Meng Lin, seorang gadis modern yang baru menyelesaikan pendidikan S2 di bidang sains, tidak pernah menyangka hidupnya akan berubah hanya karena sebuah novel.
Suatu malam, ia tertidur saat membaca novel berlatar tahun 1974. Ketika terbangun, ia justru mendapati dirinya berada di dalam novel tersebut—menjadi Meng Lin, gadis berusia sembilan belas tahun yang memiliki nama sama dengannya.
Meng Lin asli adalah gadis cantik, baik hati, dan lemah lembut. Setelah kedua orang tuanya meninggal, ia tinggal bersama paman, bibi, dan sepupunya, Meng Wan. Meski memiliki nilai sekolah terbaik, kesempatan kerja justru diberikan kepada Meng Wan. Tanpa pilihan lain, Meng Lin dikirim ke desa sebagai pemuda terpelajar.
Lebih menyedihkan, kekasihnya, Tang Qi, perlahan terlibat dengan Meng Wan. Dalam cerita asli, Meng Lin akhirnya menghilang dari kisah, sementara Meng Wan dan Tang Qi menikah.
"Hmm.. Karakter Utama itu akan menjadi milikku!"
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Bunda Fii, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 25. Pergi Ke Kota
Pagi berikutnya, Meng Lin terbangun ketika cahaya matahari mulai menyusup melalui celah jendela.
Ia menoleh ke ranjang sebelah dan mendapati tempat tidur Yan Rao sudah kosong. Selimutnya bahkan telah dilipat rapi, menandakan bahwa gadis itu sudah bangun sejak beberapa waktu lalu.
Meng Lin tidak terburu-buru. Ia merapikan tempat tidurnya, mengambil perlengkapan mandi, lalu berjalan menuju wastafel di luar kamar untuk mencuci muka dan menyikat gigi.
Udara pagi terasa sejuk. Embun masih menempel di beberapa helai rumput, sementara suara ayam terdengar dari halaman rumah penduduk di kejauhan.
“Linlin, kamu sudah bangun?” Yan Rao menghentikan gerakan tangannya dan menoleh sambil tersenyum. “Cepat sarapan. Buburnya masih hangat.”
Meng Lin berjalan mendekat. “Kamu sudah bangun sejak tadi?”
“Tidak terlalu pagi.” Yan Rao mengangkat sapunya, lalu menunjuk ke arah dapur. “Aku hanya membantu sedikit. Yang lainnya sudah pergi bekerja!"
Meng Lin melirik halaman yang sebagian besar sudah bersih. “Kamu tidak perlu mengerjakan semuanya sendiri.”
“Aku tahu. Aku juga tidak mengerjakan semuanya.” Yan Rao terkekeh kecil. “Lagi pula, aku sudah terbiasa bangun pagi.”
Di atas meja telah tersedia semangkuk bubur encer yang masih hangat dan sepotong telur rebus . Menunya memang sederhana, tetapi cukup untuk mengisi perut sebelum memulai aktivitas.
Hari itu merupakan jadwal memasak Xia Ning bersama seorang pemuda bernama Zhou Jian. Mereka sudah menyiapkan sarapan untuk seluruh penghuni asrama sejak pagi, sehingga para pemuda lainnya bisa langsung makan tanpa perlu menyalakan tungku sendiri.
Semalam, dia sudah mengeluarkan beras agar Xia Ning sekalian memasak untuknya juga. Tapi karena beras putih sangat berharga, mereka tidak seberani Meng Lin yang bisa makan nasi putih setiap hari, jadi buburnya ia campur dengan biji-bijian.
Buburnya tidak terlalu kental. Butiran beras telah mengembang dan sebagian besar larut dalam air, membuatnya mudah ditelan. Telur rebus di samping mangkuk menjadi pelengkap sederhana.
“Setelah sarapan, kamu ada rencana?” tanya Yan Rao setelah duduk di samping Meng Lin.
“Aku ingin pergi ke kota untuk membeli beberapa barang.” balasnya setelah suapan pertama.
“Ke kota?” Mata Yan Rao sedikit berbinar. “Kalau begitu, aku ikut. Aku juga masih membutuhkan beberapa keperluan.”
Meng Lin mengangguk. “Kita bisa berangkat bersama setelah makan.”
“Baik. Kalau begitu aku bersiap sekarang!" ucapnya sambil beranjak.
***
Meng Lin kemudian kembali ke kamar untuk mengambil tas kain yang akan dibawanya ke kota. Ia tidak berniat membeli terlalu banyak barang, dia pergi untuk mencari di mana pasar gelap berada.
Yan Rao sudah menunggunya di luar ketika ia selesai bersiap. “Kamu sudah siap?”
“Sudah. Ayo.”
Mereka berjalan meninggalkan asrama menuju kantor brigade. Jalan tanah yang membelah permukiman masih agak lembap oleh embun pagi.
Beberapa penduduk terlihat membawa peralatan kerja, sementara dari kejauhan terdengar suara orang-orang yang mulai sibuk dengan pekerjaan masing-masing.
Di sepanjang jalan, Yan Rao sesekali menyapa orang yang mereka temui. Meng Lin berjalan di sampingnya, memperhatikan arah jalan tanpa banyak bicara.
"Gadis itu cantik sekali...!" pujinya dengan kagum
"Ya. Apa dia kuat untuk terun ke sawah dengan panas terik?"
Warga Desa yang melihat Meng Lin langsung percaya dengan rumor yang mereka dengar dari kemarin. Katanya, ada pemuda terpelajar yang sangat cantik di desa mereka.
Dan setelah melihatnya dengan mata kepala sendiri, mereka dibuat tak percaya. Kenapa gadis secantik itu harus turun ke Desa?
Yan Rao dan Meng Lin hanya bisa tersenyum mendengar bisikan-bisikan tersebut. Tak lama kemudian, mereka tiba di kantor brigade.
Bangunannya sederhana, dengan beberapa meja kayu di dalam dan papan pengumuman yang dipasang di dekat pintu. Di halaman samping, terdapat sebuah gerobak sapi yang sedang menunggu penumpang. Seorang pria paruh baya duduk di bagian depan sambil memegang tali kekang.
Yan Rao menghampiri salah seorang petugas di kantor untuk menanyakan surat jalan yang diperlukan sebelum mereka pergi ke kota.
Petugas itu memeriksa identitas dan keperluan mereka, kemudian mencatat tujuan perjalanan sebelum menyerahkan surat pengantar yang diperlukan.
“Jangan sampai surat ini hilang,” pesannya. “Simpan baik-baik. Kalau ada pemeriksaan di jalan, kalian bisa menunjukkannya.”
“Baik, terima kasih, Paman,” jawab Yan Rao sopan.
Meng Lin menyimpan surat tersebut di dalam tas kainnya, lalu menoleh ke arah gerobak sapi.
“Apakah gerobak itu menuju kota?” tanyanya kepada Yan Rao.
Yan Rao mengangguk. “Ya. Ongkosnya satu wen per orang. Kalau berjalan kaki, kita akan membutuhkan waktu lebih lama.”
Meng Lin menghitung cepat dalam pikirannya. Ongkos itu sangat murah, apalagi jika dibandingkan dengan tenaga dan waktu yang harus mereka keluarkan untuk berjalan sepanjang perjalanan.
“Kalau begitu, kita naik saja.”
Keduanya menghampiri pria yang mengemudikan gerobak dan memastikan bahwa tujuan mereka sama.
“Paman, apakah gerobak ini menuju kota?”
Pria paruh baya itu mengangguk. “Benar. Kalian mau ikut? Satu orang satu wen.”
“Kami berdua,” jawab Meng Lin sambil mengeluarkan uang.
Setelah membayar, mereka naik ke bagian belakang gerobak. Di sana sudah terdapat dua keranjang kosong dan sebuah karung yang diletakkan di sudut. Yan Rao memilih duduk di dekat sisi gerobak, sementara Meng Lin duduk di sampingnya dengan tas kain di pangkuan.
“Untung kita tidak perlu berjalan kaki,” ujar Yan Rao sambil mengembuskan napas lega. “Kalau harus berjalan sampai kota dan kembali membawa barang belanjaan, kakiku mungkin akan pegal selama dua hari.”
Meng Lin menoleh sekilas, lalu tersenyum tipis.
“Kalau begitu, nanti beli sepeda..!"
Yan Rao tertawa pelan. “Ya ya.. Kita beli sepeda. Tapi, entah kapan hari itu tiba..!"
“Hmm.. Mungkin dalam waktu dekat!"
“Aku tahu, aku tahu kamu banyak uang. Jadi, jangan lupakan aku kalau kamu sudah beli sepeda” sahutnya dengan wajah memohon.
Keduanya tertawa kecil dan terus bercanda.
Roda kayu berderit ketika melewati jalan tanah yang tidak rata. Pemandangan permukiman perlahan berganti menjadi hamparan ladang dan pepohonan di sepanjang jalan.
Meng Lin menyandarkan tasnya dengan nyaman, memandang ke depan sambil memikirkan daftar barang yang perlu dibeli.
Perjalanan ke kota kali ini bukan sekadar kesempatan untuk memenuhi kebutuhan sehari-hari.
Ia juga ingin mengenali tempat itu dengan lebih baik, mengetahui letak toko-toko, dan memahami barang apa saja yang mudah atau sulit diperoleh di daerah tersebut.
Dengan begitu, ia bisa tahu berapa harga jual sayuran miliknya. Tapi, menjualnya dengan harga lebih mahal sedikit, mungkin tidak masalah. Apalagi ada khasiat setelah memakannya.
Di sampingnya, Yan Rao mulai bercerita tentang barang-barang yang ingin dibelinya, dia juga sekalian mau kirim surat. Meng Lin mendengarkan sambil sesekali menanggapi, membiarkan perjalanan pagi itu berlangsung dengan santai.
"Aku sebenarnya cuma mau beli kemoceng..! Selebihnya mau jalan-jalan saja!" kata Meng Lin dengan santai.. hanya benda itu yang tidak ada di dalam Ruangnya.
"Astaga Meng Lin.. Kau...!"
.
.
.
.
next double up ya Thor 😁
update nya kurang banyak Thor 😀👍