NovelToon NovelToon
The Blood Master’S

The Blood Master’S

Status: tamat
Genre:Penyelamat / Action / Spiritual / Tamat
Popularitas:2.7k
Nilai: 5
Nama Author: Fadhil Asyraf

Di sekolah ia di-bully karena tak punya kekuatan, namun di dunia bawah ia adalah dewa yang ditakuti monster. Arkan memberikan kesempatan kedua bagi lima anak yang sekarat untuk menjadi pasukannya, sementara ia sendiri bersembunyi di balik kacamata retak bangku sekolah.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Fadhil Asyraf, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

BAB 34: BAPTISAN DARAH DI LEMBAH MAUT

Pegunungan Kunlun, Perbatasan Barat – Sektor 7, Pukul 04.00 Dini Hari.

Kabut tebal yang mengandung partikel mana beracun menyelimuti lembah sempit yang menjadi salah satu titik rembesan Abyss yang paling aktif. Di sini, ribuan 'Void Crawler'—monster berbentuk serangga dengan cakar yang mampu menembus zirah baja—sedang membangun sarang raksasa. Biasanya, WHA akan mengirimkan setidaknya tiga tim Kelas S untuk membersihkan tempat ini, namun kali ini, langit di atas lembah itu terbelah oleh portal merah yang agung.

Seratus murid pertama Akademi Sanguine melompat turun dari portal tersebut. Mereka tidak lagi mengenakan seragam warna-warni dari negara asal mereka. Kini, mereka mengenakan zirah standar Sanguine berwarna hitam doff dengan lencana perak tetesan darah di bahu kiri. Di tangan mereka, senjata yang telah ditempa ulang dengan energi Sanguine oleh Julian berkilau haus darah.

"Ingat formasi kalian! Jika satu orang goyah, seluruh barisan akan hancur!" teriak Rian. Ia kini menjabat sebagai ketua regu pertama, posisi yang ia dapatkan bukan karena koneksi, melainkan karena ia bertahan paling lama dalam ruang gravitasi Bastian.

Liora melayang di atas mereka, dikelilingi oleh aura emas yang menjadi mercusuar di tengah kegelapan. Di sampingnya, Bastian berdiri di atas bongkahan batu yang melayang, tangannya bersedekap, matanya yang merah tajam mengawasi setiap gerakan para murid di bawahnya.

"Jangan manjakan mereka, Nona Liora," ucap Bastian pelan. "Jika mereka tidak mencium bau kematian hari ini, mereka tidak akan pernah siap menghadapi badai yang sesungguhnya."

Liora mengangguk, meski ada sedikit rasa cemas di matanya. "Aku hanya akan bertindak jika mereka benar-benar di ambang pemusnahan, Bastian. Arkan ingin mereka mandiri."

The Blood Fortress – Ruang Pengawas, Himalaya.

Arkan duduk di takhta tulangnya, menatap layar hologram raksasa yang menampilkan siaran langsung dari setiap kamera di helm para murid. Julian berdiri di sampingnya, mencatat data statistik efisiensi tempur mereka.

"Ayah, tingkat sinkronisasi darah mereka mencapai 12%," lapor Julian. "Itu sudah cukup untuk meningkatkan kekuatan fisik mereka tiga kali lipat dari Hunter manusia biasa. Rian menunjukkan kepemimpinan yang mengejutkan. Dia menggunakan strategi 'Pincer Sanguine' untuk menjebak Void Crawler."

Arkan menyesap teh darahnya, matanya terpaku pada layar. "Kekuatan tanpa disiplin hanyalah resep untuk kehancuran. Aku ingin melihat bagaimana mereka bereaksi saat pemimpin sarang keluar. Julian, lepaskan 'Sanguine Inhibitor' di area itu. Aku ingin mereka bertarung tanpa bantuan mana dari luar selama sepuluh menit."

"Melaksanakan, Sovereign," jawab Julian sambil menekan perintah di panel kontrolnya.

Lembah Kunlun – Medan Pertempuran.

Seketika, para murid merasakan energi di sekitar mereka menghilang. Mana yang biasanya mereka serap dari atmosfer tersumbat total. Senjata mereka meredup, dan perisai energi mereka hilang.

"Apa yang terjadi?! Mana-ku habis!" teriak salah satu murid dari Amerika.

"Jangan panik!" raung Rian, ia menebas kepala Void Crawler dengan pedang fisiknya. "Gunakan kekuatan fisik kalian! Sovereign sedang menguji kita! Ingat latihan di ruang gravitasi! Darah kalian adalah sumber energi kalian, bukan udara!"

Rian menerjang ke depan. Tanpa mana, ia mengandalkan kekuatan otot dan teknik pedang murni yang ia pelajari dari rekaman Hana. Ia bergerak dengan brutal, membelah monster demi monster. Melihat keberanian Rian, murid-murid lain mulai tersulut. Mereka membentuk lingkaran pertahanan, menggunakan perisai baja mereka untuk menahan terjangan ribuan serangga.

Tiba-tiba, bumi bergetar. Dari pusat sarang, muncul 'Abyss Queen Ant' setinggi lima belas meter. Monster tingkat S+ itu menyemburkan asam yang mampu melelehkan batu.

"Gawat! Tanpa mana, kita tidak bisa menahan asam itu!" teriak murid lain.

Bastian bersiap untuk melompat turun, namun Liora menahannya. "Tunggu, Bastian. Lihat Rian."

Rian berdiri di depan barisan. Ia mengingat perkataan Arkan saat hari pertama di Akademi: "Darahmu adalah kunci dari segala kemungkinan." Rian menggigit ibu jarinya hingga berdarah, lalu mengusapkannya ke bilah pedangnya.

"Sanguine Art: Blood Ignition!"

Rian memaksakan energinya keluar bukan melalui mana, tapi melalui pembakaran sel darahnya sendiri—teknik terlarang yang sangat menyakitkan. Pedangnya menyala merah membara. Ia melompat ke arah kepala Queen Ant, menghindari semburan asam dengan kelincahan yang mustahil bagi manusia tanpa mana.

SLASH!

Rian membelah kepala monster itu. Cairan hijau menyembur, namun Rian terus menyerang hingga jantung monster itu hancur. Ia jatuh ke tanah dengan nafas terengah-engah, tubuhnya gemetar karena kelelahan ekstrim, namun ia berhasil.

Melihat pemimpin mereka tumbang, sisa-sisa Void Crawler melarikan diri kembali ke dalam lubang. Murid-murid Akademi bersorak kemenangan. Mereka baru saja melewati baptisan darah pertama mereka.

Sore harinya di The Blood Fortress.

Para murid kembali melalui portal. Mereka penuh dengan luka, baju zirah mereka retak, namun mata mereka tidak lagi penuh ketakutan. Mereka kini memiliki kebanggaan sebagai ksatria Sovereign.

Arkan muncul di aula utama saat mereka sedang berbaris. Kehadirannya membuat seluruh ruangan menjadi sunyi senyap. Ia berjalan perlahan, melewati barisan murid yang kini berlutut dengan hormat yang tulus. Ia berhenti tepat di depan Rian yang kepalanya diperban.

Arkan menatap Rian cukup lama. "Kau menggunakan teknik pembakaran sel. Itu berisiko membuatmu mati dalam sepuluh detik jika kau salah menghitung sisa darahmu."

Rian menunduk dalam-dalam. "Saya lebih baik mati sebagai ksatria Anda, Sovereign, daripada hidup sebagai pengecut yang membiarkan teman-temannya tewas."

Arkan terdiam sejenak, lalu ia meletakkan tangannya di bahu Rian. Cahaya merah merambat masuk ke tubuh Rian, menyembuhkan seluruh lukanya dan memperkuat sumsum tulangnya secara instan.

"Kau lulus ujian hari ini, Rian. Kau bukan lagi sampah," ucap Arkan. "Julian, promosikan Rian menjadi Komandan Batalyon Pertama Akademi."

Seluruh murid bersorak, namun Rian justru menangis. Untuk pertama kalinya dalam hidupnya, ia merasa memiliki tujuan yang nyata.

Malam harinya di balkon pribadi benteng.

Liora berdiri di samping Arkan, menatap bintang. "Kamu benar-benar mengubahnya, Arkan. Aku hampir tidak mengenali Rian yang dulu."

"Manusia butuh pemimpin untuk dicintai, tapi mereka butuh penguasa untuk dihormati," jawab Arkan pelan. "Dengan adanya unit ksatria manusia ini, kita bisa mulai melakukan invasi ke dimensi pusat Abyss. Aku butuh mereka untuk menjaga garis belakang saat kita menyerang 'The Great One'."

Liora memegang tangan Arkan. "Apa kamu benar-benar akan menyerangnya bulan depan?"

Arkan menatap ke arah lubang hitam di cakrawala yang hanya bisa dilihat olehnya. "Dia sudah mengirimkan 'The Herald'. Pesan kematian telah sampai. Jika kita tidak menyerang sekarang, bumi akan menjadi perjamuan bagi jutaan Dewa Abyss yang lapar."

Arkan menoleh ke arah Julian yang baru saja muncul. "Julian, siapkan protokol 'World Eclipse'. Aku ingin seluruh dunia tahu bahwa bulan depan, langit akan menjadi merah selama tujuh hari. Itu adalah tanda bahwa Sang Sovereign sedang pergi berperang untuk mereka."

Di seluruh penjuru bumi, orang-orang melihat ke atas. Mereka melihat benteng merah yang melayang itu mulai bersinar dengan cahaya yang belum pernah ada sebelumnya. Harapan dan ketakutan menyatu dalam satu nama: Crimson Sovereign.

1
Nh4Fi
alur yg menarik
Aprilia
hilangkan aja kocak ingatan perempuan SMA yg itu
kirno
lanjutkan 🤭
kirno
lanjutkan
Xiao Ling Yi
Lah, perasaan Julian belum??
Xiao Ling Yi: owhhh
total 4 replies
Xiao Ling Yi
Eh... Julian?
Xiao Ling Yi
ga kebayang sakitnya gimana
Xiao Ling Yi
Wahh,, suka bet sama bahasanya👍👍👍
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!