NovelToon NovelToon
Istriku Ratu Iblis Dunia Murim

Istriku Ratu Iblis Dunia Murim

Status: tamat
Genre:Sistem / Mafia / Time Travel / Cintapertama / Tamat
Popularitas:2.2k
Nilai: 5
Nama Author: PENALIAR

Kang Yun-seo, seorang pemuda biasa dari dunia modern yang doyan main game, tiba-tiba terbangun di dunia Murim yang penuh intrik dan seni bela diri. Ia dipanggil oleh Hwang Yehwa, ratu iblis yang sekarat akibat pengkhianatan, dan kini kehilangan kekuatannya, berubah wujud menjadi manusia biasa. Untuk bertahan di wilayah manusia yang memusuhi iblis, Yun-seo harus berpura-pura sebagai suaminya. Dengan pengetahuan modernnya, Yun-seo beradaptasi di akademi pedang, menghadapi turnamen, konspirasi gelap, dan bangkitnya kekuatan iblis, sambil menumbuhkan ikatan tak terduga dengan ratu dingin itu. Sebuah kisah isekai penuh aksi, komedi, dan romansa di antara dua dunia yang bertabrakan.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon PENALIAR, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

BAB 33: PERTEMUAN IBU DAN ANAK

Matahari pagi menyinari Istana Dinasti Iblis dengan cahaya keemasan.

Namun di dalam istana, suasana tidak secerah sinar matahari. Prajurit-prajurit sibuk membersihkan sisa-sisa pertempuran semalam. Mayat-mayat diangkut, luka-luka dibalut, dan api hitam yang masih membara di beberapa sudut dipadamkan dengan susah payah.

Di ruang tamu utama, Lilith duduk di kursi besi yang dirancang khusus—dengan rantai tipis namun kuat melingkar di pergelangan tangan dan kakinya. Bukan karena ia dianggap berbahaya—setelah semalam, ia terlihat seperti boneka yang kehilangan nyawanya. Tapi protokol keamanan mengharuskan demikian.

Yehwa duduk di hadapannya, ditemani Yun-seo. Di sudut ruangan, Seo Jung-won berdiri dengan tangan bersedekap, siap bertindak jika terjadi sesuatu.

"Aku sudah mengatur pertemuan dengan ibumu," kata Yehwa tanpa basa-basi. "Tapi sebelum itu, aku perlu tahu—apa yang kau inginkan, Lilith?"

Lilith mengangkat kepalanya pelan. Matanya—yang semalam merah menyala—kini sayu dan kelabu.

"Aku tidak tahu," jawabnya jujur. "Seumur hidupku, aku dilatih untuk membencimu. Untuk membenci Dinasti Iblis. Untuk membenci semua yang berhubungan dengan ibuku yang 'lemah'." Ia tertawa getir. "Sekarang kalian bilang ibuku menangis karenaku. Aku bingung."

Yun-seo bertanya lembut, "Siapa yang membesarkanmu?"

"Pengikut ayahku. Penguasa Kegelapan." Lilith mengepalkan tangan. "Mereka bilang ibuku dikhianati, dipenjara secara tidak adil. Mereka bilang kalian jahat. Aku percaya. Aku tumbuh dengan dendam."

"Tapi kau tahu ibumu berselingkuh dengan Penguasa Kegelapan, kan?" Yehwa tidak bermaksud kejam, tapi fakta harus diungkap. "Ibumu mengkhianati Dinasti Iblis. Ia mencoba membunuhku. Ia bertanggung jawab atas ribuan kematian."

"Aku tahu." Lilith menunduk. "Tapi itu cerita dari sisi kalian. Dari sisi mereka, kalian yang jahat."

Yehwa menghela napas. Ini rumit. Lebih rumit dari pertempuran mana pun.

"Pertemuan dengan ibumu mungkin bisa menjawab pertanyaanmu. Tapi ingat, Lilith—apapun yang kau putuskan setelah ini, kau harus bertanggung jawab."

Lilith mengangguk.

---

Perjalanan ke menara pengasingan ditempuh dalam diam.

Lilith berjalan di antara Yun-seo dan Yehwa, dengan Seo Jung-won dan sepuluh prajurit elit di belakang. Matanya mengamati istana dengan rasa ingin tahu—bangunan megah yang selama ini ia kira sebagai simbol kejahatan. Tapi di sini, ia melihat anak-anak bermain di taman, para pedagang dari berbagai bangsa, dan senyum di wajah para prajurit.

"Ini... tidak seperti yang kukira," gumamnya.

"Kau pikir istana iblis itu seperti neraka?" tanya Yun-seo.

"Semacam itu." Lilith tersenyum getir. "Propaganda memang ampuh."

Mereka tiba di jembatan batu menuju menara. Dua penjaga membuka pintu. Tangga spiral menanti.

"Siap?" tanya Yehwa.

Lilith menarik napas dalam. "Siap."

---

Di puncak menara, Lilian sedang duduk di kursi kayu, menatap langit melalui jendela kecil.

Tiga tahun penjara telah mengubahnya drastis. Rambut putihnya kini panjang tak terawat. Wajahnya keriput, matanya cekung. Tapi saat pintu terbuka dan ia melihat sosok yang masuk, matanya langsung hidup.

"Li... Lilith?" suaranya bergetar.

Lilith membeku di ambang pintu. Ia telah membayangkan pertemuan ini ribuan kali—saat ia akan menghadapi ibu yang meninggalkannya, ibu yang lemah, ibu yang pantas dibenci.

Tapi melihat wanita tua rentan di depannya, semua bayangan itu runtuh.

"Ibu?" bisiknya.

Lilian bangkit, hampir jatuh. Rantai di kakinya berderak. Ia meraih jeruji sel, tangannya gemetar.

"Kamu... kamu sudah besar... cantik sekali..."

Lilith melangkah maju. Satu langkah, dua langkah, lalu berlari. Ia memeluk ibunya melalui jeruji, menangis.

"Kenapa... kenapa kau tinggalkan aku?" isaknya. "Kenapa kau tidak jemput aku?"

Lilian menangis juga. "Maafkan ibu... ibu kalah... ibu dipenjara... ibu tidak bisa kemana-mana..."

"Ibu bilang mereka jahat! Tapi mereka tidak seperti itu!" Lilith menunjuk Yehwa. "Dia membiarkanku hidup! Dia mengatur pertemuan ini!"

Lilian menatap Yehwa dengan tatapan rumit. Ratu iblis itu berdiri di pintu, wajahnya tidak terbaca.

"Dia memang... tidak sejahat yang kukira," aku Lilian pelan. "Tapi ibu sudah terlanjur memilih jalan. Tidak bisa mundur."

Mereka berdua menangis dalam pelukan yang terhalang jeruji. Yehwa memberi isyarat pada penjaga untuk membuka sel.

Pintu terbuka. Lilian dan Lilith berpelukan erat, tanpa penghalang.

"Aku tidak akan meninggalkanmu lagi," janji Lilian. "Meski aku harus mati di sini."

Yehwa melangkah maju. "Kau tidak akan mati di sini."

Semua menoleh.

"Aku pertimbangkan untuk mengurangi hukumanmu. Bukan karena kau layak, tapi karena putrimu layak mendapat kesempatan." Yehwa menatap Lilith. "Dia bisa berkunjung secara teratur. Dan dalam beberapa tahun, jika perilakumu membaik, mungkin kau bisa pindah ke tahanan rumah di istana."

Lilian terkejut. "Kau... serius?"

"Aku tidak pernah bercanda soal keadilan." Yehwa berbalik. "Tapi ingat—satu kesalahan saja, dan semua ini batal."

Ia keluar, meninggalkan ibu dan anak itu. Yun-seo mengikuti, tersenyum pada Lilith sebelum pergi.

Di dalam sel, Lilith memeluk ibunya erat.

"Aku tidak tahu harus merasa apa," bisiknya.

"Kau tidak perlu tahu sekarang." Lilian mengelus rambut putrinya. "Yang penting kau di sini. Bersamaku."

---

Malam harinya, di ruang keluarga istana.

Yehwa duduk di sofa, melepas penat. Yun-seo duduk di sampingnya, menggendong Jin-ho yang sudah tidur lelah setelah seharian bermain—dan secara tidak sengaja membakar dua kursi taman (untungnya api hitamnya bisa dipadamkan Yehwa dengan cepat).

"Kau baik hati," kata Yun-seo tiba-tiba.

Yehwa menoleh. "Apa?"

"Lilian. Kau beri keringanan hukuman. Padahal dia pengkhianat."

Yehwa diam sebentar. Lalu berkata, "Aku tidak melakukannya untuk Lilian. Tapi untuk Lilith. Anak itu korban dari keadaan. Ia berhak punya ibu."

"Dan kau memberinya kesempatan."

"Aku belajar dari seseorang." Yehwa tersenyum, menatap Yun-seo. "Seseorang yang terus memberiku kesempatan, meski aku ratu iblis yang dingin."

Yun-seo tertawa. "Aku tidak pernah berpikir kau butuh kesempatan. Aku hanya... nggak tega."

"Itu sebabnya aku mencintaimu."

Mereka berciuman, lembut, di atas kepala Jin-ho yang tertidur.

Di luar, bulan purnama bersinar. Malam ini damai. Tapi mereka tahu—badai lain pasti akan datang. Dan mereka harus siap.

---

1
Amiera Syaqilla
hello author😄
Q. Zlatan Ibrahim: halo juga terimalasih sudah mampir
total 1 replies
Manusia Biasa
emang manusia kadang lebih dari iblis
Q. Zlatan Ibrahim: seringkali
total 1 replies
Manusia Biasa
wkwkw ngakak gua baca sandiwaranya, lucu🗿😂
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!