Arlo Valerius muak menjadi pangeran. Baginya, mahkota adalah beban dan perjodohannya dengan Putri Helena adalah penjara. Namun, di Sayap Utara istana yang berdebu, ia menemukan dunianya: Kalea Elara, gadis tukang cat yang bicaranya setajam silet.
Di antara debu kapur dan rahasia istana, Arlo belajar tentang kejujuran yang tak pernah ada di balik gaun sutra. Namun, saat Helena mulai mengancam nyawa Kalea, Arlo harus memilih: Tetap menjadi pangeran yang sempurna, atau meruntuhkan tahtanya demi gadis yang ia cintai.
Satu menit sebelum penobatan, Arlo memilih untuk kehilangan segalanya demi satu detik kenyataan.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Ike Diva, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
BAB 10
Batas antara rasa takut dan rasa benci sering kali setipis helaian benang sutra. Keduanya sama-sama mampu membuat jantung berdetak kencang, membuat telapak tangan berkeringat, dan membuat pikiran terjaga di tengah malam yang paling sunyi. Bedanya, rasa takut membuat seseorang meringkuk dalam bayangan, sementara rasa benci justru memberi mereka alasan untuk terus berdiri tegak di bawah cahaya yang paling menyakitkan sekalipun. Di Aethelgard, benang itu sedang ditarik dengan kencang, menunggu saat yang tepat untuk putus dan melilit leher siapa pun yang berada di dekatnya.
Arlo Valerius menatap jemari tangannya yang sedang memutar-mutar kancing manset perak di pergelangan tangannya. Manset itu berbentuk kepala singa dengan mata dari batu safir kecil, simbol yang seharusnya memberi kesan agung, namun di mata Arlo, itu tampak seperti taring yang siap menggigit kulitnya sendiri. Ia berdiri di tengah kamarnya yang luas, dikelilingi oleh setidaknya lima orang pelayan yang sedang sibuk merapikan jubah upacaranya.
Hari ini bukan sekadar hari biasa. Hari ini adalah upacara penyematan tiara untuk Helena, sebuah simbol bahwa wanita itu telah resmi diterima sebagai bagian dari keluarga inti Aethelgard. Sebuah langkah maju menuju pernikahan yang Arlo anggap sebagai hukuman mati bagi kebebasannya.
"Yang Mulia, mohon dagunya sedikit diangkat," seorang pelayan tua berbisik sambil merapikan kerah kemeja Arlo yang kaku.
Arlo menuruti perintah itu tanpa bicara. Matanya menatap lurus ke jendela besar yang menghadap ke arah Sayap Utara. Dari kejauhan, ia masih bisa melihat siluet perancah besi yang menjulang. Di balik kemeja sutranya yang licin, Arlo bisa merasakan goresan kasar di telapak tangannya—jejak dari perancah yang ia pegang demi Kalea. Rasa perih itu kini menjadi satu-satunya hal yang membuatnya merasa tetap memijak bumi di tengah kepalsuan upacara ini.
"Lord Cedric," panggil Arlo saat para pelayan mulai mundur.
"Ya, Yang Mulia?" Cedric melangkah maju, tangannya terjali di depan perut dengan sikap sempurna.
"Pastikan tim renovasi di Sayap Utara mendapatkan jatah makan siang tambahan hari ini. Katakan itu sebagai bentuk syukur atas upacara Putri Helena," Arlo bicara dengan nada yang sangat datar, seolah-olah itu adalah perintah logistik biasa.
Cedric sempat tertegun sesaat, matanya menatap Arlo melalui pantulan cermin. "Tentu, Yang Mulia. Namun, apakah itu tidak akan memicu kecurigaan Putri Helena? Beliau sangat memperhatikan setiap koin yang dikeluarkan untuk para pekerja belakangan ini."
"Lakukan saja, Cedric. Jika Helena bertanya, katakan itu perintah dari Raja agar citranya di mata rakyat terlihat baik menjelang pernikahan," Arlo menyambar sarung tangan putihnya, memasangnya dengan gerakan cepat yang seolah ingin menyembunyikan tangannya yang gemetar.
Langkah kaki Arlo menuju aula utama terasa berat. Setiap denting sepatu botnya di atas marmer terdengar seperti hitungan mundur. Begitu ia sampai di depan pintu besar aula, suara terompet langsung memekik, menyambut kehadirannya. Arlo melangkah masuk dengan dagu terangkat, mengenakan topeng pangeran yang paling sempurna yang pernah ia miliki.
Di ujung aula, Helena berdiri di atas podium kecil. Ia mengenakan gaun berwarna perak yang tampak menyatu dengan warna rambut pirangnya. Di tangannya, ia memegang kipas bulu yang sesekali ia gerakkan dengan gerakan yang sangat berirama. Begitu melihat Arlo, senyum Helena melebar—senyum kemenangan yang membuat ulu hati Arlo terasa seperti dihantam palu godam.
Arlo berjalan mendekat, berlutut di depan Helena sesuai protokol, lalu berdiri kembali untuk berdiri di sampingnya. Ia bisa mencium aroma parfum melati Helena yang begitu kuat, mencoba menginvasi ruang pernapasannya.
"Kau tepat waktu, Arlo," Helena berbisik di samping telinganya saat musik orkestra mulai dimainkan. "Aku senang kau tidak memilih untuk bermain-main di gudang debu pagi ini."
"Aku tahu mana yang lebih mendesak, Helena," Arlo menjawab tanpa menoleh. Tatapannya tertuju pada barisan tamu undangan, namun pikirannya sedang memvisualisasikan denah perpustakaan tua yang ia baca semalam.
Upacara penyematan tiara itu berjalan lambat. Raja Valerius meletakkan mahkota perak kecil di kepala Helena, sebuah tindakan yang diikuti oleh sorak-sorai tertahan dari para bangsawan. Helena berdiri dengan keanggunan seorang ratu, membiarkan semua mata memujinya.
Namun, di tengah keriuhan itu, mata Arlo menangkap sosok yang berdiri di balkon atas aula. Bukan seorang bangsawan, melainkan pengawas renovasi yang tampak gelisah. Pria itu memberikan isyarat kecil pada Lord Cedric yang berdiri di sudut ruangan.
Arlo merasa ada yang tidak beres.
Begitu ada jeda dalam protokol saat para tamu mulai dipersilakan mencicipi hidangan, Arlo menarik Lord Cedric ke balik sebuah pilar besar.
"Ada apa, Cedric? Kenapa pengawas itu terlihat seperti baru melihat hantu?" tanya Arlo, suaranya rendah namun tajam.
Cedric menelan ludah, wajahnya yang tua tampak memucat. "Ada insiden di Sayap Utara, Yang Mulia. Bagian fasad yang baru saja dibersihkan... seseorang menyiramkan cairan kimia pembersih batu yang salah. Ukiran singa yang kemarin dikerjakan oleh gadis itu... sekarang mulai retak dan warnanya berubah menjadi hitam pekat."
Darah Arlo seolah mendidih seketika. "Siapa yang melakukannya?"
"Kami belum tahu, Yang Mulia. Namun Putri Helena baru saja melewati area itu sebelum upacara dimulai untuk memastikan 'kebersihan' jalan menuju aula," Cedric menunduk, tidak berani melanjutkan kalimatnya.
Arlo tidak butuh penjelasan lebih lanjut. Ia tahu ini adalah serangan balasan dari Helena. Wanita itu tidak hanya ingin mengancam, ia ingin menghancurkan apa yang paling dibanggakan oleh Kalea—pekerjaannya.
Tanpa mempedulikan Helena yang sedang berbincang dengan ibunda ratu, Arlo melangkah keluar dari aula. Ia bergerak dengan kecepatan yang membuat para pengawal di pintu depan terkesiap. Ia tidak peduli jika ayahnya melihat, ia tidak peduli jika ini akan merusak aliansi politik.
Ia berlari melewati koridor-koridor panjang, menanggalkan jubah upacaranya yang berat di tengah jalan hingga kain beludru mahal itu tergeletak begitu saja di lantai seperti bangkai binatang. Ia terus berlari menuju Sayap Utara.
Begitu sampai di gerbang Sayap Utara, Arlo melihat kekacauan itu.
Kalea sedang berdiri di bawah ukiran singa yang kini tampak mengerikan. Batu marmer putih yang kemarin berkilau indah sekarang dipenuhi noda hitam yang mengalir seperti air mata kotor. Bau zat kimia yang tajam dan menyengat memenuhi udara, menusuk hidung siapa pun yang mendekat.
Kalea tidak menangis. Ia hanya berdiri mematung dengan tangan yang menggantung lemah di samping tubuhnya. Di depannya, pengawas renovasi sedang berteriak-teriak, menunjuk-nunjuk wajah Kalea dengan jari yang gemetar.
"Ini tanggung jawabmu! Kau yang bertugas membersihkan area ini terakhir kali! Bagaimana bisa kau salah menggunakan cairan pembersih?!" teriak pengawas itu. "Kau tahu berapa harga batu ini? Kau tidak akan bisa membayarnya meskipun kau bekerja sampai mati!"
Kalea tetap diam. Ia hanya menatap singa batu itu dengan tatapan kosong, seolah-olah ia baru saja melihat sahabatnya dibunuh di depan matanya sendiri.
"Hentikan," suara Arlo menggelegar di area konstruksi itu.
Pengawas itu terlonjak kaget, segera berbalik dan berlutut saat melihat sang Putra Mahkota berdiri di sana dengan kemeja sutra yang berantakan dan wajah yang dipenuhi amarah. "Yang Mulia! Saya... saya sedang memberikan pelajaran pada pekerja ini karena keteledorannya yang fatal!"
Arlo berjalan mendekati Kalea, mengabaikan pengawas itu sepenuhnya. Ia berdiri tepat di depan gadis itu, namun Kalea tidak mengangkat wajahnya. Kalea hanya menatap sepatu bot Arlo yang kini mulai terkena percikan zat kimia di lantai.
"Kalea, lihat aku," Arlo berkata dengan suara yang lebih lembut, namun sarat dengan perintah.
Kalea perlahan mendongak. Matanya tidak lagi menunjukkan kemarahan. Hanya ada rasa sakit yang begitu hampa, sebuah kepasrahan yang jauh lebih menakutkan daripada kebencian. "Sempurna, bukan? Sekarang singa ini benar-benar terlihat seperti apa yang dikatakan Putri Anda. Kotor. Tikus yang merusak pemandangan."
"Kau tidak melakukannya. Aku tahu itu," Arlo meraih tangan Kalea, tidak peduli pada noda hitam yang mulai menempel di jemarinya yang mengenakan cincin kerajaan.
"Itu tidak penting lagi, Arlo," Kalea melepaskan tangannya dengan gerakan yang sangat lemah. "Bukti di buku laporan mengatakan saya yang terakhir memegang kunci gudang kimia. Pengawas bilang saya akan dikirim ke penjara kerja paksa di pertambangan selatan untuk menebus kerugian ini. Ayah saya... ayah saya tidak akan bertahan seminggu tanpa saya."
Arlo menoleh ke arah pengawas yang masih berlutut. "Keluar dari sini. Bawa semua pekerja lain keluar. Area ini ditutup atas perintahku."
"Tapi Yang Mulia, laporannya harus—"
"KELUAR!" Arlo berteriak hingga urat di lehernya menegang.
Pengawas itu lari tunggang langgang, diikuti oleh beberapa pekerja yang tadinya hanya menonton dari jauh. Kini, aula Sayap Utara yang berbau tajam itu hanya diisi oleh Arlo dan Kalea.
Arlo meraih bahu Kalea, memaksa gadis itu untuk menatapnya. "Dengarkan aku. Aku akan membereskan ini. Aku akan membawa tabib terbaik untuk ayahmu dan memindahkan kalian dari tempat ini malam ini juga."
Kalea tertawa pendek, sebuah tawa yang terdengar sangat getir. "Pindah ke mana, Arlo? Ke penjara yang lebih bagus? Anda tidak mengerti, ya? Helena tidak ingin membunuh saya. Dia ingin menghancurkan saya perlahan-lahan di depan mata Anda. Dia ingin menunjukkan bahwa setiap kali Anda mencoba menyentuh dunia saya, dunia saya akan hancur."
Kalea melangkah mundur, menunjuk ke arah singa hitam itu. "Ini adalah pesan untuk Anda. Bukan untuk saya. Saya hanya alat yang dia gunakan untuk melukai Anda."
Arlo mengepalkan tangannya hingga kuku-kukunya menusuk telapak tangannya sendiri. Ia menyadari kebenaran di balik kata-kata Kalea. Helena adalah seorang predator yang sangat tenang; dia tidak menyerang secara frontal, dia merusak apa pun yang dicintai mangsanya sampai mangsanya tidak punya pilihan selain menyerah.
"Aku tidak akan membiarkan dia menang," Arlo berbisik, matanya berkilat dengan tekad yang mengerikan.
"Anda sudah kalah saat Anda memakai mahkota itu, Arlo," Kalea menyeka noda hitam di pipinya, namun tindakannya justru membuat wajahnya semakin berantakan. "Sekarang pergilah. Jika Anda tetap di sini, dia akan melakukan hal yang lebih buruk lagi. Mungkin besok bukan batu yang dirusak, tapi orang sungguhan."
Tepat saat itu, suara langkah kaki yang anggun dan berirama terdengar dari arah gerbang. Helena masuk ke area renovasi dengan gaun peraknya yang masih berkilau sempurna, seolah-olah dia baru saja melangkah dari surga menuju neraka.
"Astaga, Arlo! Jadi di sini kau berada?" Helena menutup hidungnya dengan kipas bulunya, matanya menatap singa hitam itu dengan ekspresi terkejut yang sangat dibuat-buat. "Dan lihatlah... apa yang terjadi dengan ukiran indah itu? Benar-benar bencana."
Helena melangkah mendekati mereka, matanya melirik Kalea dengan pandangan meremehkan yang sangat tajam. "Aku dengar pekerja ini yang bertanggung jawab. Sangat disayangkan. Padahal aku baru saja ingin meminta Raja memberikan bonus untuk tim renovasi atas upacaraku tadi."
Arlo melangkah maju, menghalangi pandangan Helena ke arah Kalea. "Cukup, Helena. Aku tahu apa yang kau lakukan."
Helena menurunkan kipasnya, senyum tipis yang dingin tersungging di bibirnya. "Apa yang aku lakukan? Aku hanya sedang berjalan-jalan menikmati istanaku sendiri, Arlo. Bukankah wajar jika seorang calon tunangan ingin tahu mengapa pasangannya menghilang di tengah upacara penting?"
Helena mendekati Arlo, jemarinya yang mengenakan sarung tangan renda menyentuh dada Arlo, tepat di atas jantungnya. "Kau terlihat sangat kacau, Arlo. Kau berbau zat kimia dan... keputusasaan. Pulanglah. Mandi. Dan lupakan tentang 'masalah teknis' ini. Biarkan pengadilan istana yang mengurus pekerja yang teledor ini."
"Dia tidak akan pergi ke pengadilan mana pun," ucap Arlo, suaranya terdengar seperti besi yang beradu.
Helena menaikkan sebelah alisnya. "Oh? Dan siapa yang akan menghentikannya? Kau? Dengan kekuasaan apa? Kau masih seorang putra mahkota yang hidup dari belas kasihan ayahmu. Jika kau membuat masalah hari ini, Raja tidak akan hanya mengirim gadis ini ke pertambangan, dia mungkin akan menghapus nama keluarganya dari daftar warga Aethelgard."
Ancaman itu membuat Kalea tersentak di belakang Arlo. Menjadi 'tanpa nama' di Aethelgard berarti kehilangan semua hak sipil, termasuk akses ke makanan dan obat-obatan. Itu adalah hukuman mati yang lambat.
Arlo menatap Helena dengan kebencian yang sudah mencapai puncaknya. Ia menyadari bahwa di depan wanita ini, kejujuran dan keberanian fisik tidak berguna. Ia harus menggunakan cara yang Helena gunakan: kelicikan dan manipulasi.
Arlo perlahan merilekskan otot-otot wajahnya. Ia menarik napas panjang, lalu tersenyum tipis—sebuah senyum yang sama palsunya dengan senyum Helena.
"Kau benar, Helena," ucap Arlo, membuat Kalea dan Helena sama-sama tertegun. "Aku terlalu emosional karena lelah dengan protokol hari ini. Ukiran batu ini memang bisa diganti, dan keteledoran seperti ini memang tidak bisa dimaafkan."
Kalea menatap punggung Arlo dengan pandangan tidak percaya. Air mata yang tadi ia tahan kini benar-benar jatuh membasahi pipinya. Pengecut. Dia benar-benar pengecut, batin Kalea.
Helena tampak puas, ia mengelus lengan Arlo. "Baguslah kalau kau mengerti, sayangku. Mari kita kembali. Pesta baru saja dimulai."
"Tapi," Arlo menahan tangan Helena. "Sebagai bentuk penebusan atas keteledoran pekerja ini, aku ingin dia yang membersihkan seluruh Sayap Utara sendirian malam ini. Tanpa bantuan siapa pun. Biarkan dia merasakan beban dari kesalahannya sendiri sebelum pengadilan memutuskan hukumannya besok pagi. Itu hukuman yang lebih pantas daripada langsung mengirimnya ke penjara, bukan?"
Helena memicingkan mata, menilai niat Arlo. "Membersihkan seluruh aula ini sendirian dalam satu malam? Itu hukuman yang cukup berat."
"Tentu saja. Dan aku sendiri yang akan mengawasinya di sini agar dia tidak melarikan diri atau merusak hal lain," Arlo menambahkan dengan nada dingin. "Kau bisa kembali ke pesta, Helena. Katakan pada Ayah aku sedang 'mendidik' pekerja ini agar tidak merusak reputasi kerajaan lagi."
Helena tertawa kecil, ia merasa telah memenangkan pertempuran ini sepenuhnya. "Ide yang brilian, Arlo. Aku tidak tahu kau bisa bersikap setegas ini. Baiklah, dia milikmu untuk malam ini. Pastikan besok pagi aula ini sudah berkilau, atau aku sendiri yang akan memanggil regu algojo."
Helena berbalik dan melangkah keluar dengan perasaan menang yang meluap.
Setelah suara langkah kaki Helena menghilang, Arlo berbalik ke arah Kalea. Kalea menatapnya dengan pandangan yang penuh dengan penghinaan murni.
"Anda memang iblis yang memakai mahkota," bisik Kalea, suaranya bergetar hebat. "Anda menghukum saya bekerja sampai mati hanya agar Anda bisa terlihat hebat di depan wanita itu? Kenapa Anda tidak sekalian saja mencekik saya sekarang?"
Kalea berbalik, hendak mengambil sikatnya dengan kasar, namun Arlo menyambar lengannya dan menariknya ke balik pilar besar yang tidak terlihat dari pintu masuk.
"Diam dan dengarkan aku!" Arlo berbisik dengan nada yang sangat mendesak. "Aku tidak sedang menghukummu. Aku sedang memberimu satu-satunya waktu yang kita punya untuk melarikan diri."
Kalea terhenti, napasnya memburu. "Apa?"
"Cedric sudah menyiapkan kereta kuda di gerbang belakang hutan. Obat ayahmu sudah ada di sana bersama perbekalan yang cukup untuk tiga bulan," Arlo merogoh saku kemejanya, mengeluarkan sebuah surat yang dicap dengan segel lilin yang tidak dikenal. "Ini adalah identitas baru untukmu dan ayahmu. Kalian akan pergi ke pelabuhan selatan, lalu naik kapal menuju Solandis. Di sana, hukum Aethelgard tidak berlaku."
Kalea menatap surat itu, lalu menatap Arlo. Dunianya seolah berputar 180 derajat dalam hitungan detik. "Lalu... lalu bagaimana dengan Anda? Jika mereka menemukan saya hilang besok pagi, Anda yang akan disalahkan! Anda bilang Anda sendiri yang mengawasi saya!"
Arlo tersenyum, kali ini senyum yang tulus namun sarat dengan kesedihan. "Aku akan bilang kau menyerangku dan melarikan diri melalui saluran pembuangan. Mereka akan mencarimu, tapi pada saat itu kau sudah berada di tengah laut."
"Arlo, Anda akan masuk penjara karena ini! Atau lebih buruk!" Kalea mencengkeram kemeja Arlo, kali ini bukan karena marah, tapi karena takut akan keselamatan pria yang selama ini ia hina.
"Biarkan saja," Arlo mengusap air mata di pipi Kalea dengan ibu jarinya, mengabaikan noda hitam yang kini menghiasi tangannya sendiri. "Aku sudah bosan menjadi pangeran yang sempurna, Kalea. Aku lebih suka menjadi orang yang membantumu melarikan diri dari neraka ini. Lagipula, mereka tidak akan menghukum putra mahkota terlalu berat. Paling-paling aku hanya akan dikurung di menara selama beberapa bulan."
"Kenapa? Kenapa Anda melakukan ini?" bisik Kalea.
Arlo mendekatkan wajahnya ke wajah Kalea, hingga dahi mereka bersentuhan. Bau zat kimia dan debu seolah menghilang, digantikan oleh detak jantung mereka yang beradu liar. "Karena kau adalah satu-satunya retakan di dinding istana ini yang tidak ingin aku tutupi, Kalea. Kau adalah kenyataan yang menyelamatkanku dari kebohongan ini."
Kalea memejamkan matanya, merasakan napas Arlo di kulitnya. Rasa benci yang selama ini ia pelihara seolah mencair, menyisakan sesuatu yang jauh lebih kuat dan menyakitkan—rasa cinta yang lahir di waktu yang salah.
"Cepatlah pergi," Arlo melepaskan cengkeramannya, memberikan surat itu ke tangan Kalea. "Cedric menunggumu di dekat sumur tua. Jangan menoleh ke belakang."
Kalea menatap Arlo untuk terakhir kalinya. Ia ingin mengatakan sesuatu, ingin mencium pria itu, atau setidaknya memeluknya sekali saja. Namun ia tahu, setiap detik yang ia buang adalah ancaman bagi nyawa ayahnya.
"Terima kasih... Arlo," bisik Kalea, lalu ia berbalik dan berlari menuju kegelapan koridor belakang.
Arlo berdiri di aula yang sepi itu, menatap singa hitam yang retak. Ia mengambil sikat kecil yang ditinggalkan Kalea, mencelupkannya ke dalam ember, dan mulai menggosok batu itu sendirian. Ia akan menghabiskan malam ini di sini, mengerjakan pekerjaan seorang tukang cat, agar besok pagi ia punya alasan mengapa pekerja itu bisa melarikan diri saat ia "lengah".
Di setiap gesekan sikatnya, Arlo merasa mahkotanya semakin ringan. Ia tahu, mulai besok, hidupnya akan berubah menjadi neraka. Tapi saat ia membayangkan Kalea sedang berada di atas kereta kuda menuju kebebasan, Arlo merasa bahwa ia baru saja memenangkan peperangan yang paling penting dalam hidupnya.
Sebab bagi seorang Arlo Valerius, kehilangan tahta adalah harga yang sangat murah untuk membayar satu menit kejujuran bersama gadis yang ia cintai.
Retakan itu kini telah meruntuhkan seluruh istana dalam hatinya, dan Arlo tidak pernah merasa sebahagia ini berdiri di tengah puing-puingnya.