"Ya Allah, ini ayah mertuaku... yang memberiku restu... yang kutitipi janji menjaganya."
Pedang di tangannya bergetar. Antara cinta pada Halimah dan cinta pada tanah air, ia harus memilih yang satu.
"Ayah... maafkan menantumu. Bukan karena aku tega, tapi karena tanah ini lebih besar dari cinta kita semua."
Pedang itu melesak. Bersamaan dengan ruh ayah mertuanya, ruh Maringgih pun ikut mati separuh.
---
Suara Nurani Halimah
Ia melihat dari kejauhan. Mulut terbuka, suara mati di tenggorokan.
"Suamiku... kau membunuh ayahku?"
Bukan marah yang pertama hadir. Tapi tanya yang lebih dalam:
"Berapa luka yang kau pendam, Maringgih, sampai kau sanggup melakukan ini?"
Air matanya jatuh untuk dua lelaki sekaligus. Untuk ayah yang rebah. Untuk suami yang kini harus hidup dengan bayangan mayat ayah mertuanya sendiri.
"Aku kehilangan ayah hari ini... tapi aku juga kehilanganmu, Maringgih."
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon ayaelsa, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
BAB 7: PENGAKUAN PECAH
Pengakuan pecah dari mulut petani—bukan karena bersalah, tapi karena takut mati.
Laki-laki itu bernama Salim.
Dua hari lalu ia masih mencangkul di sawah. Dua hari lalu ia masih mengecek padi yang mulai menguning. Dua hari lalu ia masih tertawa dengan istri yang tengah hamil tua.
Sekarang ia tergeletak di tanah. Wajahnya sudah tidak berbentuk. Darah mengering di pelipis. Bibir pecah di beberapa tempat. Napasnya naik turun lemah, seperti orang yang sedang tenggelam.
"Angkat!" bentak Samsul, kepala centeng.
Dua anak buahnya menyeret Salim hingga berdiri. Kepala terkulai ke depan. Darah menetes dari mulut, jatuh ke tanah kering.
"Bilang!" bentak Samsul. "Bilang kau yang bakar!"
Salim menggerakkan bibir. Suara keluar, tapi seperti bisikan orang mati.
"Saya... saya yang... bakar..."
Diam.
Puluhan warga yang dipaksa berkumpul di halaman tidak bergerak. Tidak bersuara. Hanya mata—mata yang melihat, mata yang merekam.
Di pinggir kerumunan, seorang perempuan duduk di tanah. Perutnya besar—hamil tua, mungkin tinggal hitungan hari. Tiga anak laki-laki duduk di sampingnya, yang tertua mungkin sepuluh tahun, yang bungsu baru lima.
Mereka tidak menangis. Hanya memeluk satu sama lain, menatap laki-laki di tengah halaman yang mereka panggil bapak.
---
Prosesi itu berlangsung selama dua jam.
Satu per satu, warga dipanggil ke meja darurat. Menandatangani kertas kosong. Tidak ada yang berani menolak.
Di pinggir halaman, Salim masih tergeletak. Istrinya masih duduk di tempat yang sama. Tidak bergerak. Tidak bicara. Hanya tangannya yang kadang mengusap perut besarnya, seperti ingin berkata pada anak dalam kandungan: Jangan lahir dulu, Nak. Dunia sedang tidak baik.
Anak sulungnya—sepuluh tahun—memegang tangan ibunya. Tidak bicara. Hanya menatap laki-laki di tengah halaman yang napasnya makin lemah.
---
Sore berganti senja.
Salim sadar kembali. Ia dibangunkan dengan siraman air.
"Bangun!" bentak Samsul. "Belum selesai!"
Salim merangkak. Matanya mencari. Melihat istrinya di kejauhan. Melihat anak-anaknya. Ia ingin tersenyum, tapi bibirnya tidak bisa.
"Bu," bisiknya. Hampir tidak terdengar.
Istrinya menggigit bibir. Menahan tangis.
Samsul menendang Salim. "Hadap sini!"
Salim jatuh. Merangkak lagi. Kini ia di depan Samsul.
"Bunuh saja," bisiknya. "Bunuh saja, Tuan. Saya sudah tidak kuat."
Samsul terkejut. Tapi segera tersenyum.
"Kau pikir aku tidak berani?"
Ia mengangkat senapan. Mengokangannya. Suara krek terdengar jelas di tengah hening.
Istri Salim memejamkan mata. Anak sulungnya memeluk adik-adiknya lebih erat. Yang bungsu bertanya lirih, "Kakak, Bapak kenapa?"
Tidak ada jawaban.
---
"BRUK!"
Bukan suara tembakan. Tapi suara lain.
Semua orang menoleh ke arah jalan.
Di ujung kampung, debu beterbangan. Dua kuda putih gemuk muncul, menarik kereta kencana hitam dengan ukiran sederhana. Di belakangnya, puluhan orang berjalan kaki—kuli panggul dengan tongkat di bahu, petani-petani dengan cangkul, berpuluh-puluh jumlahnya.
Mereka berhenti di tepi halaman. Dua puluh lebih. Mungkin tiga puluh. Semua diam. Semua menatap.
Pintu kereta terbuka.
---
Datuk Maringgih turun.
Destar sutra melingkar di kepala. Baju hitam rapi. Keris pusaka di pinggang. Tidak perlu bicara, semua orang tahu siapa dia.
Dari belakangnya, dua puluh anak buahnya bergerak maju. Kuli panggul dengan bahu kekar. Petani kebun dengan otot liat. Mereka tidak bersenjata—hanya tongkat kayu dan cangkul. Tapi jumlah mereka membuat centeng-centeng mundur selangkah.
Samsul menurunkan senapannya. Matanya membelalak.
"Da... Datuk Maringgih?"
Maringgih tidak menjawab. Ia melangkah maju.
Satu langkah. Dua langkah. Sepatu kulitnya menghentak tanah kering.
Samsul ingin menghadang. Tapi kakinya tidak bisa bergerak. Dari belakang Maringgih, dua puluh pasang mata menatapnya tajam. Dan di belakang mereka, masih ada lagi—warga kampung yang mulai berani mengangkat kepala.
Satu bentrok, pikir Samsul cepat. Satu bentrok saja, dan ini bisa jadi kerusuhan besar. Dan Datuk Maringgih... dia bukan orang sembarangan. Dia kawan pembesar di Batavia. Laporan bisa sampai ke Gubernur Jenderal.
Samsul mundur. Centeng-centengnya ikut mundur.
---
Maringgih terus berjalan. Melewati Samsul. Melewati meja dengan tumpukan kertas. Berhenti tepat di depan Salim.
Ia menunduk. Melihat laki-laki babak belur itu. Darah di mana-mana. Napas hampir putus.
Perlahan, tanpa bicara, Maringgih mengulurkan tangan.
Tangan yang putih. Bersih. Halus—tangan khas bangsawan yang tidak pernah bekerja kasar. Lima jarinya terbuka, meraih laras senapan yang masih terkokang di tangan Samsul.
Samsul tertegun. Tidak bisa bergerak.
Maringgih menarik senapan itu pelan. Samsul melepaskannya tanpa perlawanan.
Krek. Maringgih menurunkan kokang. Peluru keluar. Jatuh ke tanah. Bunyinya kecil, tapi terdengar seperti guntur di telinga semua orang.
Ia melemparkan senapan itu ke samping.
Lalu ia berjongkok. Di hadapan semua orang. Di hadapan Sulaiman yang masih terpaku di kursi. Di hadapan Samsul yang gemetar. Di hadapan dua puluh anak buahnya yang siap bertindak.
Tangannya yang putih dan bersih meraih tangan Salim yang berlumuran darah.
"Maaf," bisiknya. "Maaf aku lama."
Salim menatapnya. Tidak bisa bicara. Hanya air mata yang mengalir di pipi bengkaknya.
---
Maringgih berdiri. Menoleh ke arah istri Salim yang masih duduk di tanah dengan tiga anaknya.
"Ibu, kemarilah."
Perempuan itu tertegun. Anak sulungnya menarik tangannya. Mereka bangkit, berjalan mendekat. Anak-anak itu memeluk kaki ibunya, menatap Maringgih dengan mata takut dan harap.
Maringgih menatap mereka. Satu per satu.
Lalu ia merogoh saku. Mengeluarkan sekantung uang.
"Bawa suami ibu ke rumah sakit. Panggil tabib. Ini untuk obat."
Istri Salim menerima dengan tangan gemetar. Ia ingin berlutut, tapi Maringgih menahan.
"Jangan. Urus suamimu."
Perempuan itu menangis. Anak-anaknya ikut menangis. Yang bungsu—lima tahun—bertanya lirih, "Paman, Bapak saya selamat?"
Maringgih berjongkok lagi. Menatap mata bocah itu.
"Selamat. Paman jamin."
Bocah itu memeluknya. Pelukan kecil yang membuat Maringgih terdiam sejenak.
---
Ia berdiri. Menatap Samsul.
Satu tatapan. Tanpa bicara.
Samsul langsung berlutut. "Datuk... saya hanya menjalankan perintah..."
Maringgih mengalihkan pandangan ke Sulaiman.
Sulaiman masih duduk di kursi. Wajahnya pucat pasi. Tangannya gemetar di pangkuan.
Sembilan tahun lalu, lelaki ini menangis di berandanya. Sembilan tahun lalu, ia menyelamatkannya.
Sekarang mereka berhadapan. Maringgih di tengah halaman, dikelilingi dua puluh anak buahnya. Sulaiman di kursi, dikelilingi centeng-centeng yang tidak berani bergerak.
Maringgih tidak bicara. Tidak perlu.
Ia berbalik. Melambai pada anak buahnya.
Dua orang maju, mengangkat tubuh Salim dengan hati-hati. Yang lain membuka jalan.
Maringgih berjalan ke keretanya. Sebelum naik, ia berhenti. Tanpa menoleh, ia berkata:
"Sulaiman."
Sulaiman tersentak.
"Hari ini kau selamat karena aku masih ingat sembilan tahun lalu. Tapi jangan harap ada lain kali."
Ia naik ke kereta. Pintu tertutup.
Derum... derum... derum...
Kereta itu pergi. Anak buahnya mengikuti. Meninggalkan halaman yang sunyi.
---
Samsul masih berlutut. Centeng-centengnya diam tak bergerak.
Sulaiman masih duduk di kursi. Menatap tanah tempat Salim tadi tergeletak. Bekas darah masih ada. Di sampingnya, peluru yang jatuh dari senapan.
Ia mengambil peluru itu. Mengepalkannya erat.
Di kejauhan, istri Salim sudah pergi. Anak-anaknya sudah pergi. Yang tersisa hanya kertas-kertas pengakuan palsu berserakan, dan warga yang mulai pulang satu per satu dalam diam.
Malam turun.
Sulaiman sendirian. Di tangannya, peluru kecil terasa berat. Lebih berat dari seluruh gudang yang terbakar.
Ia tidak tahu apa yang baru saja terjadi. Tapi ia merasakannya—sesuatu telah hilang. Sesuatu yang tidak akan pernah kembali.
---
[Bersambung...]
---