Arya, seorang pewaris sekte abadi yang dikhianati dan kehilangan kekuatannya, terperangkap dalam tubuh seorang "menantu benalu" yang dihina oleh keluarga istrinya di kota metropolitan modern. Dengan ingatan masa lalu dan sisa kekuatan spiritualnya, ia harus membangun ulang fondasi kekuatannya, menaklukkan dunia bisnis, melindungi wanita yang ia cintai, dan perlahan mengungkap rahasia alam semesta.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Bodattt, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 22: Jatuhnya Para Dewa Palsu
Angin bertiup kencang di ketinggian ratusan meter di atas Menara Emerald. Awan hitam yang dibawa oleh para Penatua Sekte Pedang Awan bergulung-gulung, menciptakan pusaran gelap yang mengerikan.
Di bawah sana, jalanan Kota Emerald lumpuh total. Jutaan warga keluar dari mobil dan gedung mereka, mendongak ke langit dengan rahang ternganga. Layar ponsel di mana-mana mengarah ke atas, merekam pemandangan mustahil: lima orang melayang di atas pedang bercahaya, dan seorang pemuda berjaket katun berdiri santai di udara kosong, saling berhadapan.
"Apakah itu... syuting film superhero?"
"Film apa?! Kaca gedung kantorku baru saja pecah hanya karena suara kakek tua itu!"
"Tunggu, bukankah pemuda itu Arya? Suami dari CEO Grup Kusuma?!"
Sementara dunia fana di bawah mendidih dalam kebingungan dan teror, di atas langit, keheningan mematikan terjadi di antara para kultivator.
Pemimpin Sekte Pedang Awan, lelaki tua berambut putih dengan tiga pedang melayang di punggungnya, menatap Arya dengan mata menyipit tajam. Keterkejutan melintas di wajahnya yang keriput.
"Berjalan di ruang hampa tanpa bantuan artefak terbang atau pedang spiritual..." gumam Pemimpin Sekte, suaranya dipenuhi ketidakpercayaan. "Itu adalah kemampuan mutlak dari seorang kultivator Inti Emas (Golden Core). Tapi kau... usiamu tak lebih dari dua puluh lima tahun. Energi spiritual di Bumi ini terlalu tipis untuk melahirkan monster sepertimu!"
Pemimpin Sekte dengan cepat mengubah raut wajahnya menjadi seringai serakah. "Aku mengerti sekarang. Kau pasti menemukan reruntuhan Makam Dewa Kuno dan mendapatkan pusaka tingkat tinggi yang memungkinkanmu memanipulasi gravitasi! Pantas saja kau berani bertingkah sombong!"
Arya hanya menghela napas panjang, menatap kelima pria tua berjubah itu dengan rasa iba yang mengejek.
"Katak di dasar sumur," ucap Arya datar. "Melihat seukuran koin dari langit, dan mengira mereka telah melihat seluruh alam semesta. Sungguh menyedihkan."
"Tutup mulut fanamu!" raung Penatua Berjubah Merah, tetua kedua terkuat di sekte tersebut. "Beraninya kau menghina Pemimpin Sekte kami! Serahkan pusakamu, bersujudlah seribu kali, dan kami mungkin akan menyisakan jiwa istrimu untuk dijadikan pelayan rendahan di gunung kami!"
Menyebut nama Nadia adalah pantangan mutlak.
Suhu udara di langit Kota Emerald, yang tadinya dingin karena awan mendung, mendadak anjlok ke titik beku absolut. Mata Arya, yang selalu tampak tenang seperti telaga yang dalam, kini memancarkan kilatan emas yang membutakan.
"Kalian bahkan tidak pantas untuk bereinkarnasi," bisik Arya sedingin es.
"Mati kau, cacing sombong!"
Penatua Berjubah Merah dan Penatua Berjubah Biru bergerak serentak. Keduanya merentangkan tangan. Langit bergemuruh. Sebuah pedang api raksasa sepanjang dua puluh meter dan naga es raksasa terbentuk dari kondensasi Qi yang ekstrem, melolong membelah awan hitam, meluncur langsung ke arah Arya.
Tekanan dari dua serangan itu begitu dahsyat hingga awan di sekitarnya terbelah menjadi dua. Di bawah sana, orang-orang menjerit histeris mengira kiamat telah tiba.
Namun, Arya bahkan tidak mengeluarkan tangan kirinya dari saku.
Ia perlahan mengangkat tangan kanannya ke depan, telapak tangannya terbuka menghadap serangan mematikan yang berjarak kurang dari sepuluh meter itu.
"Hancur," ucap Arya pelan.
BZZZT—BLAAARRR!
Bukan ledakan sihir, melainkan sebuah telapak tangan emas raksasa yang transparan dan memancarkan cahaya suci tiba-tiba bermanifestasi di udara. Telapak tangan itu lebarnya nyaris menyamai sebuah lapangan sepak bola.
Pedang api raksasa dan naga es kebanggaan kedua Penatua itu menabrak telapak tangan emas Arya—dan langsung hancur berkeping-keping menjadi partikel debu, tanpa mampu menembus satu inci pun!
"A-apa?!" Penatua Merah dan Biru membelalakkan mata hingga bola mata mereka nyaris melompat keluar. Niat pedang kebanggaan mereka dihancurkan semudah meniup debu!
Sebelum mereka sempat berbalik untuk melarikan diri, Arya membalikkan telapak tangannya ke bawah dan menekan ruang hampa di depannya.
Telapak tangan emas raksasa itu bergerak turun dengan kecepatan kilat, menampar Penatua Merah dan Penatua Biru layaknya menampar dua ekor lalat yang mengganggu.
PLAKK!
Suara tamparan itu menggema seperti petir yang menyambar di siang bolong.
Crak! Crak! Suara tulang-belulang yang remuk serentak terdengar mengerikan di udara.
Kedua Penatua tingkat puncak Kondensasi Qi itu menyemburkan darah segar. Jubah pelindung mereka hancur menjadi serpihan kain. Tubuh mereka meluncur deras ke bawah menembus awan dengan kecepatan meteor, menghantam perairan Teluk Emerald yang kosong di ujung kota.
BOOM! Dua pilar air raksasa menjulang setinggi puluhan meter di teluk tersebut. Kedua Penatua itu tewas seketika, tubuh mereka hancur lebur sebelum menyentuh dasar lautan. Tidak ada sisa debu spiritual yang tertinggal.
Satu detik. Hanya butuh satu detik dan satu tamparan tangan kosong untuk membunuh dua dewa dari atas gunung.
Pemimpin Sekte dan dua Penatua yang tersisa membeku di udara. Pedang terbang di bawah kaki mereka bergetar hebat tak terkendali. Keringat dingin seukuran biji jagung mengucur deras dari dahi Sang Pemimpin Sekte. Wajah arogannya kini tergantikan oleh teror absolut, pucat seputih kertas.
"T-Tangan Emas Penakluk Langit..." bibir Pemimpin Sekte bergetar hebat. "I-itu adalah teknik legendaris dari Alam Atas! K-kau bukan manusia yang menemukan pusaka... K-kau..."
Arya menurunkan tangannya yang bersinar keemasan. Ia mulai melangkah maju membelah udara kosong. Setiap kali ujung sepatunya menginjak udara, riak-riak emas menyebar, dan awan hitam tebal bentukan sekte itu perlahan hancur, membiarkan cahaya matahari kembali menyinari Kota Emerald.
"Di kehidupan masa laluku," suara Arya mengalun dengan otoritas yang membuat jiwa ketiga kultivator yang tersisa ingin berlutut dan memohon ampun. "Bahkan Kaisar Langit dan Ratusan Dewa Perang harus menundukkan kepala mereka hingga menyentuh tanah saat keretaku lewat."
Arya berhenti tepat sepuluh meter di depan Pemimpin Sekte. Matanya menatap tajam, mengunci keberadaan ketiga pria tua itu.
"Kalian, sekumpulan semut fana yang baru belajar menghirup Qi kotor, berani datang ke kotaku, menghancurkan kaca gedungkuku, dan mengancam istriku?"
Pemimpin Sekte Pedang Awan tahu bahwa tidak ada kata mundur. Melarikan diri dari monster ini adalah hal yang mustahil. Ia menggigit lidahnya sendiri hingga berdarah, menggunakan esensi darahnya untuk membangkitkan sisa-sisa energi terakhirnya.
"Jangan sombong! Sekte Pedang Awan tidak akan tunduk! Formasi Tiga Pembelah Bintang!" raungnya putus asa, mengorbankan umurnya sendiri untuk memanggil tiga pedang raksasa di punggungnya.
Arya menggelengkan kepalanya pelan. "Membosankan."
Ia menjentikkan jarinya.
Sebuah pilar cahaya emas yang sangat murni turun langsung dari langit yang telah cerah, menyelimuti ketiga sisa kultivator itu. Tidak ada ledakan. Tidak ada suara berisik.
Hanya dalam hitungan tiga detik, di bawah cahaya suci itu, pedang terbang, jubah, hingga tubuh ketiga kultivator tersebut perlahan menguap menjadi partikel cahaya dan menghilang ditiup angin laut. Mereka terhapus dari eksistensi, seolah-olah tidak pernah ada.
Awan mendung benar-benar lenyap. Langit kembali biru cerah. Matahari bersinar terik memeluk Kota Emerald.
Di udara, hanya tersisa Arya seorang diri, berdiri tenang dengan tangan di dalam saku, memandangi laut yang kembali tenang.