Seorang anak lelaki, yang harus menyaksikan kematian ibunya di ulang tahunnya yang ke 9. Tumbuh dengan hati yang dingin, seolah tak tersentuh. Tetapi ia sudah terbiasa, dengan sahabatnya. Petualangan bersama para roh, kuy kita baca🤗
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Nike Julianti, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
MOON
"BAIK" tanpa di minta, Akbar dan Damar mengerti maksud Ghaffar. Mereka langsung berpencar, untuk mencari benda yang sama.
"Ghaffar, kenapa harus kakak Dani yang di jadikan tumbal?" tanya bu Dewi, Ghaffar menoleh
"Pak Dani di bunuh orang, bukan karena menyinggung atau mengusik orang lain. Melainkan karena pak Dani, merupakan seorang pekerja keras dan jujur. Tapi sayangnya, tidak semua orang yang ada di sekeliling pak Dani menyukainya. Dan kurasa, orang yang menarik pak Dani bersekongkol dengan pemilik proyek ini. " jawab Ghaffar
'Jaka, pasti Jaka' ucap arwah Dani
"Jaka? Di mana dia? Aku akan mencarinya, aku akan mencabik-cabik tubuhnya. Bila perlu, aku pun akan melakukan hal yang sama. Dengan apa yang sudah di rasakan kakak, mati tertusuk besi sampai ke JANTUNGNYA." teriak bu Dewi, bahkan di kata terakhir. Ia mengepalkan tangan kanannya, di depan wajahnya.
'Seingat ku, ia meminta cuti sejak satu minggu yang lalu.' jawab pak Dani, dada bu Dewi terlihat naik turun. Ia sangat sangat sangat marah, kenapa harus kakak nya yang di korbankan? Bila ia tak suka, kenapa tidak menyuruh kakak nya untuk berhenti dari proyek yang sama dengannya.
'Wi, kakak tau kamu marah. Tapi kakak mohon, jangan sampai kamu melakukan hal yang merugikan diri kamu sendiri. Kematian kakak, sudah tercatat sejak awal. Jangan rusak hidupmu, hanya karena ingin membalas dendam. Masih banyak yang peduli padamu, masih banyak yang menyayangi mu. Ada sahabat mu, pama dan bibi, juga kakek dan nenek. Jangan buat mereka sedih, hanya karena urusan yang tak kunjung ada penyelesaiannya. Dendam.... hanya akan menjerumuskan mu, ke lembah penyesalan terdalam.' lanjut pak Dani
DEG
Mendengar ucapan kakak nya bu Dewi, hati Ghaffar merasa tersentil. Dendam? Ya... kata itu sempat ada di pikirannya, karena kehilangan kedua orang tua di usia belia. Namun, banyak orang-orang yang peduli padanya. Banyak orang-orang, yang begitu menyayanginya. Kini... rasa itu, sudah benar-benar hilang.
"Tenang saja, bila memang orang yang bernama Jaka. Benar bersekongkol dengan pemilik proyek ini, dia pasti akan segera kembali ke sini. Karena pemilik proyek ini, akan meminta Jaka mengecek arwah-arwah yang terjebak di gedung ini. Pak Dani, tolong di ingat-ingat lagi. Saat pak Dani masih hidup, apakah ada orang sakti atau terlihat seperti dukun? Yang berkeliaran di sekitar sini, lebih tepatnya selalu terlihat oleh bapak." tanya Ghaffar, pak Dani mencoba mengingat-ingat. Karena akhir-akhir ini, banyak ingatan yang memudar..
'Ada, ada seorang pria yang terlihat tua. Rambutnya sudah putih semua, di ikat separuh. Dia juga memiliki janggut putih, yang cukup panjang. Membawa sebuah tasbih, yang memiliki manik besar-besar. Bajunya... seperti baju yang di pakai, oleh para beladiri, berwarna biru beludru.' jawab pak Dani, Ghaffar mengangguk. Ia semakin yakin, bila lawannya kali ini bukan dari negara sendiri.
'Gue harus minta tolong sama siapa?' tanya nya dalam hati
Bukan tidak bisa, hanya saja keyakinan mereka berbeda. Ghaffar hanya takut, bila caranya takkan bisa mengalahkan lawannya.
"Ghaff, kita udah nemuin barang-barang yang lu maksud." ucap Akbar, di belakangnya ada Damar yang sama-sama sudah memegang sebuah kendi kecil. Yang sama persis, dengan yang di temukan Ghaffar tadi.
"Terima kasih Bar, Dam. Kumpulkan ke empat barang itu di bawah, aku akan menghancurkan formasi yang sudah di buat." pinta Ghaffar, Akbar dan Damar menaruh ke empat kendi itu di lantai. Dengan sedikit ilmu yang ia dapatkan, Ghaffar pun memecahkan formasi tersebut.
BLAARRR
Ke empat kendi itu pecah, lalu terbakar dengan sendirinya.
KRETEK KRETEK
PYAARRR
Ghaffar melihat ke arah luar, kini perisai itu sudah benar-benar rusak. Sudah di pastikan, bila orang yang memasang formasi akan mendapatkan sakit pada tubuhnya. Ghaffar menghembuskan nafas lega, setidaknya masalah pertama sudah selesai. Kini tinggal menyelesaikan masalahnya, dengan si pembuat formasi.
"Kita tidak bisa menyelesaikan masalah ini sekarang, tapi karena kejadian hari ini. Orang yang memasang formasi segel, akan keluar dengan sendirinya. Sebaiknya kita pulang saja lebih dulu, nanti akan ada saatnya kita kembali ke sini." ucap Ghaffar
"Moon" panggil Ghaffar
'YAAAAAA' jawab arwah, yang mengikutinya sejak awal.
"Sekarang aku ingin meminta bantuan pada teman manusia mu, apakah dia pemilik spritual dari negeri Cina?" arwah perempuan, yang di panggil 'Moon' mengangguk cepat
'Kamu tau?' tanya Moon balik
"Hanya menebak, karena setiap kali aku menyelesaikan masalah baru. Maka bantuan, akan datang dengan sendirinya." jawab Ghaffar
'Oww... lalu apa yang kamu inginkan?' tanya Moon
"Aku ingin dia bersiap, di saat aku membutuhkannya. Aku ingin dia sudah siap, untuk membantuku." jawab Ghaffar, Moon mengangguk dan ia pun menghilang
"Bar... Dam, aku akan merepotkan kalian." ucap Ghaffar
"Katakan saja, Ghaff" jawab Damar, Akbar mengangguk
"Kalian awasi proyek ini, bila ada pria yang bernama Jaka kembali. Tolong segera hubungi aku, aku akan segera datang." pinta Ghaffar
"SIAAAPPP" jawab keduanya
"Terima kasih, maaf jadi merepotkan kalian." ucap Ghaffar
"Santai brooo... sesama saudara tidak ada istilah seperti itu." ucap Akbar
"Baiklah, ayo kita kembali. Bu Ane dan bu Dewi, kalian sebaiknya masih tinggal di kosan Ghaffar. Sampai urusan ini, benar-benar selesai." bu Ane dan bu Dewi saling tatap, jelas sekali bila tatapan keduanya merasa sangat tidak enak.
"Ghaffar, maaf kan kami sebelumnya. Karena masalah ini, kalian jadi sibuk semua." ucap bu Dewi, dengan suara serak dan mata sembab
"Tidak apa-apa bu, selama saya bisa. Saya pasti akan turun tangan, untuk membantu." jawab Ghaffar
.
.
Hari berlalu cepat, karena sudah berganti menjadi hari Minggu. Ghaffar sedang berbincang dengan kiyai Ummar, menanyakan cara menghadapi lawannya saat ini.
"Tak ada yang berbeda, kemampuan bisa mengalahkannya. Tapi bila kamu memang membutuhkan bantuan, orang yang kamu mintai tolong. ABah rasa bisa membantu, biarkan dia yang menghadapi pemilik spiritual satu peraturannya. Kamu membantunya dari belakang, dengan menyalurkan kekuatan mu. Di saat ia memang membutuhkannya.." Ghaffar mengangguk paham
"Kalo memang seperti itu, Ghaffar jadi lebih te.." belum selesai ia berbicara, ponselnya berbunyi. Ghaffar melihat ID si pemanggil...
'Akbar?' Ghaffar segera menerima panggilan tersebut
"Assalamu'alaikum, gimana Bar? Informasi apa, yang kalian dapatkan?" tanya Ghaffar
'Wa'alaikum salam Ghaff, rupanya benar apa yang kamu bilang. Orang yang bernama Jaka itu kembali, sepertinya dia akan mengecek langsung' jawab Akbar, dengan suara lirih. Karena tak ingin, pria bernama Jaka itu mendengar.
"Bagus, kalian tetap awasi. INGAT!!! Jangan gegabah, jangan melakukan pergerakkan apapun. Tunggu aku, aku akan segera ke sana. " balas Ghaffar, panggilan selesai
"Abah... Ghaffar...
"Pergilah nak, bantu para arwah yang terjebak di proyek itu."
"Baik abah, kalo gitu Ghaffar pamit ya bah." ucap Ghaffar
"Ya, berhati-hatilah. Jangan sampai membuat kesalahan, kalo ada apa-apa, segera hubungi abah." jawab kiyai Ummar
"Baik abah, Assalamu'alaikum" tak lupa Ghaffar mencium punggung tangan kiyai Ummar
"Wa'alaikum salam warahmatullah hiwabarakatuh"
...****************...
Jangan lupa like, komen, gift dan vote nyaaaa.....🥰
☕️nya emak😘