Di balik tatapan kosong dan cemoohan sebagai "dokter idiot" yang selalu diremehkan di rumah sakit elit, Arka Prasetya sebenarnya menyimpan kejeniusan otak super serta sertifikasi bedah internasional yang tidak diketahui siapa pun. Ketika hidupnya terus diinjak-injak oleh para dokter senior yang arogan dan terjebak dalam perjodohan tak terduga dengan Clara, seorang pewaris konglomerat yang angkuh, Arka perlahan mulai menunjukkan taringnya lewat operasi-operasi mustahil yang akan memberikan tamparan telak bagi siapa saja yang berani merendahkannya.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Cherlly, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
BAB 25
Suasana ruang rapat lantai empat kini terasa jauh lebih lega.
Ketiadaan orang-orang korup membuat udara di ruangan itu terasa bersih kembali.
Clara Wijaya merapikan dokumen pengambilalihan yayasan di atas meja.
Ia melirik ke arah Arka yang berdiri tenang di dekat jendela besar.
"Semua proses legalitas pengambilalihan yayasan sudah beres, Arka," kata Clara tersenyum lega.
"Baguslah, jadi aku tidak perlu repot-repot mengurus berkas membosankan itu," jawab Arka santai.
Siska melangkah masuk ke dalam ruang rapat dengan membawa nampan berisi tiga cangkir teh hangat.
Perawat itu meletakkan nampan di atas meja dengan hati-hati.
"Silakan diminum tehnya, untuk merayakan kebebasan rumah sakit ini dari tikus-tikus berdasi," ujar Siska menyeringai kecil.
"Terima kasih, Siska. Kamu memang selalu bisa diandalkan," puji Arka menerima cangkirnya.
Pipinya Siska langsung merona merah mendengar pujian langsung dari Arka.
"Ah, b-biasa saja kok, aku cuma menjalankan tugas," balas Siska salah tingkah.
Clara yang melihat interaksi itu sedikit mengerutkan keningnya.
Ada rasa cemburu kecil yang menyelinap di dalam hati Clara melihat kedekatan Arka dan Siska.
"Ehem, kita masih punya satu urusan penting lagi yang harus diselesaikan hari ini," potong Clara sengaja mengalihkan topik.
"Urusan apa lagi, Nona Konglomerat?" tanya Arka menyesap tehnya.
"Pengangkatan resmi kepala divisi bedah darurat yang baru," jawab Clara tersenyum penuh arti.
"Posisi itu tentu saja harus diisi oleh penyelamat rumah sakit ini."
[Sistem Mendeteksi Pembukaan Jabatan Baru: Kepala Divisi Bedah Darurat]
[Misi Utama Arc 1 Mencapai Tahap Akhir: Pengukuhan Otoritas Medis]
Suara notifikasi bernada datar berderik pelan di dalam kepala Arka.
Arka meletakkan cangkirnya perlahan di atas meja kaca.
"Kalau jabatan itu bikin aku sibuk dan kurang tidur, aku menolak," ucap Arka enteng.
"Mana boleh menolak! Ini adalah keputusan mutlak dari yayasan!" protes Clara setengah bercanda.
Siska tertawa kecil melihat ekspresi pasrah yang ditunjukkan oleh Arka.
"Sudahlah, Arka. Terima saja jabatan itu supaya kamu bisa memecat dokter-dokter arogan seperti Dimas dengan mudah," bujuk Siska.
Arka menghela napas pendek menyerah pada desakan dua wanita di depannya.
"Baiklah, kalau itu maumu, aku terima jabatan kepala divisi itu," kata Arka akhirnya.
[Misi Utama Berhasil Diselesaikan: Pengangkatan Kepala Divisi Bedah Darurat]
[Hak Akses Penuh Sistem Medis Tingkat Lanjut Telah Terbuka]
Suara notifikasi kembali berderik menandakan perubahan status Arka di sistem rumah sakit.
Beberapa menit kemudian, mereka bertiga turun menuju aula utama rumah sakit.
Seluruh dokter, perawat, dan staf medis sudah berkumpul rapi di dalam aula yang luas.
Berita penangkapan dewan direksi korup tadi pagi menyebar dengan sangat cepat ke seluruh penjuru rumah sakit.
Begitu Arka dan Clara melangkah memasuki aula, suasana yang tadinya ramai mendadak sunyi senyap.
Semua pasang mata menatap ke arah Arka dengan campuran rasa kagum, segan, dan takut.
Tap... tap... tap...
Suara langkah kaki Arka terdengar jelas menggema di lantai marmer aula.
Clara naik ke atas panggung kecil lalu mengambil mikrofon berdiri.
"Selamat pagi rekan-rekan sekalian," sapa Clara membuka pengumuman dengan suara tegas dan berwibawa.
"Mulai hari ini, yayasan rumah sakit mengambil kebijakan restrukturisasi total demi pelayanan yang lebih baik."
Para staf medis saling berpandangan mendengar kalimat pembuka dari sang pewaris yayasan.
"Dan untuk posisi Kepala Divisi Bedah Darurat yang baru, yayasan menunjuk dokter Arka Prasetya," lanjut Clara mengumumkan.
Seketika itu juga, bisikan pelan langsung bergemuruh di antara kerumunan staf medis.
"Hah? Petugas kebersihan itu jadi kepala divisi bedah?" bisik seorang dokter senior kaget.
"Jangan salah, dia yang membongkar kasus korupsi dan menyelamatkan nyawa anak konglomerat kemarin," sahut perawat di sebelahnya.
Arka melangkah naik ke atas panggung dengan santai tanpa beban.
Ia berdiri di samping Clara menghadap ke arah ratusan staf medis yang hadir.
"Saya tidak punya banyak pidato panjang untuk kalian," ucap Arka mulai berbicara menggunakan mikrofon.
Suaranya terdengar tenang namun tegas menguasai seluruh ruangan aula.
"Selama kalian bekerja dengan jujur dan fokus menyelamatkan nyawa pasien, kita bisa bekerja sama dengan baik."
"Tapi kalau ada yang mencoba bermain kotor di IGD, saya sendiri yang akan menendang kalian keluar dari rumah sakit ini."
Ancaman dingin itu disampaikan Arka tanpa senyuman sedikit pun.
Semua dokter senior yang hadir menelan ludah mereka susah payah merasakan aura intimidasi yang kuat dari Arka.
Prok... prok... prok...
Siska menjadi orang pertama yang bertepuk tangan disusul oleh beberapa perawat lain yang mendukung Arka.
Clara tersenyum puas melihat bagaimana Arka berhasil mengambil alih kendali wibawa di rumah sakit tersebut.
Acara pengukuhan singkat itu selesai tanpa ada hambatan berarti dari pihak mana pun.
Selepas acara, Arka berjalan menuju ruang kerja barunya di lantai khusus divisi bedah darurat.
Ruangan kepala divisi itu berukuran sangat luas dengan fasilitas medis paling modern di kota ini.
Kriek...
Arka membuka pintu ruangan lalu merebahkan tubuhnya di sofa empuk yang ada di dalam.
"Wah, ruangan kepala divisi ternyata lumayan nyaman juga," gumam Arka pelan.
Tok... tok... tok...
Suara ketukan pintu terdengar pelan dari luar ruangan. "Masuklah, pintunya tidak dikunci," jawab Arka malas-malasan.
Pintu terbuka menampilkan sosok Siska yang membawa setumpuk berkas laporan pasien baru.
"Dokter Arka, ini ada jadwal operasi darurat untuk siang ini," lapor Siska sambil tersenyum usil memanggil gelar barunya.
Arka memutar bola matanya malas mendengar panggilan resmi dari perawat di depannya itu.
"Jangan panggil aku dokter kepala, panggil saja Arka seperti biasa, Siska," protes Arka.
"Mana boleh begitu, sekarang kan kamu atorku di divisi ini," goda Siska tertawa kecil.
"Terserah kamu saja," balas Arka mengibaskan tangannya santai.
Siska meletakkan berkas laporan itu di atas meja kerja utama.
Ia tidak langsung pergi, melainkan berdiri sejenak menatap Arka dengan tatapan yang sulit diartikan.
"Ada apa lagi, Siska? Apa ada laporan yang salah?" tanya Arka heran.
"Tidak ada yang salah," jawab Siska pelan.
Siska mendekati sofa tempat Arka berbaring lalu membungkuk sedikit.
"Aku cuma ingin bilang terima kasih karena kamu sudah mengubah rumah sakit ini menjadi tempat yang jauh lebih baik," ucap Siska tulus.
Arka tersenyum tipis lalu menarik tangan Siska dengan lembut hingga perawat itu duduk di sebelah sofanya.
"Ini baru permulaan, Siska," bisik Arka tepat di dekat telinga perawat tersebut.
Pipi Siska kembali merona merah tua merasakan kedekatan fisik yang tiba-tiba itu.
Sebelum Siska sempat membalas perkataan Arka, suara pintu ruangan kembali diketuk orang.
Brak!
Pintu terbuka lebar tanpa izin menampilkan sosok Clara Wijaya dengan wajah cemberut.
Clara melihat posisi duduk Arka dan Siska yang sangat dekat satu sama lain.
"Ehem! Sepertinya aku datang di waktu yang salah ya?" sindir Clara tajam dengan nada cemburu.
Clara melipat kedua tangannya di dada sambil menatap tajam ke arah Siska.
Siska buru-buru berdiri dari sofa dengan rasa kikuk yang luar biasa.
"N-Nona Clara, saya cuma mengantar berkas laporan pasien," bela Siska gugup.
"Iya, aku tahu kamu cuma mengantar berkas, tapi jarak duduk kalian tadi terlalu dekat untuk ukuran atasan dan bawahan," sindir Clara ketus.
Arka tertawa kecil melihat ekspresi cemburu yang terpancar jelas di wajah Clara.
"Jangan cemburu begitu, Nona calon istri, Siska kan cuma partner kerja yang setia," ujar Arka santai.
Wajah Clara seketika merona merah mendengar sebutan dari Arka.
"Siapa juga yang cemburu! Aku ke sini mau membicarakan jadwal rapat dewan yayasan yang baru!" elak Clara salah tingkah.
Arka bangkit dari sofa lalu berjalan mendekati meja kerjanya.
"Rapat apa lagi? Bukannya urusan yayasan sudah beres semua tadi pagi?" tanya Arka heran.
"Bukan soal korupsi, tapi soal ekspansi divisi bedah darurat yang kamu pimpin ini," jelas Clara serius kembali.
Siska melangkah mundur perlahan untuk memberikan ruang bagi mereka berdua.
"Kalau soal itu, serahkan saja semuanya padaku, Nona," jawab Arka percaya diri.
"Asalkan anggarannya turun dengan lancar tanpa potongan pajak siluman."
Clara mendengus pelan mendengar celetukan santai dari Arka.
"Dasar mata duitan, padahal kamu sekarang sudah jadi pemegang saham terbesar," cibir Clara bercanda.
[Sistem Membuka Misi Sampingan Baru: Ekspansi Rumah Sakit Cabang Kota]
[Imbalan: Peningkatan Reputasi Medis Global Dan Akses Teknologi Bedah Masa Depan]
Suara notifikasi bernada datar kembali berderik di dalam kepala Arka.
Arka menyunggingkan senyuman tipis membaca misi baru yang diberikan oleh sistem.
"Sepertinya kesibukan kita tidak akan berhenti sampai di sini saja," gumam Arka pelan.
Clara menatap Arka dengan sorot mata penuh kekaguman yang tidak bisa disembunyikannya lagi.
"Apapun misinya, aku akan selalu mendukungmu dari belakang, Arka," ucap Clara tulus.
Siska yang berdiri di dekat pintu ikut menganggukkan kepalanya tanda setuju.
"Aku juga akan selalu siap membantu sebagai perawat kepala di sisimu," tambah Siska manis.
Arka memandang kedua wanita hebat di hadapannya dengan senyuman lebar.
Perjalanan panjang untuk menguasai dunia medis baru saja dimulai dari ruangan sederhana ini.
Dan tidak ada seorang pun yang bisa menghentikan langkah Arka Prasetya ke depannya.