Bagi Syren Fauzana, nasib sial itu bentuknya nyata: menabrak pria angkuh di lobi kantor, merusakkan jam tangannya yang "kelihatan butek", dan dengan berani menuduh pria itu penipu.
Syren pikir urusannya selesai setelah ia memaki pria itu. Namun, dunianya runtuh saat ia masuk ke ruang wawancara dan menemukan pria "penipu" yang sama duduk di kursi CEO dengan senyum menyeringai.
Satu jam tangan rusak, utang seratus juta, dan sebuah kontrak kerja paksa tanpa gaji. Syren terjebak. Ia tidak tahu bahwa menjadi sekretaris Julian Aldrin bukan sekadar soal melunasi utang, tapi awal dari drama panjang yang akan mengubah seluruh hidupnya.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Nur Sabrina Rasmah, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Di antar
Julian mematung di ambang pintu, matanya membulat sempurna sebelum akhirnya ia refleks membalikkan badan dengan cepat. "Saya... saya kira kamu sudah pakai baju! Kenapa pintunya tidak dikunci, Syren Fauzana?!" teriak Julian dengan nada yang tak kalah panik, berusaha menutupi rasa gugupnya sendiri.
Julian, yang sudah kehilangan kesabaran sekaligus merasa khawatir, akhirnya nekat masuk kembali. Dengan gerakan sigap dan mata yang sengaja dialihkan ke arah lain, ia meraih tubuh Syren yang sudah terbalut handuk putih tebal itu.
"Pak Bos ngapain?! Lepasin nggak! Lepasin!" teriak Syren panik. Wajahnya bersandar tepat di dada bidang Julian, membuatnya bisa mendengar detak jantung sang bos yang berdegup kencang—sama tidak beraturannya dengan jantung Syren sendiri.
"Diam, Syren. Kamu terlalu lama dan membuang-buang waktu saya," balas Julian dengan suara berat yang berusaha terdengar sedatar mungkin, meskipun telinganya kini sudah memerah.
Julian menggendong Syren ala bridal style keluar dari kamar mandi yang licin itu. Ia mendudukkan Syren dengan hati-hati di sofa panjang yang ada di ruang kerjanya. Suasana mendadak menjadi sangat canggung dan panas, meski pendingin ruangan sudah disetel maksimal.
"Pak Bos... mesum," gumam Syren pelan sambil merapatkan lilitan handuknya, matanya menatap lantai karena tidak berani melihat wajah Julian.
"Kalau saya mesum, saya tidak akan menutup mata tadi," sahut Julian ketus sembari berbalik badan dan mengambil sebuah kotak P3K dari laci mejanya. Ia kembali mendekat dan meletakkan kotak itu di depan Syren. "Obati memar kamu. Setelah itu cepat pakai baju ganti yang ada di atas meja. Saya tunggu di ruang kerja luar."
Julian langsung melangkah pergi tanpa menoleh lagi, meninggalkan Syren yang masih mematung dengan jantung yang mau copot.
Syren duduk di sofa dengan wajah yang masih terasa terbakar. Sambil mengenakan baju ganti yang disiapkan Julian, ia terus merutuki kecerobohannya. "Ih kok bisa sih! Aduh malu banget gue. Aset gue udah dilihata anjir... untung aja dia ganteng," gumamnya pelan sambil mengancingkan baju dengan tangan gemetar.
Setelah merasa cukup rapi, Syren melangkah keluar dengan ragu. "Sudah, Pak," ucapnya singkat tanpa berani menatap mata Julian.
Julian hanya berdehem pelan dan segera masuk kembali ke ruangannya untuk mengambil beberapa dokumen. Namun, di dalam sana, konsentrasi Julian benar-benar hancur. Bayangan kejadian di kamar mandi tadi terus berputar di kepalanya bagaikan kaset rusak. Pemandangan tubuh Syren tanpa sehelai benang pun dan bentuk indah dadanya benar-benar membuat Julian gagal fokus. Ia berkali-kali melonggarkan kerah kemejanya yang mendadak terasa mencekik.
Malam pun semakin larut. Suara detak jam dinding di kantor yang sunyi itu menjadi satu-satunya pengisi keheningan. Syren yang kelelahan setelah drama seharian penuh akhirnya tidak sanggup lagi menahan kantuk. Kepalanya perlahan terkulai, dan ia pun jatuh tertidur pulas di atas sofa empuk milik Julian.
Julian menghentikan ketikannya. Ia melepas kacamata bacanya dan menoleh ke arah sofa. Melihat Syren yang tidur dengan napas teratur, wajah garang Julian perlahan melunak. Ia bangkit berdiri, mengambil jasnya yang tersampir di kursi, lalu berjalan mendekat.
"Dasar monyet rusuh... dalam keadaan tidur pun kamu masih menyusahkan pikiran saya," bisik Julian pelan sambil menyelimuti tubuh Syren dengan jas mahalnya.
Ia terdiam sejenak, memandangi wajah Syren dari dekat, hingga tanpa sadar tangannya terulur merapikan anak rambut yang menutupi dahi gadis itu.
Julian menatap layar ponsel Syren yang bergetar hebat. Nama kontak "Adik Babi " membuatnya sedikit mengernyitkan dahi. Tanpa pikir panjang, ia pun mengangkat panggilan itu.
"Halo Mbak! Lama bener, gue di rumah sendiri nih! Papa sama Mama lagi ke luar kota," cerocos suara di seberang sana tanpa jeda.
"Kakak kamu tidur, Ardi. Saya Julian," jawab Julian dengan suara baritonnya yang tenang.
Hening sejenak di seberang telepon. "Eh... maaf Om! Om, kakak saya tidur ya? Dia nggak mau kerja ya Om? Duh, jitak aja Om nanti pasti bangun!" balas Ardi yang langsung berubah mode sopan tapi tetap saja jahil.
Julian melirik Syren yang masih terlelap pulas berselimut jasnya. "Biarkan dia istirahat. Dia kelelahan."
"Berikan alamat rumahmu. Biar saya mengantarnya nanti setelah pekerjaan saya selesai," perintah Julian tegas, tidak menerima bantahan.
"Oh, siap Om! Nanti saya share location ke nomor Mbak Syren ya. Makasih ya Om, titip kakak saya yang agak gesrek itu!"
Julian menutup telepon, lalu kembali menatap Syren. Ia mendesah pelan, menyadari bahwa malam ini ia tidak akan bisa fokus bekerja jika gadis di depannya ini terus berada dalam jangkauan pandangannya—terutama setelah kejadian di kamar mandi tadi.
"Kalau saya ini bukan pria baik-baik, pasti kamu sudah habis, Syren," gumam Julian pelan sambil menatap wajah sekretarisnya yang terlelap. Ia segera memalingkan wajah dan memaksakan diri menyelesaikan tumpukan dokumen di mejanya dengan cepat.
Setelah semua pekerjaan tuntas, Julian membereskan mejanya yang berantakan. Ia kemudian menghampiri sofa dan dengan gerakan lembut menggendong tubuh Syren yang masih terbungkus jas mahalnya. Julian membawanya keluar dari ruangan yang sunyi itu menuju lift, lalu melangkah ke arah mobilnya yang terparkir di basement.
"Iya... dia emang bos mesum nyebelin..." gerutu Syren tiba-tiba dalam tidurnya, lengkap dengan igauan khasnya yang somplak.
Langkah Julian sempat terhenti sejenak mendengar ejekan itu. Ia menatap wajah Syren yang terlihat polos saat tidur namun tetap saja bermulut pedas. Setibanya di samping mobil, Julian membuka pintu belakang dan merebahkan tubuh Syren di kursi belakang dengan sangat hati-hati agar gadis itu tidak terbangun.
"Mesum ya?" Julian berbisik tepat di depan wajah Syren yang masih memejamkan mata. "Kalau saya mesum, kamu sudah saya makan sekarang, Syren."
Julian menyeringai tipis, lalu menutup pintu mobil dan segera duduk di kursi kemudi untuk mengantarkan "monyet rusuh"-nya pulang berdasarkan alamat yang dikirimkan Ardi.
Julian pun sampai di depan gerbang rumah Syren yang sederhana namun asri. Ardi yang sedari tadi sudah menunggu kakaknya di teras langsung berlari menghampiri mobil mewah yang berhenti itu.
"Malam, Om," sapa Ardi dengan sopan, sedikit merasa segan melihat kewibawaan Julian.
"Malam. Ini tolong bawakan tas kakakmu," balas Julian seraya memberikan tas Syren kepada Ardi melalui kaca jendela.
"Om, biar saya aja yang gendong. Maaf ya Om, kakak gue ngerepotin," tawar Ardi merasa tidak enak hati melihat bos besar itu harus turun tangan.
"Nggak usah, dia berat. Biar saya aja," tolak Julian tegas. Meskipun dia mengatai Syren berat, Julian justru mengangkat tubuh Syren dengan sangat lembut dari kursi belakang.
Syren, yang masih dalam alam bawah sadarnya, dengan enteng mengalungkan tangannya di leher Julian. Gadis itu seolah mencari kenyamanan, menelusupkan wajahnya di dada bidang Julian yang hangat dan harum parfum mahal. Julian sempat tertegun sejenak merasakan hembusan napas Syren di lehernya, namun ia tetap melangkah masuk ke dalam rumah.
Ardi segera memandu dan membukakan pintu kamar Syren. Kamar itu didominasi warna biru, sangat kontras dengan kepribadian Syren yang meledak-ledak. Di setiap sudut, banyak sekali boneka yang tertata rapi.
Julian merebahkan tubuh Syren di ranjang empuknya, lalu menyelimuti gadis itu dengan hati-hati. Saat hendak beranjak, matanya tertuju pada sebuah boneka besar yang memiliki bordiran nama di pita lehernya: Gio.
"Siapa Gio?" tanya Julian tiba-tiba, suaranya terdengar sedikit lebih dingin.
Ardi melirik boneka yang dimaksud. "Ohh, itu mantan Kakak, Om. Boneka-boneka itu banyak yang dari dia. Kakak emang susah buang barang pemberian orang."
Julian menyipitkan mata, ada rasa tidak nyaman yang merayap di dadanya mendengar kata 'mantan'. "Terus kenapa bisa putus?"
"Ohh, itu panjang ceritanya Om," jawab Ardi sambil menggaruk kepalanya yang tidak gatal. Menyadari suasana menjadi agak kaku, Ardi mencoba menawarkan keramahan. "Eh, Om mau ngopi dulu? Biar saya buatin."
"Terima kasih Ardi, tidak usah," tolak Julian halus namun tetap berwibawa. Ia melirik Syren sekali lagi sebelum melangkah keluar kamar. "Jangan lupa besok bilang kakakmu, pagi-pagi sekali saya jemput. Motornya masih di kantor soalnya."
"Iya, siap Om! Dadah Om, makasih ya!" seru Ardi sambil melambaikan tangan hingga mobil mewah itu hilang dari pandangan gerbang rumahnya.
Akhirnya, Julian pun memacu mobilnya untuk pulang. Namun, sepanjang perjalanan, pikirannya sama sekali tidak bisa tenang. Keheningan malam justru membuat ingatannya kembali pada kejadian-kejadian hari ini, terutama saat di kamar mandi tadi. Bayangan tubuh indah Syren seolah terpatri di ingatannya.
"Astaga!" Julian menyugar rambutnya dengan kasar, berusaha mengusir bayangan yang membuatnya tidak fokus menyetir. "Kenapa gadis itu masih terus terbayang-bayang?"
Julian mempercepat laju mobilnya, berusaha membunuh waktu agar segera sampai. Tak lama, ia tiba di rumah besarnya yang mewah. Begitu masuk ke ruang tengah, ia melihat Wiona, ibunya, masih terjaga sambil duduk di sofa.
"Tumben, Ma, belum tidur jam segini?" tanya Julian sambil melepas jam tangannya—jam tangan cadangan yang tentu saja tidak "butek" seperti yang dirusak Syren.
"Julian, apa benar kamu berjalan dengan wanita lain? Mama dengar dari Indri tadi sore," tanya Wiona langsung pada intinya, menatap putranya dengan penuh selidik.
Julian menghela napas, sudah menduga Indri akan mengadu. "Kenapa, Ma? Aku memang cuma menemani karyawanku ke sekolah adiknya."
Wiona tersenyum penuh arti, sebuah senyuman yang membuat Julian merasa tidak nyaman. "Dia berhasil mengambil hatimu, ya?"
"Ma, udahlah. Aku mau tidur, lelah," potong Julian cepat, menghindari interogasi lebih lanjut yang bisa membuatnya makin bingung dengan perasaannya sendiri.
"Ya sudah, tidurlah," ucap Wiona sambil memperha
tikan punggung putranya yang menaiki tangga.
denger kelrg mu bangkrut,, lgsg g drestui