Rafa Arya Prasetio adalah tipe lelaki kolot di zaman yang serba canggih ini. Dia itu hidupnya terlalu lurus, hanya dihabiskan untuk bekerja dan keluarga. Percaya gak, jika dia belum pernah pacaran di usia yang ke 28 tahun ini? Tapi dia sudah tidak perjaka. Enggak, dia bukan penganut *** before married. Tapi sipolos ini pernah meniduri seorang gadis saat tengah mabuk.
Dimasa depan, tiba-tiba ada seorang anak kecil yang datang ke kantornya dan mengaku anaknya. Kemana mamanya? Tidak tahu, anak itu bungkam dan mau tinggal sama Papa katanya. Yah, yang jadi Papanya itu dia.
Terus, kemana sosok ibunya? Masa kabur? Apa benar Rafa ayahnya anak itu? Tapi bagaimana bisa?
Ayo temukan kisah mereka di sini?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Billa Hamkah, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Ketahuan
##
Rafa pikir setelah kejadian Elvan sakit, komunikasi dirinya dengan mama-nya Elvan akan berjalan lancar karena ada banyak hal yang mau dia tanyakan. Sayang kenyataannya, setelah dua hari Elvan sembuh, wanita itu kembali menghilang lagi.
Wanita itu hanya mengirim beberapa pdf yang isinya tentang Elvan, dimulai dari kebiasaan, makanan favorit dan semua hal yang Elvan suka dan tidak suka. Setelah itu, nomer itu tidak kembali aktif lagi, memangnya wanita itu teroris harus berganti-ganti nomer. Terus, inti dari pdf itu yang paling penting adalah Elvan harus segera bersekolah di Taman Kanak-kanak. Setelah memberi tugas kemudian menghilang lagi, Rafa kesal sekali pada wanita itu.
"Sumpek banget muka kaya sempak," sindir Andre untuk yang kesekian kalinya hari ini.
Rafa hanya meliriknya sinis, rasanya ingin menendang lelaki tidak ada akhlak itu.
"Percuma wajah ganteng tapi suram kaya gitu. Lihat nih, wajah tampan gue yang bercahaya,"ujar Andre lagi karena Rafa tidak menyahuti, hanya menatap sinis kemudian kembali mendiamkannya lagi.
"Mau milih ditendang selangkangan atau diiris urat nadi lo?" Rafa akhirnya balik bertanya dengan tatapan sinis.
Andre bergidik. "Lo psikopat, yah?"
"Iya sini, gue lagi butuh kelinci percobaan, kayanya lo cocok deh," kata Rafa dengan wajah datarnya semakin terlihat kesan horornya.
Andre meringis takut. "Gue lapar, udah ditunggu Chika di kantin." Setelah mengatakan itu, Andre langsung berlari kabur.
"Kemarin masih Intan, kemarin lusanya Maya, terus sekarang jadi Chika," gumam Rafa bingung tak habis pikir. "Dasar playboy cap ikan asin!"
Rafa akhir-akhir ini menjadi lebih sering menghela napas kasar, mungkin jika dia seorang wanita hamil sudah melahirkan sebelum waktunya.
Beban hidupnya semakin lama semakin terasa berat. Bukan tentang hanya perubahan hidupnya yang tiba-tiba sudah mempunyai anak, tapi tentang keluarganya juga. Entah sampai kapan, dia bisa terus menyembunyikan Elvan. Tidak mungkin selamanya. Entah kapan, keluarganya harus tahu keberadaan Elvan sebagai anaknya, tapi bagaimana caranya? Dia hanya membawa anak saja tanpa ibunya, tanpa seorang istri. Bisa diterima kah, fakta seperti itu?
Beda dengan adiknya, Alexa yang hamil memang sebelum menikah, tapi pada akhirnya tetap saja menikah dengan semua dramanya. Waktu itu, Rafa masih ingat bagaimana kecewa keluarganya
termasuk dirinya tentang apa yang dialami Alexa, lalu sekarang dia mau mengulang masa itu? Lebih parah situasinya saat ini malah, karena adiknya sekarang sudah berbahagia dengan keluarga kecilnya.
Dia datang ke rumah dengan membawa anak yang mungkin seumuran dengan keponakannya? Syok pasti mereka, jelas.
Sekarang, Rafa kembali mendatangi sebuah TK untuk menyerahkan beberapa dokumen kelengkapan untuk pendaftaran Elvan karena kemarin ada yang kurang. Beruntungnya, tiba-tiba ada sebuah dokumen yang datang ke apartemennya diantara oleh kurir.
Meski tanpa nama pengirim, tapi bukannya sudah jelas itu dari siapa. Rafa tiba-tiba menjadi parno sendiri, jika mungkin selama ini wanita itu mengirim mata-mata untuknya. Selain alamatnya yang diketahui, bahkan nomer ponsel yang selama ini hanya diketahui oleh beberapa orang terdekatnya saja, tapi wanita itu tahu.
Sorenya, Rafa sampai ke rumah setelah seperti biasa menjemput Elvan terlebih dahulu. Setelah menyelesaikan tetek bengek mengurusi bocah itu, jam 7 malam dia mengajak Elvan untuk berbelanja kebutuhan sekolahnya. Tidak ada waktu karena kemungkinan kedepannya pekerjaannya akan semakin banyak lembur juga. Sedangkan tiga hari lagi, anak itu sudah harus masuk sekolah.
"Pa, jadi aku beneran mau sekolah?" tanya Elvan heboh yang untuk kesekian kalinya, sampai Rafa bosen untuk menjawabnya.
"Aku masuk SD yang pakai baju merah itu kan, Pa?" tanya Rafa lagi heboh, sembari kakinya meloncat-loncat kegirangan.
Rafa saat ini tidak melepaskan pegangan tangannya pada anak itu, jika dilepas mungkin Elvan sudah berlari mengelilingi mall.
"Umur kamu masih 5 tahun, jadi kamu belum bisa masud SD. Kamu masuk TK dulu." Rafa berusaha menjelaskan sesabar mungkin ditengah kesabarannya sudah setipis tisu ini.
Ternyata begini yah, rasanya berjalan-jalan di mall bersama anak-anak. Mereka seperti mobil yang harus kita kendalikan jalannya. Lengah sedikit, sudah belok ke toko-toko mainan. Ingin rasanya dia mengikat bocah nakal ini di tiang, supaya diam.
"Gak mau! Kemarin, aku sama mama udah masuk TK, masa sekarang Tk lagi? Aku kan, udah gede!" teriak Elvan tiba-tiba, sepertinya akan tantrum.
Elvan sudah menghentikan langkahnya dengan wajah penuh amarah siap menangis. Rafa sebenarnya ingin ikut marah kemudian meninggalkan bocah tantrum ini. Tapi sekali lagi, dia meyakinkan dirinya untuk lebih bersabar lagi, mengingat DNA-nya ada di tubuh bocah itu. Apalagi, sekarang mereka mulai menjadi pusat perhatian.
Apalagi dia sempat bertanya ke papa-nya, bagaimana dirinya saat kecil. Dia katanya adalah anak yang aktif. Terlalu aktif karena bahkan pernah menyalakan petasan di tengah kerumunan orang-orang. Banyak hal lagi yang diceritakan tentang semua kenakalannya yang semakin di luar nalar, percis seperti Elvan sekarang.
Katanya, dia baru menjadi anak baik setelah bertemu adik tirinya, yaitu Alexa. Apakah Elvan juga akan menjadi anak baik setelah dia mempunyai adik juga? Tapi bagaimana ada seorang adik, istri saja dia tidak punya.
Rafa berjongkok. "Kalau mau masuk SD, kamu harus berumur 7 tahun." Rafa menunjukkan jarinya dengan jumlah 7. "Nah, sekarang kamu baru berusia 5 tahun, jadi belum bisa masuk SD."
"Jadi, aku belum bisa masuk SD sekarang karena belum 7 tahun?"
Rafa mengangguk, mengusap kepala bocah itu yang terlihat mulai tenang. "Iya, sekarang TK dulu yah, nanti kalau sudah 7 tahun baru masuk SD, ok?"
Elvan terlihat berpikir cukup lama, sampai akhirnya dia mengangguk. "Ok, tapi boleh beli mainan, kan?"
Rafa mendengus. "Malah belok ke situ, bisa banget ambil kesempatannya." Kemudian, dia tersenyum. "Boleh, asal janji tidak boleh nakal dan lari-larian, ok?"
"Ok," jawab Elvan semangat, kemudian sudah menarik tangan Rafa untuk berbelok ke toko mainan.
"Gercep amat."
Saat tengah asyik memilih mainan, seseorang menepuk bahu Rafa dari belakang.
"Kak Raf, ngapain lo di sini?"
Dari suaranya Rafa sudah tahu siapa ini, intinya berbahaya jika orang ini tahu keberadaan Elvan.
Rafa akhirnya menoleh. "Eh lo Lex, lo ngapain di sini?" Rafa sesekali menoleh ke belakang Alex, berharap Elvan yang sedang memilih mainan tidak datang ke sini.
"Gue nanya, lo malah balik nanya," cibir Alex tidak sopan yang sudah biasa bagi Rafa setelah bertahun-tahun menjadi kakak iparnya. Tidak berubah sifatnya meskipun sudah menjadi ayah dari dua anak.
Rafa masih sesekali memperhatikan Elvan yang masih asyik memilih-milih mainan, sangat berharap anak itu tidak ke sini sampai Alex pergi.
Rafa hampir mengumpat, saat melihat Elvan berjalan ke arah sini sembari membawa sebuah robot-robotan.
Please ... jangan ke sini!
"Lihat apaan sih, lo?" tanya Alex yang mulai curiga karena Rafa terlihat terus-terusan melihat ke arah belakangnya.
Saat Rafa berusaha menahan kepala Alex, tapi sayang Elvan sudah berdiri di sampingnya sembari mengangkat robot-robotan heboh.
"Pa, aku mau ini!" teriak Elvan heboh, tanpa tahu raut wajah Rafa seperti akan mati hari ini.
"Pa?" tanya ulang Alex heran, kemudian melihat seorang anak kecil yang ada di samping Rafa. "Dia siapa?"
"Dia itu kepo--"
"Aku anaknya papa, Om," jawab Elvan bangga memotong kalimat Rafa.
"Kak Raf, lo bisa jelasin ini kenapa?"
Akhirnya, disinilah mereka berakhir sekarang, di tempat makan untuk menjelaskannya semuanya dan terpaksa memilih jujur. Dia merasa percuma terus ditutupi dari Alex karena kepalang sudah ketahuan di depan mata. Dia ingin melihat reaksi Alex, saat dirinya mengulang kisah yang sama dengan lelaki itu dengan adiknya dengan versi lebih berbeda. Persamaannya, mereka sama-sama bukan pasangan saat melakukannya.
"Gak ada akhlak lo! Jadi waktu dulu lo ceramahin gue soal moral, ternyata moral lo gak beda jauh sama gue!"
Rafa mendengus. "Beda lah, gue gak inget pas bikin beda sama lo yang sadar dan manfaatin adek gue yang gak sengaja minum dan mabok. Gue gak tahu punya anak, kalau lo tahu dan gak tanggung jawab. Bahkan lo udah pergi bawa adek gue buat aborsi, walau gak jadi tapi setelah itu lo memilih ninggalin adek gue yang lagi bunting. Inget itu, emosi lagi gue."
Alex terkekeh. "Gue merasa terserang fakta. Itu kan, udah masa lalu, Bro. Gue sama Lexa udah bersama dan saling mencintai sekarang. Anak gue udah dua, Bro."
Rafa mendengus. "Halah ... sekarang lebih tepatnya jadi budak cinta adek gue, kalau bisa kayaknya mau deh sembah sujud lo sama Alexa. Karma itu karena dulu sering nyakitin dan bikin nangis."
Alex tertawa. "Hidup gue sekarang emang buat nyembah Alexa, hidup seumur hidup sama dia dan bahagiain dia adalah tujuan seumur hidup gue sekarang. Sekarang, lo bakal gimana kedepannya sama anak lo ini dan ibunya?"
Rafa menggeleng. "Gak tahu gue. Gimana nanti aja, gue aja lupa yang mana ibunya."
"Sialan!"
"Cialan," ujar Elvan menirukan ucapan Alex.
Rafa menatap Alex tajam. "Jangan ngomong sembarangan!"
Alex terkekeh. "Sorry ... lupa. Padahal gue udah sering dimarahi Lexa karena ngomong kasar depan Cio. Keceplosan gue."
Rafa mengusap mulut Elvan yang penuh eskrim. "Pelan-pelan makanya. Gak boleh ngomong kaya gitu lagi, jangan bilang kata itu lagi, ok."
Elvan menatap Rafa bingung. "Kenapa, gak boleh bilang cialan lagi?"
"Itu hanya boleh dibilang oleh orang dewasa. Anak kecil gak boleh bilang gitu, ok?"
"Aku kan, udah dewasa," jawab Elvan polos semakin membuat frustrasi.
"Katanya, kalau jadi orang dewasa itu harus kerja gak boleh makan eskrim. Emang kamu udah dewasa?" tanya Alex membantu Rafa karena merasa bersalah.
Elvan tiba-tiba menggeleng, langsung memeluk kotak eskrimnya. "Aku belum dewasa, aku masih kecil, aku gak akan bilang kata jahat itu lagi."
Rafa tersenyum. "Janji?" Rafa memberikan jari kelingkingnya.
Elvan menautkan jari kelingkingnya juga. "Janji. Aku gak mau dewasa, mau makan eskrim sampai puas."
"Kak, sekarang mau gimana lo? Lo bakal cari tahu ibunya atau enggak?"
"Gak tahu. Mau nyari gimana, gue aja gak tahu wajahnya gimana."
"Serius, gak inget?"
"Mungkin, kalau udah ketemu gue bakal inget sih. Gak tahu lah, otak gue udah pusing sekarang."
Alex terkekeh. "Gue juga ikutan pusing. Kisah lo lebih drama dari gue. Emang dia gak bilang apa-apa soal ibunya?"
Rafa menggeleng. "Enggak, mungkin dia juga udah didoktrin sebelum ketemu gue gak boleh bilang apa-apa. Eh, jangan dulu bilang apa-apa keluarga kita yah nanti, apalagi Alexa. Gue bakal bilang nanti sendiri, gak sekarang soalnya belum stabil semuanya."
"Kenapa gue harus nurut sama lo?" tanya balik Alex tengil.
"Lo tuh, yah!" Rafa ingin berkata kasar, tapi ingat ada Elvan. "Gue ini minta tolong, sumpah ...."
Alex tertawa songong. "Di dunia ini gak ada yang gratis yah, Bro."
Rafa mendengus. "Lo mau apa?"
Alex tersenyum senang, berubah antusias. "Lo tahu banget pasti, gue dari dulu suka salah satu koleksi motor lo."
Dirinya memang mengoleksi beberapa barang antik. Semasa sekolah, dirinya juga sudah mengoleksi beberapa motor antik yang saat ini berada di garasi orangtuanya. Waktu itu membeli dengan menabung dan jelas meminta suntikan dana tambahan juga ke orangtuanya. Mungkin tahun-tahun ini hobinya mulai perlahan berhenti, dia lebih memilih membeli sesuatu untuk masa depannya termasuk mobil dan rumah. Jadi, koleksi motornya sekarang berjumlah 4 dan mungkin tidak akan bertambah lagi.
"Ngelunjak yah, lo!"
Alex mengangkat bahu. "Gue tinggal ngomong ke Alexa, eh ke mertua gue pas acara keluarga nanti. Kalau bisa gue keliling komplek bikin pengumuman kalau lo udah punya anak tanpa nikah."
"Aduh, kepala gue sakit." Rafa frustrasi, bisa-bisanya adik yang cantik itu mau menghabiskan seumur hidup dengan orang tengil ini. "Terserah, tinggal pilih yang mana."
Alex tertawa senang. "Gue tunggu."
"Sana pergi. Udah muak gue lihat muka lo!" usir Rafa sudah kesal. Dari dulu dia selalu emosi jika berdekatan dengan adik iparnya itu. Mungkin, mereka seharusnya ditakdirkan menjadi musuh di kehudupan ini.
"Tenang aja, gue juga mau beli kue disuruh Alexa. Selamat tinggal kakak ipar dan anaknya. Gue tunggu kabar kapan motor baru gue sampai di rumah!"
Setelah mengatakan itu, Alex langsung pergi setelah mengacak rambut Elvan karena gemas membuat anak itu berteriak kesal.
"Om ... rese!"
Rafa memandangi Elvan, mau tak mau lama-lama dia memang harus memberitahu keberadaan anak itu kepada keluarganya. Mau tidak mau, siap tidak siap karena mana mungkin dia terus menyembunyikan Elvan selamanya bukan? Seharusnya, dia harus menemukan wanita itu dulu, sebelum bertemu orangtuanya. Makin terlihat lebih aneh jika dia datang hanya membawa anak tanpa ibunya.
"Dad, ayo pulang!" teriak Elvan menghentikan lamunan Rafa.
"Ok, ayo."
##