Di malam ketika hujan mengguyur tanpa ampun, Raya diusir dari rumah yang dulu ia sebut surga. Suaminya menolak kehadirannya hanya karena ia tak mampu memenuhi harapan keluarga—seorang anak laki-laki. Dengan hati hancur dan tubuh gemetar, Raya berjalan tanpa tujuan hingga akhirnya tersungkur di trotoar. Di ambang putus asa, sebuah mobil berhenti di depannya. Pria asing bernama Arya menawarkan sesuatu yang terdengar tak masuk akal: sebuah pernikahan pura-pura sebagai solusi bagi masalah mereka masing-masing.
Arya membutuhkan seorang istri untuk meredam tekanan keluarganya, sementara Raya membutuhkan tempat berlindung dari dunia yang telah menolaknya. Tanpa cinta, tanpa janji manis, hanya sebuah kesepakatan dingin yang mengikat dua jiwa terluka. Namun di balik perjanjian tanpa perasaan itu, perlahan mereka mulai menemukan kehangatan yang tak direncanakan. Dari hubungan yang semula sekadar sandiwara, tumbuh benih perasaan yang menguji batas antara kewajiban dan cinta sejati.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Eireyynezkim, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
22
Sebulan telah berlalu sejak kejadian di restoran itu. Hubungan antara Arya dan Raya terasa semakin dekat. Walaupun keduanya masih mempertahankan peran mereka dalam sandiwara perjanjian itu, namun sering kali, batas-batas yang mereka buat mulai kabur oleh perhatian-perhatian kecil yang tulus.
Siang itu, suasana rumah tenang. Angin lembut menyapu tirai jendela, sementara sinar matahari hangat menembus sela-sela daun. Raya sedang merapikan buku-buku di ruang tengah, sesekali mengusap perutnya yang kini terlihat semakin membuncit. Namun saat sebuah buku tergelincir dan jatuh ke lantai, Raya terlihat kesulitan membungkuk.
Arya, yang baru saja pulang lebih awal karena rapat ditunda, berdiri tak jauh dari sana. Ia tersenyum kecil memperhatikan Raya dari jauh. Tanpa pikir panjang, ia segera melangkah mendekat dan mengambil buku yang terjatuh itu.
"Lain kali biar aku saja yang ambil, ya. Kamu nggak usah maksa," ucap Arya, menyerahkan buku itu.
Raya tersenyum tipis. "Terima kasih. Aku cuma merasa belum terlalu 'berat' aja..."
Namun belum sempat Arya menjawab, mendadak Raya mengerang pelan dan memegang perutnya. "Ahh..."
Arya langsung panik. "Raya? Kenapa? Sakit?" katanya panik, tangannya segera menopang Raya yang kini terlihat pucat.
"Bukan... bukan sakit," ucap Raya cepat-cepat. "Bayinya... dia nendang. Kuat banget..."
Arya membantu Raya untuk duduk dan perlahan membaringkannya di sofa. Wajahnya masih khawatir.
"Aku hubungi dokter, sekarang juga!" Arya langsung mengeluarkan ponselnya dan menelepon dokter kandungan pribadi mereka.
Raya buru-buru menggenggam tangan Arya, mencoba menenangkannya. "Arya... aku baik-baik saja. Ini normal. Tendangan bayi... bukan kontraksi."
"Tapi wajah kamu tadi pucat," ucap Arya, masih tidak tenang.
"Karena kaget aja," Raya tersenyum. "Kalau kamu harus ke kantor, pergilah. Aku bisa istirahat sendiri. Lagipula, dokternya juga sebentar lagi pasti datang."
Arya menggeleng. "Aku nggak akan pergi sebelum dokter datang."
Ia lalu duduk di sisi sofa, memandang perut Raya yang sedikit bergerak dari balik dress hamil yang dikenakannya. Matanya membulat heran.
"Itu... itu tadi... gerak lagi?" tanyanya dengan suara takjub.
Raya tertawa pelan. "Iya, itu bayi... dia aktif."
"Boleh aku... megang?" tanya Arya, suaranya tiba-tiba berubah lembut, hampir seperti anak kecil yang ingin menyentuh sesuatu yang baru ia temui.
Raya menatapnya sejenak, lalu mengangguk. "Boleh."
Arya perlahan menaruh telapak tangannya di atas perut Raya. Sesaat ia tak merasakan apa-apa. Tapi lalu... dug. Sebuah tendangan kecil terasa.
Arya membelalakkan matanya.
"Ya Tuhan... dia nendang aku?!" ucap Arya, terharu. "Aku ngerasain!"
Raya tertawa sambil menatap Arya yang kini benar-benar seperti ayah muda yang pertama kali menyentuh keajaiban dalam hidupnya.
Arya lalu menunduk, mendekatkan wajahnya ke arah perut Raya, lalu berkata pelan dengan suara penuh kasih, "Hai... ini Papa. Kamu hebat banget ya nendangnya."
Raya terdiam. Matanya mulai memanas. Ada sesuatu dalam nada bicara Arya yang membuat hatinya bergetar. Suara itu... tidak dibuat-buat. Bukan bagian dari akting. Bukan sandiwara. Tapi benar-benar dari hati.
"Papa janji akan jaga kamu dan Mama kamu sebaik-baiknya. Jangan terlalu nakal di dalam sana ya..." ucap Arya lagi sambil tertawa kecil.
Raya menggigit bibirnya, mencoba menahan air mata haru yang nyaris tumpah. Hatinya terasa penuh, dan untuk pertama kalinya, ia merasa tidak sendiri dalam perjalanan ini.
Dalam hati, Raya berbisik pelan, Ya Allah... apakah ini yang sebenarnya aku cari selama ini?
Raya menarik napas panjang, mencoba menenangkan detak jantungnya yang entah kenapa tiba-tiba berdebar tak menentu. Dia tahu jika dia terus larut dalam suasana ini, hatinya akan makin lemah. Maka dengan sedikit canggung, dia membuka suara.
"Udah... cukup, Arya. Nanti kalau dokter datang, kita digodain lagi. Aku malu," katanya dengan senyum tipis.
Arya mengangguk paham. "Oke, oke... aku duduk manis di sini, nggak godain kamu lagi."
Raya tertawa kecil, lalu menggeser posisi duduknya agar lebih nyaman. Beberapa detik mereka terdiam, sampai akhirnya Raya menoleh pelan ke arah Arya.
"Arya... boleh tanya sesuatu?" tanyanya pelan.
"Boleh," jawab Arya sambil menatapnya.
"Apa.. kamu udah nemuin seseorang?"
Arya mengernyit bingung. "Seseorang? Maksud kamu?"
Raya menatap ke depan, menghindari tatapan Arya. "Dalam perjanjian kita... kamu bilang kalau kamu sudah menemukan orang yang kamu cintai, maka perjanjian ini selesai, aku harus mundur. Jadi... aku cuma nanya. Kamu udah ketemu orang itu?"
Wajah Arya seketika berubah. Ada jeda cukup lama sebelum dia menjawab, seperti mencari kata-kata yang tepat.
"Belum," ucapnya akhirnya. "Belum saatnya aku mikirin itu. Setelah kamu berhasil dengan tujuanmu... baru aku pikirin diriku sendiri."
Jawaban itu membuat Raya menoleh dengan alis terangkat. "Kenapa kamu... mikirin aku dulu? Bukannya kamu bisa aja jalan dengan hidup kamu sendiri? Perjanjian ini 'kan nggak seberat itu buat kamu."
Arya menatapnya sejenak. Wajahnya tetap tenang, datar seperti biasa. Tapi matanya... tak bisa menyembunyikan kilatan emosi.
"Aku cuma nggak mau semuanya jadi sia-sia," ucapnya akhirnya. "Kalau aku udah jatuh cinta sama orang lain sekarang, dan kamu harus mundur... rencanamu nggak jalan. Kamu nggak bisa ngelawan keluarga Hartawan. Itu artinya dalam perjanjian kita, kamu nggak diuntungkan sementara perjanjian kita kan harus menguntungkan satu sama lain."
Raya mengangguk pelan. Ada logika dalam ucapan Arya yang memang tak terbantahkan. Tapi... entah kenapa hatinya terasa sedikit nyeri.
"Jadi... maksud kamu, kamu belum nyari siapa-siapa demi aku?" tanya Raya, suaranya lebih pelan kali ini.
Arya mengangkat bahu. "Ya, bisa dibilang begitu. Lagipula, siapa juga yang mau deketin aku kalau aku lagi pura-pura jadi pasangan orang?"
Dia tersenyum tipis, mencoba membuat suasana ringan kembali.
Raya hanya diam, menatap ke bawah. Dalam hati, ia sempat berpikir... mungkin saja Arya belum mencari karena diam-diam, Arya sudah mulai menyukainya. Tapi... rupanya itu hanya angan. Jawaban Arya barusan membuyarkan semuanya.
Bodoh banget aku, batin Raya, perhatian dia selama ini... semua cuma karena perjanjian itu.
Tak lama, suara bel rumah berbunyi. Mereka berdua saling menoleh. Tak butuh waktu lama, Bi Tati datang mengetuk pintu dan berkata, "Dokternya sudah datang, Tuan Arya, Non Raya."
Arya langsung berdiri dan menatap Raya. "Aku ke kamarku dulu, biar kamu tenang sama dokternya."
Raya hanya mengangguk. "Terima kasih ya... tadi udah bantuin."
Arya mengangguk pelan. Sebelum berjalan pergi, ia sempat menoleh sekali lagi. Menatap perut Raya... lalu mata perempuan itu. Seolah ingin mengatakan sesuatu, tapi ia menahannya.
Raya menatap kepergian Arya dalam diam. Wajahnya tenang, namun dalam hatinya... badai mulai bergejolak.
Dokter Santi terlihat fokus memeriksa perut Raya dengan alat ultrasonografi. Suasana ruangan itu sunyi, hanya terdengar suara mesin dan detak jantung kecil dari layar monitor. Raya berbaring tenang, meskipun dalam hatinya masih bergemuruh memikirkan percakapannya dengan Arya tadi.
Beberapa menit kemudian, Dokter Santi menarik alat pemeriksaannya, tersenyum kecil sambil menatap Raya.
"Semua baik-baik saja," ucapnya menenangkan. "Bayinya aktif, sehat... dan sepertinya senang kalau mamanya lagi ngobrol sama seseorang tadi."
Raya tersenyum kecil. "Aktif banget ya, Dok?"
"Sekali-sekali boleh dibilang nakal juga," sahut Dokter Santi sambil tertawa kecil.
Saat ia mencatat sesuatu di tabletnya, Dokter Santi menambahkan, "Oh ya, minggu depan coba datang lagi ya untuk cek lanjutan. Tapi... usahakan datang bersama Arya."
Raya langsung menoleh. "Haruskah dengan Mas Arya, Dok?"
Dokter Santi menatapnya sejenak lalu tersenyum. "Saya tahu hubungan kalian mungkin masih dalam proses... tapi percaya deh, kedekatan antara ayah dan bayi itu penting. Sentuhan, suara, dan perhatian dari ayah bisa memberi dampak positif pada tumbuh kembang emosional bayi. Jadi... kalau bisa, ajak Arya. Biarkan dia juga ikut merasakan perjalanan ini."
Raya terdiam. Kata-kata Dokter Santi menggema di benaknya. Ia tak mampu membantah. Hanya senyum dan anggukan pelan yang bisa ia berikan.
Tak lama, suara langkah tergesa-gesa terdengar dari luar kamar. Pintu terbuka dan tampak Bu Atika dan Pak Harun masuk dengan wajah panik.
"Raya! Kami dengar ada dokter datang, kamu baik-baik saja?" tanya Bu Atika, wajahnya terlihat khawatir.
Pak Harun juga mendekat. "Kamu nggak kenapa-napa, kan? Kami kaget pas tahu dokter Santi ke sini."
Raya segera bangkit pelan dan tersenyum meyakinkan. "Saya baik-baik saja, Bu, Pak. Tadi cuma terasa tendangan yang agak kuat, jadi Mas Arya manggil dokter untuk jaga-jaga."
Dokter Santi juga menenangkan mereka, "Semua baik. Tidak ada yang perlu dikhawatirkan. Bayinya sehat, dan ibunya juga."
Mendengar itu, Bu Atika menghela napas lega. "Syukurlah... kami kira terjadi sesuatu."
Pak Harun mengangguk. "Bagus kalau begitu. Arya memang cepat tanggap, ya?"
Raya hanya mengangguk pelan. Dalam hatinya, ia membenarkan. Arya memang selalu ada di saat aku butuh... tapi semua itu karena perjanjian, bukan karena cinta... kan?
Sebelum pamit, Dokter Santi menatap Raya sekali lagi dan berkata, "Jangan lupa ya, minggu depan datang ke rumah sakit. Jangan sendirian. Ajak Arya."
Raya kembali mengangguk. "Baik, Dok. Terima kasih."
Setelah Dokter Santi pamit, Pak Harun dan Bu Atika masih duduk menemani Raya sebentar.
Suasana menjadi lebih hangat, walau di dalam hati Raya masih ada pertanyaan yang belum juga terjawab.