baik hati itu, jantungnya seolah berhenti berdetak. Kunci vilanya melayang di udara, dipegang oleh sepasang tangan pucat. Namun, di atas leher sosok itu... kosong. Hanya ada kerah baju yang berlumuran cairan merah gelap.

"AAAAA!"

Rahsya menyambar kunci itu secepat kilat, membuka pintu vilanya dalam satu gerakan brutal, lalu menghambur masuk ke dalam.

BRAAAKKKK!

Ia membanting pintu kayu itu hingga bergetar, memutar anak kunci tiga kali, lalu menyandarkan punggungnya di balik pintu dengan napas memburu. Keringat dingin mengucur deras di keningnya. Di luar sana, sosok wanita tanpa kepala itu masih berdiri diam di dalam kegelapan, sementara singkong pemberian Pak Udin tergeletak malang di teras rumah.

"Hihihihi..." si hantu malah tertawa kecil, suaranya melengking ngeri sebelum perlahan lenyap.

Malam itu, Dokter Rahsya sadar, liburan di Desa Ci Sepi akan menjadi kenangan yang takkan pernah bisa ia lupakan seumur hidup—jika ia berhasil bertahan hidup sampai besok pagi.

****

Keesokan paginya, Rahsya masih terpaku di sofa tua vila dengan tatapan kosong. Ia terpaksa menetap di Ci Sepi bukan karena cinta pada alam, melainkan karena rumahnya sendiri di Jakarta telah berubah menjadi medan perang perjodohan.

Jika ia pulang ke apartemen, pintu rumahnya akan diketuk oleh deretan wanita pilihan mamanya. Jika ia pergi ke rumah sakit, papanya akan merangkap jabatan dari Direktur Utama menjadi Mak Comblang. Baginya, teror wanita tanpa kepala semalam bahkan masih terasa lebih logis dan masuk akal daripada teror "pasukan pencari menantu" yang dipimpin oleh orang tuanya sendiri.

Drrttt... Drrttt...

Ponsel di atas meja kayu bergetar hebat. Nama "Papa" berkedip di layar, seolah-olah sedang berteriak minta segera diangkat. Rahsya menghela napas panjang sebelum akhirnya menempelkan ponsel itu ke telinga.

"Sya, pulang, Nak! Papa sudah menyiapkan tempat untukmu bertemu dengan anak teman Papa. Pokoknya kamu harus datang!" Suara berat Marsel di seberang telepon langsung menyerbu tanpa basa-basi.

Rahsya memijit pangkal hidungnya yang berdenyut, matanya terpejam menahan kantuk karena semalam ia sama sekali tidak bisa memejamkan mata.

"Aku tidak mau, Pa. Papa saja yang menemui anak teman Papa itu kalau memang sesuka itu," jawabnya dengan suara serak yang kentara ketus.

"Ya tidak bisa begitu! Kan kamu yang mau dikenalkan, bukan Papa!"

Marsel menjeda kalimatnya, lalu tiba-tiba nada suaranya berubah menjadi lemah dan dramatis.

"Apa kamu tidak kasihan sama Papa? Uhukk... uhukk..."

Rahsya memutar bola mata, tahu persis bahwa itu hanyalah batuk akting yang biasa digunakan papanya saat sedang terpojok.

"Papa sudah tua, Nak. Papa butuh cucu darimu secepatnya."

"Segitunya Papa ingin cucu? Pernikahan itu bukan hal mudah, Pa. Kenapa tidak Papa saja yang membuat anak lagi dengan Mama kalau memang kesepian?" tantang Rahsya asal.

"Uhukk! Uhukkk!"

Kali ini Marsel terbatuk sungguhan karena tersedak ucapannya sendiri.

"Kamu ini mau jadi anak durhaka atau bagaimana? Tidak mungkinlah! Ibumu itu sudah 'turun mesin' begitu! Pokoknya Papa tidak mau tahu, kamu harus menemui dia. Papa sudah tentukan tanggal dan tempatnya!"

"Tapi, Pa, aku tidak bisa..."

"Oke, kalau kamu masih tetap menolak, kamu harus mendapatkan calon istri sendiri dan membawanya pulang untuk Papa. Papa beri waktu kamu satu minggu!"

Tut!

Sambungan diputus sepihak, menyisakan suara dengung yang membuat Rahsya ingin melempar ponselnya tepat ke telinga hantu tanpa kepala semalam. Ia menyandarkan kepalanya ke bantal sofa, merutuki nasibnya yang kini dikejar oleh dua jenis teror sekaligus: teror mistis dan teror pelaminan.

****

Terik matahari siang itu tidak menghalangi antusiasme warga Ci Sepi. Garasi vila yang biasanya kosong kini berubah fungsi menjadi klinik dadakan.

Rahsya duduk di balik meja kayu kecil, mengenakan jas putih kebanggaannya yang tampak sangat kontras dengan suasana garasi yang berdebu. Meskipun motor sport-nya terparkir merana di pojokan garasi, ia tetap berusaha menjaga profesionalitasnya sebagai seorang dokter lulusan ibu kota.

"Berikutnya, silakan masuk!" seru Rahsya sambil merapikan tumpukan kertas resep.

Seorang bapak-bapak paruh baya masuk dengan langkah kaku. Wajahnya meringis seolah-olah ia baru saja menduduki paku panas. Rahsya memperhatikannya dengan saksama.

"Apa keluhannya, Pak?"

Bapak itu melirik ke kanan dan ke kiri, memastikan tidak ada warga lain yang sedang mengintip di sela-sela pintu garasi.

"Ini, Dok... saya malu," bisiknya pelan, nyaris tidak terdengar.

"Tidak usah malu, Pak. Beritahu saja saya. Silakan Bapak berbaring dulu di ranjang periksa," ucap Rahsya berusaha menenangkan. Ia berdiri, bersiap dengan stetoskop yang mengalung di lehernya.

Namun, bapak itu tetap bergeming di pinggir ranjang, tidak mau merebahkan badannya. "Begini, Pak Dokter. Pantat saya korengan. Jadi yang diperiksa ya itunya... bukan dada atau perut saya."

Rahsya tertegun sejenak. Ia menarik napas dalam, lalu menghelanya dengan pasrah. "Bilang dong, Pak, dari tadi."

Dengan gerakan hati-hati dan sedikit menahan napas, Rahsya menyingkap sedikit celana bapak tersebut. Seketika, matanya membelalak. Luka koreng di sana ternyata sudah meradang hebat, kemerahan, dan aromanya... yah, cukup untuk membuat Rahsya menyesal tidak memakai masker double sejak pagi.

Setelah memberikan suntikan antibiotik dan menyiapkan salep khusus, Rahsya kembali duduk di kursinya sambil menuliskan instruksi pemakaian obat di atas kertas resep.

"Kenapa tidak diobati segera, Pak Anwar? Kenapa Bapak malah membiarkan korengnya menyebar luas sampai mirip lapangan futsal begini?" tanya Rahsya heran, sekaligus gemas melihat betapa abainya pasien di depannya ini.

"Saya juga tidak tahu, Pak Dokter," jawab Pak Anwar dengan wajah tanpa dosa.

"Lah? Kan Bapak yang punya badan, kenapa bisa tidak tahu begitu?" Rahsya menggeleng-gelengkan kepala.

Pak Anwar nyengir kuda, memperlihatkan deretan giginya yang sudah tidak lengkap lagi. "Kemarin saya baik-baik saja, Dok. Tapi setelah saya mandi di air telaga semalam, pantat saya mendadak jadi begini."

Seketika, pulpen di tangan Rahsya berhenti bergerak. Bulu kuduknya meremang hebat saat mendengar kata 'telaga'. Ingatannya langsung melompat pada insiden kepala menggelinding dan sosok wanita tanpa kepala beberapa jam yang lalu.

"Bapak... mandi di telaga yang ada pohon beringin besarnya itu?" tanya Rahsya dengan suara yang sedikit bergetar.

"Iya benar, Dok. Memangnya kenapa ya, Pak?" tanya Pak Anwar penasaran. Matanya menyipit, mencoba membaca ekspresi sang dokter yang mendadak berubah pucat.

Rahsya tersentak. Ia buru-buru memutuskan kontak mata dan menggeleng kuat-kuat hingga kacamatanya hampir merosot dari batang hidung.

"Enggak, Pak. Enggak kenapa-kenapa," potongnya cepat. Suaranya sedikit meninggi karena gugup.

Ia menyodorkan bungkusan obat dengan tangan yang sedikit gemetar. "Silakan dibawa obatnya, Pak. Diminum rutin, dan... sebaiknya jangan mandi malam-malam dulu. Semoga lekas sembuh."

"Terima kasih banyak, Pak Dokter. Mari," ucap Pak Anwar sambil tersenyum ramah, lalu melangkah keluar dari garasi vila tersebut.

Rahsya tidak langsung memanggil pasien baru. Ia menarik napas panjang, mengisi paru-parunya dengan udara sore yang mulai mendingin, lalu mengembuskannya perlahan. Tubuhnya merosot, menyandarkan punggung yang terasa kaku pada sandaran kursi kayu. Bayangan kepala yang menggelinding manja di depannya semalam masih menari-nari di pelupuk mata setiap kali ia berkedip.

"Pasien selanjutnya..." panggil Rahsya. Suaranya terdengar hampa di dalam ruangan yang mulai temaram itu.

Hening. Tidak ada sahutan, tidak ada bunyi langkah kaki di atas kerikil halaman, pun tidak ada suara pintu yang didorong. Hanya terdengar suara gesekan daun jati yang tertiup angin sore dari kejauhan.

Rahsya bangkit dari duduknya dengan gerakan lambat. Ia berjalan menuju pintu garasi, melongokkan kepalanya ke luar untuk mengecek halaman vila. Kosong. Langit di atas Ci Sepi mulai berubah warna menjadi jingga keunguan, menciptakan bayangan-bayangan panjang pepohonan yang terlihat seperti jemari raksasa di atas tanah. Benar-benar tidak ada orang lagi yang mengantre.

Ia melirik jam tangan peraknya. Pukul 16:32 sore.

"Cukup untuk hari ini,"

1
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!