NovelToon NovelToon
System Tycoon: Mulai Dari Mendapatkan 1 Juta Perhari

System Tycoon: Mulai Dari Mendapatkan 1 Juta Perhari

Status: sedang berlangsung
Genre:Sistem / Dikelilingi wanita cantik / Crazy Rich/Konglomerat
Popularitas:4.7k
Nilai: 5
Nama Author: Gen-1

Seorang pemuda yang memiliki rasa haus akan mimpi menjadi orang kaya, berangkat merantau penuh harapan tinggi.

Tapi, sesampainya dikota, tamparan keras menghantamnya.

Ternyata hidup dikota tidak semudah yang dia bayangkan.

Sampai pada akhirnya sistem datang seperti malaikat yang jatuh dari langit, memberi jalan baru baginya untuk melawan kerasnya hidup didunia orang dewasa.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Gen-1, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bab 5. Bertemu Kenalan.

30 menit kemudian...

Peramot Plaza.

Suasana di dalam mall begitu ramai, Yuda yang sudah berpakaian rapi, atas pakai kemeja, bawah pendek chinos, rambutnya agak panjang.

Dia berkeliling didalam mall mencari toko pakaian, tapi ia tidak menemukannya.

Sebenarnya banyak pakaian yang dijual dilantai 1, tapi yang ia cari adalah toko Armani.

Dia sudah menyusuri lantai 1 sampai lantai 2 masih tidak ketemu.

Maklum sudah kaya, pastinya belinya yang berkualitas.

Ngomong-ngomong, ia juga sudah mengaktifkan kartu cashback 100x lipat dengan batas waktu 24 jam.

Tepat saat Yuda merasa sedikit frustasi dan mencoba pergi mencari toko Armani di lantai atas.

Suara lembut dan menyenangkan memanggilnya dari belakang.

"Yuda!"

Tanpa sadar, Yuda menoleh ke belakang lalu melihat seorang wanita cantik.

Wanita itu berjalan mendekat dengan langkah ringan.

Rambut hitam panjangnya diikat tinggi, sementara beberapa helai rambut jatuh lembut di sisi wajahnya.

Wajahnya tampak manis dengan senyum hangat yang seolah membuat suasana di sekitarnya terasa lebih menyenangkan.

Ia mengenakan kaus putih sederhana yang dipadukan dengan rok denim pendek dan sepatu sneakers putih.

Sebuah tas tangan berwarna cokelat tergantung di bahunya, memberikan kesan kasual namun tetap terlihat rapi dan anggun.

Untuk tubuhnya terlihat memiliki lekuk yang menonjol dan feminin.

Bagian dadanya tampak penuh, sementara pinggangnya ramping dan berpadu dengan pinggul yang berisi, semakin terlihat jelas karena rok denim yang pas mengikuti bentuk tubuhnya.

Penampilannya memberikan kesan menggoda tanpa menghilangkan sisi manis dan kasual dari sosoknya.

Dengan rambut panjang yang terikat tinggi, senyum lembut, serta tatapan yang seolah sengaja tertuju padanya, wanita itu terlihat semakin menarik ketika berjalan mendekat.

Saat tatapan mereka bertemu, wanita itu tersenyum sedikit lebih lebar.

"Yuda, itu benar-benar kamu, kebetulan sekali." Suara wanita itu terdengar memikat dan sedikit genit.

Matanya menatap Yuda dari atas sampai bawah menilai tampilan, sedikit kejutan terlihat dimatanya. 'Ternyata dia cukup tampan juga jika pakai pakaian rapi.'

Yuda tersenyum menghiraukan tatapan menilainya, "Ternyata Mbak Risa, yah kebetulan sekali."

"Mbak Risa mau belanja?"

Risa mengangguk kecil, lalu menghela nafas berat. "Ya, mau beli beberapa barang dan kebetulan aku butuh refreshing juga. Capek ngurusin kerjaan."

Raut wajahnya berubah lelah dan tertekan ketika mengingat tentang kerjaan.

"Dan kamu? Apa kamu disini juga untuk belanja?" Risa sedikit penasaran dengannya.

Dia tahu pemuda di depannya ini hanyalah seorang kurir langganan yang sering dia pesan, karena ia sendiri adalah seorang penjual online.

Jadi ia sedikit penasaran, apa yang dibeli seorang kurir.

Alasan dia memanggilnya juga karena, penampilan Yuda sendiri yang tampan.

Sifatnya juga baik, dan dia sudah mengenalnya selama 2 tahun dan akrab.

Tidak seperti kebanyakan pria yang menatapnya dengan agresif seolah ingin memakannya Yuda menatapnya dengan tatapan bersih.

Penulis: apa iyah? Bilang aja tertarik dengan ketampanannya.

Yuda menganggukkan kepalanya, "Ya, aku sedang mencari toko Armani disini, tapi g ketemu." ekspresinya terlihat frustrasi.

Risa tertegun sejenak mendengar kata Armani, "Armani? Toko pakaian mewah itu? Apa yang ingin kau lakukan disana?"

Yuda menatap wajahnya terlihat bingung sungguh imut, "Tentu saja membeli pakaian, Mbak Risa pikir aku kesana untuk apa? Membeli makanan?"

Saat mengucapkan itu, ia menunjukkan ekspresi wajah datar, dan menatapnya seolah mempertanyakan kecerdasannya.

Risa terdiam beberapa saat sebelum akhirnya sadar setelah ditatap lama olehnya.

Tatapan Yuda yang datar terus tertuju padanya, seolah-olah sedang memandang seseorang yang baru saja menanyakan pertanyaan paling aneh di dunia.

"......"

Mata Risa berkedip-kedip.

Entah kenapa, tatapan itu membuatnya merasa sedikit malu.

"Kenapa kamu lihat aku begitu?"

Yuda masih menatapnya dengan ekspresi yang sama.

"Karena Mbak Risa terlihat seperti orang bodoh, saat menanyakan pertanyaan yang jawabannya sudah jelas."

Risa membuka mulut, lalu menutupnya lagi.

Baru kali ini ada orang yang berani mengatakan dirinya bodoh secara langsung.

Tapi entah kenapa dia tidak merasa kesal saat Yuda yang mengucapkan itu, ini perasaan yang aneh.

Lalu ia segera menyadari betapa bodohnya pertanyaannya tadi, pantas saja reaksinya begitu.

"Ya... aku cuma kaget."

Risa mengalihkan pandangan sejenak sambil mengusap rambutnya yang tergerai di sisi wajah.

"Selama dua tahun aku kenal kamu, kamu selalu datang sebagai kurir. Jadi ketika tiba-tiba kamu bilang mau belanja di Armani, wajar kalau aku kaget, kan?"

Namun rasa terkejut itu belum benar-benar hilang.

Risa kembali menatap Yuda. "Armani, lho..."

Matanya sedikit membesar lanjut berkata, suaranya sedikit ragu. "Kamu serius mau beli pakaian di sana? Bukannya aku remehin kamu, tapi... Toko Armani itu harga pakaiannya mahal-mahal, dan kamu...."

Yuda mengangguk santai tidak mempermasalahkan keraguannya.

Karena ia memang terkenal sebagai kurir, pasti akan membuat dia terkejut ketika mendengarnya akan pergi ke Armani, itu wajar.

"Memangnya kenapa?" Ia bertanya datar.

Risa hanya bisa menatapnya, meskipun ragu dengan Yuda, tapi melihat ketegasan dan wajah datarnya.

Ia merasa bahwa dia tidak sedang bercanda.

Dalam dua tahun mengenal Yuda, ia merasa cukup mengenal pemuda itu.

Tapi untuk pertama kalinya, ia mulai merasa bahwa mungkin selama ini ada sisi Yuda yang sama sekali tidak ia ketahui.

Sebuah pemikiran absurd tiba-tiba terlintas dibenaknya, 'Apa jangan-jangan Yuda sebenarnya anak orang kaya yang sedang merasakan hidup?'

Pada saat ia sedang bergumul dalam pikirannya menebak identitas pemuda didepannya.

Yuda melihat Risa linglung memanggilnya beberapa kali, "Mbak.... Mbak Risa, apa kamu disana? Kamu terlihat bengong."

Panggilan itu membangunkan Risa dari lamunan. "Ah? Ya, aku.... Aku hanya memikirkan sesuatu."

Wajahnya seketika berubah merah. 'Memalukan sekali.'

"Ngomong-ngomong soal Toko Armani, aku tahu dimana letaknya, mau ku antar?" Risa cepat-cepat mengalihkan topik dengan panik.

Yuda mengangkat alisnya.

Ia merenung sejenak lalu berpikir, kalau akan lebih bagus ditemani, apalagi itu wanita cantik.

Dan ia juga asing dengan setelan jas, sebagai wanita, Risa pasti tahu tentang penilaian setelan jas untuk pria kan?

Jadi ia mengangguk setuju, "Bagus, terimakasih Mbak Risa."

Risa melambaikan tangannya beberapa kali, "Tak perlu berterimakasih, aku juga lagi senggang... Jadi ayo, ke lantai 3."

Setelah mengatakan itu, ia berjalan cepat menuju lift, wajahnya masih sedikit memerah menahan rasa malu.

Yuda berjalan mengikutinya.

Dari belakang, ekor kudanya bergoyang lembut mengikuti langkah, punggungnya lurus dengan lekukan pinggang yang dalam, dan rok denim ketatnya membalut bokong membulat dengan sempurna.

Yuda mengamati pinggul berisi Risa yang bergoyang, hasratnya sedikit naik, 'Usia Mbak Risa katanya 30an.... Seperti yang diharapkan dari wanita, umur segitu lagi dipuncaknya.'

Risa yang ditatap sedemikian rupa olehnya, tidak menyadari karena masih memikirkan perilaku bodohnya.

Sedangkan Yuda pandangannya masih tak pernah beralih, sampai saat di lift, baru dia menoleh, wajahnya berubah tanpa ekspresi.

Beberap menit kemudian...

Keduanya melihat toko Armani yang bersinar karena pencahayaan lampu yang sangat terang.

Seolah takut tidak ada yang akan menyadari toko tersebut.

Dari balik kaca luar, nampak beberapa pramuniaga perempuan sedang melayani pasangan muda dan lainnya berdiri menunggu pelanggan.

Saat Risa dan Yuda melangkah masuk kedalam toko Armani.

Salah satu pramuniaga perempuan mendekati keduanya, wajahnya penuh senyuman profesional.

"Selamat datang di Toko Armani Pak, Bu, ada yang bisa ku bantu?"

Yuda mengangguk padanya lalu tanpa banyak kata, ia langsung memesan kaos, "Pesan 6 kaos dan 6 celana pendek chinos Ukurannya..."

Setelah mendengar ucapan Yuda, pramuniaga perempuan itu sedikit terkejut sejenak, 'Tidak kusangka aku bakal dapat pembeli besar.'

Ia sedikit gembira dalam hatinya.

Ekspresi dia yang tadinya hanya formalitas menjadi lebih tulus ketika Yuda membeli banyak pakaian, dan dia sendiri sudah menghitung dalam hati.

Perkiraan harganya 6 celana dan kaos itu sekitar 240 juta, jadi pasti dia bakal dapat komisi banyak.

"Tunggu sebentar pak, saya siapkan dulu." Pramuniaga itu berlari kecil dan bersemangat.

Sisi lain, Risa menutup mulutnya dengan kedua tangannya.

Kemudian matanya melebar terkejut menatap Yuda, "Yuda, Apa kamu tahu harga satuan merk Armani?"

Suaranya sedikit pelan saat mengatakan itu, karena meskipun dia tak pernah membeli tapi ia tahu harga.

Jika hitungannya benar, pakaian yang dipesan Yuda harganya mencapai 200 juta.

Yuda hanya tersenyum kecil. "Aku tahu, tenang saja Mbak, meskipun aku kurir, tapi aku punya uang cukup untuk membelinya."

Bab Berakhir.

1
Gege Mas
uwaaasyeekk
Gege Mas
luncurkan 10k katanya thor...gassa...
Gege Mas
yaaah masih kelas bsd...pikir otor beli rumahnya mc di pik 2 yang ada private jetty buat naruh kapal pesiar mini..baruu howrang kayah rayah..🤭
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!