Penyatuan dua dinasti bisnis raksasa melalui pernikahan mendadak Fank Manafe dan Renata Batistuta memaksa Ezzvaro dan Gabriel terjebak dalam satu atap sebagai saudara tiri.
Namun, di balik status formal itu, tersimpan sejarah kelam: mereka adalah mantan kekasih yang berpisah dengan luka menganga akibat pengkhianatan dan kecemburuan fatal tiga tahun lalu.
Ketika gairah terlarang dan dendam masa lalu mulai membakar batasan moral, mereka terseret ke dalam konspirasi bisnis yang berbahaya.
Di tengah desingan peluru dan pengkhianatan keluarga, Ezzvaro harus memilih antara melindungi wanita yang paling ia benci atau membiarkan dunia menghancurkannya.
Di dunia di mana "cinta adalah kelemahan dan kekuasaan adalah segalanya," kelebihan/melampaui batas akan memaksa mereka menghadapi pilihan tersulit: bersatu dalam kehancuran atau saling menghancurkan demi bertahan hidup 🦋
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Daeena, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
#28
Angin musim gugur di Queenstown membawa aroma kayu terbakar dan tanah basah yang menenangkan. Di halaman depan rumah kayu yang sederhana namun hangat itu, Arlo—atau yang dunia kenal sebagai Archello Ezzvaro—sedang sibuk membelah kayu bakar untuk persediaan musim dingin. Keringat membasahi dahi dan kemeja flanelnya, namun raut wajahnya tampak jauh lebih tenang dibandingkan saat ia masih mengenakan setelan jas puluhan juta di London.
Zendaya, yang kini sudah semakin lancar melangkah, duduk di atas rerumputan sambil memainkan dedaunan kering. Sesekali ia memanggil "Papa" dengan suara cadelnya yang menggemaskan, membuat Ezzvaro berhenti sejenak hanya untuk memberikan senyum lebar.
Tiba-tiba, suara deru mesin mobil yang mendekat memecah kesunyian lembah itu. Sebuah mobil SUV sewaan berhenti tepat di depan pagar kayu kecil mereka. Ezzvaro menegang. Insting lamanya sebagai seorang Manafe yang selalu waspada mendadak bangkit. Ia meletakkan kapaknya dan berdiri tegak, melindungi posisi Zendaya di belakang kakinya.
Pintu mobil terbuka.
Sepatu bot kulit yang mengkilap menapak di tanah berkerikil. Sosok pria jangkung dengan mantel wol panjang berwarna gelap melangkah keluar. Wajahnya tetap kaku, kacamata hitamnya masih bertengger dengan angkuh, namun ada garis kelelahan yang manusiawi di sudut matanya.
"Kak Theo?" bisik Ezzvaro, suaranya hampir hilang terbawa angin.
Namun, kejutan tidak berhenti di situ. Dari sisi penumpang, seorang wanita dengan rambut pirang yang dikuncir kuda tinggi dan jaket bulu yang mencolok melompat keluar dengan energi yang sangat familiar.
"GABY! BRIANNA! DIMANA KAU, JALANG KECILKU?!" teriakan melengking itu membuat burung-burung di pohon pinus berterbangan.
Gabriel, yang mendengar keributan itu dari dalam rumah, berlari keluar dengan celemek yang masih terikat di pinggangnya. Matanya membelalak. "Garcia?!"
Dalam sekejap, halaman rumah yang tenang itu berubah menjadi lautan emosi. Garcia berlari dan langsung menerjang Gabriel dengan pelukan yang hampir membuat mereka berdua terjatuh. "Kau benar-benar menghilang ke ujung dunia! Aku hampir mati karena ghibah sendirian di London!" cerocos Garcia sambil terisak sekaligus tertawa.
Sementara itu, dua pria Manafe itu berdiri berhadapan. Tharzeo menatap adiknya dari ujung kepala hingga ujung kaki—melihat lengan yang pernah tertembak, melihat telapak tangan yang kini kasar karena kerja fisik, dan melihat kedamaian di mata adiknya yang tidak pernah ada sebelumnya.
"Kau terlihat... berbeda, Arlo," ucap Tharzeo, menyebut nama baru adiknya dengan nada penghormatan.
"Dan kau terlihat seperti baru saja menelan seluruh saham dunia, Kak," balas Ezzvaro dengan senyum tipis. Ia melangkah maju dan memeluk kakaknya. Sebuah pelukan pria yang singkat namun sarat akan rasa terima kasih atas nyawa yang pernah diselamatkan.
Tharzeo kemudian melepaskan pelukannya dan menatap ke arah Zendaya yang sedang memandangi mereka dengan bingung. Sang "Robot" Manafe itu perlahan berlutut di depan balita tersebut.
"Jadi, ini keponakanku? Zendaya?" tanya Theo. Suaranya yang biasanya dingin mendadak melembut. Ia mengulurkan jari telunjuknya, yang segera digenggam erat oleh jemari mungil Zendaya. "Dia memiliki mata yang sama denganmu, Ez. Tapi untungnya, dia memiliki kelembutan Gabriel."
"Halo, Paman Theo," bisik Gabriel yang kini mendekat sambil merangkul lengan Garcia.
Mereka semua masuk ke dalam rumah. Ruang tamu yang sempit itu mendadak terasa sesak oleh kehadiran dua orang paling berkuasa di London saat ini. Gabriel menyajikan teh hangat dan camilan buatan sendiri, sementara Garcia tidak berhenti mengagumi Zendaya.
"Jadi... apa yang membawa kalian sejauh ini?" tanya Ezzvaro serius. "Ayah sudah tidak ada. Bukankah kalian seharusnya sibuk menata ulang kekaisaran?"
Tharzeo menyesap tehnya, matanya menatap api di perapian. "Aku datang untuk memintamu kembali, Ez. Bukan sebagai bawahan, tapi sebagai partner. Aku sudah membersihkan semua racun yang ditinggalkan Ayah. Manafe Group sekarang bersih, dan aku butuh darah dagingku sendiri untuk membantuku menjaganya tetap stabil."
Ezzvaro dan Gabriel saling berpandangan. Tawaran itu menggiurkan, namun kedamaian di Queenstown sudah terlalu berharga untuk ditukar dengan hiruk-pikuk London.
"Kami belum bisa memberikan jawaban, Kak," ucap Gabriel lembut.
"Aku tahu," sahut Theo. "Tapi ada alasan lain kenapa aku datang ke sini secara pribadi. Aku tidak ingin kalian mendengarnya dari media atau surat resmi."
Tharzeo terdiam sejenak, lalu tangannya bergerak di bawah meja, mencari jemari Garcia. Ia menggenggam tangan wanita bar-bar itu dengan erat di depan mata Ezzvaro dan Gabriel.
"Kami akan menikah bulan depan," ucap Tharzeo datar, namun ada binar kebanggaan yang tak bisa ia sembunyikan.
"APA?!" Ezzvaro dan Gabriel berseru bersamaan.
"Hahaha! Kaget, kan?!" Garcia tertawa puas, memamerkan cincin berlian di jari manisnya. "Si Robot ini akhirnya mengalami system crash total saat aku mengancam akan menikah dengan pria lain. Dia mengejarku sampai ke Paris dan melamar di bawah hujan deras. Sangat klise, tapi aku suka!"
Gabriel memeluk sahabatnya lagi, air mata haru menetes. "Garce... aku tidak percaya kau benar-benar menaklukkan es abadi ini."
"Bumbu masakan, ingat?" Tharzeo melirik Ezzvaro dengan kedipan mata yang pernah ia berikan bertahun-tahun lalu di koridor kantor. "Ternyata Garcia adalah bumbu yang paling pas untuk hidupku yang hambar."
Malam itu, di rumah kayu kecil di pinggiran Queenstown, sejarah baru ditulis. Tidak ada lagi intrik berdarah, tidak ada lagi pengkhianatan. Yang ada hanyalah reuni keluarga yang sempat hancur. Mereka makan malam bersama, tertawa mendengar ocehan Garcia yang tidak ada habisnya, dan melihat Tharzeo yang sesekali tersenyum tulus saat Zendaya duduk di pangkuannya.
Masa lalu mungkin telah memberikan mereka luka yang dalam, namun malam itu, di bawah langit Selandia Baru yang penuh bintang, mereka menyadari bahwa meskipun Fank Manafe telah pergi dengan segala kekejamannya, ia meninggalkan satu hal yang tidak ia duga: sebuah ikatan persaudaraan dan cinta yang jauh lebih kuat dari sekadar angka-angka di laporan keuangan.
"Jadi, apa kau akan datang ke pernikahanku, Adik Kecil?" tanya Tharzeo sebelum mereka berpamitan untuk kembali ke hotel.
Ezzvaro menatap Gabriel yang sedang menidurkan Zendaya di pelukannya. Ia lalu menatap kakaknya. "Berikan kami waktu. Tapi aku berjanji, Zendaya harus melihat pamannya berdiri di altar."
Tharzeo mengangguk puas. Saat mobil mereka menjauh dari rumah kayu itu, Ezzvaro merangkul pinggang Gabriel, menatap jejak lampu mobil yang menghilang di kegelapan lembah.
"Dunia kecil kita baru saja kedatangan tamu besar, Sayang," bisik Ezzvaro.
"Dan sepertinya dunia besar di London sana sudah jauh lebih hangat sekarang," jawab Gabriel sambil menyandarkan kepalanya di bahu suaminya.