NovelToon NovelToon
Jalan Kaisar Semesta

Jalan Kaisar Semesta

Status: sedang berlangsung
Genre:Action / Fantasi / Anak Genius
Popularitas:3.3k
Nilai: 5
Nama Author: Anonim

Shen Yuan berdiri paling DEPAN di antara puluhan ribu kultivator dengan senjatanya dia siap membelah langit jika jalanya hanya ada satu😗

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Anonim, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bab 5: Pisau di Balik Lengan Baju

​Hukum tak tertulis di Sekte Langit Berkabut: Pisau yang paling mematikan bukanlah yang paling bersinar saat ditarik dari sarungnya, melainkan yang bilahnya tidak pernah terlihat sampai darah menetes ke tanah.

​Hening.

​Pelataran Bela Diri Luar yang biasanya dipenuhi teriakan penuh semangat kini senyap bagaikan kuburan es. Hanya suara angin musim dingin yang berdesir melewati rak-rak senjata, dan ringisan tertahan dari Lin Hai yang masih berlutut di atas salju.

​Wajah pemuda arogan itu telah berubah dari ungu menjadi pucat pasi. Tangannya masih mencengkeram erat area di antara kedua kakinya. Tubuhnya bergetar, bukan karena badai salju, melainkan karena rasa sakit purba yang mampu meruntuhkan harga diri pria mana pun.

​Dua orang antek Lin Hai yang sedari tadi mengekorinya akhirnya tersadar dari keterkejutan mereka. Wajah mereka memerah karena marah.

​"Beraninya kau, Anjing Pelayan!" teriak salah satu dari mereka, mencabut sebilah pedang kayu latihan dari pinggangnya. "Kau sengaja melukai Tuan Muda Lin Hai! Matilah kau!"

​Pedang kayu itu berdesing membelah udara, mengarah lurus ke tengkuk Shen Yuan yang masih bersujud di atas lantai es. Dengan kekuatan Lapisan Ketiga murid luar, tebasan pedang kayu itu sudah cukup untuk mematahkan tulang leher manusia biasa.

​Shen Yuan memejamkan mata. Benih hitam di Dantian-nya berputar pelan, bersiap mengalirkan Qi untuk menghancurkan pedang kayu itu menjadi serbuk. Namun, telinganya menangkap suara gesekan kain dari arah tengah pelataran.

​Ia segera menarik kembali auranya dan membiarkan tubuhnya bergetar hebat layaknya pelayan malang yang sedang menunggu malaikat maut.

​Trak!

​Sebuah kerikil sebesar biji kacang hijau melesat dengan kecepatan kilat, menghantam bilah pedang kayu tersebut tepat sebelum menyentuh kulit Shen Yuan. Pedang kayu itu terlempar dari genggaman si antek, melayang sejauh sepuluh tombak sebelum menancap kuat di batang pohon pinus. Tangan antek itu robek, berdarah, dan mati rasa.

​Semua mata sontak beralih ke tengah pelataran. Instruktur Han berdiri di sana. Posturnya masih sama, kedua tangan berada di belakang punggung, namun matanya memancarkan hawa dingin yang jauh lebih menusuk daripada cuaca hari ini.

​"Pelataran ini adalah tempat suci untuk memahami Dao Bela Diri," suara Instruktur Han bergema, berat dan menekan dada setiap orang yang mendengarnya. "Bukan tempat untuk memamerkan kesombongan konyol, dan terlebih lagi, bukan panggung bagi kalian untuk membunuh seorang pelayan di depan mataku."

​Antek Lin Hai langsung jatuh berlutut, wajahnya pucat pasi. "I-Instruktur Han! Ampuni murid! Tapi pelayan ini menipu! Dia sengaja memukul..."

​"Tutup mulutmu," potong Instruktur Han. Ia berjalan mendekat. Setiap langkahnya tidak mengeluarkan suara, seolah kakinya tidak menyentuh bumi.

​Instruktur Han melirik Lin Hai yang masih tidak bisa berdiri, lalu menatap Shen Yuan yang tubuhnya gemetar ketakutan (sebuah akting sempurna yang dikontrol hingga ke detak jantungnya). Di mata Instruktur yang telah mencapai Lapisan Kedelapan Kondensasi Qi ini, semuanya sangat jelas. Ia melihat sendiri bagaimana Lin Hai menendang ember, dan bagaimana pelayan malang ini terhuyung karena panik, menyebabkan ujung sapunya naik secara kebetulan.

​Itu murni kecelakaan yang bodoh. Dan kebodohan Lin Hai karena tidak bisa menghindari sapu pelayan rendahan adalah aib bagi pelataran bela dirinya.

​"Lin Hai," panggil Instruktur Han dingin. "Pondasi kultivasimu goyah. Emosimu menguasai akalmu. Seekor semut yang terpeleset pun bisa membuatmu berlutut. Bawa dia ke Paviliun Penyembuhan. Mulai besok, kalian bertiga dilarang mengikuti kelasku selama satu bulan penuh."

​"Instruktur... ini... ini tidak adil..." Lin Hai mencoba memprotes dengan suara serak menahan sakit, matanya menatap Shen Yuan dengan kebencian yang menggelegak.

​"Kau mempertanyakan keadilanku?" Instruktur Han melepaskan seutas aura pembunuhnya.

​Seketika, Lin Hai bungkam. Kedua anteknya buru-buru memapah tubuh Lin Hai yang masih gemetar, menyeretnya menjauh dari pelataran. Sebelum menghilang di balik gerbang batu, Lin Hai menoleh untuk terakhir kalinya. Matanya menatap lurus ke arah Shen Yuan. Sebuah tatapan yang mengukir janji kematian tanpa perlu diucapkan dengan kata-kata.

​Instruktur Han menghela napas, kekecewaan terlihat jelas di wajahnya yang tegas. Ia lalu menunduk menatap Shen Yuan. "Berdirilah. Bawa embermu dan pergilah dari sini. Hari ini kau beruntung Langit masih mengasihanimu, Pelayan."

​"T-Terima kasih, Yang Mulia Instruktur! Terima kasih!" Shen Yuan membenturkan dahinya ke lantai es sekali lagi, suaranya parau penuh rasa syukur yang bercampur isak tangis palsu.

​Ia perlahan bangkit, meraih embernya yang terbalik dan sapunya, lalu berjalan tertatih-tatih meninggalkan pelataran dengan postur membungkuk. Di punggungnya terasa tatapan merendahkan dari puluhan murid luar, namun di dalam hatinya, sebuah evaluasi dingin sedang berlangsung.

​Bulan depan, Ujian Evaluasi Sekte Luar tinggal lima bulan lagi, batin Shen Yuan sambil menyeret langkahnya menuju dapur pelayan. Keluarga Lin tidak akan menunggu selama itu. Kebencian Lin Hai padaku sudah mengakar. Dia tidak berani bergerak di depan para tetua, jadi dia pasti akan mengirim anjing pembunuh saat aku sedang menjalankan tugas di luar sekte.

​Shen Yuan meremas gagang ember kayunya. Waktu damainya telah berakhir lebih cepat dari yang ia duga.

​Malam harinya, bulan purnama menggantung sempurna di langit, menyinari Hutan Pinus Hitam dengan cahaya perak yang dingin.

​Di kedalaman hutan, jauh dari batas batu merah tempat ia mencari kayu bakar sebelumnya, berdirilah sesosok bayangan. Shen Yuan tidak mengenakan pakaian raminya. Ia bertelanjang dada, membiarkan udara malam yang membekukan menerpa otot-ototnya yang sekeras batu giok.

​Matanya terpejam, mencoba merekonstruksi setiap serabut energi yang ia lihat dari gerakan Instruktur Han pagi tadi.

​Langkah Awan Mengambang. Teknik gerakan tingkat rendah milik Sekte Langit Berkabut. Mengandalkan sirkulasi Qi yang sangat ringan dan lembut dari Dantian, disalurkan ke meridian kaki untuk menciptakan ilusi tubuh seringan awan.

​Shen Yuan mengambil napas panjang. Ia mencoba mengalirkan energi dari benih hitam di dalam perutnya, meniru rute meridian yang sama persis dengan instruktur tersebut.

​Wush!

​Ia melangkah maju. Namun, bukannya melayang seringan awan, kaki Shen Yuan menghantam tanah yang tertutup salju dengan kekuatan destruktif.

​BUM!

​Bumi bergetar. Tumpukan salju di sekitarnya meledak ke udara bagaikan terkena hantaman godam raksasa. Shen Yuan terdorong maju sejauh dua tombak, namun pijakannya sangat kasar hingga meninggalkan kawah kecil sedalam mata kaki di atas tanah keras.

​Shen Yuan terbatuk, merasakan sedikit ngilu di persendian lututnya. Ia mengerutkan dahi, menatap kakinya sendiri dengan tatapan menganalisis.

​"Gagal," gumamnya pelan. "Bukan rutenya yang salah, tapi sifat energiku yang berbeda."

​Ia menyadari masalah utamanya. Qi yang dihasilkan oleh kultivator biasa adalah energi alam yang dimurnikan—ringan, mengalir, dan mudah dikendalikan. Namun, Qi di dalam tubuh Shen Yuan telah disaring oleh benih hitam dari Kitab Penelan Surga. Energinya sangat purba, mendominasi, dan luar biasa berat.

​Memaksa energi yang sifatnya 'menelan dan menghancurkan' untuk meniru sifat 'awan yang mengambang' sama konyolnya dengan menyuruh seekor naga untuk menari balet.

​"Jika aku tidak bisa membuatnya menjadi awan ringan..." Mata Shen Yuan berkilat tajam di bawah cahaya rembulan. Sebuah senyum tipis yang liar terbentuk di sudut bibirnya. "...maka aku akan membuatnya menjadi badai yang meremukkan bumi."

​Shen Yuan kembali ke posisi awal. Kali ini, ia tidak mencoba menekan sifat asli dari Qi hitamnya. Alih-alih meredamnya agar lembut, ia melepaskan seluruh belenggu pada benih di Dantian-nya.

​Energi berwarna emas gelap seketika membanjiri meridian kakinya, membuat urat-urat nadi di betisnya menonjol keluar seperti akar pohon tua. Otot-ototnya menegang, berderak pelan menahan tekanan yang luar biasa.

​"Alihkan gaya tolak dari telapak kaki... ubah ledakannya menjadi dorongan tajam ke depan."

​Shen Yuan menginjak tanah.

​KRAK!

​Tidak ada suara ledakan keras seperti sebelumnya. Yang ada hanyalah suara udara yang disayat paksa. Dalam kedipan mata, tubuh Shen Yuan menghilang dari tempatnya berdiri, menyisakan sehelai daun pinus kering yang terbelah dua di udara karena sisa gesekan.

​Setengah napas kemudian, siluetnya muncul di depan sebuah pohon pinus raksasa sejauh tujuh tombak.

​Namun kecepatannya terlalu mengerikan. Ia tidak sempat mengerem. Tubuhnya meluncur seperti anak panah yang lepas dari busurnya, dan bahunya menghantam keras batang pohon sebesar pelukan dua orang dewasa tersebut.

​BRAAAK!

​Pohon pinus itu berderak histeris. Batang utamanya patah tepat di titik benturan, serpihan kayunya terlempar ke segala arah seperti pecahan proyektil mematikan. Pohon raksasa itu tumbang dan menghantam salju dengan suara berdebum yang menggetarkan seisi hutan.

​Shen Yuan mundur selangkah, mengusap bahu kirinya yang terasa sedikit kebas. Ia menatap pohon yang tumbang di depannya dengan napas memburu. Keringat bercampur uap panas mengepul dari tubuh bagian atasnya.

​Ini bukan lagi Langkah Awan Mengambang. Kecepatannya dua kali lipat lebih mematikan, serangannya terlalu ganas, dan sama sekali tidak memiliki keanggunan sekte aliran lurus. Jejak yang ditinggalkannya di atas salju bukanlah jejak langkah yang mulus, melainkan retakan aspal yang hangus terbakar energi.

​"Teknik gerakan yang tidak memiliki rem," Shen Yuan tertawa pelan, menertawakan kegilaannya sendiri. "Sangat kasar, menghabiskan banyak energi, tapi cocok untuk membunuh dalam satu serangan mematikan."

​Ia mengepalkan tangannya kuat-kuat. Ia kini memiliki Teknik Gerakan sekaligus serangan fisik darurat. Ia tidak akan pernah bisa menggunakannya di depan para tetua Sekte Langit Berkabut, karena mereka pasti tidak akan mengenali ilmu siluman ini. Namun, di tempat gelap di mana tidak ada saksi mata, langkah ini akan menjadi penentu hidup dan mati.

​"Aku akan menyebutnya... Langkah Penghancur Bayangan," gumam Shen Yuan, menamai seni bela diri pertama yang ia ciptakan sendiri dari hasil pencuriannya.

​Ia mengambil napas dalam-dalam, menstabilkan peredaran Qi-nya yang bergejolak. Udara malam semakin dingin, mengingatkannya bahwa waktu terus berjalan. Keluarga Lin sedang menunggunya membuat kesalahan, sementara ia baru saja mulai mengasah taringnya di dalam gelap.

​Papan catur telah disiapkan. Dan Shen Yuan, sang pion pelayan, bersiap memakan sang raja.

1
@arv_65
Salam Untuk pembaca, mohon maaf karena beberapa hal author iseng, mengunakan istilah modrn di bab 1-100 dan nantinya kedepanya istilah itu author kurangi karena di bab keatasnya adalah mendalami sebuah Dao, jadi mohon maaf jika pembaca agak tidak enak membacanya dan mohon maaf juga jika nantinya bab untuk MC di sekte ada 80+ bab namun author sudah melakukan uplod lebih dari dua bab setiap harinya agar pembaca tidak bosan mohon maaf dari author🙏
Hazard
seru bangettt
A 170 RI
tolong jangan hiatus lg ya thor net💪💪
@arv_65: iya maaf sebelumnya karena bencana jadi hiatus, ini untung akunya masih bisa di pulihkan🙏🏽
total 1 replies
Kaisar Abadi
bang mampir bang
@arv_65: okeeh
total 1 replies
Aisyah Suyuti
seru
@arv_65: Terima kasih🤭
total 1 replies
Blue
Hasil Ai
Blue
Hasil Ai
@arv_65: tapi tenang cuma sebatas perbaikan kata👍
total 2 replies
@arv_65
😴
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!