AK 47, senjata laras panjang yang kini diarahkannya pada leher suaminya.
"Tambah satu wanita lagi, bangunlah Harem hingga kamu kenyang oleh darah." Sebuah sindiran dari wanita yang tersenyum menyeringai.
Dirinya bereinkarnasi sebagai istri jahat dalam novel pria bertema sistem dan kiamat. Dengan ending kematian tragis.
Sedangkan suaminya hidup bahagia dengan 9 wanita cantik di haremnya.
Berusaha bersikap baik, tidak seperti dalam alur cerita novel. Berharap suaminya tidak akan membangun harem seperti dalam cerita novel.
Tapi tetap saja susu besar membuat pria ini tertarik, paha mulus menggetarkan hatinya.
Daripada menunggu kematian, lebih baik, dirinya menggunakan rudal balistik untuk menghancurkan suaminya.
Dalam dunia kiamat diantara hidup dan mati, dimana makanan adalah lebih berharga daripada emas. Hukum tidak berlaku lagi.
Dunia dimana dirinya dapat membantai pria ini.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon KOHAPU, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 4
Di dunia yang telah dapat dikatakan mengalami kiamat ini. Memang benar, harga diri sudah tidak ada artinya lagi. Mereka akan melakukan apapun untuk bertahan hidup.
Contoh saja Sofia, Ayu dan Rani. Jadi, menawarkan tubuhnya seperti ini, merupakan hal yang biasa. Asalkan bisa mendapatkan jaminan hidup dan makanan.
Sedangkan, Marina dan Suwandi, yang baru hari ini keluar dari bunker setelah setahun. Sama sekali tidak mengerti, bahkan ada seorang pria yang rela dijadikan budak, menjual harga dirinya.
"Nak...kamu---" kalimat Marina disela.
Sarah mengeluarkan botol berisikan air gula dari dalam tasnya, kemudian memberikannya kepada sang pemuda.
Perlahan membantunya bangkit, agar kuat berjalan.
"Hal ini sudah biasa. Seseorang yang hanya ingin mengikuti, bahkan menjadi budak, hanya untuk jaminan hidup." Ucap Sarah kepada ibunya.
Kemudian merangkul, pemuda yang kakinya masih terluka. Membantunya berjalan, sedangkan obor kini dibawa oleh Suwandi.
"Aku tidak percaya, pada akhirnya hanya karena menjadi anak berbakti, aku menolong seseorang di saat-saat sulit seperti ini." keluh Sarah, membantu sang pemuda.
"Terima kasih nona... mulai sekarang tubuhku adalah milikmu." Ucap sang pemuda dengan mata berkaca-kaca.
"Aku sedang tidak butuh pria penghangat ranjang. Aku membutuhkan makanan. Apa kamu mau menyerahkan satu lenganmu untuk aku makan?" kalimat yang benar benar sadis dari putrinya. Membuat Suwandi dan Marina tidak dapat berkata-kata.
Tapi pemuda itu hanya tersenyum, tidak mengatakan apapun lagi.
Perjalanan yang cukup jauh, mereka sudah melangkah lebih dari 3 jam. Tidak banyak hal yang mereka temui di perjalanan, hanya tulang belulang dan sisa bangunan yang telah hancur. Serta pepohonan yang telah mati.
"Kamu berasal dari mana? Dan kenapa bisa terluka?" Pada akhirnya Sarah memulai pembicaraan.
"Aku mengikuti rombongan sebagai juru masak. Tugasku hanya mengolah bahan makanan, terkadang aku mengolahnya dari daging monster. Tapi, monster level S muncul, rombongan meninggalkanku, menjadikanku yang tidak memiliki kemampuan bertahan hidup sebagai umpan." Kalimat yang diucapkan oleh pemuda ini.
Sama sekali tidak ada ruang untuk berbelas kasihan. Pasalnya, eliminasi alam berjalan, siapa yang kuat akan bertahan, siapa yang lemah akan ditakdirkan untuk mati.
Hewan yang bermutasi akibat radiasi nuklir, memiliki kecepatan evolusi yang tinggi. Dapat dikatakan mereka berubah menjadi monster, beberapa orang yang masih bertahan hidup menggolongkannya ke dalam level tertentu. Dari level D terendah, hingga level S tertinggi.
"Monster level S? Lalu bagaimana kamu masih selamat? Aku saja dengan kemampuanku ini, baru bisa mengalahkan monster level B." Kalimat yang diucapkan oleh Sarah tidak mengerti.
"Mungkin hanya keberuntungan, monster itu sudah terluka dari awal." Alasan yang diucapkan sang pemuda penuh senyuman, masih di papah berjalan oleh Sarah.
Mata Sarah mengamati, penampilan pemuda ini memang terlihat bagaikan orang yang lemah. Tidak mungkin rasanya mengalahkan monster level S, kecuali dari awal monster itu memang sudah sekarat.
"Baik! Walaupun tidak yakin kali ini aku akan mencoba percaya padamu. Omong-omong siapa namamu? Perkenalkan namaku Sarah." Ucap Sarah pada akhirnya, walaupun dirinya tidak mengetahui apa orang ini akan menusuknya dari belakang. Seperti apa yang dilakukan oleh Kelvin.
"Namaku Ren Shiro..." pemuda ini terlihat begitu polos, seperti seseorang yang tidak berdosa, pantas saja menjadi koki di timnya. Bukan juga seperti orang yang bisa bertarung.
Tubuh orang ini cenderung kurus dan tinggi, berbeda dengan Kelvin yang berotot, bertubuh tegak berbadan besar.
Benar! Tidak mungkin daging dan kulit berjalan ini bisa bertarung.
"Kalau aku boleh tahu kita akan ke mana?" tanyanya pelan.
"Bunker milikku, jangan katakan ini kepada siapapun. Jika kamu sampai memberikan informasi kepada orang-orang, kepalamu menjadi taruhannya." Ancaman dari Sarah pada pemuda yang masih dipapah olehnya.
"A...aku tidak akan mengatakannya kepada siapapun." Jawab pemuda itu menelan ludahnya.
"Ren, di mana keluargamu?" tanya Marina pada pemuda yang begitu terlihat kasihan, tubuhnya benar-benar kurus.
"Ibu dan ayah? Mereka tinggal di neraka." Benar-benar sebuah jawaban ambigu yang aneh.
Sarah mengangkat sebelah alisnya, ini pasti karena kerusakan mental pasca terjadinya peperangan.
"Di neraka? Mungkin maksudnya kedua orang tuanya sudah meninggal." Suwandi mengambil kesimpulan.
"Sarah apa tempatnya masih jauh." Tanya sang Ibu hampir tidak kuat lagi.
"Sedikit lagi, hanya tinggal melewati jembatan. Ini, Ibu makanlah!" Sarah mengeluarkan permen, memberikannya kepada ibunya.
"Tapi, ini berharga..." Ucap sang ibu sama sekali tidak mengerti, berusaha mengembalikannya kepada putrinya.
"Makan saja! Aku punya banyak di bungker milikku. Aku hanya tidak ingin Kelvin mengetahui, aku memiliki rencana cadangan jika dia menghianatiku. Karena itu aku tidak mengatakannya kepada Kelvin, maupun ibu dan ayah. Hanya diam-diam memberikan kalian makanan."
Mendengarkan kata-kata dari putrinya, perlahan sang ibu tersenyum mengangguk. Menikmati permen yang diberikan oleh putrinya.
"Kalian adalah keluarga yang saling menyayangi..." Puji Ren Shiro, tersenyum ke arah mereka.
Tapi mungkin satu hal yang mereka tidak sadari. Tanah yang diinjak oleh pemuda ini, warnanya berubah, dari yang awalnya hitam, menjadi terlihat normal kecoklatan.
Setiap langkahnya... memang ada yang aneh dengan orang ini. Tanpa disadari oleh Sarah maupun keluarganya.
***
Pada akhirnya, mereka sampai di area jembatan.
"Sarah sebagai kita kembali ke bunker..." Saran yang diucapkan oleh Marina.
"Benar! Ada hewan buas di depan. Ukurannya besar..." Suwandi melangkah mundur ketakutan.
Seekor beruang coklat, matanya memerah, dari mulutnya mengeluarkan liur serta buih. Apa rabies? Bukan! Lebih dari itu, ini membesar secara tidak normal hingga mencapai ukuran 3 meter.
Auman yang terdengar menggema.
"Monster level C..." gumam Sarah. Membantu Ren untuk duduk di atas bebatuan.
Wanita yang, meraih AK-47, senjata laras panjang yang berada di punggungnya. Membidik mata sang beruang, kemudian menembak beruang raksasa itu beberapa kali.
Beruang yang berlari dengan cepat, makin mendekat bagaikan tidak peduli tubuhnya yang sudah terluka. Semakin dekat begitu mengerikan.
Senjata api laras panjang, dilemparkan olehnya, beralih mengeluarkan pedangnya.
"Sarah!" teriak Marina ketakutan melihat Apa yang dilakukan oleh putrinya. Takut jika putrinya akan terluka.
Begitu juga dengan Suwandi yang gemetar. Sedangkan Ren menatap sembari duduk di atas batu.
Tapi, Sarah memijak tiang penyangga jembatan dengan cepat, melompat dengan posisi terbalik, lalu menusuk beruang itu dari bagian atas tubuhnya.
Darahnya terciprat ke mana-mana, wajah Sarah kini kotor oleh darah. Menusuk tepat di bagian jantung sang monster.
Monster yang roboh seketika. Marina masih menangis ketakutan, berlari menghampiri putrinya. Begitu juga dengan Suwandi, untuk pertama kalinya mereka keluar dari bunker setelah setahun.
Tapi, suasana di dunia setelah kiamat memang benar-benar mengerikan.
"Daging hewan ini bisa dimasak. Pasti akan lezat, bisakah kita membawanya ke tempatmu nanti." pintar Ren penuh harap.
"Daging monster yang sudah terkontaminasi radiasi nuklir bisa dimakan?" tanya Sarah tidak mengerti.
Pemuda yang hanya mengangguk membenarkan."Aku memiliki metode khusus untuk memasaknya. Karena itu, di timku sebelumnya tugasku adalah sebagai koki."
Begitu banyak rahasia disimpan oleh orang ini. Bagaimana orang ini dapat mengolah makanan? Bagaimana monster level S yang sebelumnya mengejarnya dapat mati?
Tapi dari luar memang terlihat seperti pria tidak berguna.
Hayu Miau...terus provokasi Ren biar panas
up nya udah ada aja nih,thor.
Kamu kalau menilai suka sesukamu aja sih,Miau
Lempar nih...