Menceritakan kisah seorang pemuda desa yang tidak bisa berbicara atau bisu... kehidupannya yang miskin secara perlahan berubah setelah menemukan sebuah batu mustika indah berwarna jingga. bisu yang di alami pemuda itu seketika sembuh tidak hanya itu batu itu juga memiliki kekuatan yang di idam idamkan kebanyakan laki-laki yaitu membuat tubuh penggunanya tak dapat terlihat atau kasat mata.. namun di balik semua keistimewan batu jingga itu menyimpan sebuah misteri dan kutukan yang secara perlahan mendorong pemuda tersebut memasuki dunia gelap yang sesungguhnya!
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Abdul Rizqi, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
mimpi buruk atau karma?
"Aku itung ya mbak, hitungan ketiga mbak buka mata mbak."
"Iya iya!"
"Satu, dua, tiga... buka mata Mbak..."
Sekar perlahan membuka matanya..
"Suprise, selamat ulang tahun yang ke 36 mbak Sekar! Kakak paling cantik sekaligus jengkelin, Semoga mbak Sekar di berikan umur panjang dan segala urusan mbak Sekar di permudah." Ucap Sugeng dari samping seraya menebarkan kertas warna warni ke atas.
Sekar tak bisa menahan senyumnya.. melihat effort Sugeng yang menghias warungnya sedemikian rupa.
"Sekarang tiup lilinnya mbak." Ucap Sugeng.
Sekar pun mendekati lilin dan berdoa dalam hati. Setelah berdoa sekar meniupnya.
Api lilin itu seketika padam..
Mata Sekar tampak berkaca kaca, ia langsung memeluk Sugeng mencoba menghargai usaha adiknya yang membuat pesta ulang tahun walaupun sederhana.
"Makasih ya geng, makasih banget. Kamu emang adik yang baik..." ucap Sekar sembari menenggelamkan dadanya di wajah Sugeng, sekaligus menghapus air matanya.
"Hehe... ya mbak sama sama, dulu waktu kecil mbak juga sering gini kan? Maafin adek mbak ini ya mbak, yang baru bisa bales sekarang..."
"Ayo sekarang kita makan kuenya mbak.." ucap Sugeng.
Mereka berdua memotong kue itu dan saling menyuapi.
Di keheningan dan dinginnya malam terdapat dua insan yang sedang berbahagia. Mereka berbagi canda, dan tawa di bawah bulan purnama.
Tampak Isna menteskan air matanya melihat ibunya dan pamannya yang tertawa seolah hidup mereka tanpa beban.
Isna merasa sedikit bersalah karena sudah berpikiran buruk tentang pamannya yang hendak berbuat tidak tidak kepada ibunya.
Ada sebuah keinginan di dalam hati Isna untuk bergabung kesana, namun ia mengurungkan niatnya lantaran ia merasa masih kurang akrab dengan pamannya dan takut kehadirannya hanya akan merusak momen bahagia kedua kakak beradik itu.
Ia memilih untuk berbalik da melanjutkan tidurnya di kamar.
"Hadiahnya mana geng? Masa cuma kejutan aja. Mbak dulu juga kasih kamu hadiah ultah, ya walaupun cuma lego ninjago 5 rebuan.. hahaha..." ujar Sekar kemudian tertawa.
"Loh? Mbak masih ngga sadar? Hadiahnya ituloh di depan Mbak..."
"Di depanku?" Sekar kebingungan di depannya hanya ada meja dengan atasnya potongan kue.
"Ohh hadiahnya kue?"
"Bukan mbak, warung itu hadiahnya. Ngapain aku hias kalau ngga buat hadiah ultah mbak?"
"Hah?" Sekar tercengang, ia menjatuhkan rahangnya sampai sampai potongan kue di dalam mulutnya terjatuh.
"Coba ulang, hadiah mbak apa geng?"
"Warung ini mbak, warung ini buat mbak. Mbak ngga salah denger... lebih tepatnya warung sama semua isinya buat mbak semua..."
"Nggak! Ini terlalu berlebihan geng! Mbak ngga enak, kamu yang udah bayar orang buat bikin warung ini, kamu yang udah usaha banget buat buka warung, sekarang mbak cuma tinggal nerusin? Nggak! Mbak ngga enak geng."
"Hala.. kayak sama siapa aja mbak. Udah ngga papa, lagian lumayan mbak punya usaha sendiri, ngga perlu cari kerja sana sini. Lagian usaha Sugeng juga udah banyak. Sugeng juga punya tabungan mbak ngga usah khawatir... santai aja.." jawab Sugeng seraya menghapus air mata yang mengalir di pipi Kakaknya itu.
Sekar kembali memeluk Sugeng, "hiks... ini berlebihan banget geng.. mbak dulu ngasih hadiah ke kamu cuma mainan. Tapi kamu kasih hadiah ke mbak warung sembako..."
"Nggak... nggak berlebihan kok mbak. Ini semua karena Mbak satu satunya orang yang masih ingat sama ultah Sugeng... udah terima aja, mbak..."
"Makasih geng... makasih banget.." Sekar tak henti hentinya berterimakasih.
Sugeng menghela nafas lega, ia sempat berpikir kakaknya akan menolek hadiah ini.
"Huh! Akhirnya usaha untuk mbak sekar selesai, sekarang tinggal bagaimana caranya buat akrab sama Isna. Agar dia mau jaga rahasia kalau aku udah bantu bayar sppnya.." batin Sugeng.
***
Malam terus bergulir... udara dingin yang berhembus perlahan membawa asap rokok di depan wajah Sugeng.
Ya Sugeng kini duduk termenung di kursi belakang rumahnya. Entah mengapa malam ini ia tak bisa tidur.. matanya begitu licin untuk di bawa terlelap ke alam mimpi.
"Gimana caraku biar akrab sana Isna ya? Beliin hape dia aja apa ya? Tapi perginya bareng sambil jalan jalan... tapi apa dia mau?" Tanya Sugeng dalam hatinya.
Semalaman Sugeng berpikir bagaimana caranya ia bisa akrab dengan Isna. Sampai sampai Sugeng meminta saran kepada mbah google.
Semakin malam bukannya semakin memgantuk, justru Sugeng semakin bingung memikirkan cara agar bisa akrab dengan anak kakaknya itu.
***
"Akkkhhh!!!" Isna berteriak histeris ketika melihat sesosok pria masuk melalui jendela rumahnya. dia kini berada di dalam kontarkan ibunya yang dahulu di desa sebelah.
"Si-- siapa kamu?!!" Isna tampak merikuk ketakutan dam mengesot kebelakang.
"Ibu toloooongg!!!!" Isna berteriak kembali, namun tak ada satu orang pun yang datang menolongnya.
Sementara pria bertopeng itu mulai melepaskan topeng hitam yang menutupi wajahnya.
Isna melebarkan matanya melihat orang itu tidak lain tidak bukan adalah Sugeng.
"Kamu milikku!" Ucap Sugeng sembari menyeringai mengerikan.
Ia mengulurkan tangannya dan meraih kaki Isna kemudian menyeretnya, hingga tubuh Isna terseret dan kini berada di dekat Sugeng.
Sugeng langsung memeluknya dan dengan buasnya Sugeng menjilati wajah Isna.
"Ja- jangan mas Sugeng..."
"Aakkkhhh..." Isna berteriak histeris ketika Sugeng merobek robek pakaiannya bagaikan binatang buas yang lapar.
Tidak hanya itu Sugeng juga langsung memperk*sa Isna dengan sangat brutal membuat dirinya meronta ronta..
"Hah! Sudah tidak perawan? Siapa yang merenggutnya? Namun tak masalah! Kamu sangat cantik! Malam ini kau adalah milikku!" Ucap Sugeng sembari menyeringai dan menindih tubuh Isna.
"Lepasin... kamu jahat mas Sugeng!" Isna meronta ronta.
"Istigfar nduk, istigfar nduk!" Suara Mbak Sekar membangunkan Isna dari tidurnya.
Isna mulai tenang... tidak meronta ronta di atas kasur lagi.
Di kamar itu tampak Sugeng berdiri di belakang Sekar. Sementara Sekar berbaring mendekati mulutnya di telinga Isna.
"Kamu mimpi buruk nduk? Makanya baca doa dulu sebelum tidur..." ucap Sekar khawatir.
Isna terdiam... keringat tampak membasahi tubuhnya, sampai sampai baju tidur yang ia kenakan basah dengan keringat.
"Mimpi tadi, benar benar seperti nyata..." batin Isna, ia menatap Sugeng dan terkejut melihat pakaian Sugeng sama seperti di mimpi..
Isna langsung mundur menjauh...
Isna kemudian menatap mata Sugeng, entah perasaan Isna atau apa.. ia merasa Sugeng seperti menatap bagian dadanya.
"Loh kamu kenapa na?" Tanya Sugeng yang merasa Isna ketakutan melihatnya.
"Keluar!" Bentak Isna.
"Hah?" Sugeng kaget, "tung--"
Sebelum Sugeng menyelesaikan kalimatnya Sekar menyela, "kamu keluar dulu aja geng, biar mbak yang bicara sama Isna."
Sugeng pun keluar dengan perasaan aneh, ia menggaruk kepalanya dengan bingung ketika melihat tatapan Isna yang seloah ketakutan dan menyimpan trauma melihatnya.
"Ada apa ya? Isna kok kayak trauma begitu... apa ini karma, karena aku telah memperk*sa Linda? Ngga mungkin!"
kalo bisa up nya jgn lama2 ya min