NovelToon NovelToon
Nikah Rahasia: Jing Vs Sinting

Nikah Rahasia: Jing Vs Sinting

Status: sedang berlangsung
Genre:Nikah Kontrak / Perjodohan / Cinta Seiring Waktu
Popularitas:1.8k
Nilai: 5
Nama Author: EsKobok

​“Eh, Jing! Sini lu!”
“Apaan sih, Sin? Dasar Sinting!”
​Di kantor, Jingga dan Sinta adalah musuh bebuyutan yang hobi cakar-cakaran. Namun di balik meja kerja, mereka menyimpan satu rahasia besar: Sebuah Buku Nikah.
​Terjebak perjodohan kolot, mereka terpaksa menikah secara rahasia dengan tiga aturan maut:
​Tetap jadi musuh di kantor.
​Jangan campuri urusan kekasih masing-masing.
​Dilarang jatuh cinta!
​Sanggupkah mereka menjaga rahasia saat cemburu mulai terasa lebih nyata daripada sekadar kontrak di atas kertas?
​"Pernikahan ini cuma bisnis, tapi kok gue pengen pecat pacar lu sekarang juga, ya?"

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon EsKobok, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

PROYEK DADAKAN SEPASANG SUAMI ISTRI

Pagi itu, atmosfer di kantor divisi pemasaran terasa lebih tegang dari biasanya. Bukan karena target bulanan yang belum tercapai, melainkan karena pengumuman mendadak dari sang manajer, Adrian. Pria itu berdiri di depan papan tulis kaca besar, menatap timnya dengan raut wajah serius namun penuh ambisi.

“Teman-teman, kita baru saja mendapatkan kontrak eksklusif dari Lumiere Jewelry. Mereka ingin kita membuat kampanye digital untuk koleksi cincin pernikahan terbaru mereka. Konsepnya adalah 'Cinta di Balik Rahasia'. Dan karena ini proyek prioritas, saya butuh dua orang terbaik yang punya sinergi paling kuat untuk memegang kendali penuh,” ucap Adrian tenang.

Sinta sudah mengangkat tangannya, siap mengajukan diri. Dia ingin membuktikan pada Adrian bahwa dia adalah karyawan paling berdedikasi. Namun, sebelum Sinta sempat bersuara, Adrian melanjutkan.

“Jingga, Sinta. Kalian berdua yang akan memimpin proyek ini. Saya lihat akhir-akhir ini kalian sering berdiskusi intens—termasuk di pantri kemarin. Saya rasa kalian sudah mulai menemukan ritme kerja yang pas sebagai rekan satu tim.”

DEG!

Sinta dan Jingga saling lirik. Tatapan mereka seperti dua pedang yang sedang beradu di udara. Ritme kerja apa, Mas Adrian?! Itu ritme debat kusir! jerit Sinta dalam hati.

“Tapi Mas, eh, Pak Adrian... bukannya Jingga sudah memegang proyek alat olahraga?” Sinta mencoba melakukan protes halus.

“Sudah saya alihkan ke Luna. Sekarang, fokus kalian adalah Lumiere. Saya mau draf kasar konsepnya ada di meja saya besok pagi. Itu artinya... kalian mungkin harus lembur malam ini,” Adrian tersenyum tipis, lalu masuk ke ruangannya tanpa memberi celah untuk bantahan.

Jingga mendengus keras, membanting pulpennya ke meja. “Hebat. Selamat, Sinta. Lu berhasil bikin bos lu—sekaligus pacar lu—ngira kita ini partner sejati.”

Sinta menghampiri meja Jingga, menumpukan kedua tangannya di atas meja pria itu. “Eh, Jing! Jangan nyalahin gue ya! Lu sendiri yang kemarin pakai akting rangkul-rangkul gue di depan pantri! Dia pasti lihat, makanya dia pikir kita akrab!”

“Sekarang apa? Lembur? Lu tahu kan kita harus pulang bareng biar nggak boros bensin, tapi kalau kita lembur di kantor, orang-orang bakal curiga kenapa kita pulang di jam yang sama tiap hari!” Jingga merendahkan suaranya, matanya melirik ke sekeliling, memastikan Luna tidak mendengar.

“Ya udah, kita kerjain di apartemen aja!” usul Sinta asal.

“Di apartemen? Lu mau kerja apa mau ngajak gue perang bantal? Di rumah aja kita nggak bisa akur soal remah roti, apalagi soal konsep perhiasan!”

“Nggak ada pilihan lain, Jingga! Daripada kita ketahuan di sini? Pilih mana?”

Jingga menghela napas panjang, mengusap wajahnya kasar. “Oke. Kita balik jam lima teng secara terpisah. Lu naik ojek online, gue naik mobil. Ketemu di meja makan apartemen jam tujuh malam. Jangan telat, atau gue coret nama lu dari laporan!”

Pukul 19.30 WIB, apartemen nomor 1205 berubah fungsi menjadi ruang kreatif darurat. Laptop terbuka di mana-mana, kabel pengisi daya melintang di lantai, dan tumpukan referensi majalah mode berserakan.

Jingga sudah melepas jasnya, hanya menyisakan kemeja putih dengan lengan yang digulung sampai siku. Sinta pun sudah berganti pakaian dengan kaos kebesaran dan celana training, rambutnya dicepol asal-asalan dengan pensil sebagai pengikat.

“Konsepnya 'Cinta di Balik Rahasia'. Gue kepikiran buat pakai tema pasangan yang harus sembunyi-sembunyi karena status sosial,” ucap Sinta sambil mengunyah ujung pensilnya.

“Basi,” potong Jingga cepat. “Ketinggalan zaman. Sekarang itu zamannya forbidden love yang lebih modern. Gimana kalau mereka itu musuh di dunia nyata, tapi sebenarnya saling kirim pesan rahasia tanpa tahu identitas masing-masing?”

Sinta terdiam sejenak. “Musuh? Kayak kita?”

Jingga menatap Sinta datar. “Jangan ge-er. Kita nggak kirim pesan rahasia, kita kirim sumpah serapah tiap hari.”

“Ih, serius dikit napa sih!” Sinta melempar gumpalan kertas ke arah Jingga. “Tapi ide musuh itu... lumayan juga. Kita bisa bikin visualnya kontras. Satu sisi gelap, satu sisi terang. Pas mereka ketemu, warnanya jadi abu-abu elegan, sesuai sama warna cincin platinum mereka.”

Jingga mulai mengetik di laptopnya. “Oke, gue setuju soal visual. Tapi copywriting-nya harus kuat. 'Hanya kamu yang tahu warna asliku'. Gimana?”

“Duh, Jing... lu jago juga ya kalau lagi nggak kumat anjingnya,” puji Sinta tulus.

“Gue emang jago dalam segala hal, Sinta. Makanya Adrian pilih gue, bukan cuma karena dia pacar lu.”

Suasana yang tadinya panas perlahan mencair. Untuk pertama kalinya dalam tiga bulan pernikahan kontrak mereka, mereka benar-benar bekerja sebagai sebuah tim. Tidak ada ejekan "Anjing" atau "Sinting" selama hampir dua jam. Yang ada hanya suara ketikan keyboard dan gesekan pensil di atas kertas.

Namun, kedamaian itu terusik saat perut Sinta berbunyi sangat nyaring. Kruuukkk...

Jingga berhenti mengetik, menatap Sinta dengan ujung bibir yang berkedut menahan tawa. “Suara apa itu? Ada gempa tektonik di perut lu?”

Wajah Sinta memerah. “Gue belum makan malam! Tadi buru-buru balik gara-gara lu ancem mau coret nama gue!”

Jingga menghela napas, berdiri dari kursinya. “Ya udah, gue pesen pizza. Lu mau topping apa?”

“Apa aja yang penting nggak ada remah rotinya di meja gue!” balas Sinta, mencoba mengembalikan harga dirinya.

Sambil menunggu makanan datang, mereka melanjutkan diskusi. Jingga duduk di lantai beralaskan karpet, sementara Sinta duduk di sofa tepat di atasnya. Saat Sinta membungkuk untuk melihat layar laptop Jingga, beberapa helai rambutnya yang lepas dari cepolan jatuh mengenai leher Jingga.

Jingga membeku. Aroma sampo stroberi Sinta yang manis mendadak memenuhi indra penciumannya. Dia bisa merasakan napas Sinta yang teratur di dekat telinganya. Ada sebuah dorongan aneh di dadanya yang membuatnya ingin menoleh dan melihat wajah Sinta dari dekat.

“Jing? Lu kok diem? Ide gue yang tadi jelek ya?” tanya Sinta, tidak menyadari ketegangan yang dialami pria di bawahnya.

“Hah? Enggak... eh, iya, maksud gue... bagus. Lu... lu jauh-jauh dikit napa, panas tahu!” Jingga menggeser duduknya dengan canggung.

Sinta mengerutkan dahi. “Panas apaan? AC kita kan suhunya enam belas derajat, bego!”

“Ya... ya mungkin AC-nya rusak! Besok gue panggil tukang servis!” Jingga beralasan asal, wajahnya sendiri terasa lebih panas dari suhu ruangan manapun.

Pizza akhirnya datang. Mereka makan dengan lahap di atas karpet, masih sambil menatap layar laptop. Di tengah suapan terakhir, Sinta tidak sengaja melihat sebuah foto di ponsel Jingga yang menyala karena ada notifikasi masuk. Itu foto Luna.

Sinta mendadak kehilangan nafsu makan. Dia teringat kembali posisi mereka. Seakrab apa pun mereka malam ini, pada akhirnya mereka adalah dua orang yang sedang menunggu waktu untuk berpisah. Jingga milik Luna, dan dia... dia seharusnya milik Adrian.

“Jing,” panggil Sinta pelan.

“Hmm?” sahut Jingga tanpa menoleh, masih sibuk mengedit slide presentasi.

“Lu... lu beneran bakal nikah sama Luna habis kontrak kita selesai?”

Pertanyaan itu membuat jari-jari Jingga di atas keyboard terhenti. Dia menatap layar kosong selama beberapa detik sebelum akhirnya berbalik menatap Sinta.

“Kenapa lu tanya gitu?” suara Jingga terdengar lebih berat dari biasanya.

“Nggak apa-apa. Cuma... gue kepikiran aja. Kita udah tiga bulan bareng. Kadang gue lupa kalau semua ini cuma pura-pura demi warisan kakek,” Sinta menunduk, memainkan pinggiran kotak pizza.

Jingga menatap Sinta dengan tatapan yang sulit diartikan. Ada sesuatu yang ingin dia katakan, sesuatu yang tertahan di kerongkongannya. Dia ingin bilang bahwa Luna tidak pernah membuatnya merasa "hidup" seperti saat dia berdebat dengan Sinta. Dia ingin bilang bahwa rumah ini terasa lebih hangat saat ada suara omelan Sinta.

Tapi egonya yang setinggi langit menang.

“Ya iya lah. Kan itu rencananya dari awal. Lu juga kan, mau nikah sama si Adrian? Manajer idaman lu itu?” balas Jingga, suaranya kembali dingin dan penuh pertahanan diri.

Sinta tersenyum kecut, meski hatinya terasa seperti dicubit. “Iya. Tentu aja. Mas Adrian itu romantis, nggak kayak lu.”

“Bagus kalau gitu. Jadi nggak usah baper sama proyek perhiasan ini. Ini cuma kerjaan,” Jingga menutup laptopnya dengan suara keras. “Udah beres. Gue bakal kirim ke email Adrian sekarang. Gue mau tidur.”

Jingga berdiri dan berjalan menuju kamarnya tanpa menoleh lagi. Sinta tetap duduk di karpet, menatap tumpukan sampah pizza dan kabel-kabel yang berantakan.

“Cuma kerjaan ya?” bisik Sinta pada dirinya sendiri.

Malam itu, di apartemen yang dingin, ada dua orang yang tidur dengan pikiran yang sama namun mulut yang terkunci rapat. Proyek Lumiere Jewelry baru saja dimulai, tapi sepertinya mereka baru saja menciptakan "Rahasia" baru yang jauh lebih berbahaya daripada pernikahan kontrak mereka: sebuah perasaan yang mulai tumbuh di tengah peperangan.

Dan besok pagi, mereka harus kembali ke kantor, berpura-pura menjadi rekan kerja yang biasa-biasa saja di depan Adrian dan Luna, sambil membawa sisa-sisa ketegangan malam ini di dalam tas kerja mereka.

1
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!