"Garis ini adalah batas antara hakmu dan dosamu. Melangkah satu senti saja, kau kehilangan segalanya."
Sepuluh tahun lalu, Sasmita Janardana diusir dalam keadaan hancur. Fitnah keji dari Rena, sang ibu tiri, membuatnya kehilangan kasih sayang ayah dan haknya sebagai putri tunggal. Ia dibuang ke luar negeri, sementara Rena dan putranya, Vano, berpesta di atas penderitaan mendiang ibu Sasmita.
Kini, Sasmita kembali setelah kematian misterius ayahnya. Ia tidak datang untuk menangis. Ia datang dengan sebuah wasiat kuno yang sah secara hukum: Rumah mewah Janardana harus dibagi dua secara mutlak.
Sasmita tidak mengusir mereka. Ia justru melakukan penyiksaan yang lebih lambat: Memaksa musuh-musuhnya hidup di bawah atap yang sama, namun terpisah oleh garis merah yang tidak boleh dilintasi.
Di sisi kiri, Rena mulai kehilangan kewarasannya. Di sisi kanan, Sasmita mulai membongkar brankas rahasia yang menyimpan bukti pembunuhan ibunya. Di tengah persaingan panas itu, muncul Bramasta, pengacar
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Mbak Ainun, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
BAB 30: RERUNTUHAN DAN REGENERASI
Fajar menyingsing di atas cakrawala Tangerang, menyapu sisa-sisa asap ledakan yang masih mengepul dari reruntuhan dinding Lapas Wanita. Suara sirine polisi dan ambulans meraung-raung dari kejauhan, menciptakan harmoni kekacauan yang menandai berakhirnya sebuah era kegelapan. Di tengah hiruk-pikuk itu, dua sosok manusia berjalan tertatih-tatih keluar dari gerbang utama yang sudah hancur.
Saga Anindita bersandar pada bahu Sakti. Napasnya pendek, kulitnya pucat pasi akibat proses penghapusan molekuler yang baru saja merobek sistem sarafnya, namun matanya memancarkan kedamaian yang belum pernah terlihat selama sepuluh tahun terakhir. Di dalam nadinya, tidak ada lagi kode digital. Tidak ada lagi triliunan rupiah yang bersembunyi. Ia hanya darah dan daging—seorang manusia biasa yang bebas.
"Nona, kita harus segera menjauh. Tim medis darurat dari pihak netral sudah menunggu di jalan lintas," Sakti berbisik, suaranya parau namun penuh kebanggaan.
Saga menoleh ke belakang, menatap gedung penjara yang kini dikepung oleh pasukan Brimob. Di dalam sana, Viktor Sokolov telah kehilangan segalanya. Dmitri Volkov mungkin tidak akan melihat matahari esok hari. Dan Agatha Waskita... wanita itu akan tetap membusuk di dalam selnya, terperangkap dalam kegilaan yang ia ciptakan sendiri.
Satu bulan telah berlalu sejak malam berdarah di Tangerang. Jakarta perlahan-lahan mulai pulih dari guncangan ekonomi yang diakibatkan oleh runtuhnya Waskita Group dan hilangnya dana Protokol Garuda secara misterius dari pasar global. Pemerintah melakukan nasionalisasi terhadap aset-aset yang tersisa, mengubah gedung-gedung mewah Janardana menjadi pusat perkantoran publik dan fasilitas sosial.
Saga duduk di sebuah kursi kayu di teras sebuah rumah kecil di pinggiran Bogor. Ini bukan rumah mewah dengan pengamanan biometrik, melainkan rumah sederhana milik mendiang ibunya yang dulu disita dan kini berhasil ia beli kembali melalui jalur hukum yang sah. Di tangannya, ia memegang sebuah buku catatan kecil—bukan laptop, bukan tablet, tapi kertas dan pena.
"Dokter bilang pemulihan sistem imun Anda berjalan sangat baik, Nona," Bramasta muncul dari pintu samping, kini ia sudah bisa berjalan dengan bantuan kruk tunggal. Wajahnya tampak lebih cerah, bebas dari beban sebagai mata-mata digital.
"Terima kasih, Bram. Bagaimana dengan proyek di Menteng?" tanya Saga tanpa mengalihkan pandangan dari catatannya.
"Yayasan Melati Putih sudah resmi beroperasi kembali. Tapi kali ini, kita tidak menggunakan dana 'gelap'. Kita mendapatkan hibah dari organisasi internasional dan beberapa mantan korban Dewan Waskita yang ingin memberikan kompensasi," Bramasta duduk di sampingnya. "Sakti sedang di sana sekarang, melatih tim keamanan baru yang... yah, sedikit lebih manusiawi daripada tim Nikolai."
Saga tersenyum tipis. "Nikolai... apakah ada kabar tentangnya?"
Bramasta menggeleng pelan. "Setelah ledakan di rumah aman Bong, jenazahnya tidak pernah ditemukan. Namun, ada laporan tentang seorang pria dengan luka bakar di wajahnya yang terlihat di perbatasan Rusia-Mongolia seminggu yang lalu. Saya rasa, dia tahu cara untuk menghilang."
Saga mengangguk. Ia berharap Nikolai menemukan kedamaiannya sendiri, jauh dari peperangan sindikat yang telah merenggut kemanusiaannya.
"Nona Saga," Bramasta ragu sejenak. "Ada satu tamu yang ingin menemui Anda. Dia bilang dia memiliki sesuatu yang tertinggal dari Tuan Wirya Janardana."
Saga mengerutkan kening. "Siapa?"
"Pengacara lama keluarga, Pak Hardianto. Pria yang selama ini bersembunyi karena takut diburu Agatha."
Seorang pria tua dengan setelan jas yang sudah agak lusuh masuk ke halaman rumah. Ia membawa sebuah koper kecil berbahan kulit yang tampak sangat tua. Pak Hardianto membungkuk hormat kepada Saga, matanya tampak berkaca-kaca melihat putri majikannya masih hidup.
"Nona Saga... saya membawa wasiat terakhir yang sah dari Tuan Wirya. Wasiat ini baru bisa saya berikan jika Protokol Garuda sudah benar-benar musnah. Tuan Wirya tahu bahwa jika uang itu masih ada, wasiat ini hanya akan menjadi surat kematian bagi Anda," ujar Pak Hardianto sambil membuka koper tersebut.
Di dalamnya terdapat sebuah map cokelat dan sebuah kunci kecil berwarna perak. Bukan kunci digital, melainkan kunci fisik untuk sebuah kotak deposit di Bank Nasional.
"Ini bukan tentang uang, Nona," Pak Hardianto menyerahkan map itu. "Ini tentang hak asuh dan identitas."
Saga membuka map tersebut. Di lembar pertama, ia menemukan sebuah dokumen yang menyatakan bahwa Wirya Janardana telah secara resmi mengadopsi Sasmita (Saga) secara hukum internasional jauh sebelum konflik dimulai. Namun, yang paling mengejutkan adalah lampiran di belakangnya.
Sebuah surat dari Ratna Pratiwi.
"Untuk putriku, Saga...
Jika kamu membaca ini, berarti kamu sudah berhasil mengalahkan bayang-bayang yang aku tinggalkan. Maafkan aku karena harus melarikan diri dari ayah biologis-mu. Viktor adalah pria yang mencintai dengan cara menghancurkan. Aku tidak ingin kamu tumbuh di dalam sangkar emas Moskow.
Wirya Janardana adalah pria yang memberikanmu nama, memberikanmu cinta, dan memberikanmu perlindungan. Dia bukan ayah biologismu, tapi dia adalah ayah yang memilihmu. Gunakan kunci perak ini. Di dalam kotak deposit itu, ada sebuah memori kecil berisi video-video masa kecilmu yang aku rekam secara sembunyi-sembunyi. Itu adalah harta karunmu yang sebenarnya. Bukan emas, bukan kekuasaan, tapi kenangan bahwa kamu pernah sangat dicintai."
Saga mendekap surat itu di dadanya. Air mata yang selama ini ia tahan akhirnya tumpah. Semua penderitaan, semua pengkhianatan, dan semua peluru yang ia hadapi terasa sepadan hanya untuk membaca kata-kata itu. Ia bukan hasil dari sebuah protokol; ia adalah anak yang diinginkan dan dicintai.
BAB 31: MUSUH DALAM SELIMUT (EPILOG AWAL)
Malam harinya, suasana di rumah Bogor terasa sangat tenang. Namun, Saga tahu bahwa kebebasan selalu membutuhkan kewaspadaan. Ia berdiri di jendela, menatap hutan jati yang gelap di belakang rumahnya.
Tiba-tiba, Sakti masuk dengan wajah sangat tegang. "Nona, baru saja ada kabar dari Jakarta. Viktor Sokolov diekstradisi kembali ke Rusia sore tadi. Namun, dalam perjalanan menuju bandara, konvoinya diserang."
Saga menegang. "Oleh siapa? Sindikat saingannya?"
"Bukan. Oleh sisa-sisa Dewan Waskita yang masih setia pada satu orang," Sakti menelan ludah. "Nona, Aris... dia kabur dari fasilitas rehabilitasi medis dua hari yang lalu. Dan dia tidak sendiri. Dia membawa sisa-sisa tentara bayaran yang dulu pernah dilatih oleh Nikolai."
Saga mengepalkan tangannya. Aris. Pemuda jenius yang ia kira sudah hancur itu ternyata masih memiliki satu langkah terakhir. Aris bukan lagi pemuda yang haus akan kasih sayang ibunya; dia adalah monster yang lahir dari reruntuhan ego Agatha.
"Dia ingin membalas dendam," bisik Saga.
"Dia tidak hanya ingin balas dendam, Nona. Dia ingin membangkitkan Protokol Garuda yang baru. Dia percaya bahwa meskipun servernya sudah dihapus, algoritma dasarnya masih ada di dalam otak Anda... karena Anda adalah 'novel' yang ia baca setiap hari lewat sistem pengawasan dulu," Sakti menjelaskan dengan nada ngeri.
Saga terdiam. Ternyata, meskipun kodenya sudah hilang dari darahnya, pengetahuan tentang cara kerja sistem itu masih terekam di dalam ingatannya. Sebagai seorang penulis, ia memahami alur logika sistem tersebut lebih baik dari siapa pun.
"Biarkan dia datang, Sakti," Saga berbalik, matanya berkilat dengan ketegasan baru. "Aku sudah menghancurkan ibunya, aku sudah menghancurkan ayahnya, dan aku sudah menghancurkan kekaisarannya. Jika Aris ingin menjadi paragraf terakhir dalam ceritaku, aku akan memastikan dia mendapatkan akhir yang pantas."
Saga berjalan menuju meja kerjanya. Ia membuka laptopnya—laptop baru yang bersih dari koneksi mana pun. Ia mulai mengetikkan sesuatu. Bukan kode, bukan enkripsi, melainkan sebuah naskah novel berjudul "Rumah yang Terbagi: Akhir dari Segalanya".
Ia akan menggunakan dirinya sendiri sebagai umpan. Ia akan memancing Aris keluar dari persembunyiannya dengan menyebarkan narasi bahwa ia masih memiliki 'satu bagian' dari Protokol Garuda yang tersisa.
"Bramasta, aktifkan jaringan Yayasan," perintah Saga. "Sakti, siapkan pengamanan di sekitar rumah ini. Tapi jangan terlalu mencolok. Aku ingin dia merasa dia memiliki kendali."
"Nona, ini berbahaya!" seru Bramasta.
"Hidupku sudah berbahaya sejak hari aku dilahirkan, Bram," jawab Saga sambil terus mengetik. "Tapi kali ini, aku yang memegang pena-nya. Aku yang menentukan kapan bab ini berakhir."
Di luar sana, di tengah kegelapan hutan Bogor, sepasang mata menatap rumah kecil itu melalui teropong jarak jauh. Sosok pemuda dengan wajah yang separuh terbakar—akibat ledakan di penjara tempo hari—tersenyum tipis. Aris memegang sebuah ponsel satelit, menanti instruksi terakhir.
"Segera, Kakak," bisik Aris.