NovelToon NovelToon
Polisi & Dokter

Polisi & Dokter

Status: sedang berlangsung
Genre:Nikah Kontrak / Perjodohan / Action
Popularitas:3k
Nilai: 5
Nama Author: Akmaludd

Davino Narendra seorang polisi yang trauma akan masa lalunya justru terikat dengan sebuah perjanjian perjodohan dimasa yang akan datang. Perjodohan itu mempertemukan Davino Narendra dengan seorang Dokter, yakni Alisa Widanata.

Kehidupan rumah tangga mereka tentu sangat teruji, karena di balik pernikahan tanpa didasari cinta serta dua bangsal yang berbeda harus menyatukan dua insan tersebut.

bagaimana kelanjutannya??? ikuti kisahnya.....

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Akmaludd, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

BAB 15

​Sabtu pagi di kediaman Narendra biasanya dimulai dengan keheningan yang disiplin. Davino, dengan jam biologis kepolisiannya, sudah terjaga sejak pukul lima subuh. Namun, pemandangan pagi ini sedikit berbeda. Saat Davino sedang melakukan pemanasan ringan di teras belakang dengan kaus singlet olahraga dan celana pendek lari, pintu kaca bergeser terbuka.

​Alisa muncul dengan setelan olahraga berwarna navy yang pas di tubuhnya, rambutnya diikat ekor kuda yang rapi. Ada rona segar di wajahnya yang kini tidak lagi dihantui kelelahan shift malam.

​"Mau lari, Mas?" tanya Alisa sambil melakukan peregangan lengan.

​Davino menoleh, sedikit tertegun melihat Alisa yang biasanya masih bergelung di bawah selimut pada hari libur. "Biasanya kamu tidur sampai siang kalau akhir pekan."

​"Aku sudah minta jadwal pagi, kan? Jadi ritme tidurku mulai teratur," Alisa tersenyum tipis. "Boleh ikut? Aku butuh udara segar selain aroma rumah sakit."

​Davino mengangguk pelan. "Jangan mengeluh kalau aku lari terlalu cepat."

​"Jangan remehkan staminaku, Kapten. Aku biasa berdiri sepuluh jam di ruang operasi," tantang Alisa jenaka.

​Mereka pun berangkat menuju taman kota yang tak jauh dari kompleks perumahan mereka. Pagi itu, udara Jakarta terasa sedikit lebih bersahabat. Matahari yang baru mengintip memberikan warna keemasan pada jalanan yang mulai ramai oleh warga yang berolahraga. Mereka lari berdampingan dalam ritme yang stabil. Davino sesekali melirik Alisa, memastikan istrinya tidak ketinggalan, namun Alisa membuktikan ucapannya—ia tetap stabil di samping Davino.

​Sesampainya di taman kota yang luas, suasana sangat ramai. Ada keluarga yang piknik, anak-anak bermain sepatu roda, dan para lansia yang melakukan senam pernapasan. Saat mereka sedang memperlambat langkah untuk melakukan pendinginan di dekat area bermain anak, langkah Alisa mendadak terhenti.

​"Mas, tunggu," Alisa memegang lengan Davino.

​Mata Alisa tertuju pada seorang anak laki-laki kecil, mungkin berusia sekitar empat tahun, yang duduk sendirian di bangku taman di bawah pohon rindang. Anak itu mengenakan kaus bergambar pahlawan super, wajahnya merah padam, dan bahunya naik turun karena isak tangis yang tertahan.

​Alisa segera menghampiri anak itu, naluri keibuannya (atau mungkin naluri dokternya) muncul seketika. "Halo, Sayang... kenapa sendirian di sini?"

​Anak itu menatap Alisa dengan mata besar yang penuh air mata. "Mama... Mama hilang..."

​Davino ikut berjongkok di samping Alisa. Wajahnya yang biasanya sangar kini dipasang dalam ekspresi yang paling tidak mengintimidasi yang bisa ia lakukan. "Siapa namamu, Jagoan?"

​"Arka..." jawab anak itu sesenggukan.

​"Arka, jangan takut. Tante ini dokter, dia hebat sekali menolong orang. Dan Om ini... Om ini polisi," Alisa melirik Davino dengan senyum kecil. "Om polisi pasti bisa cari Mama Arka dengan cepat."

​Mendengar kata 'polisi', tangis Arka sedikit mereda. Ia menatap Davino dengan kekaguman. Davino mengeluarkan sapu tangan bersih dari saku celananya dan menyerahkannya pada Alisa untuk mengusap air mata Arka.

​"Tadi Arka terakhir sama Mama di mana?" tanya Davino lembut, suaranya sangat berbeda dari suara saat ia menginterogasi informan di gudang kemarin.

​"Di sana... dekat burung-burung," Arka menunjuk ke arah kolam merpati.

​Davino berdiri dan memindai sekitar dengan mata elangnya. Ia melihat kerumunan orang di dekat kolam merpati yang tampak sedang panik mencari sesuatu. "Tetap di sini bersama Alisa, Arka. Om akan cari Mama."

​Davino berjalan dengan langkah tegap namun tenang menuju kerumunan tersebut. Tak butuh waktu lama baginya untuk menemukan seorang wanita yang tampak histeris. Hanya dengan beberapa kalimat dan menunjukkan identitasnya, Davino berhasil menenangkan wanita itu dan membawanya ke arah bangku taman.

​"Arka!" teriak wanita itu sambil berlari memeluk anaknya.

​"Mama!"

​Alisa berdiri, menatap pemandangan itu dengan mata berkaca-kaca. Ada rasa haru yang hangat menyelimuti hatinya. Ia merasakan sebuah kehadiran di sampingnya; Davino sudah kembali, berdiri tegak dengan tangan di pinggang, memperhatikan reuni kecil itu.

​Orang tua Arka, sang Ibu dan Ayahnya yang baru saja menyusul, berkali-kali mengucapkan terima kasih. Sang Ayah menjabat tangan Davino dengan erat.

​"Terima kasih banyak, Pak. Kami benar-benar panik tadi," ucap sang Ayah. Ia kemudian menatap Alisa dan Davino secara bergantian. "Aduh, kalian berdua ini pasangan yang sangat serasi. Satunya polisi, satunya dokter. Benar-benar pasangan pelindung dan penyembuh."

​Sang Ibu ikut menimpali sambil menggendong Arka. "Iya, Mbak. Tadi Arka bilang Tante dokter baik sekali. Semoga kalian segera diberikan momongan ya. Pasti anaknya nanti hebat kalau punya orang tua seperti kalian. Semoga rumah tangganya langgeng, diberkahi, dan segera ada suara tangis bayi di rumah."

​Alisa merasa pipinya memanas hebat. Ia melirik Davino yang tampak berdehem kaku, tidak tahu harus menjawab apa. Doa itu terdengar sangat tulus, namun bagi mereka yang hidup dalam perjanjian satu tahun, kata 'momongan' adalah sesuatu yang sangat jauh dari jangkauan.

​"Terima kasih doanya, Bu," jawab Alisa akhirnya dengan senyum sopan.

​"Kami permisi dulu ya, Pak, Bu. Sekali lagi terima kasih!"

​Setelah keluarga itu menjauh, keheningan yang canggung menyelimuti Davino dan Alisa. Mereka mulai berjalan pelan meninggalkan taman untuk pulang.

​"Doa orang tua tadi... sangat spesifik ya," gumam Alisa, mencoba memecah kecanggungan.

​Davino tetap menatap lurus ke depan. "Mereka tidak tahu situasi kita. Wajar jika mereka bicara seperti itu."

​"Tapi Mas..." Alisa berhenti berjalan sebentar. "Mas tadi hebat sekali. Mas bisa bicara lembut dengan anak kecil. Aku pikir Mas cuma bisa bicara dengan nada interogasi."

​Davino menoleh, menatap Alisa. Cahaya matahari pagi membuat mata cokelat Alisa terlihat lebih terang. "Aku juga punya hati, Alisa. Meskipun aku harus menutupinya dengan seragam ini setiap hari."

​Alisa tersenyum. Kali ini senyumnya benar-benar tulus, bukan senyum sandiwara. "Aku tahu. Aku melihatnya tadi."

​Mereka kembali berjalan pulang. Sepanjang jalan, Alisa memikirkan doa ibu tadi. Pasangan yang cocok dan serasi. Ia membayangkan bagaimana jadinya jika pernikahan ini bukan sebuah perjanjian. Bagaimana jika Davino benar-benar pria yang ia pilih, dan ia adalah wanita yang Davino cintai?

​Namun, lamunan Alisa terhenti saat mereka sampai di depan gerbang rumah. Sebuah mobil hitam yang ia kenal—mobil Satgas tim Alvin—terparkir di sana.

​Davino langsung berubah mode kembali menjadi Kapten Davino yang waspada. "Masuklah ke dalam. Ada sesuatu yang harus aku bicarakan dengan Alvin."

​"Mas, ini hari Sabtu," protes Alisa.

​"Musuh tidak punya hari libur, Alisa," jawab Davino tegas namun tidak membentak.

​Alisa menghela napas dan masuk ke rumah. Di dalam, Maura sedang asyik membuat smoothie. "Gimana jogingnya, Kak? Kok mukanya merah begitu? Kena matahari atau kena gombalan Kak Davino?"

​"Kena doa orang asing, Maura," jawab Alisa sambil menuju dapur untuk mengambil air minum.

​Alisa menceritakan kejadian di taman tadi. Maura mendengarkan dengan mata berbinar. "Tuh kan! Orang asing saja bisa lihat kalau kalian itu cocok banget. Kenapa kalian berdua masih kaku begitu sih? Kak Alisa, percayalah, Kak Davino itu sebenarnya sayang, cuma dia tidak tahu cara ekspresinya saja."

​Alisa hanya terdiam, menyesap airnya. Ia ingin percaya pada kata-kata Maura, tapi bayangan guling pembatas dan surat perjanjian di laci Davino selalu menjadi pengingat pahit.

​Di luar, Davino sedang mendengarkan laporan Alvin dengan wajah mengeras. "Jadi mereka sudah mulai mendekati area rumah sakit lagi?"

​"Iya, Vin. Dan pria bernama Raka itu... dia tidak sengaja memotret sesuatu yang tidak seharusnya dia lihat saat dia membuntuti Alisa kemarin. Dia memotret salah satu mobil operasional musuh. Sekarang, nyawa Raka juga terancam, dan itu bisa membawa mereka langsung ke Alisa," jelas Alvin.

​Davino memukul kap mobilnya. "Bodoh sekali pria itu. Al, amankan Raka. Bawa dia ke kantor untuk dimintai keterangan. Aku tidak mau dia jadi beban tambahan bagi keselamatan Alisa."

​Davino kembali menatap ke arah jendela lantai dua, tempat kamar Alisa berada. Ia menyadari satu hal; semakin ia mencoba menjaga jarak emosional dengan Alisa, semakin kuat takdir menarik mereka untuk saling melindungi. Doa orang tua di taman tadi mungkin terdengar seperti candaan bagi mereka, namun bagi Davino, itu adalah pengingat bahwa ada banyak hal yang harus ia perjuangkan agar 'satu tahun' itu tidak berakhir dengan duka.

​"Segera jalankan, Alvin. Dan pastikan Alisa tidak tahu soal keterlibatan Raka. Aku tidak ingin dia merasa bersalah atau semakin tertekan," perintah Davino.

​Sabtu pagi yang tenang itu berakhir dengan cepat, digantikan oleh awan mendung dari ancaman yang semakin mendekat. Namun di hati Alisa, doa dari orang asing tadi masih bergema, memberikan sedikit harapan yang ia sendiri tak berani akui.

Bersambung

1
Rian Moontero
mampiiirr/Bye-Bye/👍👍
Akmaluddin: makasih kak, jangan lupa like kaka👍
total 1 replies
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!