Karin terbangun dalam novel medioker sebagai istri idiot CEO dingin, Arlan. Mengetahui nasib tragis tokoh aslinya, Karin memutuskan berpura-pura tetap idiot agar tidak diceraikan dan dibuang.
Namun, tingkah konyolnya justru membuat Arlan yang biasanya kaku mulai merasa bingung sekaligus tertarik.
Di tengah intrik keluarga besar dan ancaman pelakor, Karin harus menyeimbangkan aktingnya yang absurd dengan rasa cinta yang mulai tumbuh nyata.
Apakah rahasia transmigrasinya akan terungkap, ataukah ia akan selamanya menjadi istri kesayangan sang CEO dalam topeng kebodohan yang lucu dan menggemaskan?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Aplolyn, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 23
Pabrik Dirgantara terdengar seperti sarang lebah raksasa. Suara mesin yang berdengung, klakson forklift, dan teriakan para pekerja menciptakan simfoni industri yang memekakkan telinga.
Pak Hadi, seorang pria berusia lima puluhan dengan kulit sawo matang dan tangan yang kasar akibat puluhan tahun di lapangan, menyambut mereka di lobi. Tatapannya pada Arlan penuh hormat, tapi saat matanya beralih ke Karin yang sedang berusaha menyeimbangkan helm proyeknya, pria itu mendengus halus.
"Selamat datang di Pabrik Cikarang, Pak Arlan," sapa Pak Hadi kaku. "Saya harap Nyonya tidak akan terlalu lelah. Area produksi sangat bising dan kotor, tidak cocok untuk... hiburan."
"Halo, Pak Hadi!" sapa Karin riang, mengangkat helmnya yang hampir jatuh. "Tenang aja, aku nggak akan makan baut di sini. Aku cuma mau lihat robot-robotnya!"
Pak Hadi memutar matanya, jelas menganggap wanita di hadapannya ini benar-benar otak udang. "Baiklah. Silakan ikuti saya. Tapi tolong jangan menyentuh apa pun."
Mereka berjalan menyusuri jalur pejalan kaki di tengah lantai produksi yang luas. Karin mengagumi segala sesuatu dengan mata berbinar, sementara Arlan sibuk berdiskusi dengan Pak Hadi mengenai target produksi triwulanan.
Namun, tiba-tiba, suara sirine keras memecah konsentrasi mereka.
Wiuu! Wiuu! Wiuu!
Seluruh lini produksi di sektor perakitan utama berhenti mendadak. Lampu indikator berkedip merah. Para pekerja langsung panik, berlarian ke arah mesin perakitan otomatis terbesar di sana.
"Ada apa?!" bentak Arlan, langkahnya langsung berubah cepat menuju sumber masalah. Pak Hadi dan Karin mengikutinya dari belakang.
Di depan mesin perakitan raksasa itu, tiga orang insinyur sedang berdebat dengan suara keras. Mesin itu, yang bernilai ratusan miliar rupiah, mati total.
"Lapornya mengatakan error pada sensor optik utama!" teriak salah satu insinyur. "Kita harus membongkar seluruh casing untuk mengecek kabelnya! Ini akan memakan waktu enam jam!"
"Enam jam?! Kita kehilangan tiga miliar rupiah per jam!" balas Pak Hadi, wajahnya pucat. "Cari tahu masalahnya sekarang!"
Arlan mengerutkan kening, menatap mesin yang rumit itu. "Tidak ada cara yang lebih cepat?"
"Tidak, Pak Arlan. Sensor optiknya buta. Sistem menolak berjalan karena mengira ada halangan di jalur perakitan," jawab insinyur itu putus asa.
Karin, yang sejak tadi berdiri di belakang, mengintip ke arah mesin itu. Matanya yang tajam, mata asli Karin yang seorang pembaca novel dan mantan mahasiswa teknik menyapu area sensor.
Di sana, di celah sempit antara lengan robot dan conveyor belt, terselip sebuah potongan kecil lakban perak mengkilap. Mungkin sobekan dari lakban kemasan yang jatuh tadi pagi. Potongan lakban itu memantulkan cahaya lampu pabrik tepat ke arah lensa sensor optik, membuat sistem mengira ada objek padat yang menghalangi jalur.
Jika aku bilang itu pantulan lakban, mereka bakal curiga. Harus pakai logika idiot! batin Karin.
Tanpa permisi, Karin melangkah melewati garis kuning pembatas.
"Nyonya! Jangan mendekat! Bahaya!" teriak Pak Hadi panik.
Arlan juga hendak menarik lengan istrinya, tapi Karin sudah terlanjur berjongkok di depan sensor. Dengan wajah sangat serius, ia menatap lensa sensor itu, lalu mengeluarkan sapu tangan pink berenda dari sakunya.
"Kamu kenapa, Robot?" bisik Karin pada mesin itu, suaranya terdengar oleh semua orang di sekitar. "Matamu silau ya? Ada kunang-kunang perak yang nakal masuk ke matamu?"
Para insinyur terbelalak. Pak Hadi tampak siap memaki, tapi Arlan mengangkat tangannya, memberi isyarat agar mereka diam. Arlan sedang menonton.
Dengan hati-hati, Karin menyeka lensa sensor dengan sapu tangan pink-nya, lalu menjentikkan potongan lakban perak itu hingga jatuh ke lantai.
"Naah, kunang-kunangnya udah aku usir," ucap Karin senang, menepuk-nepuk casing mesin. "Sekarang matanya udah nggak silau. Kamu bisa kerja lagi, ya."
"Reset sistemnya!" perintah Arlan cepat pada para insinyur yang masih terpaku.
Salah satu insinyur buru-buru menekan tombol reset. Lampu indikator berubah dari merah menjadi hijau. Lengan-lengan robot kembali bergerak, conveyor belt berputar, dan lini produksi kembali beroperasi dengan normal.
Hening.
Hanya terdengar suara mesin yang kembali berdengung stabil.
Pak Hadi menatap Karin, lalu menatap potongan lakban di lantai, dan akhirnya menatap Arlan. Wajah pria tua itu merah padam, bukan karena marah, tapi karena malu yang luar biasa. Ia baru saja meremehkan wanita yang baru saja menghemat perusahaan dari kerugian miliaran rupiah hanya dengan sapu tangan berenda.
"Nyonya Karin..." ucap Pak Hadi, suaranya bergetar. Ia membungkuk dalam-dalam. "Terima kasih. Saya... saya minta maaf atas sikap saya sebelumnya."
Karin mendongak, memasang wajah polos sambil menggaruk kepalanya yang tidak gatal. "Eh, nggak apa-apa, Pak Hadi. Tapi lain-lain, jangan kasih makan robot pakai kunang-kunang perak ya. Nggak sehat buat perutnya. Nanti kalau robotnya sakit perut, dia bisa diare. Bahaya, lho, kalau robot diare, nanti keluarnya oli semua!"
Salah satu insinyur di belakang Pak Hadi langsung memencet bibirnya, berusaha keras untuk tidak tertawa. Arlan menatap istrinya, dan untuk kesekian kalinya, pria itu merasa ingin tertawa sekaligus memeluk wanita itu di tempat.
"Kau benar, Karin. Kita akan pastikan tidak ada kunang-kunang perak yang mengganggu robot lagi," ucap Arlan, suaranya terdengar sangat lembut. Ia melangkah maju, mengambil helm proyek yang kembali menutupi mata Karin, lalu memperbaikinya dengan lembut. "Kerja yang bagus, Nyonya Dirgantara."
Di dalam hati, Karin bersorak kemenangan. Langkah ketiga belas berhasil! Menyelamatkan tiga miliar per jam dengan sapu tangan pink! Aku adalah dewi penyelamat pabrik ini!
Namun, saat mereka berjalan kembali ke mobil, Arlan menggenggam tangan Karin. Genggaman itu erat, hangat, dan menolak untuk dilepaskan.
"Karin," bisik Arlan pelan, hanya untuk didengar olehnya. "Sapu tanganmu berbau lavender. Sama seperti parfum yang kau pakai saat kau pertama kali menyelamatkan proyek resorku. Kau selalu membawa sapu tangan yang sama, bukan?"
Jantung Karin berhenti berdetak. Tunggu. Dia memperhatikan bau sapu tanganku?! Sejak kapan CEO dingin ini jadi detektif parfum?!
"I-iya, Kak," jawab Karin gugup. "Soalnya lavender bikin ngantuk. Kalau aku ngantuk, aku nggak bisa mikirin ulat sutra."
Arlan tidak menyanggah. Ia hanya tersenyum tipis, jempolnya mengusap punggung tangan Karin. "Lavender memang menenangkan. Terutama saat aku harus menghadapi direktur yang korup dan kepala pabrik yang keras kepala."
Karin menelan ludah, merasakan panas menjalar dari pipinya hingga ke telinganya. Sistem, tolong. CEO dingin ini tidak hanya mulai baper, tapi dia juga mulai merayuku! Ini bahaya! Sangat bahaya!
lanjut kn thor💪