Aku punya segalanya, tapi aku tidak punya hak atas hatiku sendiri."
Juliet adalah putri mahkota dari kerajaan bisnis properti yang hidup dalam sangkar emas. Baginya, bunga adalah satu-satunya teman yang tidak pernah menghakimi. Namun, dunianya jungkir balik saat ia mempekerjakan Gaara, tukang kebun misterius dengan tatapan sedingin es namun memiliki sentuhan tangan yang ajaib pada tanaman.
Saat benih cinta mulai tumbuh di sela-sela duri mawar, Adam—tunangan sempurna dari masa lalu—datang menagih janji pernikahan. Di tengah kecemburuan Vina yang licik dan tekanan keluarga, Juliet harus memilih: Menjadi mawar indah di dalam vas kaca milik Adam, atau tumbuh liar dan bahagia di tanah bersama Gaara?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Sabana01, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
BAB 1: MAWAR YANG MENOLAK TUNDUK
Suara gesekan gunting tanaman dengan dahan mawar yang kering menjadi satu-satunya melodi di taman belakang kediaman Wijaya pagi itu. Juliet, dengan gaun satin tidurnya yang berwarna krem, berdiri di balkon lantai dua. Matanya yang sembap menatap nanar ke arah hamparan taman seluas lapangan bola yang kini tampak merana.
Taman itu adalah warisan terakhir dari almarhum ibunya. Namun, sejak tukang kebun lama mereka pensiun karena usia, mawar-mawar Juliet Rose yang langka di sana mulai kehilangan gairahnya. Persis seperti hati Juliet sejak ayahnya mengumumkan pertunangan bisnisnya dengan Adam dua tahun lalu.
"Nona, pelamar barunya sudah datang," suara Bi Ijah, kepala pelayan di rumah itu, memecah lamunan Juliet.
Juliet tidak berbalik. Ia hanya merapikan rambut panjangnya yang sedikit berantakan. "Suruh dia menunggu di gazebo. Aku akan turun sepuluh menit lagi."
Juliet sengaja mengulur waktu. Ia ingin menguji kesabaran pria itu. Baginya, semua tukang kebun yang dikirim agen penyalur hanya mengincar gaji besar dari ayahnya tanpa benar-benar mencintai tanaman.
Dua puluh menit kemudian, Juliet melangkah turun dengan keanggunan seorang putri bangsawan. Sepatu hak tingginya berbunyi tuk-tuk-tuk di atas jalan setapak batu alam. Namun, langkahnya terhenti saat matanya menangkap sosok pria yang sedang berjongkok di dekat rumpun mawar Lady Emma Hamilton yang hampir mati.
Pria itu tidak duduk di gazebo seperti perintahnya. Ia justru sibuk mengais tanah dengan tangan telanjang, tanpa sarung tangan.
"Siapa yang mengizinkanmu menyentuh tanah itu tanpa alas?" suara Juliet melengking, dingin dan tajam.
Pria itu terdiam sebentar, lalu perlahan berdiri. Saat ia berbalik, Juliet merasa napasnya tertahan di tenggorokan.
Tampan. Itu kata pertama yang muncul di benaknya, meski ia benci mengakuinya. Pria itu mengenakan kaos oblong hitam yang sudah memudar warnanya, menempel ketat di tubuhnya yang tegap dan berotot—hasil dari kerja kasar yang jujur. Wajahnya tegas dengan rahang yang kokoh, dan matanya... mata itu sangat gelap, namun tajam seperti elang.
"Tanah tidak akan menyakitiku, Nona. Tapi cara Anda menyiram bunga ini, itulah yang menyakitinya," jawab pria itu dengan suara berat yang tenang. Tidak ada nada takut sedikit pun.
Juliet tersentak. "Apa katamu? Aku membayar ahli botani terbaik untuk merawat ini!"
Pria itu tersenyum tipis, sebuah senyum meremehkan yang membuat darah Juliet mendidih. "Ahli botani mungkin tahu teorinya. Tapi mereka tidak mendengar napas bunganya. Mawar ini butuh kasih sayang, bukan sekadar pupuk kimia mahal."
Juliet melangkah maju, memperpendek jarak hingga ia bisa mencium aroma maskulin yang bercampur dengan bau tanah segar dari pria di depannya. "Berani sekali kau mengguruiku di rumahku sendiri. Siapa namamu?"
"Gaara," jawabnya singkat. "Dan jika Anda mencari tukang kebun yang hanya bisa mengangguk dan mengatakan 'ya Nona', sebaiknya Anda cari orang lain. Saya di sini untuk menyelamatkan taman ini, bukan untuk menjadi pelayan pribadi Anda."
Juliet mengepalkan tangannya. Keberanian pria ini benar-benar menyulut emosinya. Selama ini, semua orang di rumah ini tunduk padanya. Ayahnya memanjakannya dengan uang, dan Adam—tunangannya yang berada di Australia—selalu memperlakukannya seperti porselen rapuh yang tidak punya suara.
Tapi pria berpakaian lusuh ini? Dia menatap mata Juliet seolah mereka setara.
"Kau tahu berapa harga satu bibit mawar di sini? Lebih mahal dari harga dirimu, Gaara!" maki Juliet, mencoba mengembalikan dominasinya.
Gaara tidak marah. Ia justru memetik setangkai mawar yang sudah layu dan hampir rontok kelopaknya, lalu menyerahkannya pada Juliet. "Mawar ini tidak peduli berapa harga dirinya. Dia hanya ingin tumbuh. Sama seperti manusia, Nona. Semakin Anda mengurungnya dalam aturan yang kaku, dia akan semakin cepat mati."
Juliet tertegun melihat mawar layu di tangannya. Kata-kata Gaara terasa seperti sindiran halus untuk hidupnya sendiri yang terkekang.
"Cukup filosofinya," potong Juliet cepat, menyembunyikan kegugupannya. "Aku akan memberimu masa percobaan satu minggu. Jika dalam tujuh hari mawar Juliet Rose di sudut sana tidak menunjukkan tanda-tanda kehidupan, kau pergi dari sini tanpa sepeser pun uang. Mengerti?"
Gaara menatap ke arah mawar yang dimaksud Juliet—mawar paling sulit dirawat yang merupakan kesayangan mendiang ibunya. Tantangan yang mustahil bagi kebanyakan orang.
"Satu minggu," ulang Gaara datar. "Tapi selama satu minggu itu, taman ini adalah wilayahku. Anda tidak boleh mencampuri cara kerja saya, meskipun itu terlihat aneh di mata Nona yang terhormat ini."
Juliet mendengus remeh. "Terserah. Kita lihat saja sampai kapan kesombonganmu ini bertahan, Tukang Kebun."
Juliet berbalik dan berjalan pergi dengan angkuh. Namun, saat ia sudah berada cukup jauh, ia diam-diam menoleh ke belakang. Ia melihat Gaara kembali berlutut di atas tanah, membelai daun mawar itu dengan sangat lembut, seolah-olah ia sedang membisikkan janji pada makhluk hidup.
Ada sesuatu pada diri Gaara yang membuat Juliet merasa terancam, bukan secara fisik, tapi secara emosional. Ia merasa benteng pertahanan yang selama ini ia bangun mulai terusik oleh kehadiran pria sederhana yang aroma tubuhnya adalah aroma tanah dan matahari.
Di kamar atas, Juliet melempar mawar layu pemberian Gaara ke atas meja riasnya. Ia meraih ponselnya yang bergetar. Sebuah pesan dari Adam muncul di layar.
“Juliet, aku sudah memesan gaun pengantin dari desainer di Sydney. Aku akan pulang tiga bulan lagi. Bersiaplah, Sayang.”
Juliet tidak membalas. Ia justru berjalan ke jendela, melihat sosok Gaara yang mulai sibuk bekerja di bawah sana.
"Dia hanya tukang kebun, Juliet. Jangan gila," bisiknya pada diri sendiri.
Namun, di bawah sana, Gaara mendongak sejenak ke arah balkon. Mata mereka bertemu selama beberapa detik sebelum Juliet dengan cepat menutup gordennya. Gaara menarik napas dalam, mencium aroma tanah yang basah. Ia tahu, tugasnya di rumah ini akan jauh lebih sulit daripada sekadar menghidupkan mawar yang layu. Ia harus menghadapi mawar berduri yang berdiri di balkon tadi.
...****************...