Rania tak sadarkan diri di tabrak pengendara motor, setelah mengejar penjambret yang membawa HP kesayangannya. Saat membuka mata, ia justru terbangun dalam tubuh Putri Wening Sasikirana dari Kerajaan Wanunggalih.
Belum sempat memahami keadaan, sebuah sistem memberinya misi: menikahi Pangeran Mukti Samudera, yang ternyata adalah sepupu Wening.
Rania menolak.
Ketika ia kebingungan karena tidak punya uang, sistem memberinya tantangan berjualan. Jika produknya viral, poinnya akan dikembalikan.
Di tengah usahanya mencari uang, Rania bertemu Raden Ji Aryasatya, pangeran dari kerajaan tetangga yang dikenal sebagai villain.
Sistem ingin Rania mengikuti takdir.
Rania justru memilih menolaknya.
Kalau harus memilih, kenapa tidak menikahi villain saja?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon AraLum, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 11— Perlombaan dengan Waktu
— Perlombaan dengan Waktu
Kuda mereka baru saja melewati gerbang belakang istana ketika Rania merasakan firasat buruk yang tidak bisa ia jelaskan.
"Sesuatu terasa salah," gumamnya, turun dari kuda dengan tergesa.
Mukti mengikuti di belakangnya, wajahnya masih tegang sejak perjalanan pulang. "Apa maksudmu?"
"Aku nggak tahu. Cuma... firasat."
[Ting!]
Sistem tiba-tiba muncul, suaranya terdengar lebih cepat dari biasanya.
[Peringatan. Aktivitas mencurigakan terdeteksi di area kediaman Nyonya Ratih.]
Rania membeku. "Aktivitas apa?"
[Analisis terbatas. Namun pola pergerakan menunjukkan persiapan keberangkatan mendadak.]
"Dia mau kabur," Rania menoleh cepat ke arah Mukti. "Kita harus ke sana sekarang, sebelum dia sempat menghilang."
Mukti mengangguk, memberi isyarat pada dua pengawal setianya yang menunggu di dekat gerbang untuk mengikuti tanpa banyak bertanya.
Mereka bergegas menyusuri koridor istana yang mulai temaram oleh cahaya senja terakhir. Beberapa dayang yang berpapasan tampak bingung melihat Putri Wening berlari tergesa bersama Pangeran Mukti, namun tidak ada yang berani menghentikan langkah mereka.
Sampai di depan kediaman Nyonya Ratih sebuah paviliun kecil namun mewah di sayap barat istana pintu kayu berukirnya tertutup rapat. Tidak ada suara dari dalam.
Mukti mengetuk pintu itu keras. "Bibi Ratih. Ini aku, Mukti."
Tidak ada jawaban.
Rania merasakan jantungnya berdegup semakin cepat. "Coba dobrak."
Salah satu pengawal maju, mendorong pintu itu dengan bahunya. Setelah beberapa kali dorongan, pintu akhirnya terbuka dengan suara berderit keras.
Ruangan di dalamnya sudah kosong.
Lemari pakaian terbuka lebar, sebagian isinya berserakan seolah dikemas dengan tergesa-gesa. Meja rias tampak berantakan, beberapa laci ditarik keluar tanpa sempat ditutup kembali.
"Dia sudah pergi," gumam Mukti, wajahnya keras menahan amarah dan frustrasi.
Rania melangkah masuk, matanya menyapu seluruh ruangan mencari petunjuk apa pun yang mungkin tertinggal. Di sudut ruangan, dekat jendela yang setengah terbuka, ia menemukan secarik kertas terjatuh di lantai mungkin tidak sengaja terlewat dalam kepanikan.
Rania memungutnya. Tulisan tangan yang rapi, meski beberapa kata dicoret dan ditulis ulang seperti draf surat yang belum selesai.
"Untuk siapa pun yang menemukan ini," bacanya keras-keras, "aku tahu waktuku sudah habis. Aku tidak menyesali apa yang kulakukan demi bertahan hidup setelah kehilangan segalanya bertahun-tahun lalu. Tapi aku tidak pernah berniat"
Tulisan itu terputus di sana, seperti penulisnya buru-buru berhenti sebelum sempat menyelesaikan kalimat.
"Kehilangan segalanya?" Mukti mengerutkan kening, mengambil kertas itu dari tangan Rania untuk membacanya sendiri. "Apa maksudnya?"
Rania menggeleng pelan. "Nggak tahu. Tapi ini bukan cuma soal keserakahan biasa."
[Ting!]
[Informasi tambahan tersedia.]
"Apa?" Rania bertanya cepat.
[Berdasarkan catatan arsip lama yang sempat diakses Wening sebelum insiden pingsan yang kini dapat diakses sistem melalui memori parsial tubuh Host Nyonya Ratih kehilangan suami dan putranya dalam kebakaran gudang penyimpanan milik keluarga Ratih, dua tahun sebelum insiden kapal hilang.]
Rania terdiam. "Kebakaran?"
[Benar. Penyebab kebakaran tidak pernah diselidiki secara menyeluruh, dianggap kecelakaan oleh pihak istana saat itu.]
Mukti menatap kertas di tangannya dengan raut wajah yang berubah drastis. "Kalau begitu... penggelapan muatan kapal itu bukan cuma soal keserakahan. Mungkin dia butuh uang untuk sesuatu yang lain. Untuk menutupi kerugian dari kebakaran itu, atau..."
"Atau untuk membalas sesuatu," sambung Rania pelan, pikirannya berputar cepat. "Kalau kebakaran itu bukan kecelakaan, dan dia tahu siapa dalangnya, tapi nggak pernah bisa membuktikannya secara resmi dia bisa aja memutuskan mengambil jalan sendiri buat 'membalas', entah gimana caranya."
Mukti menghela napas berat, meremas kertas itu pelan. "Ini jauh lebih rumit dari yang aku kira."
Salah satu pengawal yang sejak tadi memeriksa sudut lain ruangan tiba-tiba memanggil. "Pangeran, Putri lihat ini."
Mereka mendekat. Pengawal itu menunjuk ke arah lantai dekat perapian kecil, di mana abu kertas yang terbakar sebagian masih tersisa, belum sempat hancur total.
Rania berjongkok, mengamati sisa-sisa abu itu hati-hati. Ada sedikit tulisan yang masih bisa dibaca di tepian kertas yang tidak terbakar sempurna.
"...emuan lama... Arkapura... sebelum terlambat..."
"Arkapura?" Mukti mengerutkan kening. "Kenapa nama itu muncul lagi?"
Rania merasakan sesuatu yang dingin merambat di tengkuknya. Semua potongan ini terus kembali menyeret nama kerajaan tetangga itu, meski selalu dengan cara yang ambigu dan tidak pernah benar-benar jelas.
"Sistem," bisiknya, "apa mungkin Nyonya Ratih kabur ke arah Arkapura?"
[Kemungkinan valid. Perbatasan Arkapura adalah rute tercepat menuju pelabuhan terdekat untuk melarikan diri lewat laut.]
Rania berdiri cepat, menatap Mukti dengan tekad baru. "Kita harus kejar dia. Kalau dia sampai ke Arkapura duluan, kita nggak akan pernah bisa nangkep dia lagi."
Mukti mengangguk, namun raut wajahnya menunjukkan keraguan. "Kalau kita masuk wilayah Arkapura tanpa izin resmi, itu bisa dianggap pelanggaran perbatasan. Bisa memicu konflik baru antara dua kerajaan."
"Kalau kita nggak masuk sekarang, korban racun berikutnya mungkin aku," balas Rania tajam. "Aku lebih milih risiko itu."
Mukti menatapnya lama, lalu akhirnya mengangguk pelan. "Baik. Tapi kita butuh izin masuk yang sah, atau setidaknya seseorang dari Arkapura yang bisa menjamin kita nggak dianggap ancaman."
Rania terdiam sejenak, sebuah nama muncul di kepalanya nama yang selama ini ia hindari, namun kini terasa seperti satu-satunya jalan yang masuk akal.
"Aryasatya," gumamnya pelan.
Mukti menatapnya tajam. "Kau yakin mau melibatkan dia?"
"Dia putra mahkota Arkapura. Kalau ada orang yang bisa kasih kita jalan masuk cepat tanpa ribut-ribut diplomatik, cuma dia."
"Dan kalau dia justru bagian dari masalah ini?"
Rania menggigit bibir, mengingat kembali setiap percakapan singkatnya dengan Aryasatya—kecurigaannya, kehati-hatiannya, kalimat "jangan sentuh dia" yang terdengar aneh untuk seseorang yang katanya berniat jahat.
"Kalau dia memang bagian dari masalah ini," Rania menatap ke arah barat, ke arah perbatasan Arkapura yang mulai gelap dimakan malam, "maka lebih baik aku tahu itu sekarang, daripada terus menebak-nebak sambil menunggu racun berikutnya datang."
Mukti menghela napas panjang, namun akhirnya mengangguk. "Baik. Tapi aku ikut. Dan kita berangkat malam ini juga, sebelum jejak Nyonya Ratih benar-benar hilang."
Rania mengangguk mantap, menyimpan kertas surat dan sisa abu itu ke dalam saku kainnya sebagai bukti.
Di luar jendela paviliun yang kini kosong itu, malam mulai turun sepenuhnya, bintang-bintang mulai bermunculan satu per satu di langit Wanunggalih menyaksikan diam-diam bahwa perjalanan Rania kali ini akan membawanya lebih dekat ke jantung misteri yang selama ini mengintai dari kejauhan.
Dan lebih dekat pula pada pertemuan berikutnya dengan seseorang yang, entah kenapa, terus muncul di setiap persimpangan penting perjalanan hidupnya yang baru ini.