NovelToon NovelToon
Reinkarnasi CEO Ke Dunia Murim

Reinkarnasi CEO Ke Dunia Murim

Status: sedang berlangsung
Genre:CEO / Balas dendam dan Kelahiran Kembali / Cintapertama
Popularitas:1.2k
Nilai: 5
Nama Author: Saundra Handara

Wei Chen, CEO perusahaan teknologi dan energi terkemuka di Asia Tenggara, mati di usia 40 tahun karena diracun oleh rekan bisnisnya sendiri, Hartono Lim — orang yang selama 15 tahun ia percayai.

Namun takdir berkata lain. Wei Chen terbangun di tubuh seorang pemuda di dunia asing: Shenzhou, dunia Murim yang dihuni para kultivator, pedang terbang, dan klan-klan besar yang menguasai segalanya.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Saundra Handara, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

POHON BERINGIN DAN RAHASIA KECIL

Dua bulan setelah Wei Chen menjadi mitra Toke Wijaya...

Hidup di Desa Qinghe berjalan seperti air sungai — tenang, tapi terus mengalir.

Wei Chen sudah hafal setiap sudut desa. Setiap wajah. Setiap kebiasaan.

Dia tahu kalau Mak Inah selalu belanja beras setiap Kamis pagi, dan selalu minta utang dulu. Kalau Pak Karta suka beli tembakau campuran — setengah dari toko, setengah dari tempat lain. Kalau anak-anak kecil suka nongkrong di depan toko, berharap dapat permen gratis.

Hal-hal kecil. Tapi di bumi, dia tidak pernah punya waktu untuk memperhatikan hal kecil.

Mungkin itu yang membuatnya betah.

 

Suatu sore, saat toko sedang sepi, seorang pria masuk.

Muda, sekitar 30 tahun. Pakaiannya rapi — jubah hitam dengan bordir sederhana, tapi dari bahan bagus. Matanya tajam, memindai toko seperti elang mencari mangsa.

"Selamat sore," sapanya. Suaranya dalam, berwibawa.

Toke Wijaya, yang sedang menghitung uang di belakang meja, langsung tegang. Wajahnya berubah.

"Tuan... Tuan Aris?"

Pria itu tersenyum tipis. "Lama tidak jumpa, Toke."

Wei Chen mengamati dari sudut toko. Namanya Aris — sama seperti putra Pak Harto. Tapi yang ini jelas bukan petani. Ada aura di sekelilingnya — aura kultivator.

"Apa yang bisa saya bantu?" Toke Wijaya berdiri, nada suaranya berubah hormat.

"Aku perlu bahan-bahan ini." Aris mengeluarkan selembar kertas. "Bisa?"

Toke Wijaya membaca. Matanya melebar.

"Ini... ini bahan langka, Tuan. Hanya ada di kota besar. Atau... di pasar gelap."

"Aku tahu. Kau bisa dapat?"

Toke Wijaya ragu. "Saya... saya bisa coba. Tapi butuh waktu. Dan modal besar."

"Modal urusan gampang." Aris meletakkan sekantong uang di meja. "Ini uang muka. Kau punya waktu sebulan."

Toke Wijaya menerima uang itu dengan tangan gemetar. "Baik, Tuan. Akan saya usahakan."

Aris mengangguk. Lalu matanya beralih ke Wei Chen.

"Orang baru?"

"Mitra saya, Tuan. Wei Chen."

Aris mengamati Wei Chen dengan rasa ingin tahu. "Wei Chen... nama asing."

"Dari timur, Tuan."

"Timur?" Aris tersenyum tipis. "Banyak tempat di timur." Dia tidak bertanya lebih lanjut. "Jaga toko ini baik-baik. Toke Wijaya mulai tua."

Dia pergi. Meninggalkan keheningan.

Setelah Aris jauh, Toke Wijaya menghela napas lega.

"Siapa dia?" tanya Wei Chen.

"Dia utusan dari klan." Toke Wijaya duduk, keringat di dahi. "Klan Naga Hitam."

 

Malam harinya, Wei Chen cerita pada Mei Ling.

"Klan Naga Hitam?" Mei Ling mengerutkan kening. "Aku pernah dengar. Mereka klan besar di utara. Kuat sekali."

"Kuat bagaimana?"

"Pemimpinnya level tinggi. Mungkin level 7. Anak buahnya ratusan." Mei Ling menggigit bibir. "Mereka juga kejam. Siapa pun yang melawan akan dihancurkan."

Wei Chen diam. Di bumi, dia pernah berurusan dengan perusahaan besar yang suka "menghancurkan" pesaing kecil. Tapi itu dalam bentuk hukum, aturan, tekanan pasar.

Di sini, "menghancurkan" mungkin artinya literal.

"Toke Wijaya takut," katanya.

"Wajar." Mei Ling meraih tangannya. "Kau juga harus hati-hati. Jangan sampai terlibat terlalu dalam."

Wei Chen mengangguk. Tapi di dalam hatinya, dia sudah terlibat.

 

Seminggu kemudian, Wei Chen pergi ke kota Rembang sendirian.

Toke Wijaya menyuruhnya mencari bahan-bahan untuk Aris — barang-barang langka yang tidak ada di desa.

Dia berkeliling pasar, bertanya pada pedagang-pedagang. Beberapa ada yang punya, tapi dengan harga selangit. Dia menawar. Mencatat. Membeli sedikit demi sedikit.

Di sebuah kios kecil di pinggir pasar, dia bertemu seseorang.

Seorang gadis sebaya Mei Ling — cantik, dengan pakaian bagus, dan sikap angkuh yang tidak bisa disembunyikan.

"Kau yang beli semua bahan itu?" tanyanya langsung.

Wei Chen mengamatinya. "Siapa kau?"

"Aku Lim Xiu." Dia tersenyum — senyum yang tidak ramah. "Keponakan Toke Wijaya."

Wei Chen terkejut. Toke Wijaya tidak pernah bilang punya keponakan.

"Jangan kaget." Lim Xiu duduk di bangku dekat kios. "Paman tidak suka bicara tentang keluarga." Matanya menatap Wei Chen. "Tapi aku tahu siapa kau. Wei Chen, mitra baru. Orang timur."

Wei Chen diam.

"Aku juga tahu kau tinggal di rumah Mei Ling." Senyumnya melebar. "Gadis desa yang cantik, tapi sebentar lagi mati."

Wei Chen merasakan sesuatu mendidih di dadanya. Tapi wajahnya tetap datar.

"Apa maumu?"

Lim Xiu tertawa kecil. "Langsung, ya? Baik." Dia berdiri, mendekat. "Aku mau kau tahu — di keluarga ini, aku yang akan mewarisi segalanya. Bukan pamanku. Bukan siapa pun." Matanya tajam. "Jadi kalau kau main-main, kau berurusan denganku."

Dia pergi. Meninggalkan Wei Chen dengan informasi baru.

Keluarga Toke Wijaya ternyata rumit.

 

Dua hari kemudian, Wei Chen kembali ke desa dengan barang-barang pesanan.

Toke Wijaya lega. "Bagus, bagus. Kau memang bisa diandalkan."

Wei Chen menyerahkan barang dan sisa uang. Lalu bertanya, "Toke punya keponakan?"

Toke Wijaya membeku. Wajahnya berubah.

"Kau bertemu Lim Xiu?"

"Di pasar."

Toke Wijaya menghela napas. Duduk berat.

"Dia... masalah keluarga." Suaranya pelan. "Kakakku meninggal tahun lalu. Dia titip anaknya padaku. Tapi Lim Xiu... keras kepala. Ambisius. Dia pikir aku akan mati dan dia mewarisi semuanya."

"Tidak?"

"Belum tahu." Toke Wijaya menatap Wei Chen. "Tapi kau harus hati-hati. Dia bisa berbahaya."

Wei Chen mengangguk. Tapi dalam hati, dia sudah mencatat nama itu.

Lim Xiu. Keponakan ambisius. Bisa jadi sekutu, bisa jadi musuh.

 

Malam harinya, saat kultivasi, Wei Chen bertanya pada Mei Ling.

"Kau kenal Lim Xiu?"

Mei Ling mengerutkan kening. "Lim Xiu? Keponakan Toke Wijaya?"

"Iya."

"Tidak terlalu. Dia jarang ke desa. Lebih sering di kota." Mei Ling berpikir. "Tapi orang-orang bilang dia... aneh."

"Aneh bagaimana?"

"Cantik, kaya, muda. Tapi matanya dingin. Seperti... seperti melihat orang sebagai benda."

Wei Chen mengangguk. "Aku bertemu dia."

Mei Ling tegang. "Dia ngapain?"

"Memperingatkanku."

"Tentang apa?"

"Tentang warisan. Tentang jangan main-main."

Mei Ling menggigit bibir. "Aku tidak suka ini. Kau harus hati-hati, Chen."

"Aku selalu hati-hati."

"Aku tahu." Mei Ling meraih tangannya. "Tapi kadang hati-hati tidak cukup."

Wei Chen menatapnya. Wajah Mei Ling di bawah cahaya bulan — khawatir, tapi juga tegar.

"Aku akan baik-baik saja," katanya.

Mei Ling tidak menjawab. Tapi tangannya tetap menggenggam.

 

Esok harinya, Wei Chen pergi ke sawah.

Bukan untuk bekerja, tapi untuk berpikir. Berjalan di pematang, menikmati angin.

Pikirannya penuh. Lim Xiu. Klan Naga Hitam. Kutukan Mei Ling. Uang. Masa depan.

Dia butuh rencana. Rencana besar.

Di bumi, dia selalu punya rencana. Tapi di sini, semuanya baru. Semuanya asing.

Tiba-tiba, seseorang memanggil.

"Wei Chen!"

Dia menoleh. Aris — putra Pak Harto — berjalan mendekat.

"Sendiri?" Aris tersenyum. "Biasanya kau selalu sama Mei Ling."

"Dia di rumah."

Aris mengangguk. Berdiri di samping Wei Chen, memandang sawah.

"Kau tahu, aku iri padamu."

Wei Chen mengerutkan kening. "Iri kenapa?"

"Kau bisa dekat dengan Mei Ling." Suara Aris pelan. "Aku dari kecil kenal dia, tapi tidak pernah bisa seperti itu."

Wei Chen diam.

"Jaga dia," kata Aris lagi. "Dia... tidak punya siapa-siapa."

"Aku tahu."

Aris menatapnya. "Kau serius?"

Wei Chen mengangguk.

Aris menghela napas. Lalu, tiba-tiba, "Kalau kau butuh bantuan, bilang padaku."

"Bantuan?"

"Untuk Mei Ling." Aris menatap sawah. "Aku tidak bisa dapat dia. Tapi aku bisa bantu orang yang bisa."

Wei Chen terkejut. Tidak menyangka.

"Terima kasih," katanya akhirnya.

Aris mengangguk. Lalu pergi. Meninggalkan Wei Chen dengan perasaan aneh.

Ada orang baik di dunia ini.

 

Malam harinya, Wei Chen memutuskan.

Duduk di beranda, dengan Mei Ling di sampingnya, dia berkata,

"Aku akan buat perusahaan."

Mei Ling menoleh. "Apa?"

"Perusahaan dagang. Seperti Toke Wijaya, tapi lebih besar." Wei Chen menatap bulan. "Aku akan jual barang-barang ke kota, ke klan-klan, ke mana saja. Aku akan kumpulkan uang."

"Uang untuk apa?"

"Untuk sembuhkan kau."

Mei Ling diam. Matanya berkaca-kaca.

"Chen... kau tidak harus—"

"Aku mau." Suaranya tegas. "Aku tidak bisa lihat kau mati."

Mei Ling memeluknya. Tiba-tiba. Erat.

"Aku takut," bisiknya.

"Takut apa?"

"Takut kalau kau gagal. Takut kalau kau kecewa. Takut kalau..." Suaranya pecah. "Takut kalau aku mati dan kau sendirian."

Wei Chen memeluknya balik.

"Kau tidak akan mati."

"Tapi—"

"Aku bilang, kau tidak akan mati."

Mei Ling tidak menjawab. Hanya menangis di dadanya.

Malam itu, di bawah pohon beringin, mereka berpelukan. Berjanji dalam diam.

Bahwa apa pun yang terjadi, mereka akan hadapi bersama.

 

Chapter 6 END.

 

1
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!