NovelToon NovelToon
Kesempatan Kedua

Kesempatan Kedua

Status: sedang berlangsung
Genre:Teen / Cinta Seiring Waktu / Fantasi
Popularitas:3.3k
Nilai: 5
Nama Author: Jaena19

Tidak pernah terpikirkan oleh Sarah bahwa dirinya akan diberi kesempatan kedua untuk kembali hidup.
Seumur hidup, hanya ia habiskan untuk berfoya-foya dan mengajar cinta Marvin yang tak pernah ia miliki hingga akhir hayatnya. Tak segan Sarah mencelakai wanita yang dicintai Marvin, Kayla. Namun di kehidupan sebelumnya, meskipun Sarah sering membawa kesialan dan membuat hidup Marvin dan Kayla menderita, mereka masih berbaik hati memberi Sarah bantuan ketika gadis itu sedang menghadapi masalah ekonomi karena ayahnya yang bangkrut.
Di kehidupan kali ini, Sarah hanya ingin mencoba membahagiakan dirinya sendiri dan melepas cinta pertama yang begitu membekas bagi dirinya.
Tapi siapa yang sangka kehidupan keduanya ternyata lebih rumit daripada yang Sarah bayangkan. Ia ditimpa bertubi-tubi kenyataan yang membuat logikanya tidak lagi berjalan.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Jaena19, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

11

Hari ini Sarah menghabiskan harinya dengan membaca buku. Mengingat kondisinya tidak memungkinkan untuk melakukan aktivitas yang berat, ia memilih berdiam diri di ranjang sambil membaca buku-buku pelajaran terutama matematika.

"Ini mau gue baca ulang seribu kali pun gue nggak akan ngerti." Ocehnya sambil menggaruk-garuk kepalanya.

Sarah menatap ponsel miliknya yang rusak akibat insiden tabrakan kemarin di atas nakas dan menghela napas.

"Mau belajar lewat internet juga gak bisa." Gumannya, ia pikir saat ini orang-orang masih belum memanfaatkan platform online sebagai media belajar.

Sarah berdecak sebal," Marvin, itu orang gak ada niatan buat bantuin gue belajar gitu? Apa gue minta mamah buat cari guru les privat aja kali ya?"

Tak lama pintu ruangannya di ketuk dari luar, taklama muncul sosok ibunya masuk.

"Halo sayang," sapa Ibunya sambil tersenyum lebar saat memasuki ruangan.

"Mamah!" Pekik Sarah girang saat ibunya datang, namun seketika senyumannya hilang begitu melihat sosok lain di belakang ibunya.

"Ini ada teman kamu yang mau jenguk," ucap ibunya dengan wajah yang terlihat senang.

Selama ini Sarah memang tidak pernah mengajak atau bahkan memperkenalkan teman-temannya kepada ibunya maupun ayahnya, hal itu membuat mereka khawatir apakah Sarah tidak memiliki teman di sekolahnya. Namun hari ini kekhawatiran itu lenyap begitu melihat teman Sarah yang datang untuk menjenguk.

"Kamu kenapa gak bilang kalau punya teman yang ganteng?" Bisik ibunya pada Sarah sambil mengode ke arah Marvin.

Sarah tidak menanggapi ucapan ibunya, wanita yang itu memang selalu berlebihan.

"Tante ini barang bawaannya," ujar Marvin dengan sopan seraya menyerahkan barang bawaan milik ibu Sarah.

"Eh iya, terima kasih ya, nak?"

"Marvin."

"Oh iya, nak Marvin."

Ibu Sarah kemudian mengambil alih barang-barang itu dan membawanya ke sudut ruangan dekat nakas. Tidak lama kemudian suara telepon berdering.

"Nak, mamah angkat telepon dulu ya. Kamu ngobrol-ngobrol dulu aja sama temanmu." Ucap Ibunya sambil tersenyum lalu mengelus kepala Sarah sebelum keluar kamar.

Hening, tak ada satupun dari mereka berdua yang memulai pembicaraan setelah ibu Sarah keluar.

"Gimana?" Tanya Marvin akhirnya bersuara, berusaha untuk menghilangkan kecanggungan di antara mereka.

"Apanya yang gimana?"

"Kabar."

"Kabar apa?"

Marvin memutar bola matanya lalu menghela napas. Kedua tangan yang tadinya ia masukkan ke dalam kantong celana, slash satunya ia keluarkan. Ia lalu menunjuk ke arah tangan Sarah yang di gips.

Sarah mengikuti ke mana tangan Marvin menunjuk." Oh, ini. Seperti yang lo lihat, gue baik-baik aja walaupun masih agak sulit untuk bergerak."jawab Sarah sambil tersenyum canggung.

Marvin menggaruk tengkuknya yang tidak gatal. Ia seperti orang bodoh yang menanyakan pertanyaan yang sudah jelas. Sejujurnya Ia datang hanya ingin melihat kondisi Sarah lalu pergi, tapi sialnya iya malah bertemu dengan ibu dari gadis itu dan menyuruhnya untuk masuk dan berbincang dengan Sarah.

Kemudian kedua bola mata Marvin menangkap sebuah buku yang sedang dipegang oleh gadis itu. Cara mengikuti arah pandang laki-laki itu, setelah sadar ia segera menutup buku matematika itu kemudian melempar tatapan tajam pada Marvin.

Tersetak jelas senyum miring khas Marvin yang sangat menyebalkan, melihat itu Sarah menjadi kesal.

"Kenapa? Ada yang salah? Lagian lo ngapain sih di sini? Ini kan masih jam pelajaran," ujar Sarah dengan sewot.

Marvin tidak langsung menjawab. Ia menatap pelurus ke arah Sarah sambil berpikir.

"Lo bolos ya?" Tebak Sarah dengan wajah terkejut yang dilebih-lebihkan.

"Biasa aja kali," sahut Marvin dengan wajah datarnya. Sarah hanya diam mendengar ucapan laki-laki itu, bingung harus berkata apa lagi.

"Besok jam lima," ujar Marvin setelah melihat jam hitam yang melingkar di tangan kirinya, kemudian laki-laki itu bangkit dari duduknya.

"Hah? Apanya yang jam lima?"tanya Sarah kebingungan.

"Gue pergi dulu. Salam ya buat nyokap lo."ujar Marvin tanpa menjawab pertanyaan Sarah, laki-laki itu kemudian pergi meninggalkan ruangan di mana Sarah berada.

"Vin, Marvin!" Panggil Sarah beberapa kali namun diabaikan.

Sarah berdecak sebal." Apaan sih itu cowok?! Nggak jelas banget." Gerutunya. Meskipun terlihat kesal tapi sebenarnya dalam hati dirinya merasa sedikit senang karena Marvin mau datang untuk menjenguknya.

...

Sarah pikir kedatangan Marvin sudah cukup mengejutkannya hari ini. Tapi ternyata kedatangan Alvian, Daffa, Tamara dan Kayla hari ini juga cukup mengejutkan baginya.

"Hai, Sarah." Siapa Kayla dengan ramah, membuat Sarah ikut tersenyum tipis dan membalas sapaan itu.

"Gimana kabar lo?" tanya Alvian yang berdiri di sa,ping Tamara dan Kayla.

"Seperti yang lo lihat gue cukup baik. Jadi ada apa gerangan kalian datang ke sini?" Tanya Sarah to the point.

Kayla mengikut Tamara beberapa kali supaya gadis itu segera mengucapkan hal yang ingin disampaikan pada Sarah.

"Eum, a-anu. Gue mau ngucapin terima kasih karena lo udah nolongin gue kemarin." Ucap Tamara. Gadis itu terlihat gugup, mungkin selama ini Tamara dan Sarah adalah musuh bebuyutan, jadi terasa aneh dan canggung rasanya untuk mengucapkan terima kasih pada musuh bebuyutannya sendiri.

Sarah menatap Tamara, dirinya cukup terkejut karena Tamara yang biasanya selalu mencari masalah padanya kini mengucapkan terima kasih padanya. Tapi sebisa mungkin Sarah menutupi keterkejutannya dengan menganggukkan kepalanya singkat.

"Oh iya, ini kita bawain buah tangan buat Lo. Gak banyak tapi semoga Lo suka ya," ucap Tamara kemudian menyimpan buah tangan tersebut di nakas.

Sarah tersenyum canggung." Makasih."

"Oh iya, Sar. Gue juga mau bilang terima kasih karena lo nggak ngelaporin kejadian kemarin dan nggak nuntut apapun ke Marvin," ucap Alvian.

"Iya asal gak di jadiin bahan ancaman aja nantinya," sahut Daffa dan langsung di sikut oleh Avian.

"Maaf ya, Sar. Lo gak usah dengerin ucapan ni bocah curut. Lo tau sendiri kan mulut dia emang suka seenaknya." Ucap Alvian.

Sarah hanya diam, jujur saja ia bingung bagaimana dirinya harus merespon setiap ucapan teman-temannya itu. Dulu mereka tidak pernah berbicara seperti ini, mereka selalu bertentangan dan bertengkar dengan dirinya hingga berbincang santai seperti ini hampir tidak pernah terjadi.

"Oh iya, ini ada buku catatan buat lo. Gue udah buat salinannya dari teman sekelas lo." Kayla menyerahkan sebuah catatan pada Sarah.

Sarah menatap buku itu dengan tatapan berbinar, senyum Sarah merekah ketika melihat buku catatan yang diberikan oleh Kayla.

"Makasih banyak ya," seru Sarah dengan senyum lebarnya.

Semuanya seketika terdiam, aneh saja rasanya melihat Sarah begitu bersemangat terhadap sesuatu yang tidak berhubungan dengan Marvin ataupun bersenang-senang. Yang Kayla berikan hanyalah sebuah buku catatan yang berisi pelajaran Tapi anehnya memberikan efek bahagia pada gadis itu.

Merasa semua tatapan mengarah kepadanya, Sarah segera mengubah ekspresi wajahnya." Kenapa? Ada yang salah ya?"

Semua orang di sana menggeleng.

"Sekali lagi makasih ya."

Kayla tersenyum senang." Sama-sama."

"Eh Sar, maaf juga ya. Marvin nggak bisa datang jengukin lo soalnya dia ada urusan. Gue menyampaikan permintaan maaf dia karena udah buat lo kayak gini." Ucap Alvian.

Sarah menatap Alvian. Padahal Marvin tadi pagi sudah datang menjenguknya. Apakah mereka tidak tahu jika Marvin sudah menjenguknya terlebih dahulu tadi? Pada akhirnya Sarah hanya mengangguk menanggapi ucapan Alvian.

Tak lama kemudian suara ketukan pintu menginterupsi mereka, setelahnya masuklah sosok yang tidak terduga. Sarah sampai terpaku melihat siapa yang datang.

"Fabian?"

1
Queen AL
baru satu bab, bab berikut2nya jangan pake gue lo thor
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!