Ikuti saya di:
FB Lina Zascia Amandia
IG deyulia2022
Setelah hatinya lega dan move on dari mantan kekasih yang bahagia dinikahi abang kandungnya sendiri. Letnan Satu Erlaga Patikelana kembali menyimpan rasa pada seorang gadis berhijab sederhana yang ia temui di sebuah pujasera.
Ramah dan cantik, itu kesan pertama yang Erlaga rasakan saat pertama kali bertemu dengan gadis itu. Namun, ketika hatinya mulai menyimpan rasa, tiba-tiba sang mama membawa kabar kalau Erlaga akan dikenalkan pada seorang gadis anak dari leting sang papa. Sayangnya, Erlaga menolak. Dia hanya ingin mendapatkan jodoh hasil pencariannya.
Apakah Erlaga pada akhirnya menerima perjodohan itu, atau malah justru berjodoh dengan gadis yang ia temui di pujasera?
Yuk, kepoin kisahnya di "Jodoh Sang Letnan"
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Deyulia, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 6 Kepingan Hati yang Terbelah
Malam, di rumah hijau sage itu terasa begitu menyesakkan. Suara jangkrik yang biasanya terdengar seperti simfoni alam, kini di telinga Syafina terdengar seperti ratapan yang panjang.
Di dalam kamarnya yang temaram, Syafina duduk bersandar di pintu yang terkunci rapat. Sejak pulang dari kedai bakso itu, ia tidak mengizinkan siapa pun masuk, termasuk Syafana yang berkali-kali mengetuk pintu membawakan susu hangat.
Di atas pangkuannya, kotak mungil berbalut kertas krep cokelat itu sudah terbuka. Syafina menatap isinya dengan pandangan kosong yang perlahan mulai mengabur oleh air mata.
Di sana, di atas bantalan busa putih, tergeletak sebuah kalung dengan liontin berbentuk hati. Namun, hati itu tidak utuh. Itu adalah liontin hati yang terbelah tepat di tengahnya, menyisakan separuh bagian saja. Potongannya terlihat tajam dan dingin, seolah-olah baru saja dipaksa terpisah dari pasangannya.
Tepat di bawah liontin itu, ada secarik kertas kecil yang terselip. Syafina mengambilnya dengan jari yang gemetar. Tulisan di sana singkat, namun goresan penanya terasa sangat dalam, seolah-olah sang penulis menekan pena itu dengan seluruh perasaan yang ia miliki.
"Saat ini yang kurasakan, adalah seperti kalung hati ini yang patah."
Hanya itu. Tidak ada salam pembuka, tidak ada nama pengirim, apalagi penjelasan. Namun bagi Syafina, kalimat itu sudah lebih dari cukup untuk menghancurkan pertahanan hatinya. Ia meremas kertas itu, lalu tangisnya pecah tanpa suara. Bahunya terguncang hebat.
"Kenapa, Kak? Kenapa Kakak menganggapku begini?" bisiknya di sela isak tangis yang mulai menyakitkan tenggorokannya.
Syafina menduga kuat bahwa Erlaga pergi karena cemburu. Bayangan Erlaga yang mungkin melihatnya masuk bersama Dalfas, lalu menyimpulkan bahwa Dalfas adalah kekasihnya, membuat Syafina merasa sangat bodoh dan malang. Ia membawa Dalfas demi menjaga kehormatan, demi menghindari fitnah, namun justru kehadiran kembarannya itulah yang memicu kesalahpahaman yang kini terasa fatal.
Dengan harapan yang masih sedikit sedikit, Syafina meraih ponselnya. Ia mencari nomor asing yang tempo hari menghubungi ponselnya. Ia menekan tombol panggil.
Nomer itu di luar jangkauan. Namun Syafina mencoba lagi. Sekali, dua kali, hingga sepuluh kali. Hasilnya tetap sama. Suara operator yang dingin itu seolah menegaskan bahwa pintu komunikasi antara dirinya dan Erlaga telah terkunci rapat.
Ia tidak tahu bahwa saat ini Erlaga sudah berada di asrama Sentul, di mana seluruh ponsel para personel Satgas dikumpulkan demi kedisiplinan pra-tugas. Syafina merasa benar-benar ditinggalkan tanpa sempat memberi penjelasan.
Di ruang tengah, suasana tak kalah tegang. Dallas duduk di kursi rotan, matanya menatap tajam ke arah pintu kamar Syafina yang tertutup. Hatinya gelisah. Sebagai seorang ayah yang sangat memuja anak gadisnya, Dallas bisa merasakan ada aura kesedihan yang tak biasa menyelimuti rumahnya malam ini.
Ia menoleh ke arah Dalfas yang sedang sibuk merapikan berkas-berkas untuk keberangkatannya ke Magelang minggu depan, dibantu Syafini sang adik bungsu.
"Alf," panggil Dallas berat.
Dalfas mendongak. "Iya, Pa?"
"Ada apa dengan Kakakmu? Dia tidak keluar kamar sejak sore. Wajahnya tadi saat pulang sudah seperti orang kehilangan arah. Kamu tahu sesuatu?"
Dalfas terdiam. Ia menelan ludah, bingung harus mulai dari mana. Ia tahu papanya sangat protektif, dan menceritakan kejadian di kedai bakso bisa berarti "bencana" bagi kebebasan Syafina ke depannya. Namun, melihat sorot mata Dallas yang menuntut jawaban jujur, Dalfas tidak punya pilihan.
"Tadi... Kak Fina janjian dengan seseorang di kedai bakso, Pa," bisik Dalfas pelan.
Mendengar itu, wajah Dallas langsung pias. Tangannya yang memegang ponsel seketika menegang. "Janjian? Dengan pria?"
Dalfas mengangguk ragu. "Sepertinya begitu. Tapi pria itu tidak jadi menemui Kak Fina. Dia hanya menitipkan sebuah kotak kecil lewat pelayan lalu pergi begitu saja. Kak Fina kelihatan sedih sekali saat itu."
Dallas bangkit dari duduknya, berjalan mondar-mandir di ruang tamu dengan langkah yang tidak tenang. Rasa takut seketika merayapi hatinya. Ia takut anak gadis pertamanya yang selama ini ia jaga seperti permata, kini mulai terjerat perasaan suka terhadap lawan jenis, dan lebih parahnya lagi, pria itu seolah mempermainkan perasaannya.
Ketakutan Dallas kian berlipat ganda karena ia menyadari minggu depan Dalfas akan terbang ke Magelang. Selama ini, Dalfas adalah "mata dan telinga" Dallas. Jika Dalfas pergi, Syafina akan sendirian tanpa pengawasan ketat.
"Alf." Dallas menghentikan langkahnya tepat di depan Dalfas. "Kalau kamu daftar Akmilnya tahun depan saja gimana?"
Dalfas terkesiap. Ia menatap papanya dengan mata yang tidak percaya. Mimik mukanya seketika layu, tergurat rasa kecewa yang mendalam. Akmil adalah impiannya sejak kecil, dan ia sudah berlatih fisik hingga berdarah-darah demi pendaftaran tahun ini.
Dallas segera sadar bahwa kata-katanya egois. Ia menghela napas panjang, mencoba meredam egonya sebagai ayah yang terlalu khawatir.
"Tidak, Alf. Lupakan kata-kata Papa tadi. Maksud Papa, mulai saat ini kamu harus tetap fokus dengan cita-citamu. Jangan pikirkan tentang Kak Fina. Masih ada Papa," ujar Dallas dengan suara yang lebih lembut. "Setelah kamu terbang ke Magelang, Papa akan pastikan Kak Fina tetap dalam pantauan Papa. Kamu harus lulus, jangan kecewakan Papa."
Dalfas mengembuskan napas lega yang panjang. "Terima kasih, Pa. Aku janji akan fokus."
Hari keberangkatan Dalfas pun tiba. Suasana di bandara terasa sangat mengharukan. Syafina, dengan mata yang masih sedikit sembab, memeluk erat saudara kembarnya. Perasaan kehilangan kini berlipat ganda. Ia kehilangan harapan pada Erlaga, dan kini ia harus kehilangan pelindungnya, Dalfas.
Dalfas membisikkan sesuatu di telinga Syafina. "Kak Fina harus dengerin Papa kalau aku nggak ada. Termasuk... jangan pacaran dulu kalau orangnya bikin Kakak sedih seperti kemarin."
Syafina hanya bisa mengangguk sambil terisak. "Jaga diri baik-baik ya, Alf. Semoga Akmil-nya lulus. Kabari aku kalau sudah sampai."
Dalfas melepas pelukan terakhirnya pada Syafini adik bungsunya. Lalu melambaikan tangan pada Dallas dan Syafana, kemudian ia berjalan memasuki gerbang keberangkatan dengan langkah tegap, meninggalkan Syafina yang merasa dunianya kian sepi.
Di saat yang hampir bersamaan, ribuan kilometer dari bandara tempat Syafina berada, tepatnya di barak Sentul, suasana begitu sunyi. Letnan Satu Erlaga duduk di tepi tempat tidur besinya. Ia baru saja selesai melakukan latihan fisik yang menguras tenaga, namun pikirannya tak juga tenang.
Erlaga merogoh saku seragamnya. Ia mengeluarkan sebuah benda kecil. Itu adalah potongan liontin hati yang ia ambil sebelum menitipkan kotak itu pada pelayan kedai bakso. Liontin itu kini hanya sebelah, persis gambar hati yang patah di tengah gurun kesalahpahaman.
Erlaga mengusap logam dingin itu dengan ibu jarinya. Pikirannya kembali ke momen di kedai bakso, saat ia melihat Syafina masuk bersama pria muda yang tampak sangat serasi.
"Jika kita berjodoh, maka kalung hati sebelah ini tidak akan pernah hilang selama aku bertugas. Aku akan membawanya melewati debu Sudan dan panasnya gurun," gumam Erlaga dengan nada getir.
Ia menatap liontin itu dengan tatapan penuh luka. "Tapi, jika kamu bukan jodohku, aku menandai kalau kalung hati yang patah ini suatu saat akan hilang. Hilang bersama harapanku padamu, Syafina. Biarlah ini menjadi tanda bahwa aku pernah mencoba mencintaimu, meski akhirnya aku harus mundur sebelum berperang."
Erlaga memasukkan liontin itu ke dalam kalung identitas militernya (dog tag), menyatukannya dengan lempeng logam namanya. Di sana, di balik seragam lorengnya, potongan hati itu akan bersembunyi selama satu tahun ke depan, menjadi rahasia tersedih yang pernah ia miliki.
Syafina di Bandung, dan Erlaga di Sentul, keduanya sama-sama memeluk separuh hati yang patah. Mereka tidak tahu bahwa "pria muda" yang dicemburui Erlaga sedang berjuang di Magelang, dan "sosok pria" yang ditangisi Syafina sedang bersiap mempertaruhkan nyawa di negara konflik.
Lalu, kapan mereka akan dipertemukan?