Apa yang kita rencanakan tidak selalu sesuai dengan apa yang kita inginkan. Takdirkan yang akan membawa kita ke jalan yang sudah di gariskan.
Lidia tak pernah menyangka bahwa hidupnya akan berubah setelah kejadian malam itu. Niat ingin membantu malah berakhir jadi hal buruk yang tak akan pernah ia lupakan seumur hidup.
Mahkota yang ia jaga di renggut paksa oleh Panca suami sahabatnya sendiri. Semenjak itu ia tak bisa lepas dari jeratan Panca. Sekeras apapun ia menolak ia tak bisa mengelak akan pesona panca yang notabene adalah atasannya sendiri.
Apakah yang akan terjadi selanjutnya? Apakah sahabatnya akan mengetahui perbuatan buruknya dan bagaimana kisah anatara dirinya dan panca?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Ima susanti, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 12
Panca sampai juga di rumahnya. Ruamh nampak sepi tak ada nampak aktivitas apapun. Setelah memarkirkan kendaraanya perlahan lelaki itu melangkah memasuki rumah.
Tak ada istri yang menyambut kepulangannya, semuanya sepi. Panca menuju kamarnya dan melihat istrinya terlelap. Panca duduk di tepi ranjang dan memperhatikan wajah istrinya yang nampak damai dalam tidurnya.
Tidak ada cela pada diri Wulan, cantik dan lembut tapi tak mampu menggetarkan hati Panca. Dua tahun bukanlah waktu yang sebentar untuk mereka bersama tapi entah kenapa rasa itu sulit hadir. Bukanya Panca tak berusaha membuka hati tapi hatinya pernah bohong.
Lelaki itu membetulkan selimut istrinya dan berlalu menganti pakainya. Saat hendak kembali keranjang ia melihat sang istri telah duduk sambil bersandar di tepi ranjang.
"Baru pulang?" tanya Wulan se lembut mungkin.
"Iya."
"Belakang ini mas lebih sering lembur dan pulang malam. Apa kantor segitu sibuknya?" tanya wanita itu tajam.
"Ada proyek yang harus segera di selesaikan." tidak sepenuhnya Panca bohong karna memang ia tengah menyelesaikan sebuah proyek dan lebih banyak menyita waktunya.
"Mas ga lagi bohongi aku kan?" tanya Wulan sambil menatap mata suaminya. Panca mengalihkan pandangan matanya, ia merasa Wulan tengah berusah menyelidik dirinya.
"Kamu ga percaya sama mas." ucap Panca dingin.
"Bukan gitu mas, aku tuh merasa kamu itu berubah."
"Berubah gimana? tanya Panca.
"Ada jurang yang makin jauh memisahkan kita, ada jarak yang tak bisa aku gapai." ungkap Wulan dnegan tatapan sendu.
"Perasan kamu aja kali, aku masih sama seperti dulu."
Feeling seorang istri itu tajam, saat suaminya berubah maka perasaanya pasti merasakan perubahan itu.
"Sudah malam, aku capek. Mau istirahat." Panca merebahkan tubuhnya di bawain kasur yang kosong.
"Lidia juga lembur?" tanya Wulan sambil menatap suaminya menuntut jawaban.
"Tentu saja ia ikut, dia itu sekretaris aku jadi harus ada saat aku membutuhkan." jawab Panca sambil menajamkan matanya. Tubuhnya sudah lelah dan buruh istirahat. Ia tak lagi meladeni pertanyaan - pertanyaan dari istrinya. Wulan yang kesal di cuekin memilih ikut merebahkan tubuhnya tapi matanya sekan enggan untuk kembali terpejam.
Pikiran wanita itu melayang buana entah kemana. Wulan bangun dari tidurnya dan duduk di tepi ranjang sambil menatap lelaki yang sudah dua tahun belakangan ini menemaninya. Meski sedari awal ia tak begitu tertarik pada lelaki itu tapi seiring berjalannya waktu perasan itu tumbuh subur di dalam hatinya.
Lelaki itu mengubah hidupnya yang dulu berkecimpung di dunia bisnis memilih jadi ibu rumah tangga sesuai permintaan mama mertua.
"Sebaiknya kamu berhenti aja, toh suami kamu masih sanggup memenuhi kebutuhan hidup kamu." desak mama mertua.
"Nanti akan aku pikirkan lagi, ma." selalu jawab itu yang bisa Wulan berikan karna ia masih mencintai pekerjanya.
"Kalau kamu terus sibuk bekerja lalu siapa yang akan mengurus Panca? Dan kesempatan untuk mendapatkan seorang anak tentu bakal tertunda terus. Mama sudah kepengen mengambang cucu dari kalian." Mama Panca memang selalu menekan Wulan dan Panca agar segera memberikannya cucu.
"Iya, ma. Aku janji bakal bicarakan ini sama mas Panca. Mama ga boleh terlalu banyak pikiran, ingat kesehatan mama." Wulan selalu memperlakukan mertuanya dengan lembut.
Karna desakan mertuanya dan atas persetujuan Panca, Wulan memilih berhenti bekerja dan fokus akan rumah tangganya. Tapi apa yang ia dapatkan, sikap dingin suaminya makin hari makin menjadi.
,
...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...
Assalamualaikum kk terimakasih supportnya dan jangan lupa tinggalkan jejak berupa like dan komen serta vote yang banyak biar thor semakin semangat untuk melanjutkannya bab berikutnya 😘👍🙏
atau adit br dipindah ke kantor nya panca?
atau adit atau lidia ga pernah saling cerita mrk kerja dimana?