Kang Han-jun adalah pria yang terbiasa diabaikan oleh dunia hingga sebuah truk mengakhiri hidupnya yang monoton. Namun, kematian bukanlah akhir. Ia terbangun di Kuil Kehampaan, sebuah titik antara dimensi Bumi dan Alura, di mana Planet Ridokan berada.
Diberi kesempatan kedua oleh Sang Dewi sebagai penyeimbang dimensi, Han-jun dikirim ke Ridokan dengan satu misi: mengumpulkan 6 Prasasti Elemen sebelum Ras Iblis dari Benua Hitam menelan seluruh kehidupan. Meski dibekali kekuatan tanpa batas, Han-jun hanya ingin satu hal: hidup santai. Namun, takdir menyeretnya melintasi lima benua, membangun persahabatan yang tak terhancurkan, dan menghadapi kengerian dari tiga Dewa Iblis yang haus darah. Ini bukan sekadar perjalanan pahlawan; ini adalah kisah tentang pria yang mencari arti rumah di dunia yang asing.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Jilal Suherman, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 16: Panasnya Abu Vulkanik dan Tembok Kematian Sang Alpha
Cahaya matahari pagi Ridokan menyusup melalui celah-celah daun ek di Hutan Bayangan Berbisik. Sisa-sisa bara api unggun semalam telah menjadi abu. Ajil duduk bersila, mengatur napas dan menyelaraskan aliran mana di dalam tubuhnya. Walaupun staminanya seolah tak berujung, beban mental dari pertarungan berturut-turut mulai terasa membebani saraf manusianya.
Erina, yang terbangun tak lama kemudian, melangkah mendekat dengan anggun. Zirah sutra mithrilnya memantulkan cahaya pagi. Ia menyodorkan bungkusan daun Mallorn berisi Roti Bintang dan sebotol Nektar Bulan Murni.
"Makanlah sebelum kita melanjutkan perjalanan, Ajil," ucap Erina lembut, mata zamrudnya memancarkan kepedulian yang tulus. "Lembah Abu Vulkanik bukanlah tempat yang ramah bahkan untuk monster sekalipun. Suhu di sana bisa mendidihkan darah manusia.".
Ajil menatap makanan tingkat dewa itu sejenak. Ia teringat bagaimana Ami selalu memaksanya sarapan sebelum berangkat kerja ke proyek, meski hanya dengan sepiring nasi sisa dan telur dadar. Hatinya sedikit melunak. Ia mengambil roti itu dan menggigitnya. Sensasi manis dan aliran energi murni langsung menyebar ke seluruh tubuhnya, menghapus rasa lelah di saraf-sarafnya.
"Terima kasih," gumam Ajil pelan, nyaris tak terdengar.
Erina tersenyum lebar, sebuah senyuman yang bisa membuat matahari Ridokan terlihat redup. "Ayo. Beruang Api Kematian Kelas A menunggumu."
Menjelang siang, mereka tiba di perbatasan Lembah Abu Vulkanik. Sesuai namanya, daratan hijau seketika lenyap, digantikan oleh kawah raksasa dan sungai-sungai magma yang menggelegak. Udara di sini sangat tebal oleh asap belerang dan abu vulkanik yang beterbangan. Setelan Malam Abadi milik Ajil langsung bereaksi, menciptakan medan gaya tipis untuk mendinginkan suhu tubuhnya, namun hawa panas yang ekstrem itu tetap terasa menyengat kulit.
[SISTEM: Memasuki Zona Bahaya: Lembah Abu Vulkanik.]
[Peringatan! Deteksi Ancaman Kelas A+. Fluktuasi Magma Ekstrem terdeteksi.]
Di tengah kawah lahar raksasa, berdiri empat ekor Beruang Api Kematian (Level 70). Namun, yang membuat langkah Ajil terhenti bukanlah keempat monster itu, melainkan sosok raksasa yang sedang tertidur di atas pulau batu obsidian di tengah lahar.
Beruang kelima itu berukuran tiga kali lipat lebih besar. Zirahnya bukan batuan hitam biasa, melainkan magma putih yang menyilaukan mata. Setiap kali ia bernapas, semburan api biru keluar dari hidungnya, melelehkan batu di sekitarnya.
[SISTEM: Peringatan Kritis! Boss Area Terdeteksi.]
[Nama: Raja Beruang Magma Putih (Alpha)]
[Level: 85]
[Kelas: A+ (Monster Bencana Alam Mutlak)]
"Itu... bukan Beruang Api Kematian biasa," bisik Erina dari atas tebing kawah, nada suaranya berubah tegang. "Itu adalah mutasi Alpha yang telah menyerap inti gunung berapi. Level 85! Zirah magma putihnya bisa memantulkan sihir tingkat tinggi dan membakar senjata apa pun yang menyentuhnya. Ajil, kau tidak bisa gegabah kali ini!"
Ajil menatap monster raksasa itu. Darahnya berdesir. Jika ia ingin menjadi lebih kuat demi membuka jalan pulang, ia tidak bisa hanya melawan monster yang bisa ia hancurkan dengan mudah. Ia butuh ujian. Ia butuh rasa sakit untuk mengingatkannya bahwa ia masih manusia.
"Tetap di atas. Jangan ikut campur," perintah Ajil datar.
Tanpa ragu, Ajil melompat turun dari tebing setinggi lima puluh meter itu, mendarat di atas dataran obsidian dengan suara dentuman keras.
Kehadirannya langsung memicu amarah kawanan beruang. Empat beruang Level 70 meraung serempak dan menerjang ke arah Ajil.
Ajil mengepalkan tangannya, memanggil Tinju Petir Ungu. Ia menghindari cakar beruang pertama, melesat ke samping, dan menghantamkan tinjunya ke tulang rusuk beruang itu.
BLAAARR!
Beruang pertama hancur. Namun, darah magmanya yang bersuhu ribuan derajat terciprat ke lengan Ajil. Setelan Malam Abadi-nya mendesis keras, dan untuk pertama kalinya, Ajil merasakan hawa panas yang membakar menembus kulitnya. Ia mengernyitkan dahi.
Sebelum ia sempat mengatur napas, sang Alpha terbangun.
Raja Beruang Magma Putih itu meraung hingga langit Lembah Abu Vulkanik seolah retak. Kecepatannya sangat tidak masuk akal untuk ukuran tubuhnya yang raksasa. Dalam hitungan detik, Alpha itu telah melompati sungai lahar dan mendarat tepat di depan Ajil.
WUSSSHHH!
Cakar raksasa berlapis api biru diayunkan mendatar. Ajil menyilangkan kedua lengannya untuk menahan serangan itu, mengalirkan seluruh mana-nya sebagai perisai.
BOOOMM!!
Kekuatan benturan itu luar biasa dahsyat. Perisai mana Ajil retak. Tubuh pria itu terhempas ke belakang layaknya peluru meriam, terbang sejauh tiga puluh meter, dan menabrak tebing kawah hingga batu-batu raksasa longsor menimbunnya.
Di atas tebing, Erina menjerit tertahan. "AJIL!"
Debu vulkanik mengepul. Dari balik reruntuhan batu, Ajil memaksakan dirinya berdiri. Ia terbatuk keras, memuntahkan seteguk darah segar ke atas tanah yang panas. Tulang lengannya terasa retak, dan otot-ototnya menjerit kesakitan. Monster ini berada di liga yang berbeda. Kekuatan fisiknya melampaui batas toleransi tubuh manusiawi Ajil, meski ia ditopang oleh energi tak terbatas.
Sang Alpha tidak memberinya waktu. Ia membuka rahangnya, memfokuskan energi panas di tenggorokannya, dan menembakkan Sinar Api Putih yang melesat dengan kecepatan cahaya.
Ajil membelalakkan matanya. Ia menghentakkan kakinya, mengaktifkan Aura Gravitasi Jiwa ke depan untuk membelokkan sinar itu. Sinar api putih itu menyambar tanah di sebelah Ajil, melelehkan tebing batu menjadi genangan kaca cair dalam sekejap. Hawa panasnya membuat kulit wajah Ajil melepuh ringan.
"Kau... cukup keras kepala," desis Ajil, menyeka darah dari sudut bibirnya. Matanya yang biasa kosong kini berkilat oleh insting bertarung yang buas.
Ia merentangkan tangan kanannya. Pusaran dimensi terbuka, dan gagang hitam bersisik naga muncul. Ajil menarik Pedang Petir Hijau Abadi.
Segel pertama terbuka. Aura petir hijau dan ungu meledak, menciptakan badai listrik yang memukul mundur hawa panas di sekitarnya.
Ajil melesat maju, mengayunkan pedangnya dengan teknik Tebasan Pembelah Batas. Bilah zamrud itu berbenturan langsung dengan cakar magma putih sang Alpha.
TRANGGG!!
KRAAAK!!!
Gelombang kejut dari benturan senjata God-Tier dan cakar mutlak monster itu meratakan daratan obsidian di sekitar mereka. Ajil menggertakkan giginya. Otot-otot bahunya robek perlahan karena menahan gaya tolak yang luar biasa berat. Pedangnya memang mampu menembus pertahanan monster itu, tapi zirah magma putih sang Alpha beregenerasi lebih cepat dari tebasannya karena mereka berada di atas sumber vulkanik.
Sang Alpha mengayunkan cakar kirinya, menghantam rusuk Ajil.
Brak!!
Ajil kembali terpental, terguling di atas batu tajam. Rasa sakit yang luar biasa menusuk dadanya. Napasnya tersengal. Sistem di kepalanya berkedip merah, memberikan peringatan kerusakan fisik.
Erina menarik busur emasnya dari atas tebing, tak tahan melihat pria yang dicintainya dihancurkan. Namun, sebelum ia melepaskan panah angin sucinya, suara bariton Ajil yang berat dan bergetar menghentikannya.
"JANGAN IKUT CAMPUR, ERINA!" raung Ajil, perlahan bangkit dengan menopangkan tubuhnya pada pedang hijau miliknya. Darah menetes dari dahi dan bibirnya, menodai kerah jaket hitamnya.
Ajil menatap raksasa magma putih yang kembali bersiap menerjangnya. Napasnya memburu. Rasa sakit ini... tulang yang patah ini... sangat nyata. Namun, di saat bersamaan, rasa sakit ini membangkitkan memorinya. Ia teringat betapa kerasnya ia bekerja sebagai kuli bangunan, menahan sakit di pinggangnya setiap hari hanya untuk melihat senyum Arzan dan Dara. Jika ia menyerah di sini, ia tidak akan pernah melihat mereka lagi.
"Kekuatan sejati bukanlah saat kau tidak pernah terjatuh dan berdarah," ucap Ajil dengan suara serak, mencengkeram gagang pedangnya semakin erat hingga buku-buku jarinya memutih. Matanya menatap tajam bagai dewa kematian yang bangkit dari neraka. "Melainkan seberapa keras kau mencengkeram tanah yang panas ini untuk bangkit kembali... demi mereka yang menunggumu pulang.".
Ajil memejamkan mata sesaat. Ia tidak bisa hanya mengandalkan kekuatan mentah. Ia harus menggunakan otaknya. Regenerasi magma itu... intinya ada di jantungnya yang terus memompa lahar dari tanah, batin Ajil.
Sang Alpha menerjang dengan auman memekakkan telinga.
Kali ini, Ajil tidak menahan serangannya. Di detik terakhir sebelum cakar raksasa itu merobek tubuhnya, Ajil membuang tubuhnya ke tanah, meluncur di bawah selangkangan monster tersebut.
Dengan posisi berlutut di bawah perut sang Alpha, Ajil memutar pedangnya ke atas. Ia menyalurkan seluruh Mana Tak Terbatas-nya, memaksa aliran petir ungu mengalir ke dalam pedang zamrudnya hingga pedang itu bergetar hebat seolah akan meledak.
"HANCUR!"
Ajil menusukkan Pedang Petir Hijau Abadi lurus ke atas, menembus perut monster itu dan mengarah tepat ke jantung magmanya.
JLEB!! Bilah pedang itu menembus kerasnya zirah perut. Sang Alpha meraung kesakitan yang luar biasa. Ajil tidak berhenti di situ. Ia melepaskan Ledakan Amukan Petir Abadi secara langsung dari dalam tubuh monster itu.
ZDAAARRR!!!
Pilar petir perpaduan ungu pekat dan hijau terang meledak dari punggung Raja Beruang Magma Putih, menembus langit Lembah Abu Vulkanik. Tubuh raksasa itu menggembung, lalu meledak berkeping-keping. Hujan batu obsidian dan magma cair turun menderas, namun medan perlindungan Ajil dan sisa petirnya menyapu bersih rintikan mematikan itu.
[SISTEM: Berhasil mengeksekusi Raja Beruang Magma Putih (Alpha Lv.85).]
[Ting! Level Up! Anda telah mencapai Level 80.]
[Ting! Level Up! Anda telah mencapai Level 85.]
[Ting! Level Up! Anda telah mencapai Level 88.]
[Menyerap drop material: 1x Inti Magma Putih Absolut (Kelas S), 2x Taring Bencana. Disimpan ke Cincin Ruang.]
Ajil menarik pedangnya kembali. Begitu pedang itu masuk ke ruang dimensi, tubuh Ajil limbung. Ia jatuh bertumpu pada satu lutut, menggunakan tangannya untuk menahan tubuhnya agar tidak ambruk sepenuhnya. Napasnya sangat berat. Sistemnya segera bekerja keras menggunakan sisa mana untuk menyembuhkan tulang-tulang rusuk dan lengannya yang retak.
Sebuah embusan angin yang sejuk tiba-tiba menyapu wajahnya, membawa aroma nektar dan bunga matahari. Erina telah berada di sampingnya, berlutut dengan raut wajah yang sangat cemas. Ia tidak peduli gaun sutranya kotor oleh abu.
"Ajil..." suara Erina bergetar. Tangannya yang ramping dan bercahaya perlahan menyentuh punggung Ajil, mengalirkan sihir penyembuhan elemen angin suci yang terasa sangat dingin dan nyaman, mempercepat perbaikan sel-sel tubuh Ajil. "Kau sangat ceroboh. Kau hampir mati."
Ajil tidak menepis tangan Erina kali ini. Ia membiarkan sihir penyembuhan itu bekerja. Ia menoleh sedikit, menatap wajah cantik sang High Elf yang memucat karena khawatir.
"Aku tidak akan mati sebelum aku pulang," jawab Ajil pelan, napasnya mulai teratur seiring berjalannya sihir penyembuhan Erina.
Erina tersenyum lega, setetes air mata jatuh dari sudut matanya. Ia membantu Ajil berdiri. "Ya. Kau adalah algojo yang terlalu keras kepala untuk mati di tempat seperti ini. Ayo kita kembali. Kau sudah mendapatkan inti monsternya."
Sore harinya, setelah Ajil membersihkan diri dari darah dan debu menggunakan sihir elemen air murni di perjalanan, mereka akhirnya melihat gerbang Kerajaan Valeria yang menjulang tinggi di kejauhan. Luka-luka Ajil telah sepenuhnya pulih, namun rasa kaku di ototnya masih sedikit tertinggal, menjadi pengingat berharga akan batas fisiknya.
Namun, langkah mereka terhenti saat jarak mereka tinggal dua ratus meter dari gerbang masuk.
Jalanan utama menuju kota diblokir sepenuhnya. Antrean kereta dagang dan petualang terpaksa menepi dengan wajah ketakutan.
Di tengah jalan setapak yang lebar itu, berdiri dua kelompok petualang yang saling berhadapan dalam formasi tempur, memancarkan aura membunuh yang sangat kental.
Kelompok pertama dipimpin oleh pria berzirah merah api, Rino. Di sisinya, Richard memegang tombak esnya dengan wajah tegang. Di belakang mereka, berdiri lima anggota inti dari kelompok Kelas A mereka, memegang senjata dengan tangan gemetar.
Kelompok yang menghalangi jalan Rino jauh lebih mengintimidasi. Itu adalah kelompok The Silver Fang, salah satu legenda hidup di Valeria. Dipimpin oleh seorang ksatria berambut perak dengan zirah mengkilap, memegang sebuah pedang besar yang memancarkan elemen cahaya murni. Seluruh anggota Silver Fang memancarkan aura Kelas S.
"Minggir dari jalan kami, Arthur!" raung Rino, pedang apinya menyala terang. "Ini urusanku dengan si Pria Berjaket Hitam itu! Dia telah mempermalukan kelompok kami di depan seluruh Guild. Aku akan membalasnya tepat di gerbang ini saat dia pulang!"
Arthur, sang Ksatria Cahaya dari Silver Fang, tertawa meremehkan. "Kau sungguh bodoh, Rino. Master Leon telah menaikkan pria itu menjadi Kelas S dalam satu malam. Pria itu kini adalah target buruan kami untuk direkrut... atau dihancurkan jika dia menolak. Seekor anjing Kelas A sepertimu tidak berhak mencampuri urusan para elit."
Ajil, yang berdiri di kejauhan mengamati perdebatan konyol itu, menghela napas panjang. Kepalanya masih sedikit pusing sisa pertarungan dengan Alpha, dan kini ia harus berhadapan dengan drama arogansi dari para badut sirkus Guild.
Erina yang berdiri di sebelahnya tersenyum sinis, mata zamrudnya berkilat meremehkan. "Sepertinya ada beberapa lalat yang berebut bangkai di depan pintu rumahmu, Ajil. Apakah kau ingin aku menyapukan angin suciku untuk menyingkirkan mereka?"
Ajil merapatkan kerah jaketnya, wajahnya kembali membeku sekeras es abadi. Langkahnya yang mantap kembali berderap, melangkah lurus menuju gerbang tanpa sedikit pun niat untuk menghindar.
"Tidak perlu," jawab Ajil dingin, auranya mulai menggelap. "Aku sendiri yang akan menginjak mereka."