NovelToon NovelToon
Yakusoku No Mirai

Yakusoku No Mirai

Status: sedang berlangsung
Genre:Romansa Fantasi / Dikelilingi wanita cantik / Anak Genius
Popularitas:465
Nilai: 5
Nama Author: RavMoon

Akira Ren hidup dalam dua dunia yang berbeda. Di sekolah, ia adalah siswa kelas 12 yang tampak acuh tak acuh dan sering membolos. Namun di balik pintu dapur restoran bintang lima "Ren’s Cuisine", ia adalah koki jenius yang mewarisi ketajaman rasa ayahnya dan ketangguhan fisik ibunya, seorang mantan atlet bela diri dunia.
​Ren hanya ingin menjalani masa mudanya dengan tenang tanpa sorotan. Namun, takdir berkata lain saat satu per satu wanita di hidupnya—mulai dari guru matematika yang kaku hingga teman masa kecil yang kompetitif—mulai melihat celah di balik topengnya. Dengan bantuan "Insting" yang tajam (Sistem), Ren harus menyeimbangkan antara ambisi kuliner, janji masa lalu, dan perasaan tulus yang mulai tumbuh. Ini bukan sekadar cerita tentang memasak; ini adalah tentang bagaimana sebuah rasa bisa menyatukan masa depan yang retak.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon RavMoon, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bab 13.Api Unggun & Rasa Kebahagiaan Di Pantai

Cahaya jingga hangat dari matahari yang hampir terbenam penuh menyebar di permukaan laut Kota Karasu yang tenang, memantulkan kilauan emas ke atas ombak kecil yang menyusur pantai. Angin laut yang segar membawa aroma garam dan sedikit aroma bunga bakau dari bibir pantai, menyapu helai rambut putih Ren yang terbentang tertiup angin saat ia berdiri di atas pasir putih yang masih menghangat dari pancaran matahari siang. Di belakangnya, suara tawa Rin yang ceria pecah berkali-kali saat ia mengejar kepiting kecil yang sedang merangkak perlahan di antara genangan air pasang, tangannya kecil mengepal erat seolah akan menangkap sesuatu yang berharga.

Setelah beberapa hari penuh dengan ketegangan luar biasa di babak penyisihan kompetisi, Sakura-sensei dengan tegas memutuskan bahwa tim membutuhkan waktu untuk "menyejukkan pikiran dan tubuh" sebelum memasuki jadwal latihan yang akan jauh lebih intens lagi. Dan di sinilah mereka sekarang—di sebuah pantai privat yang jarang dikunjungi orang, jauh dari hiruk-pikuk promosi besar-besaran Asuka Jaya yang sedang meramaikan pusat kota dengan spanduk dan iklan yang tak ada habisnya.

"Ren! Jangan terus berdiri saja melamun di situ—tolong bantu aku dengan panggangan ini kalau kamu benar-benar ahli seperti yang kamu katakan!" Suara Hana terdengar dari dekat deretan pohon kelapa yang rindang, membuat Ren segera menoleh ke arahnya. Gadis itu mengenakan gaun pantai tipis berwarna putih dengan motif bunga kecil, kainnya berkibar lembut tertiup angin dan memperlihatkan sisi dirinya yang jauh lebih ceria dan rileks daripada saat ia berada di sekolah atau di dapur.

Ren perlahan berjalan mendekat, pasir hangat menyentuh bagian bawah kakinya yang tidak pakai alas kaki. Ia melihat Hana yang sedang kesulitan menyalakan arang kayu bakau di dalam tungku panggangan, wajahnya sedikit mengerut karena fokus dan pipinya memerah karena panas dari percobaan membakar kertas yang tidak kunjung berhasil. Di sisi tungku, Yuki sedang menata tikar besar berwarna biru laut dengan gerakan yang sangat teliti, menyelaraskan setiap sudutnya dengan hati-hati seolah posisi tikar itu akan memberikan dampak khusus pada suasana makan malam mereka nanti.

"Kalau pakai kertas saja, api tidak akan kuat dan asapnya akan meninggalkan rasa amis di daging." Ren menyodorkan beberapa ranting kering yang sudah ia siapkan sebelumnya, ujungnya sedikit basah karena direndam dengan minyak zaitun sisa dari bahan makanan mereka tadi siang. "Gunakan ini untuk memulai api, setelah itu tambahkan arang sedikit demi sedikit agar tidak padam."

Hana mengambil ranting itu dengan senyum ceria, lalu menjulurkan lidahnya sedikit sebagai bentuk lelucon sebelum kembali fokus pada tungku. Api mulai menyala dengan nyala kecil yang perlahan membesar, menerangi wajahnya yang penuh kegembiraan. "Kamu tahu, Ren... tadi di GOR, saat Pak Bambang bilang masakan kita punya 'kejujuran rasa', aku benar-benar hampir menangis di depan semua orang." Ia mengipas wajahnya dengan tangan karena panas dari api yang mulai besar. "Rasanya seperti semua lebam dan kapalan di tanganku selama ini benar-benar terbayar lunas."

Ren terdiam sejenak, matanya menatap nyala api yang berkedip-kedip dan menari-nari di dalam tungku. Cahaya api menerangi wajahnya yang biasanya tampak serius, membuatnya terlihat lebih lembut dari biasanya. "Itu baru permulaan saja, Hana. Kamu tahu bagaimana sifat Ryuji—dia tidak akan tinggal diam setelah dipermalukan seperti itu di depan publik dan media yang ada di sana."

"Biarkan saja dia melakukan apa yang dia mau." Yuki datang mendekat membawa nampan kayu berisi potongan daging marangi yang sudah dimarinasi dengan bumbu kunyit, jahe, dan kecap manis—resep khas dari keluarganya. Ia berdiri di sisi lain Ren, bahunya hampir bersentuhan dengan bahu pemuda itu, dan aroma laut yang segar bercampur dengan parfum lembut yang ia gunakan menciptakan suasana yang sangat intim di tengah suara deru ombak dan gemerisik dedaunan kelapa. "Di Kota Karasu ini, orang-orang tidak hanya melihat seberapa cantik hidangan atau seberapa mahal bahan yang digunakan. Mereka lebih menghargai Rasa yang punya cerita dan perasaan di dalamnya—sesuatu yang Ryuji belum paham sampai sekarang."

Tiba-tiba, suara mesin mobil terdengar dari jalan setapak yang menghubungkan pantai dengan jalan utama. Sebuah mobil SUV berwarna perak berhenti dengan hati-hati, dan dari dalamnya keluar Bu Keiko yang membawa kotak pendingin besar dengan kedua tangannya. Ia melepaskan kacamata hitam yang biasanya dikenakannya, memperlihatkan mata yang tampak jauh lebih rileks dan tidak sebanyak biasanya saat di kelas. Pakaiannya juga sangat berbeda—celana pendek denim dan kaos longgar berwarna biru muda yang membuatnya terlihat sepuluh tahun lebih muda dan jauh lebih akrab.

"Aku melihat ada warung kecil di jalanan dan membeli beberapa minuman dingin serta beberapa camilan." Bu Keiko tersenyum tipis saat mendekat ke arah mereka, wajahnya yang biasanya kaku kini rileks dengan senyum yang tulus. "Aku juga membawa beberapa hasil riset baru tentang menu yang mungkin bisa kita gunakan di babak final. Tapi..." Ia menurunkan kotak pendingin di atas tikar dengan hati-hati. "...riset itu bisa kita bahas besok pagi saja. Malam ini, kalian tidak perlu jadi tim peserta kompetisi—kalian hanya perlu menjadi remaja biasa yang menikmati malam di pantai."

Ren melihat sekelilingnya dengan pandangan yang penuh rasa syukur. Hana sedang tertawa lepas sambil mengipas sate ayam yang sudah mulai matang di atas panggangan, Rin sedang bercerita dengan penuh semangat kepada Yuki tentang bagaimana dia berhasil menangkap satu ekor kepiting kecil, dan Bu Keiko sedang duduk tenang di tepi tikar sambil memperhatikan mereka dengan ekspresi yang hangat seperti seorang ibu yang melihat anak-anaknya bermain. Ini adalah pemandangan yang sangat langka dan berharga bagi seseorang seperti Ren yang selama ini terbiasa hidup dalam rutinitas dan disiplin dapur yang kaku.

Ren mengambil penjepit logam dan mulai membantu Hana membalik-balik daging dan sayuran yang sedang dipanggang. Saat ia mengambil penjepit lain dari tangan Hana, ujung jemari mereka secara tidak sengaja bersentuhan di atas permukaan tungku yang panas. Kali ini, Hana tidak segera menarik tangannya kembali seperti biasanya. Ia hanya menatap mata Ren yang berwarna biru muda dengan pandangan yang lebih dalam dari sekadar rasa persahabatan—ada rasa sayang dan penghargaan yang terbakar di dalamnya.

"Ren..." Hana bisik dengan suara yang lembut, hanya bisa didengar di tengah suara gemerisik daun kelapa dan deru ombak yang lembut. "Apapun yang terjadi nanti di babak final... apapun hasilnya... tolong tetaplah seperti ini ya? Jangan kembali jadi orang yang dingin dan seperti robot lagi seperti saat sebelum kompetisi."

Ren menatap mata Hana dengan pandangan yang tenang namun penuh makna. Ia kemudian melihat ke arah Yuki yang juga sedang memperhatikannya dengan senyum lembut, lalu ke Bu Keiko yang memberikan nod dukungan yang tidak terucapkan. Di dalam hatinya, ia merasakan sebuah tanggung jawab yang jauh lebih berat daripada sekadar memenangkan trofi atau membanggakan nama sekolah. Ia ingin melindungi momen kebahagiaan ini—melindungi orang-orang yang sudah menjadi bagian penting dalam hidupnya.

"Aku akan mencobanya semaksimal mungkin, Hana." Jawabnya dengan suara pelan namun jelas, penuh dengan keyakinan yang datang dari dalam hati.

Malam itu, di bawah taburan bintang yang terang di langit Kota Karasu, mereka makan bersama dengan beralaskan pasir hangat dan tikar sederhana. Tidak ada porselen mahal yang mengkilap, tidak ada meja makan yang rapi, dan tidak ada juri yang siap menilai setiap gigitan makanan yang mereka makan. Hanya ada rasa daging dan sayuran panggang yang gurih, suara tawa yang tulus dan riang, serta janji-janji yang terucap tanpa kata di antara mereka—janji untuk selalu saling mendukung, tidak peduli apa yang akan datang di babak final atau di masa depan mereka.

1
Jack Strom
Cerita yang cukup menarik. Namun saya cukup aneh dengan lokasi cerita, kota Jayapura-Indonesia, tapi tokoh dan cerita ala Jepang??? 😁
Jack Strom
Owalah... Ngaku banyak uang, tapi masih main sabotase segala... Pengecut!!! 😁
Jack Strom
Oh, ini tentang rasa dan keahlian memasak toh..? Mantap mantap mantap!!! 😁
Jack Strom
Halah... Modus!!! 😁
Jack Strom
Wow... Betul² kosong!!? 🤔
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!