NovelToon NovelToon
Hamil Tujuh Bulan, Aku Tinggal Bersama Kakak Iparku

Hamil Tujuh Bulan, Aku Tinggal Bersama Kakak Iparku

Status: sedang berlangsung
Genre:Konflik etika / Nikah Kontrak / Cinta Seiring Waktu
Popularitas:7.2k
Nilai: 5
Nama Author: Shalema

Suami Ishani telah pergi, meninggalkan satu janji yang tidak pernah sepenuhnya ia pahami.

Kini Ishani berada di bawah satu atap dengan Langit, pria yang memiliki wajah yang sama seperti mendiang suaminya, tetapi tidak dengan hatinya.

Tatapan Langit selalu dingin.
Sikapnya penuh jarak.
Seolah kehadiran Ishani dan bayi di rahimnya adalah pengingat akan sesuatu yang ingin ia lupakan.

Ishani hanya ingin melahirkan dengan tenang.

Namun semakin lama ia tinggal di rumah itu, semakin ia menyadari bahwa yang sedang ia hadapi bukan sekadar hubungan ipar.

Ada luka lama.
Ada pengorbanan yang tak pernah benar-benar diterima.

Dan ada kecemburuan yang tumbuh diam-diam sejak mereka masih kecil.
Di antara bayi yang tak bersalah dan masa lalu yang belum selesai…

Ishani terjebak di tengah dua saudara yang dipisahkan oleh takdir.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Shalema, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bab 6: Kontraksi Dini

Tiga hari berlalu setelah pertemuan keluarga itu. Selama itu, Langit tidak kembali ke rumah. Ishani tidak tahu ke mana. 

Semua orang, termasuk Bu Maura, menduga Langit sudah menyerah. Pulang ke Jakarta. Meninggalkan semua rencana besarnya. Bu Maura berusaha menyembunyikan perasaannya, tapi Ishani tahu kepergian Langit memukul hatinya dengan sangat dalam.

Namun Ishani tidak sepenuhnya percaya. Dari cerita Biru tentang kembarannya itu, Ishani tahu satu hal, Langit tidak pernah mundur setelah memutuskan sesuatu. 

Dan justru itulah yang membuatnya gelisah. Ia sudah menyiapkan banyak alasan untuk menolak.

“Maafkan aku Mas. Aku tidak bisa menjalankan amanahmu. Karena hatiku masih terikat denganmu…” Ishani menatap foto pernikahan mereka yang tergantung di dinding.

Mendadak, Ishani merasakan perutnya menegang. Terasa seperti ada tarikan halus. Ishani duduk, mengatur napasnya. Tidak berapa lama, rasa sakit mulai dirasakannya. Semakin lama semakin tajam. 

Ishani meringis, telapak tangannya menekan perut yang mengeras. Napas Ishani tersendat. 

“Jangan… jangan sekarang,” bisik Ishani panik. 

Keringat dingin mulai membasahi. Ishani berdiri, berniat berjalan ke kamar, tapi langkahnya goyah. Rasa sakit itu kembali menyerang, membuatnya terpaksa berpegangan di dinding.

“Ishani…” Bu Maura sudah berada di dekatnya. “Kamu kenapa?”

Ishani menoleh, memberikan senyum pura-pura. Tapi rasa sakit berikutnya, membuat Ishani hampir jatuh. Bu Maura menangkapnya.

“Ishani…” suaranya menegang. “Ini kontraksi?”

Ishani mengangguk lemah, “ Rasanya sakit sekali, Bu…”

Wajah Bu Maura langsung berubah. “Sejak kapan kamu ngerasa sakit?”

“B-baru aja, Bu. Tapi, sakitnya datang lagi.”

“Kita ke rumah sakit, sekarang!” Bu Maura langsung menghubungi seseorang. 

“Halo, Ilham. Tolong Bibi. Ke sini sekarang, Ishani kontraksi!”

Ishani kembali meringis. Kali ini rasa sakitnya lebih lama. Ia mencengkram lengan bajunya, napasnya tersenggal. 

Sepuluh menit kemudian, Ilham datang. Mereka langsung ke rumah sakit.

Di dalam mobil, Ishani mengigit bibirnya menahan sakit. Tangannya memegang tangan Bu Maura. “Sa-kit.. Bu. Sakit se-kali..” wajah Ishani memucat. 

“Bi… gimana ini?” Ilham ikut panik melihat Ishani. “Kita harus hubungi Mas Langit,” sarannya.

“Jangan, Ham… Bibi gak mau ganggu Langit.”

“Tapi… kalau ada apa-apa, gimana Bi? Harusnya Kak Ishani belum melahirkan sekarang. Aku khawatir Mas Langit bakal marah kalau nggak dikasih tahu," Ilham mendesak wanita yang adalah kakak dari ibunya itu.

Bu Maura menyerah. Langit memang harus tahu. Walau bagaimanapun, bayi ini adalah keponakannya. 

Bu Maura memijit nomor Langit.

“Halo, Lang…”

**********

Mobil Ilham berhenti di depan IGD. “Sus, tolong, saudara saya… perutnya… lagi hamil…” ujarnya terbata-bata pada seorang perawat. 

Perawat segera menjemput Ishani dengan kursi roda dan membawanya ke ranjang. Mereka lalu menanyakan kronologi pada Bu Maura.

Bidan datang, memasang kabel monitor bayi di perut Ishani. “Atur napasnya, Bu… agar tidak terlalu sakit,” pintanya. Sementara perawat memasangkan infus di tangan Ishani.

Di luar, seseorang memarkirkan mobilnya dengan sembarangan. Berlari keluar menuju IGD. Wajahnya terlihat panik. 

“Mas, Mas Langit….” Ilham memanggil. “Kok cepet?” 

“Iya, tadi gue udah deket rumah waktu ibu telepon. Ishani mana?” kata Langit dengan terengah. 

“Di dalam sama Bi Maura.” 

"Sama Bi Yani juga?"

Ilham menggeleng. "Nggak! Ibu masih di pabrik."

Langit menepuk lengan Ilham, kemudian masuk ke ruang IGD.

Bu Maura melihat Langit melangkah masuk. “Lang…” 

Langit setengah berlari menghampiri ibunya. “Bu.. Ish–”

Langit tidak melanjutkan kalimatnya. Ia melihat Ishani sedang menangis kesakitan. Wajahnya pucat, keringat membanjiri tubuhnya. 

Dengan segera, ia mendekati Ishani. Berdiri di samping ranjang. “Ishani…” panggilnya. 

Ishani yang tengah terpejam karena menahan sakit, membuka matanya. Setengah sadar, ia menarik tubuh Langit, memeluknya erat. “Mas… Mas Biru… sakit sekali.” Tanpa sadar, nama itu keluar dari mulutnya. 

Tubuh Langit membeku. Bu Maura menahan napas dan tangisnya. 

Langit menunduk, menatap Ishani lurus. “Iya, aku di sini,” ucapnya pelan tapi kokoh. “Aku nggak ke mana-mana.”

Kontraksi datang lagi. Ishani meringis, tubuhnya menegang. Ia menggenggam tangan Langit.  “Aaah…” teriaknya. 

Langit menguatkan genggamannya. “Lihat aku!” pintanya. “Jangan lawan sakitnya… lewati bersamaku. Kamu bisa…”

Tangis Ishani tumpah, bagai bendungan jebol. “Aku takut… bayiku.”

Langit mengelus kening dan rambut Ishani. “Kamu kuat… tidak akan terjadi apa-apa,” ujarnya memberi semangat.

Setiap menit terasa seperti jam. Setiap kontraksi terasa lebih dekat satu sama lain. 

Langit tetap di sana, mendampingi Ishani. Memintanya untuk mengatur napas, mengelap keringatnya, membelai rambutnya lembut. 

Bunyi monitor perlahan mulai stabil. 

Bidan menoleh, tersenyum tipis. “Detaknya membaik. Tetap tenang ya Bu Ishani. Ini penting buat bayinya.”

Kontraksi mereda perlahan. Tubuh Ishani lemas, napanya terengah.

Gelombang kesadaran mulai datang. Ishani segera melepaskan pelukan dan genggaman Langit. 

Dia bukan Biru. Bukan suaminya yang datang. 

Langit melihat tangannya dilepas. Ia sadar kalau Ishani sudah kembali pada kenyataan. Ia mundur selangkah.

Ia baru menyadari napasnya sendiri gemetar.

Dokter kandungan membuka bilik gorden. Perawat meminta semuanya keluar terlebih dulu, termasuk Langit dan Bu Maura. 

**********

Lorong rumah sakit terasa lebih sempit dari seharusnya. Langit duduk dengan tangan terjalin, kepalanya menunduk. Sementara, Bu Maura terus memandang ke arah pintu IGD. Ilham berdiri tak jauh dari situ. 

Pintu terbuka, dokter keluar. “Keluarga Ibu Ishani Lirah Syahira?”

Bu Maura dan Langit sontak berdiri. Ilham mendekat. 

“Bagaimana menantu dan cucu saya, Dok?” Bu Maura bertanya dengan gemetar. 

“Untuk saat ini, kami berhasil menghentikan kontraksinya. Tapi…” 

Ketiganya menahan napas. 

“Bayi mengalami insufiensi plasenta, di mana plasenta tidak bisa memberikan nutrisi dan oksigen yang cukup. Saat kontraksi tadi, jantung bayi sempat melemah. Jadi, bisa dikatakan kondisi bayi rapuh.”

“Jadi, apa yang harus dilakukan?” tanya Bu Maura.

“Bedrest total. Tidak boleh stres fisik maupun psikologis. Dan… dengan kondisi seperti ini, sebaiknya ibu berada di fasilitas yang memiliki NICU lengkap dan dokter fetomaternal. Jika terjadi gawat janin, harus ditangani cepat.”

“Di sini tidak ada?” tanya Ilham.

“Ada, tapi terbatas. Untuk kasus berisiko tinggi, biasanya kami rujuk ke rumah sakit besar di Jakarta.”

Langit terdiam.

Jakarta.

Semua potongan mulai menyatu.

Ishani dipindahkan ke ruang VVIP. Ia terkejut melihat ruangan luas itu.

“Kita perlu tempat yang tenang,” ujar Langit singkat.

Saat Ishani hendak berdiri dari kursi roda, Langit langsung mengangkatnya tanpa bertanya.

Hap.

“Kata dokter tidak boleh banyak bergerak.”

“Tolong jangan lakukan lagi,” tegas Ishani.

Langit langsung mundur. “Baik.”

Ia tidak membantah.

Langit duduk di sofa sementara Bu Maura menyuapi Ishani dengan telaten. 

“Untung lo di sini, Mas. kalau gue sendirian pasti bingung,” ucap Ilham menghenyakkan bokongnya di sebelah Langit. “Kasihan kak Ishani… baru aja kehilangan Mas Biru, sekarang ada resiko kehilangan bayinya.”

Deg. 

Kata-kata Ilham menusuk jantung Langit.

“Gue titip mereka sama loe, Lang,” suara Biru terdengar di telinganya. 

Gue hampir kehilangan anak loe, Bi, batinnya.

Langit melihat arah tempat Ishani berbaring. Sorot matanya penuh tekad, seakan ingin mengatakan kalau hal itu tidak akan dibiarkannya terulang kembali.

“Malam ini, ibu pulang saja dengan Ilham. Besok pagi baru ke sini. Biar Ishani aku yang jaga,” Langit duduk di sofa, menengadahkan kepalanya.

“Tapi, Lang….”

Langit memijit pelipis, matanya terpejam. “Aku tidak mau ibu tidur di rumah sakit. Umur ibu sudah tidak muda lagi.”

“Tapi, Lang…” bu Maura masih coba menolak.

Langit menegakkan punggungnya. “Bisa nggak ibu menuruti kemauanku sekali saja?” suaranya keras. 

Bu Maura, Ishani dan Ilham terhenyak mendengar suara Langit. 

“Aku yang jaga ibu sekarang!” singkat tapi menusuk. 

Bu Maura tertunduk. “Baiklah, ibu pulang setelah nanti malam.”

Langit berdiri. “Terserah ibu. Ayo, Ham, kita cari makanan, lo pasti belum makan.”

“I-iya, Mas,” Ilham mengekori kakak sepupunya. 

**********

Malam itu, Ishani terbaring kaku di atas ranjang. Perutnya yang besar berbalut selimut tipis dipasangi sabuk monitor yang berdetak pelan. Ritme kecil yang kini menjadi penanda masih ada kehidupan yang masih bertahan di rahimnya. 

Ishani menoleh ke sofa di sudut kamar. Langit duduk di sana, punggungnya tegak, kedua tangannya saling bertaut. Sejak vonis dokter terucap, ia tidak bertanya. Hanya diam, siaga mendampingi Ishani.

“Kak Langit nggak harus di sini terus,” ujar Ishani pelan.

Langit menggeleng. “Aku sudah janji sama Biru.”

Nama itu terasa bagai sembilu di hatinya. Ishani memejamkan mata, menelan sesuatu yang terasa pahit. Air mata jatuh dari sudut matanya.

Malam semakin larut, perawat keluar masuk. Mengganti infus, mencatat angka-angka. Setelah itu sunyi kembali mengambil alih. 

Langit mematikan ponselnya. Kepalanya bersandar di punggung sofa, tapi matanya tetap terbuka. Setiap kali ada perubahan bunyi monitor, bahunya menegang. 

Ishani terbangun karena tidak nyaman. Sejak satu jam lalu, bayinya tidak bergerak. 

“Kak Langit…” panggilnya parau.

Ia berdiri. “Kenapa?”

“Aku… Bayinya nggak gerak.” 

Langit tidak panik. Setidaknya tidak terlihat. Ia memencet bel memanggil perawat, berdiri di samping ranjang Ishani. Tetap menjaga jarak, tidak cukup dekat namun tidak terlalu jauh untuk melindungi. 

Para perawat dan bidan masuk, memeriksa riwayat gerakan, dan memijit perut Ishani lembut. 

Detik-detik terasa panjang. Akhirnya, monitor menunjukkan gerakan kecil.

Ishani menghembuskan napas lega.

Langit menunduk, matanya terpejam singkat, seakan menahan sesuatu yang nyaris runtuh. 

“Maaf,” bisik Ishani. “Aku merepotkan.”

Langit kembali duduk. “Kamu tidak merepotkan. Ini… memang tugasku.”

Pagi harinya, suara bisik-bisik terdengar di lorong. Dua kerabat yang datang menjenguk tidak sadar Ishani bisa mendengar dari dalam kamar yang pintunya sedikit terbuka.

“Kasihan ya… baru suaminya meninggal, sekarang bayinya bermasalah.”

“Makanya jangan terlalu memaksakan diri. Sudah hamil tua, masih saja jadi bahan omongan.”

“Dan sekarang kabarnya mau dibawa kakak iparnya ke Jakarta…”

“Terlalu cepat. Nanti orang-orang makin ngomong.”

Ishani memejamkan mata. Dadanya terasa lebih sesak dari kontraksi semalam. 

Langit berdiri di luar, mendengar sebagian kalimat itu. Stres psikologis. Kalimat dokter terngiang. Rahangnya mengeras. Ia melangkah melewati kerabat itu tanpa mengucapkan sepatah katapun, masuk ke kamar dan menutup pintu perlahan.

Siang itu dokter kembali datang. “Jika kondisi ini berulang, kita tidak punya banyak waktu. Bayi bisa saja harus dilahirkan prematur.”

“Berapa peluangnya, Dok?” tanya Ishani dengan suara tipis.

“Semakin cepat lahir, semakin besar risikonya.”

Tangan Langit yang semula terjalin perlahan mengencang. Buku-buku jarinya memutih.

Setelah dokter pergi, tak ada yang bicara cukup lama. Langit menatap jendela. Lama. Seakan sedang menimbang sesuatu yang sudah ia putuskan sejak tadi malam.

“Aku sudah hubungi rumah sakit di Jakarta. Dokter fetomaternal terbaik ada di sana. Mereka siap menerima rujukan kapan pun.” Akhirnya Langit bersuara.

Ishani menoleh tajam. “Tanpa tanya aku?”

“Aku cuma menyiapkan pilihan.”

“Pilihan… atau keputusan?”

Langit diam. Untuk pertama kalinya, ia tidak bisa menjawab cepat.

“Aku tidak ingin dipindahkan seperti barang,” suara Ishani gemetar.

Langit mendekat selangkah. Tidak menyentuh. “Kamu bukan barang. Kamu ibu dari anak yang harus kita selamatkan.”

Kita.

Kata itu terasa asing sekaligus hangat.

“Aku tidak akan memaksamu,” lanjut Langit pelan. “Tapi kalau di sana peluangnya lebih besar… aku akan melakukan apa pun.”

Monitor berdetak pelan di antara mereka.

Ishani menatap perutnya.

Ini bukan kan soal dirinya lagi.

Bukan soal janji.

Bukan soal cinta yang belum selesai.

Tapi soal nyawa kecil yang tidak bisa memilih. Dan untuk pertama kalinya, Ishani mulai menyadari, ia mungkin tidak punya pilihan. Dan mungkin… di sanalah hidupnya akan benar-benar berubah.

1
🍾⃝ʙͩᴜᷞʟͧᴀᷠɴͣ sᴇᴘᴀʀᴜʜ
langit cuma ga pede aja, bukan benci sama permintaan tolong si biru. yakin
🍾⃝ʙͩᴜᷞʟͧᴀᷠɴͣ sᴇᴘᴀʀᴜʜ
yang penting kacamata yaudalah maaaa ... 😭 maaf reflek ingat meme itu
🍾⃝ʙͩᴜᷞʟͧᴀᷠɴͣ sᴇᴘᴀʀᴜʜ
laki2 pujaan, bertanggungjawab atas milik sahabatnya. kelak akan menjadi bapak tiri yang sayangnya bukan kepalang. aamiin
🍾⃝ʙͩᴜᷞʟͧᴀᷠɴͣ sᴇᴘᴀʀᴜʜ
semoga tekad ini akan berjalan sebagaimana yang terniatkan 👍
༺⬙⃟⛅MULIANA ѕ⍣⃝✰
karena ishani sadar diri. langit hanya saudara suaminya, tapi bukan siapa-siapa baginya
Mentariz
Biru pasti udah tenang di sana, langit pasti akan jaga kamu dan bayimu, ishani
Mentariz
Biru udah punya firasat sejak awal 😭
PrettyDuck
semoga menjadi lebih baik
walaupun keras, langit orangnya bertanggung jawab, dan kayaknya dia beneran sayang sama kamu dan baby kamu ishanii /Slight/
PrettyDuck
apa ini berarti ishani setuju nikah sama langit??
PrettyDuck
Biru udah punya ketakutan ini dari awal 🥲
Filan
Nanti juga Langit akan dipandang sebagai Langit yang mengisi hati Ishani. Bukan pengganti Biru.
Semangat!
Filan
Itu toh alasannya?
Miu Nuha.
hidup terus dijalanin ish, Allah sudh atur semuany untuk kamu. semangat ya, masih banyk yg sayang sama kamu ❤
Miu Nuha.
bener, hiks 🤧
Miu Nuha.
baru kabar hamil aja udh bilang gitu, emang udh dapet tanda ya kalo bakal pergi 😫
Three Flowers
nyesek membayangkan perasaan Ishani... tapi apa daya, takdir berkata lain. mungkin jodohnya dengan biru memang sudah selesai, dan kemungkinan langit lah jodoh ishani berikutnya
Three Flowers
waduh... laki-laki mana yang tidak tertarik pada wanita cantik? yakin deh langit yang bucin duluan 😄
@dadan_kusuma89
Ishani, sesuatu yang mendesak terkadang tak perlu butuh banyak berpikir, tapi yang dibutuhkan adalah tindakan segera.
@dadan_kusuma89
Ingat, Ishani! semua demi kebaikan kamu dan janin dalam kandunganmu. Siap nggak siap, harus dipaksa.
@dadan_kusuma89
Ishani, langkah yang diputuskan Langit insya Allah sudah tepat. Kau tak perlu banyak mikir, ikuti saja.
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!