Setelah dipecat dari pekerjaannya dan diputuskan oleh sang pacar di hari yang sama, Bima Aditama mengira hidupnya telah hancur, hingga sebuah "Sistem Pekerjaan Impian" mendadak muncul dan memutarbalikkan nasibnya.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon ex, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 17
Sinar matahari pagi menembus jendela kaca raksasa Presidential Suite di lantai teratas Hotel Grand Cakrawala.
Bima membuka matanya dengan perlahan dan meregangkan otot-otot tubuhnya di atas kasur super empuk tersebut.
Ini adalah hari Senin pertamanya sebagai seorang triliuner sekaligus hari pertamanya menjalani profesi baru.
Bima bangkit dari tempat tidur dan berjalan menuju kamar mandi marmer untuk membersihkan diri.
Setelah selesai, dia berdiri di depan lemari pakaian besar yang sudah diisi penuh oleh staf hotel dengan berbagai setelan jas mahal.
Namun Bima hanya melirik sekilas deretan jas bermerek tersebut lalu menggelengkan kepalanya pelan.
Dia lebih memilih mengambil kaus putih polos dan kemeja flanel pudar kesayangannya dari dalam tas ransel lamanya.
Mengenakan pakaian mahal hanya akan membuat orang-orang langsung menurut karena hartanya.
Bima ingin menundukkan para mahasiswa sombong itu murni menggunakan kecerdasan dan karismanya sendiri.
Setelah memakai celana jins dan sepatu kets yang agak kusam, Bima mengambil kunci mobilnya dan turun ke lobi.
Vrooom.
Mesin V8 twin-turbo dari Lamborghini Urus hitam itu mengaum buas saat Bima memacu mobilnya membelah jalanan pagi.
Tujuan Bima hari ini adalah Universitas Nusantara, kampus swasta paling bergengsi dan termahal di seluruh negeri.
Hanya anak-anak pejabat tinggi, pengusaha kaya raya, dan pewaris konglomerat yang bisa menuntut ilmu di sana.
Kurang dari tiga puluh menit, gerbang utama Universitas Nusantara yang menjulang tinggi seperti istana sudah terlihat di depan mata.
Bima memperlambat laju mobilnya dan masuk ke dalam area kampus yang sangat luas serta asri tersebut.
Kehadiran monster besi berwarna hitam pekat itu langsung menarik perhatian ratusan pasang mata mahasiswa di sana.
Banyak mahasiswa yang sedang berjalan menuju gedung fakultas langsung berhenti dan mengeluarkan ponsel mereka.
Mereka mulai memotret dan merekam Lamborghini Urus yang melaju pelan mencari tempat parkir itu.
Di kampus ini, melihat mobil sport seperti Porsche atau BMW adalah hal yang biasa setiap harinya.
Namun sebuah Lamborghini Urus edisi terbaru tetaplah pemandangan langka yang menandakan kasta kekayaan tertinggi.
Bima memarkirkan mobilnya di area parkir khusus Fakultas Bisnis dan Ekonomi yang cukup rindang.
Dia mematikan mesin lalu membuka pintu mobil dengan santai.
Semua mata yang sedari tadi mengawasi langsung membelalak kaget saat melihat sosok yang keluar dari dalam mobil mewah itu.
Mereka mengharapkan seorang anak konglomerat tampan dengan setelan jas desainer ternama atau pakaian hypebeast edisi terbatas.
Namun yang keluar justru seorang pemuda berpakaian sangat kasual dengan kemeja flanel pudar dan rambut yang sedikit berantakan.
Penampilan Bima benar-benar bertolak belakang dengan harga kendaraan yang baru saja dia kendarai.
Bima mengabaikan tatapan kebingungan mereka dan berjalan santai menuju gedung utama Fakultas Bisnis.
Dia mengambil kartu identitas dosen dari saku kemejanya dan mengalungkannya di leher.
Ting.
[Sistem Pekerjaan Impian: Pengingat Tugas]
[Jadwal mengajar Host pagi ini adalah Kelas Manajemen Bisnis 4A]
[Peringatan: Kelas ini memegang rekor telah membuat tiga dosen pengganti mengundurkan diri dalam satu bulan terakhir]
Bima membaca notifikasi dari layar biru transparan itu dengan senyuman miring yang meremehkan.
Mahasiswa nakal yang suka menindas dosen lemah adalah mainan yang sangat menyenangkan bagi Bima saat ini.
Bima melangkah masuk ke dalam gedung fakultas dan menyusuri lorong panjang menuju ruangan kelas 4A.
Suara musik yang sangat keras dan gelak tawa terdengar nyaring dari balik pintu ruangan tersebut.
Bima mendorong pintu kelas itu tanpa ragu dan melangkah masuk ke dalam.
Suasana di dalam kelas itu benar-benar lebih mirip seperti sebuah kelab malam kelas bawah daripada ruang perkuliahan elit.
Beberapa mahasiswa duduk di atas meja sambil bermain kartu, sementara yang lain asyik menonton video di tablet mereka.
Tidak ada satu pun dari mereka yang mempedulikan kehadiran Bima di ambang pintu.
Bima berjalan tenang menuju meja dosen di depan kelas dan meletakkan spidolnya di sana.
Tok tok tok.
Bima mengetuk meja kayu itu dengan cukup keras menggunakan buku absensinya.
Beberapa mahasiswa di barisan depan menoleh dengan tatapan malas dan sangat merendahkan.
Seorang pemuda berambut sedikit gondrong yang memakai jaket kulit mahal berdiri dari duduknya.
Pemuda itu bernama Reza, anak dari pemilik jaringan supermarket terbesar di kota ini sekaligus bos kecil di kelas tersebut.
Reza berjalan mendekati meja dosen sambil mengunyah permen karet dengan gaya yang sangat arogan.
"Hei, Mas petugas kebersihan, kalau mau menyapu nanti saja setelah kami selesai main," usir Reza dengan nada merendahkan.
Seluruh mahasiswa di kelas itu langsung tertawa terbahak-bahak mendengar ejekan Reza.
Mereka melihat penampilan Bima yang hanya memakai kemeja flanel lusuh dan langsung mengambil kesimpulan sendiri.
Bima sama sekali tidak marah, dia justru menyandarkan punggungnya di papan tulis dengan sangat rileks.
Dia membiarkan mereka tertawa sampai puas selama beberapa belas detik.
"Saya heran, kampus ini memungut biaya ratusan juta per semester."
Suara Bima tidak keras, namun entah mengapa intonasinya berhasil memotong suara tawa di ruangan itu.
"Tapi ternyata uang sebanyak itu tidak cukup untuk membeli tata krama dasar bagi para mahasiswanya."
Ruangan kelas itu mendadak hening seketika.
Wajah Reza langsung berubah merah padam karena merasa harga dirinya baru saja diinjak-injak oleh seorang pria berpakaian lusuh.
"Berani sekali kamu bicara begitu padaku!" bentak Reza sambil memukul meja dosen dengan keras.
"Kamu tidak tahu siapa ayahku, hah?"
Bima mengangkat bahunya perlahan dengan wajah datar tanpa dosa.
"Saya tidak peduli siapa ayahmu, tapi saya tahu siapa saya."