Bagaimana rasanya dihancurkan oleh orang-orang yang seharusnya melindungimu? Dari orang tua yang egois hingga 'cinta' yang berujung pada tindak kriminal dan hilangnya kehormatan. Novel ini adalah perjalananku menghadapi kenyataan bahwa dunia tidak pernah adil. Tentang bagaimana berdiri di antara pengkhianatan keluarga dan trauma masa remaja yang merusak harga diri. Saat pintu-pintu baru mulai terbuka, justru ingin lari. Karena tahu, tidak semua yang datang berniat menyembuhkan beberapa mungkin hanya ingin mematahkan apa yang sudah retak.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Anjelisitinjak, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bagian 9
Aku terbangun dengan perasaan yang jauh lebih segar, namun begitu mataku melihat jam menunjukkan pukul 05.30 realita kembali menghantam.
Aku harus turun ke bawah, melewati ruang tengah, dan menghadapi suasana rumah yang selalu membuat dadaku sesak.
Aku bersiap-siap ke kampus dengan gerakan lambat.
Saat menuruni tangga, pemandangan itu kembali tersaji. Papa dan Mama sudah duduk di meja makan. Mereka terlihat rapi, tenang, seolah teriakan dan tamparan dua hari lalu hanyalah mimpi buruk yang sudah mereka hapus dari ingatan.
Aku tidak menyapa Aku menarik satu kursi dengan suara decitan yang sengaja kubuat sedikit kasar, lalu duduk tanpa melihat mereka.
"Pagi, Hana. Tidurmu nyenyak semalam?" sapa Papa, mencoba membuka percakapan dengan nada yang sangat akrab terlalu akrab untuk ukuran seseorang yang baru saja menghancurkan suasana rumah.
Aku hanya meliriknya sekilas, lalu kembali fokus pada roti di depanku. Aku mengoleskan selai cokelat dengan gerakan cepat.
"Hana, hari ini pulang jam berapa? Mama mau masak makanan kesukaan kamu,"
timpal Mama dengan suara yang dibuat selembut mungkin.
Aku jengah.
Benar-benar muak. Kenapa mereka harus bersikap seolah semuanya baik-baik saja? Kenapa mereka seolah sedang mementaskan sandiwara "Keluarga Harmonis" di depan mataku? Apakah mereka pikir sarapan pagi ini bisa menghapus memori saat mereka saling memaki?
Aku tidak tahan berlama-lama di sana. Aku meneguk susuku sampai habis dalam sekali teguk, lalu menyambar roti cokelatku. Aku memutuskan untuk memakannya di jalan saja.
"Bi! Aku berangkat ya!"
teriakku kencang ke arah dapur, sengaja tidak berpamitan langsung pada dua orang di depanku.
Aku mulai melangkah pergi, namun baru beberapa langkah, suara Papa yang tegas dan dingin menghentikanku.
"Apa-apaan kamu ini, Hana?"
Aku berhenti, tapi tetap memunggungi mereka.
"Kami berdua ada di sini, bicara baik-baik sama kamu, tapi kamu bersikap seolah tidak melihat kami sama sekali?"
suara Papa mulai naik satu oktav
"Kamu tidak menghargai Papa sebagai orang tuamu?"
Kalimat itu kalimat tentang "menghargai" menjadi sumbu yang memicu ledakan di dadaku. Aku berbalik, menatap Papa dengan tatapan paling tajam yang pernah kuberikan.
"Menghargai?"
ulangku dengan tawa getir.
"Emangnya selama ini aku pernah punya peran di mata kalian? Selama ini kalian terlalu sibuk bertengkar sampai lupa kalau aku ini manusia, bukan pajangan rumah."
Aku maju selangkah, suaranya mulai bergetar karena emosi yang tertahan.
"Aku bingung, Pa, Ma. Sandiwara kalian pagi ini sama sekali nggak masuk akal buat aku. Kalian pikir dengan duduk manis di sini, luka-luka semalam tiba-tiba sembuh? Enggak. Aku muak sama sandiwara ini."
Aku tidak menunggu jawaban mereka. Aku langsung berbalik dan melangkah lebar menuju pintu keluar meninggalkan mereka dalam keheningan yang mencekam.
...****************...
Beruntung, awan mendung di kepalaku tidak bertahan lama. Begitu aku memarkirkan motor di area kampus, dua sosok "pengawal" pribadiku sudah berdiri di sana dengan tangan bersedekap dan wajah yang ditekuk sedalam mungkin.
"Hana! Kamu benar-benar, ya!"
Diva langsung menyerang begitu aku melepas helm.
"Tahu nggak sih, kami sudah kayak orang gila teleponin kamu? Kamu tiba-tiba hilang, nomor mati, di-spam chat sampai ratusan kali pun nggak ada satu pun yang centang dua!"
Dhea menimpali dengan nada yang tak kalah tinggi.
Wajah mereka terlihat kesal, tapi aku tahu di balik itu ada rasa khawatir yang besar.
Aku hanya bisa tertawa kecil melihat ekspresi mereka.
"Maaf, ya... Kemarin aku benar-benar butuh waktu sendiri."
"Maaf-maaf! Pokoknya lain kali kalau kamu begini lagi, awas saja ya! Kita nggak mau temenan lagi sama kamu!" ancam Diva sambil membuang muka, pura-pura sangat marah.
Aku terkekeh, lalu menatap mereka dengan tatapan meledek.
"Yakin? Yakin nggak mau temenan lagi sama aku? Nanti siapa yang kalian repotin kalau mau nanya soal tugas?"
"*Nye-nye-nye*!"
ucap mereka berdua bersamaan dengan bibir yang dimonyongkan, menirukan suaraku.
Kami akhirnya meledak dalam tawa yang sama. Kekesalan mereka menguap secepat embun pagi, berganti dengan kehangatan persahabatan yang tulus.
Kami mulai berjalan menyusuri koridor kampus menuju kelas. Percakapan kami beralih ke topik yang paling mendebarkan saat ini Wisuda.
"Nggak kerasa ya, sebentar lagi kita bakal pakai toga,"
ucap Dhea dengan mata berbinar.
"Nilai-nilai kita sejauh ini aman, kan? Aku sudah nggak sabar mau lepas dari drama skripsi ini!"
"Iya, nih! Aku sudah bayangin nanti mau pakai kebaya warna apa,"
Diva menimpali sambil tertawa.
"Eh, tapi rencana kalian setelah ini gimana? Mau langsung kerja di mana?"
Kami pun asyik berdiskusi, saling melempar mimpi dan rencana masa depan.
Ada yang ingin masuk ke perusahaan besar, ada yang ingin lanjut studi, dan ada yang sekadar ingin menikmati masa bebas tugas. Di tengah tawa dan obrolan itu, aku merasa jauh lebih baik.
Teman-temanku adalah salah satu alasan kenapa aku masih sanggup berdiri tegak sampai sekarang.
Untuk sesaat, aku benar-benar lupa pada rasa jengkel di rumah. Aku merasa seperti mahasiswi normal lainnya yang memiliki masa depan cerah untuk dikejar.
Suasana di lorong kelas makin ramai saat Tomi muncul dari kejauhan. Dengan gaya santainya, dia langsung menghampiri kerumunan kami.
"Pagi, trio macan! Wah, kayaknya lagi bahas negara api nih sampai serius banget?" goda Tomi yang langsung membuat Diva dan Dhea terbahak.
Tomi tidak butuh waktu lama untuk membaur. Dia langsung bergabung dalam obrolan kami tentang wisuda dan dunia kerja.
"Eh, kalian tahu nggak?"
Tomi mulai bercerita dengan ekspresi serius yang dibuat-buat.
"Kemarin aku baca lowongan kerja. Syaratnya: 'Mampu bekerja di bawah tekanan'. Aku hampir daftar, tapi pas aku pikir-pikir, tekanan batin menghadapi skripsi aja udah bikin aku pengen jadi jualan cilok aja di depan SD. Lebih tenang, nggak perlu revisi bumbu dari dosen pembimbing!"
Seketika teman-teman sekelas yang baru datang pun ikut mengerumuni kami dan tertawa.
"Bener juga lo, Tom! Kalau ciloknya kurang kenyal, tinggal tambah kanji, nggak perlu konsul bab 4!"
sahut salah satu teman kelas kami.
"Terus ya,"
lanjut Tomi makin bersemangat
"nanti pas wisuda, aku rencana mau sewa fotografer khusus. Tugas dia cuma satu fotoin muka dosen pembimbing pas ngasih ijazah ke aku, biar aku tahu beliau beneran ikhlas atau terpaksa ngelulusin mahasiswa yang hobi telat kayak aku!"
Tawa pecah di koridor itu
Tomi memang punya bakat alami mengubah suasana tegang menjadi cair.
Di tengah keramaian itu, aku tertawa lepas benar-benar merasa terhibur.
Secara tidak sadar, pandanganku bertemu dengan matanya. Tomi sedang menatapku sambil tersenyum sebuah senyum yang seolah berkata,
"Aku senang melihat kamu ketawa lagi."
Kami terdiam beberapa detik, saling mengunci pandangan di tengah riuhnya tawa orang-orang di sekitar.
"Woi, Tom! Fokus, Tom! Jangan dilihatin terus, nanti makin cinta, bahaya itu!" teriak Yogi tiba-tiba.
Yogi, teman sekelas sekaligus teman dekat Tomi, rupanya dari tadi memperhatikan gerak-gerik kami. Dia tertawa paling kencang sambil menunjuk-nunjuk ke arah kami berdua.
"Cieeee! Tomi spilled the beans nih lewat mata!"
timpal Diva ikut memanasi suasana.
"Eh, apa sih? Nggak ya!"
aku langsung membuang muka, mencoba menutupi pipiku yang mendadak terasa panas.
Tomi sendiri terlihat salah tingkah. Dia menggaruk tengkuknya yang tidak gatal sambil tertawa canggung.
"Apaan sih lo, Gi? Ganggu aja orang lagi... lagi narik napas!"
"Narik napas apa narik hati?"
ledek Yogi lagi yang disambut sorakan
"Cieeee!"
massal dari seluruh teman sekelas yang ada di sana.
Kami berdua hanya bisa tersipu malu di tengah ledekan itu.
Untuk pertama kalinya, rasa malu ini tidak terasa menyakitkan atau mengancam. Ini adalah rasa malu yang manis, yang membuatku menyadari bahwa mungkin, di antara tumpukan traumaku, ada ruang baru yang sedang tumbuh untuk seseorang yang baru.