NovelToon NovelToon
PUTRI PEDANG DI AKADEMI SIHIR

PUTRI PEDANG DI AKADEMI SIHIR

Status: sedang berlangsung
Genre:Romansa Fantasi / Mengubah Takdir / Akademi Sihir
Popularitas:16.1k
Nilai: 5
Nama Author: Archiemorarty

Putri Duke dari Kerajaan Aurelius, Elara Ravens, dikenal sebagai pewaris pedang keluarga. Namun sejak kecil ia selalu kalah dari kembarannya, dan selalu dibandingkan dan dicemooh sebagai kegagalan.

Tanpa menyadari bahwa tubuh Elara menyimpan sihir besar yang pernah meledak saat ia berusia tiga tahun dan kemudian disegel.

Sampai sebuah undangan datang dari Kerajaan sihir, Elara memilih pergi ke akademi sihir dan ingin menaklukkan kekuatan dalam dirinya.

Di sana ia bertemu kembali dengan Aaron Oberyn, Rank 1 akademi dan teman masa kecilnya. Di tengah sistem ranking yang kejam dan tatapan meremehkan, Elara harus membuktikan bahwa ia bukanlah kegagalan atau aib keluarga.

Apakah Elara akan menjadi kesatria pedang atau memilih menjadi penyihir kelak?

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Archiemorarty, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

BAB 31. RAMAINYA RUMAH

Langit malam di kediaman keluarga Oberyn terlihat tenang dan luas. Bintang-bintang tersebar seperti serpihan kristal di atas hamparan hitam yang lembut. Angin musim semi berhembus pelan melewati taman luas di belakang rumah bangsawan itu, membawa aroma bunga malam yang tumbuh di sepanjang jalan setapak.

Namun suasana tenang itu tidak benar-benar terasa di dalam kediaman Duke Arram Oberyn.

Karena di dalam sana, suara tawa riang seorang anak kecil menggema tanpa henti.

"Tidak! Kakak jangan kejal-kejal Lala!"

Suara cadel itu meluncur dengan riang di sepanjang lorong utama.

Seorang gadis kecil berambut hitam panjang berlari secepat kaki mungilnya mampu melangkah. Rambutnya yang halus terurai di punggungnya seperti pita hitam yang berkilau di bawah cahaya lampu kristal.

Di tangan gadis kecil itu, ia menggenggam sebuah bola kristal yang memantulkan cahaya berwarna lembut.

"Lala! Kembalikan itu!" seru Aaron.

Aaron berjalan cepat di belakangnya, setengah berlari, setengah tertawa.

"Lala tidak mau!" Gadis kecil itu menoleh sambil tertawa geli, lalu berlari lebih cepat lagi.

"Bagaimana dia bisa lari secepat itu dengan kaki kecilnya?" gerutu Aaron.

Para pelayan yang melihat kejadian itu hanya menahan tawa mereka sambil menyingkir ke samping lorong.

Keributan kecil itu berlangsung tepat ketika pintu utama kediaman terbuka.

Duke Arram Oberyn baru saja kembali dari istana.

Pria tinggi dengan aura wibawa itu masih mengenakan mantel kebesaran bangsawan. Ia baru saja melepas sarung tangan ketika tiba-tiba ....

Seorang anak kecil berlari melewati kakinya.

Arram membeku.

"Aaa!" seru Elara kecil.

Gadis kecil itu hampir menabrak Arram sebelum akhirnya berbelok dengan gesit, masih memegang bola kristal dengan erat.

Di belakang sang gadis, Aaron muncul.

"Lala! Itu bukan mainan!" seru Aaron.

Arram berkedip.

Sekali.

Dua kali.

Arram mengucek matanya.

Lalu menatap kembali.

Gadis kecil itu berhenti sejenak di ujung lorong dan tertawa riang.

Arram menatapnya dengan tatapan tak percaya.

Beberapa detik berlalu.

Aaron akhirnya berhenti berlari dan menoleh ke arah pintu utama.

"Ah, Ayah."

Namun Arram masih tidak bergerak. Tatapannya tertuju pada gadis kecil itu.

Wajah kecil.

Rambut hitam panjang.

Mata bulat terang yang familiar.

Arram kembali mengucek matanya lagi dan berkata, "Tidak mungkin."

Tepat saat itu, Daria muncul dari ruang makan sambil membawa secangkir teh. Ia melihat suaminya berdiri terpaku di pintu.

Daria mengikuti arah pandangan Arram. Lalu ia melihat Aaron yang masih mengejar bocah kecil itu.

Dan Elara yang berlari sambil tertawa.

Daria tersenyum kecil. Ia berjalan mendekati suaminya.

"Tenang saja," kata Daria lembut.

Arram menoleh perlahan ke sang istri.

Daria menahan tawa kecil. "Kau tidak salah melihat, Sayang. Itu memang Elara."

Arram kembali menatap ke arah lorong. Arram terdiam beberapa detik lagi.

Lalu ia berkata pelan, "Kenapa dia menjadi kecil?"

Daria mengangkat bahu ringan. "Kesalahan rapalan mantra saat praktik sihir di kelas."

Arram berkedip. Lalu ia menghela napas panjang. Ia akhirnya mengerti. "Ah."

Beberapa detik kemudian, Arram justru tertawa pelan. Suara tawanya hangat dan rendah. Ia menatap gadis kecil yang masih berlari itu.

Dan entah kenapa ... ada rasa nostalgia yang tiba-tiba muncul di dadanya.

Seolah ia melihat masa lalu.

Seolah ia kembali ke tahun-tahun lama ketika Elara masih sekecil itu.

Bebas.

Riuh.

Penuh tawa.

Tanpa beban apa pun.

Arram berjalan mendekati mereka.

"Elara?" Suara berat Arram memanggil lembut.

Gadis kecil itu langsung berhenti berlari.

Ia menoleh. Matanya berbinar ketika mendengar namanya dipanggil.

"Ya?" sahut Elara.

Arram berlutut perlahan. Lalu merentangkan tangannya. Senyumnya hangat.

"Hai, Bocah Nakal," sapa Arram.

Mata Elara langsung membesar mengenali Arram.

"Paman!!"

Dengan tawa riang, gadis kecil itu berlari ke arah Arram.

Arram menangkapnya dengan pelukan hangat. Tubuh kecil itu terasa ringan di pelukannya.

Arram memejamkan mata sebentar.

Rasanya ia benar-benar merindukan sosok kecil ini.

Elara kecil yang ceria.

Elara kecil yang selalu tertawa.

Elara kecil yang tidak membawa beban dunia di pundaknya.

Arram membuka matanya lagi dan bertanya, "Apa yang sedang kau lakukan dengan Aaron?"

Elara mengerutkan dahinya. "Alon?" Ia melihat sekeliling. "Tidak ada Alon dicini, Paman."

Arram berkedip.

Aaron menghela napas kecil ketika berjalan mendekati mereka dan berkata, "Ingatan Elara sama dengan tubuhnya. Jadi dia hanya ingat aku masih seusianya. Aku bilang aku kakaknya Aaron."

Arram langsung tertawa keras.

"Oh, begitu rupanya." Arram mengelus kepala Elara lembut. "Kalau begitu, apa yang sedang kau lakukan? Kenapa lari-larian? Nanti kau akan sulit tidur karena kelelahan."

Elara mengangkat bola kristal itu dengan bangga. "Lala pinjam bola tantik milik kakak."

Ia menoleh ke arah Aaron. Telus kakak kejal-kejal Lala!"

Aaron langsung protes. "Kau mencurinya dariku."

Elara membelalak. "Lala tidak culi! Lala pinjam!"

Aaron menyilangkan tangan. "Kau mencurinya saat aku sedang menggunakannya."

Elara langsung menggembungkan pipinya. "Lala tidak culi bola tantik! Lala pinjam!"

Aaron menahan senyumnya.

Lalu Elara menatap Arram dengan wajah penuh keluhan dan mengadu, "Paman! Kakak jahat!"

Aaron menatap Elara. "Sekarang aku yang jadi penjahatnya?"

Arram tertawa kecil. Ia menatap Elara dengan lembut.

"Elara. Apa kau sudah minta izin dengan Kakak saat meminjamnya?" tanya Arram.

Elara terdiam. Lalu menggeleng.

"Belum," jawab sang gadis.

Arram tersenyum lembut. "Bagaimana kalau Kakak mengambil barang Elara tanpa izin?"

Elara langsung menjawab cepat. "Lala tidak cuka!" Ia mengerutkan wajahnya. "Lala malah."

Arram mengangguk. "Nah. Itu juga yang Kakak rasakan kalau Elara mengambil bola kristalnya tanpa izin."

Elara terdiam. Ia menatap bola kristal itu.

Lalu menatap Aaron.

Lalu kembali melihat bola itu.

Beberapa detik berlalu.

Gadis kecil itu akhirnya berjalan pelan ke arah Aaron. Ia mengangkat bola kristal itu dengan kedua tangan kecilnya.

"Maaf, Lala ambil bola tantik tanpa izin kakak. Lala kembalikan." Elara menatap Aaron dengan mata besar. "Kakak tidak malah, kan?"

Aaron tersenyum lembut. Ia berlutut di depan Elara. Tangannya mengelus kepala gadis kecil itu.

"Aku tidak marah. Dan aku memaafkanmu," ucap Aaron. Aaron mengambil bola kristal itu. Lalu ia menyerahkannya kembali ke Elara. "Sekarang kau boleh bermain dengannya. Tapi hati-hati. Jangan sampai pecah. Kalau pecah, kau bisa terluka oleh pecahannya."

Mata Elara langsung berbinar. "Telima kacih, Kakak!"

Aaron menatap wajah kecil itu.

Pipi bulat.

Mata berbinar.

Senyum cerah.

Aaron menahan napas dan bergumam pelan "Ah, Rasanya aku ingin menggigitnya."

Arram langsung menoleh. "Aku tahu maksudmu. Tapi jangan katakan seperti itu."

Aaron menoleh. "Kenapa?"

Arram mengangkat alis. "Kedengarannya mengerikan."

Aaron tertawa kecil.

Tak lama kemudian, Daria memanggil mereka, "Makan malam sudah siap."

Meja makan besar keluarga Oberyn malam itu terasa jauh lebih hidup dari biasanya.

Elara duduk di pangkuan Aaron. Kakinya yang kecil bergoyang-goyang di udara.

Aaron mengambil sendok kecil. Ia menyuapi Elara dengan sabar.

Namun begitu sendok itu masuk ke mulut gadis kecil itu ...

Ekspresi Elara langsung berubah.

Wajahnya mengerut.

Matanya menyipit.

Aaron menahan tawa. Ia pura-pura bertanya polos dan bertanya, "Kenapa tidak dimakan, Lala?"

Elara menatap sendok itu seperti musuh besar.

"Lala benci woltel," jawabnya. Ia menunjuk sayuran oranye itu dengan wajah serius. "Pahit. Tidak enak."

Aaron hampir tertawa keras. Ia menutup mulutnya dengan tangan.

"Lala, Wortel tidak pahit," kata Aaron.

"Bohong!" Elara menggeleng keras. "Lala tidak mau makan woltel! Lala mau makan daging caja!"

Arram yang duduk di seberang mereka menatap Aaron yang usil.

"Aaron. Jangan goda Elara hanya karena dia berubah kecil," tegur Arram.

Aaron akhirnya tertawa. "Baik, baik. Ternyata dia memang benci wortel sejak kecil."

Elara menunjuk wortel itu lagi. "Jauhkan woltel!"

Aaron menggeser piring itu. "Baiklah."

Aaron mengambil potongan daging kecil..Lalu menyuapi Elara lagi.

Elara langsung tersenyum puas.

Makan malam itu berlangsung riuh.

Tawa.

Obrolan.

Dan suara cadel Elara yang tidak berhenti berbicara.

Setelah makan malam, mereka pindah ke ruang tengah.

Api perapian menyala hangat.

Elara duduk di pangkuan Aaron dengan selimut kecil.

Aaron membuka sebuah buku tebal. "Sekarang kita membaca dongeng."

Elara menatapnya dengan mata berbinar. "Dongeng!"

Aaron mulai membaca.

Tentang ksatria.

Tentang naga.

Tentang putri kerajaan.

Namun setiap beberapa kalimat ...

"Kenapa naga bica telbang?"

"Kenapa kecatlia tidak tatut?"

"Kenapa putlinya tidul lama?"

Pertanyaan Elara tidak berhenti.

Aaron harus berhenti membaca berkali-kali.

Arram bahkan tertawa melihatnya. "Sekarang kau tahu bagaimana rasanya berbicara dengan Elara kecil."

Aaron menghela napas. "Ternyata dia lebih cerewet dari yang kuingat."

Namun perlahan ... suara Elara mulai melemah. Matanya mengantuk. Kepalanya bersandar di dada Aaron.

Beberapa menit kemudian gadis itu tertidur.

Aaron menutup buku perlahan.

Daria tersenyum. "Sepertinya dia kelelahan. Antarkan dia ke kamarnya."

Arram mengangguk. "Setelah semua yang terjadi hari ini, itu wajar. Beruntung sihirnya tidak meledak. Dan tubuhnya baik-baik saja."

"Aku juga cukup waspada karena itu tadi," kata Aaron.

Arram berdiri, bersiap untuk ke kamar juga bersama sang istri.

"Besok pagi, dia mungkin sudah kembali seperti semula," kata Arram.

Aaron tidak menjawab. Ia hanya memeluk Elara lebih erat.

Tubuh kecil itu hangat.

Napasnya pelan dan teratur.

Aaron menatap wajah tidur itu. Hari ini ia sangat bahagia.

Melihat Elara kecil lagi.

Melihat tawa bebas itu.

Melihat cahaya yang sama seperti dulu.

Namun di sisi lain ada rasa sedih kecil yang muncul di dadanya.

Karena ia tahu.

Besok pagi sosok kecil yang penuh tawa ini akan menghilang lagi.

Dan kembali menjadi Elara yang dewasa.

Aaron menunduk sedikit. Ia mencium lembut rambut hitam gadis kecil itu.

"Selamat tidur, Lala." Suara Aaron pelan.

Hangat.

Namun hatinya tahu satu hal.

Besok ia akan merindukan hari ini.

1
Miss Typo
main nyium aja tuh Aaron pinter bgt cari kesempatan 😁
Jelita S
Aron kesempatan dalam kesempitan lo🤣🤣🤣🤣
Jelita S
sama dong akan merindukan Lala kecil😍😍
𝐚𝐫𝐢𝐞𝐬 𝐠𝐢𝐫𝐥
𝐢𝐡 𝐜𝐢𝐮𝐦𝟐 𝐢𝐧𝐢 𝐩𝐢𝐩𝐢 𝐛𝐤𝐧 𝐛𝐚𝐤𝐩𝐚𝐨 𝐛𝐚𝐧𝐠 🤣🤣🤣

𝐦𝐚𝐥𝐚𝐡 𝐧𝐲𝐚𝐧𝐲𝐢 𝐥𝐚𝐠𝐮𝐧𝐲𝐚 𝐝𝐩 🤪🤪
Miss Typo
saat dah berubah dewasa lagi, Lala inget gak ya? pasti malu kalau inget semua 😁
Archiemorarty: bisa diliat di bab update jam 5 ini 🤣
total 1 replies
mimief
yah begitulah...ketika kita masih kecil semua akan terasa menyenangkan,ga ada beban dan hidup mengalir begitu aja.
menjadi dewasa,dengan beban dan kewajiban yg mengikuti.
bahkan kita sudah lupa kapan terakhir kita bisa tertawa lepas 🥹
Archiemorarty: Bener banget ini...😭
total 3 replies
Ir
kek nya penyihir hitam emang udah ngincer elara deh, karena pasti mereka punya ramalan masa depan bahwa akan ada anak perempuan yang membinasakan para penyihir hitam, nah makanya dia tau elara di Akademi Oberyn jadi mereka ngawasin terus monster itu cuma pancingan aja, mimpi elara pun cuma manipulasi biar elara gagal fokus mempelajari sihir nya
Archiemorarty: noooo
total 3 replies
𝐚𝐫𝐢𝐞𝐬 𝐠𝐢𝐫𝐥
lala 😘😘😘
Selinah Albaid
setiap novel yang d tulis oleh Thor ini membuat kan kita ternanti2 bab demi bab dengan hati yang berdebar 2 n semangat..pokoknya the best
Archiemorarty: Terima kasih udah baca ceritanya kak
total 1 replies
Anisa Muliana
thor,,aku baca sambil bayangin lucu bnget smpek ketawa" 🤣 gemes banget😬
Archiemorarty: Asli bocil paling hyper aktif perempuan tuh gemes banget 🤭
total 1 replies
𝐚𝐫𝐢𝐞𝐬 𝐠𝐢𝐫𝐥
𝐥𝐧𝐣𝐭 𝐭𝐡𝐨𝐫 😘😘😘
Archiemorarty: otw 🤭
total 1 replies
mimief
kirain... keluarganya miara naga buat mainan
panik donk😜🤣🤣
mimief: lah iya🤣🤣🤣...
penyihir si penyihir ya
tapi ga Ampe miara naga juga 😜🤣
total 2 replies
Miss Typo
Elara yg cadel menggemaskan sekali 😍
Miss Typo: Aamiin 🤲
terimakasih 🙏🥰
total 9 replies
tqotqo
bagus banget ceritanya kayak ngehipnotis baca teruss
Archiemorarty: Wahh... terima kasih udah baca ceritanya kak 🥰
total 1 replies
tqotqo
semangat Thor, aku juga kegemesan bacanya🤭
Archiemorarty: Gx kuat othor juga sama kegemasan Elara 😭
total 1 replies
Jelita S
jdi ingat mereka waktu kecil ( Rowan,epan,Lala dan Alon) 🤣🤣🤣🤣🤣🤣
Archiemorarty: Kan kan ... tengil banget mereka itu 🤣
total 1 replies
Jelita S
lucu banget Elara balik jdi bayik lagi🤣🤣🤣🤣🤣🤣🤣
Archiemorarty: Banget 😭
total 1 replies
Jelita S
uh terharu
mimief
imutnya si ok...
hyper nya 🤣🤣😜
ya anda coba aja rasakan😜
mimief: heran ya..
mestinya dimana mana kaleman perempuan yaaa😜
total 4 replies
𝐚𝐫𝐢𝐞𝐬 𝐠𝐢𝐫𝐥
𝐰𝐚𝐡 𝐚𝐩𝐚𝐤𝐚𝐡 𝐬𝐩𝐫𝐭𝐢 𝐛𝐚𝐫𝐛𝐢𝐞?? 😘😘😘
Archiemorarty: Cantikan Lala ya 😎
total 1 replies
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!