seorang protagonis yang bereinkarnasi ketubuh anak muda bernama Andre, memiliki kekuatan ganda yang berbeda dari masa lalunya.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Zapdos, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
AMBANG BATAS DEWA
Langit Sektor 1 kini sepenuhnya bermandikan warna emas dan merah pekat. Kabut darah keemasan hasil alkimia terlarang antara Lyra dan Marvin masih mengambang di udara, memompa vitalitas dan pengalaman tanpa batas ke dalam meridian puluhan ribu pasukan manusia yang tersisa. Di darat, raungan pertempuran terdengar bagai simfoni kehancuran. Inkuisitor Eden dan legiun Rishing Guild bertarung bahu-membahu, mengesampingkan perbedaan doktrin demi satu tujuan mutlak: bertahan hidup.
Namun, di atas lautan darah dan puing-puing kota, sebuah fenomena yang membantah nalar Sistem sedang terjadi.
Di udara, Andre melesat bagaikan meteor hitam. Setiap ayunan Nocturne membelah ruang, meninggalkan jejak kekosongan yang menelan puluhan monster magma dan entitas bayangan sekaligus. Kecepatannya tidak lagi bisa ditangkap oleh mata Pahlawan Nasional sekalipun. Ia hanya berupa kilatan petir gelap yang merobek tirai realitas.
[Void Shadow (Lv. 102) Terbunuh!]
[Hellfire Behemoth (Lv. 105) Terbunuh!]
[Kalkulasi EXP Ekstrem (+50%) diproses...]
[Level Anda meningkat!]
TING!
Sebuah suara dentingan yang sama sekali berbeda dari notifikasi Sistem biasa bergema langsung di dalam jiwa Andre. Suara itu begitu jernih, suci, dan kuno, seolah alam semesta itu sendiri baru saja membuka sebuah gerbang yang telah terkunci selama ribuan tahun.
[Batas Mutlak Fana Terlampaui.]
[Level Saat Ini: 100]
[Selamat. Anda telah menembus Ambang Batas Dewa (Domain of Divinity).]
[Sistem sedang merestrukturisasi wadah jiwa pengguna. Sinkronisasi Artefak Mythic 'Mahkota Kaisar' mencapai 100%.]
[Evolusi Skill: 'Black Lightning' berevolusi menjadi 'Abyssal Oblivion Lightning' (Petir Kehampaan Absolut).]
Waktu seakan berhenti berdetak. Andre melayang di udara, memejamkan matanya. Petir hitam yang selama ini berdesis liar di sekujur tubuhnya tiba-tiba memudar, masuk kembali ke dalam pori-pori kulitnya. Udara di sekitarnya menjadi sangat tenang, hening, dan kosong. Stigmata mahkota di dadanya tidak lagi berdenyut, melainkan menancap permanen, menyatu sepenuhnya dengan detak jantungnya.
Ketika ia membuka matanya, pupil obsidiannya tidak lagi memancarkan amarah atau hawa membunuh. Matanya sedingin luar angkasa, memancarkan kedalaman jurang kosmik yang tidak memiliki dasar. Ia telah kembali. Bukan sekadar dalam ingatan atau teknik, melainkan dalam esensi eksistensinya. Ia telah melangkah ke ranah dewa.
Di saat yang bersamaan, dari balik portal kosmik raksasa yang merobek langit, sepasang mata sebesar kawah gunung berapi menatap tajam ke arah daratan. The Beast King, Calamity Ketiga, mengendus udara. Bulu-bulu di sekujur tubuh raksasanya yang dihiasi rantai magma berdiri tegak.
"Aura ini... Hukum Keilahian Bumi merespons kelahiran dewa baru?" geram The Beast King, suaranya menciptakan badai seismik yang meruntuhkan sisa-sisa gedung pencakar langit Sektor 1. "Tidak mungkin! Umat manusia hanyalah ternak! Aku tidak akan membiarkan ternak berevolusi!"
Sang Raja Binatang Buas tidak lagi menunggu. Tubuh raksasanya, yang ukurannya setara dengan sebuah gunung kecil, melompat keluar sepenuhnya dari robekan dimensi. Begitu entitas Level 218 itu menembus atmosfer Bumi, Aturan Keilahian Semesta langsung bereaksi. Rantai-rantai tak kasat mata dari kehendak planet ini melilit tubuh The Beast King, menekan atribut dan output mananya secara paksa hingga tersisa 70%.
Namun, bahkan dengan penekanan 30% tersebut, tekanan yang dihasilkan oleh pendaratan The Beast King tetaplah sebuah kiamat.
BUMMMMM!
Sang Calamity mendarat di tengah-tengah Sektor 1, menciptakan kawah berdiameter sepuluh kilometer. Gelombang kejut dari pendaratannya menyapu aspal, mobil, dan monster-monsternya sendiri seperti dedaunan kering yang ditiup badai.
"Tahan formasinya!" raung Orion, Pahlawan Nasional Peringkat Kedelapan. Pria berzirah baja berat itu menancapkan pedang meteoritnya ke tanah. "Absolute Gravity: Event Horizon!"
Orion menciptakan kubah gravitasi super padat yang melindungi puluhan ribu pasukan manusia di barisan belakang dari gelombang kejut tersebut. Namun, beratnya menahan pendaratan seorang Calamity membuat tulang lengan Orion retak parah. Darah menyembur dari balik helmnya.
Melihat kawan mereka terluka, keempat Pahlawan Nasional lainnya tidak tinggal diam.
Valeria melesat ke udara, tombak peraknya memancarkan cahaya bulan yang membekukan darah. "Glacial Domain: Absolute Zero Piercer!" Valeria melemparkan tombaknya dengan kekuatan penuh, mengubah udara di jalur lintasannya menjadi ruang hampa beku, mengincar mata kanan The Beast King.
Bersamaan dengan itu, Gaius melompat setinggi ratusan meter, mengayunkan palu godamnya yang kini dilapisi elemen bumi murni. "Earthshaker: Continental Crush!"
Elara dan Selene memberikan tembakan dukungan dari jarak jauh. Elara menggabungkan ribuan pedang angin ke dalam pusaran badai, sementara Selene melepaskan panah energi bulan yang bisa menembus dimensi ruang.
Serangan gabungan dari empat Pahlawan Nasional, yang jika disatukan mampu menghancurkan sebuah benua, menghantam wajah dan dada The Beast King secara telak.
Ledakan elemen—es, bumi, angin, dan cahaya bulan—bercampur menjadi pilar energi raksasa yang menyilaukan mata. Asap tebal mengepul hingga menutupi matahari. Pasukan manusia di bawah menahan napas, berharap serangan sekelas itu setidaknya mampu melukai sang Raja Bencana.
Namun, dari balik kepulan asap, terdengar tawa yang sangat berat, bergemuruh, dan penuh ejekan.
"Serangan yang menggelitik," dengus The Beast King.
Asap tersapu bersih oleh satu kibasan tangannya. Monster raksasa itu berdiri tanpa luka gores sedikit pun. Zirah tulang mutan dan bulu berbalut magma di tubuhnya terlalu tebal. Bahkan dengan statistik yang ditekan oleh planet, pertahanan pasif seorang Calamity Peringkat Ketiga tidak bisa ditembus oleh serangan entitas di bawah level 190.
The Beast King mengayunkan tangan kanannya yang dibelit oleh rantai magma raksasa. Rantai neraka itu menyapu udara dengan kecepatan hipersonik, langsung menghantam Valeria dan Gaius yang masih berada di garis depan.
Keduanya menggunakan perisai aura terkuat mereka, namun benturan itu tak terelakkan. Valeria dan Gaius terpental seperti boneka kain, menghantam deretan reruntuhan gedung hingga ratusan meter ke belakang. Zirah legendaris mereka hancur, tulang rusuk mereka patah, dan mereka jatuh tak sadarkan diri di tengah puing-puing.
"Valeria! Gaius!" jerit Elara panik, kehilangan konsentrasinya.
Momen itu dimanfaatkan oleh kiamat kedua yang sejak tadi mengawasi dari langit. The Void Weaver, Calamity Keenam, bergerak dalam diam. Sosok yang terbuat dari materi gelap tanpa wajah itu mengangkat tangannya yang menyerupai tentakel kosmik. Ribuan mata di tubuhnya berkedip secara serempak.
Di atas formasi pasukan Bastian dan Marvin, sebuah bola hitam sebesar stadion perlahan terbentuk. Bola itu menghisap cahaya, suara, dan oksigen di sekitarnya. Itu adalah Void Sphere, sihir pembunuhan massal yang akan menghapus segala materi fisik yang disentuhnya menjadi ketiadaan. Bola raksasa itu meluncur jatuh tepat ke arah puluhan ribu pasukan manusia yang sedang terluka.
Bastian menatap kematian yang turun dari langit. Ia tahu Solar Core di perisainya tidak bisa memantulkan kehampaan kosmik. Ia tahu bahwa ini adalah akhir. Namun sang Guardian tidak mundur selangkah pun. Ia mengangkat perisai emasnya, bersiap mati untuk melindungi legiun yang telah mempercayainya.
Marvin di sebelahnya menggertakkan gigi, merapalkan seluruh sisa mana ungunya, mencoba menciptakan jaring racun untuk menahan laju bola kematian tersebut.
"Ini belum berakhir," bisik Bastian, memaksakan senyum di tengah keputusasaan.
Tepat saat Void Sphere itu berjarak sepuluh meter di atas kepala mereka, siap menghapus eksistensi puluhan ribu nyawa, ruang di atas formasi pasukan itu terbelah secara simetris.
Sesosok pria berjubah hitam muncul dari dalam bayangan, melayang dengan punggung menghadap pasukan, berdiri sendirian menantang bola hitam raksasa itu.
Andre tidak mencabut Nocturne. Ia hanya mengangkat tangan kirinya, merentangkan telapak tangannya ke atas.
"Abyssal Oblivion Lightning."
Bukan kilatan petir. Bukan ledakan. Udara di ujung jari Andre retak, menampilkan urat-urat dimensi yang berwarna hitam mutlak. Petir kehampaan itu menyambar ke atas, menabrak Void Sphere milik Calamity Keenam.
Saat kedua energi pembawa kehancuran itu bertemu, tidak ada suara yang dihasilkan. Yang terjadi adalah Void Sphere raksasa itu tiba-tiba berhenti di udara, lalu mulai mengerut, terkompresi oleh hukum gravitasi yang jauh lebih superior, hingga akhirnya mengecil seukuran kelereng dan menghilang ke dalam telapak tangan Andre.
Hening.
Medan perang yang dipenuhi ratusan ribu entitas itu terdiam membeku. The Void Weaver membelalakkan ribuan matanya, sementara The Beast King menghentikan langkah raksasanya. Mereka berdua, entitas yang telah hidup jutaan tahun, merasakan sesuatu yang membuat jiwa keabadian mereka bergetar.
Andre perlahan menurunkan tangannya. Ia memutar lehernya sedikit, melirik ke arah The Beast King yang menjulang sebesar gunung di depannya.
"Kau mengeluh karena hukum dunia ini menekan kekuatanmu hingga tujuh puluh persen, Raja Binatang Buas?" suara Andre mengalun tenang, namun frekuensinya mampu didengar oleh seluruh makhluk di medan pertempuran.
Stigmata mahkota di dada Andre memancarkan pendaran hitam yang meluas, menyelimuti langit Sektor 1 yang telah hancur. Ia perlahan menarik gagang Nocturne, dan sedetik pedang itu keluar dari sarungnya, gravitasi di seluruh Sektor Pusat bertambah seratus kali lipat. Monster-monster pion dari kedua Calamity itu langsung hancur menjadi bubur darah di atas aspal karena tidak kuat menahan tekanan aura murni yang kini tidak lagi ditahan.
"Kalau begitu, bersyukurlah pada Aturan Keilahian Bumi," lanjut Andre, matanya yang sedingin jurang kosmik menatap lurus ke arah sang Calamity. "Karena penekanan itulah satu-satunya alasan kalian tidak langsung mati saat aku mencabut pedangku."