Selama tiga tahun menjadi istri Arga Pratama, Rania selalu merasa tertekan karena dianggap gagal memberikan keturunan.
Arga mencintainya, tapi tak sanggup menahan tekanan ibunya yang mengancam akan mengakhiri hidup jika Arga tidak mau menikah lagi dan bercerai dengan Rania.
Akhirnya, Rania meninggalkan rumah tangganya dengan hati yang hancur.
Di sisi lain, Alvino Pratama, saudara sepupu Arga yang jauh lebih kaya dan berkuasa, ternyata sudah lama menyimpan perasaan pada Rania.
Rania pun menerima lamaran dari Alvino karena orang tua Alvino mengatakan Alvino juga tidak bisa memiliki keturunan. Rania berharap setidaknya ia bisa mendapatkan ketenangan karena tak lagi dikejar masalah anak.
Namun baru tiga bulan menikah, Rania dinyatakan hamil. Rania bahagia, tapi juga cemas. Bagaimana kalau kehamilannya dicurigai? Karena itu Rania menyembunyikan kehamilannya. Namun, tanpa sengaja Alvino mengetahui kehamilan Rania.
Lalu, apakah Alvino bisa menerima kehamilan Rania?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Mama Mia, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
01
.
Langit mulai berubah warna menjadi jingga keemasan saat Rania turun dari taksi di depan rumah besar milik keluarga Pratama. Wanita itu membawa beberapa kotak kue dan oleh-oleh yang baru saja ia beli sepulang kerja. Hari itu sebenarnya bukan hari istimewa, namun karena baru menerima bonus kecil dari kantor, Rania berpikir tidak ada salahnya berkunjung sedikit hadiah, berharap suasana rumah malam ini bisa terasa lebih baik.
Sudah tiga tahun ia mengarungi bahtera rumah tangga bersama Arga Pratama. Tiga tahun yang dipenuhi kebahagiaan sekaligus luka tersembunyi. Jika ada satu hal yang tak pernah berubah selama itu, maka hal itu adalah tatapan kecewa yang selalu terlihat jelas di mata ibu mertuanya. Itu karena sampai hari ini, Rania belum juga bisa memberikan seorang cucu bagi keluarga itu.
Rania menghela napas pelan, berusaha menenangkan hati sendiri, lalu melangkah masuk ke halaman rumah. Namun, langkahnya terhenti ketika suara teriakan keras terdengar dari dalam.
"Pokoknya Ibu mau kamu menikah lagi, Arga!" Itu adalah suara ibu mertuanya.
Rania langsung membeku di tempat. Kotak-kotak di tangannya nyaris terlepas jatuh. Tanpa sadar ia berdiri diam di dekat pintu utama yang sedikit terbuka, sehingga setiap percakapan di dalam terdengar jelas sampai ke telinganya.
"Aku tidak mau membahas hal ini lagi, Bu." Suara Arga terdengar lelah dan tak bertenaga.
"Tidak mau membahas bagaimana? Ini sudah tiga tahun, Arga! Apa kamu ingin garis keturunan keluarga ini berhenti begitu saja?"
Rania menahan napas rapat-rapat, jantungnya mulai berdebar kencang dan tidak beraturan.
"Rania adalah istriku, Bu. Aku mencintainya dan tidak ingin melukainya." Arga kembali membantah dengan tegas.
"Ibu tidak peduli!" Suara bentakan dari ibu mertua membuat tubuh Rania seketika menggigil. "Dia tidak bisa memberimu anak! Untuk apa mempertahankan wanita seperti itu?"
Seketika itu juga air mata langsung menggenang di pelupuk mata Rania. Selama ini ia sering mendengar sindiran dan ucapan pedas, tapi mendengar kalimat itu diucapkan secara langsung, rasanya jauh lebih sakit, bagaikan ada pisau yang mengiris dalam hatinya.
Di dalam ruangan terdengar suara benda bergeser kasar. Sesaat kemudian suara Arga kembali terdengar, kali ini meninggi karena marah.
"Pernikahan kami baru tiga tahun! Banyak di luar sana yang bahkan sampai sepuluh tahun tidak bisa memiliki keturunan! Kenapa Ibu tidak bisa bersabar?!"
Untuk sesaat hati Rania terasa sedikit hangat. Setidaknya suaminya masih berusaha membelanya. Namun rasa hangat itu segera sirna, tergantikan oleh rasa cemas yang semakin memuncak. Sebab suara ibunya kembali terdengar, kali ini terdengar lebih histeris dan mendesak.
"Ibu tidak peduli dengan orang di luar sana! Yang Ibu pedulikan adalah kamu, karena kamu putra ibu! Jadi sekarang, pilih salah satu!!"
"Apa maksud Ibu?"
"Pilih antara ibu atau perempuan itu!"
Suasana mendadak menjadi sunyi senyap. Jantung Rania berdegup semakin cepat, seolah ingin melompat keluar dari dadanya. Ia memberanikan diri mengintip sedikit lewat celah pintu, dan seketika wajahnya memucat.
Di ruang tamu, ibu mertuanya berdiri dengan mata yang memerah karena amarah. Dan di tangannya sudah tergenggam erat pisau buah, dengan ujung pisau mengarah pada leher Ibu mertuanya.
"Bu!" seru Arga kaget, langsung berdiri dari tempat duduknya.
Namun wanita itu justru mundur selangkah dan ujung pisau sudah menempel di lehernya. "Jangan mendekat!" bentaknya.
"Ibu, turunkan pisau itu!" pinta Arga dengan nada panik.
"Ibu sudah tidak mau menunggu lebih lama lagi, Arga!" serunya sambil menangis terisak. "Tiga tahun Ibu menanti hadirnya cucu. Tapi wanita itu tidak bisa memberikan apa-apa bagi keluarga ini! Ibu malu dengan teman-teman dan kerabat Ibu!"
"Bu, tolong tenang dulu..."
"Kalau kamu lebih memilih wanita itu daripada Ibu, lebih baik ibu mengakhiri hidup ibu sekarang juga!"
Tubuh Arga seketika menegang kaku, wajahnya terlihat sangat bingung dan tersiksa. "Ibu jangan bicara hal yang tidak-tidak," ucapnya mencoba menenangkan.
"Ibu serius, Arga!"
Pisau itu semakin ditekan ke kulit leher, hingga muncul garis merah tipis yang terlihat jelas.
Rania yang berdiri di luar langsung menutup mulutnya rapat-rapat, napasnya tercekat tertahan di tenggorokan.
"Ibu sudah tua, Arga," lanjut wanita itu dengan suara lirih namun penuh paksaan. "Ibu juga ingin sekali menggendong cucu seperti teman-teman Ibu. Apakah permintaan itu terlalu berlebihan?"
"Bu..."
"Kalau hari ini kamu tidak setuju untuk menikah lagi, ibu akan mengakhiri hidup ibu di depan matamu sendiri!"
"Ibu!"
Arga melangkah maju sedikit, namun ibunya segera menekan pisau itu lagi sebagai peringatan. Cairan berwarna merah menetes sedikit dari kulit lehernya. Tangannya gemetar hebat, air mata terus mengalir membasahi pipinya yang tertutup make up tebal.
Arga mengangkat kedua telapak tangannya sambil memejamkan matanya rapat-rapat, menahan beban yang terasa sangat berat. Beberapa detik terasa berjalan sangat lambat, hingga akhirnya ia membuka mata dan mengucapkan kata-kata yang terasa keluar dengan susah payah.
"Baik! Aku akan menuruti keinginan Ibu," ucap Arga dengan suara yang nyaris tak terdengar.
Pisau di tangan ibu mertua terlepas dan jatuh berdentang ke lantai.
Sementara di luar, Rania merasa seluruh dunianya ikut runtuh bersamaan dengan suara jatuhnya benda tajam itu. Wanita itu menggigit bibir bawahnya hingga terasa perih, berusaha menahan isakan tangis agar tidak terdengar. Dadanya terasa sangat sesak, seolah ada beban berat yang menindihnya. Ia ingin masuk, berteriak dan menjelaskan bahwa ia juga merasa lelah. Namun, kakinya terasa begitu berat, seolah tertanam kuat di lantai.
Rania merasa seluruh dunianya hancur mendengar persetujuan Arga. Kotak-kotak kue yang dibawanya terlepas dari genggaman dan jatuh ke lantai. Untung bunyinya tidak terlalu keras, namun cukup membuat tangannya gemetar hebat.
“Tidak... tidak mungkin... Arga tidak akan mengucapkan hal itu.”
Rania menggelengkan kepalanya berkali-kali. Bukankah Arga selalu mencintainya? Dan berjanji akan menghadapi segala hal bersama-sama? Mereka sudah bersumpah untuk saling setia. Lalu mengapa sekarang jadi begini?
Suara ibu mertuanya terdengar lagi, kali ini terasa penuh kemenangan yang sulit disembunyikan. "Kamu tidak membohongi Ibu, kan?"
Rania melihat Arga yang mengangguk. Dan akhirnya suara Arga terdengar lagi, menghancurkan setiap keping harapan yang masih tersisa di hatinya.
"Aku akan menuruti keinginan Ibu."
Dunia seolah berhenti berputar. Rania tidak lagi mendengar apa pun selain dengungan panjang yang memenuhi telinganya. Tangannya gemetar hebat, dadanya terasa nyeri, lebih sakit daripada segala hinaan yang pernah ia terima selama tiga tahun terakhir. Sebab kali ini, bukan orang lain yang menyakiti hatinya, melainkan suaminya sendiri. Orang yang paling ia percayai dan seharusnya menjadi tempatnya berlindung.
Dengan langkah gontai, Rania perlahan mundur meninggalkan teras rumah itu. Tak seorang pun menyadari keberadaannya, tak ada yang tahu bahwa ia telah mendengar seluruh percakapan yang menyakitkan itu. Ia melangkah keluar melewati gerbang, meninggalkan kotak-kotak oleh-oleh yang kini berserakan di lantai.
Rania tidak langsung pulang. Wanita itu duduk sendirian di bangku taman kota yang sepi. Ponsel di dalam tasnya terus bergetar berulang kali. Nama Arga muncul di layar, satu kali, dua kali, sepuluh kali, namun Rania sama sekali tidak mengangkatnya. Apa lagi yang harus ia katakan? Bahwa ia sudah mendengar dirinya akan segera digantikan? Atau tiga tahun pernikahan mereka yang ternyata kalah oleh ancaman bunuh diri ibu mertua?
mak semangat truus menulis ny ,, sehat2 trus mamak ku ,, 🫰🫰🫰🫰
nonis tidak ada pakai ijab kabul ya.kita adanya pemberkatan di gereja.
tidak harus ada orang tua yang jadi wali jabat tangan dengan mempelai pria...
pemberkatan di lakukan oleh pendeta atau pastor,diantara dua pengantin.
mohon di perhatikan lagi kk Thor
setau saya nikah di gereja itu namanya pemberkatan nikah oleh Pendeta.
tolong lebih diperluas referensinya. karena ketika kita membaca maka yang diharapkan ada bertambahnya pengetahuan bukan makin keliru.