Ardio adalah seorang mafia kejam sejak kematian istri yang meninggal karena di bunuh oleh musuhnya, padahal istrinya bari melahirkan seorang bayi.
Setelah kepergian istrinya, ia menjadi bertambah kejam, meskipun begitu, ia sangta lembut kepada putri kecilnya yang bernama Adel, bahkan menggantikan popok pun ia mau bahkan rela begadang agar buah hatinya tidak terganggu oleh masalah.
Hari ini ia sedang mengeksekusi penjahat yang ingin menganggu bisnisnya, Tiba-tiba saja ia mendapat telpon dari pengasuh anaknya jika Adel tidak bisa tidur tanpa dirinya, dan ia rela pulang, dan menyurh anak buahnya untuk mengeksekusi penjahat tersebut.
Meskipun ia mafia kejam, tapi ia adalah ayah yang penyayang.
Adel pun berusia masuk SMA favorit, tapi ia mendapatkan pembullyan daei teman Sekolahnya karena ada seorang pria primadona yang mendekatinya.
Sementara ia tidak sedikit pun menyukai sang primadona tersebut.
Tapi Adel menyimpan sendiri pembullyan itu hingga akhirnya di ketahui oleh Ardio.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon less22, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
31
Ruang bawah tanah di markas utama Ardio. Seorang pria paruh baya bertubuh kurus dengan tato ular naga berkepala dua di dadanya yang terikat erat di kursi besi.
Pria itu adalah salah satu sisa petinggi Black Cobra yang berhasil ditangkap hidup-hidup dari SMA Garuda Bangsa.
Ardio berdiri menyandarkan tubuhnya di dinding beton menatap Pria itu tajam.
Reno melangkah mendekati pria di kursi besi itu, memegang dokumen interogasi.
"Ayo bicara. Kamu punya waktu tiga menit sebelum Bos Ardio sendiri yang mengambil alih interogasi ini!" ujar Reno dingin tanpa emosi.
Pria terikat itu tertawa Dan batuk darah.
"Haha... batuk... Buat apa aku bicara?! Toh pada akhirnya kalian akan membunuhku juga, kan?! Ardio tidak pernah membiarkan orang-orang Black Cobra hidup!"
Ardio melangkah mendekat.
Ardio menarik sebuah kursi kayu, meletakkannya tepat di hadapan tahanan tersebut, lalu duduk santai sambil menatap ke dalam matanya.
"Kamu benar. Aku tidak akan membiarkanmu hidup. Tapi aku bisa memilih... apakah kamu mati dalam waktu lima detik tanpa rasa sakit, atau mati dalam waktu lima hari dengan setiap inci tulangmu dihancurkan satu per satu," bisik Ardio dengan suara pelan.
"S-apa... apa yang mau kamu ketahui dari kami, Ardio?!" gagap tahanan itu dengan suara gemetaran.
"Malam ini, Victor mengirim pesan padaku. Dia bilang, dia sendiri yang akan mencabut nyawa putriku seperti apa yang terjadi pada istriku belasan tahun lalu," ujar Ardio seraya memajukan tubuhnya sedikit.
Matanya menyipit tajam.
"Siapa yang menarik pemicu senjata malam itu? Lima belas tahun lalu, aku menghancurkan markas besar Black Cobra dan membunuh pemimpin kalian, tapi eksekutor utama yang menembak istriku menghilang tanpa jejak. Siapa dia sebenarnya?" Tanya Ardio dengan nada bernada dingin
Pria di kursi itu tertawa sumbang, sebenarnya Ia takut, tapi Ia tidak memperlihatkan ketakutannya.
"K-kamu... kamu pikir Victor cuma bawahan biasa saat itu?!"
"Jawab!" bentak Reno keras seraya mencengkeram rahang pria itu.
"VICTOR! VICTOR DALANGNYA! Victor bukan cuma bawahan biasa! Dulu... dialah eksekutor rahasia yang disewa langsung oleh saingan bisnismu! Dialah orang yang menarik pemicu dan menembak istri Anda di rumah malam itu!" jerit pria itu histeris karena panik.
DEG!
Mata Ardio membelalak, ia belasan tahun laia, aat istrinya terkulai tak bernyawa di pelukannya dengan darah bagaikan mimpi buruk yang paling mengerikan.
"Victor...? Jadi pria berwajah tirus dengan bekas luka tembak itu... dialah iblis yang merenggut ibu dari putriku?" bisik Ardio, suaranya bergetar hebat.
"I-iya! Dialah orangnya, Ardio! Victor sengaja memalsukan kematiannya malam itu dan bersembunyi di perbatasan luar negeri! Dia baru kembali dua bulan lalu karena tahu kamu punya anak perempuan! Dia mau membalas dendam dengan menggunakan putrimu!" jerit tahanan itu memohon-mohon.
Ardio berdiri dari kursinya perlahan. Napasnya terdengar berat.
"Reno," panggil Ardio dingin.
"Siap, Bos Ardio!"
"Di mana lokasi tempat persembunyian Victor detik ini?"
"Menurut pelacakan sinyal dari pesan suara terakhirnya, Victor dan sisa pasukannya berlindung di sebuah kompleks pabrik tua yang terbengkalai di kawasan pelabuhan timur, Bos," sahut Reno cepat.
Ardio memejamkan matanya sejenak, mengingat senyum manis sang istri tercinta.
"Siapkan seluruh kekuatan kita. Malam ini... aku sendiri yang akan mencabut nyawa Victor dan mengakhiri penyesalan belasan tahun ini," perintah Ardio dengan dingin.
"Bagaimana dengan tahanan ini, Bos?" tanya Reno melirik pria di kursi besi.
"Selesaikan tanpa rasa sakit. Dia sudah memberikan jawaban yang aku inginkan," kata Ardio tidak menoleh lagi saat melangkah keluar menuju pintu keluar.
"Siap, Bos Ardio."
Saat Ardio menaiki tangga menuju lantai atas markas, langkah kakinya bergetar oleh kobaran api dendam.
Musuh terbesar dalam hidupnya, pria yang telah merenggut kebahagiaan masa lalunya, sang istri tercinta dan hampir membahayakan masa depan putrinya.
Ardio tidak akan pernah berhenti sebelum Ia melihat Victor Mati di tangannya.
"Victor, setiap detik pun, aku tidak Akan membiarkan hidupmu dengan tenang, aku ingin kau rasakan 1000 Kali lipat dari apa yang di rasakan oleh istri ku!" kaya Ardio penih tekad.