NovelToon NovelToon
Gaze Of The Heart

Gaze Of The Heart

Status: tamat
Genre:Cintapertama / Mengubah Takdir / Tamat
Popularitas:11.3k
Nilai: 5
Nama Author: Daeena

"PERINGATAN : Cerita ini hanya fiktif belaka. Jika ada kesamaan nama tokoh, tempat, atau alur, Adalah Hasil Imajinasi Penulis, Murni Kebetulan Semata. Interpretasi agama dalam cerita ini merupakan bagian dari pengembangan karakter dan tidak dimaksudkan untuk mengubah ajaran atau akidah yang ada." Terimakasih 🙏

Ameera Nafeeza memiliki segalanya yang di ditawarkan dunia. Namun di balik pakaian rancangan desainer dan pesta kaum sosialita, jiwanya terasa hampa.
Hidupnya berubah drastis saat ia menyelamatkan Syifa Azzahra, seorang wanita Muslimah yang taat, dari seorang pencopet jalanan.
Bukannya dompet, Ameera justru memegang sebuah Al-Qur'an bersampul beludru, sebuah pemberian dari Syifa yang menjadi awal dari kebangkitan spiritualnya. Demi mencari ketenangan yang belum pernah ia rasakan, Ameera meninggalkan kehidupan kelas atasnya untuk tinggal di sebuah pesantren yang tenang.
Di sana, ia bertemu dengan Liam Al-Gazhi.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Daeena, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

#27

Lampu neon di kamar asrama putra nomor 302 sudah dipadamkan sejak satu jam lalu. Hanya tersisa cahaya remang dari lampu belajar di sudut ruangan.

Di dalam kamar sempit itu, empat mahasiswa Teknik terlelap dalam mimpi masing-masing setelah dihajar tugas gambar mesin yang tak kunjung usai.

Tiba-tiba, getaran kuat dari atas nakas kayu mengejutkan keheningan. Bzzz... bzzz...

Aydan, yang sebenarnya belum sepenuhnya terlelap, mengernyitkan dahi.

Di ranjang sebelah, salah satu temannya mengerang sambil menarik selimut menutupi telinga. "Dan... angkat telponnya, berisik banget. Siapa sih malem-malem begini?" gumamnya dengan suara serak khas orang mengantuk.

Aydan mengulurkan tangan, menyambar ponselnya tanpa sempat melihat layar. Ia menempelkan benda itu ke telinganya sambil berusaha duduk di kegelapan.

"Halo?" suara Aydan rendah, terdengar bariton dan sangat tenang.

"Ay..."

Hanya satu suku kata, namun efeknya seperti sengatan listrik yang menjalar ke seluruh saraf Aydan. Suara itu parau, sedikit bergetar, dan terdengar sangat rapuh. Jantung Aydan berdegup kencang secara instan. Di dunia ini, hanya ada satu orang yang memanggilnya dengan sebutan itu.

"Ay... Aydan... aku rindu," bisik suara di seberang sana.

Aydan mematung. Matanya menatap dinding kamar yang gelap, namun pikirannya melayang menembus jarak kilometer menuju asrama putri. Rindu? Benarkah Dayana baru saja mengatakan rindu padanya? Enam bulan mereka saling menjaga jarak, saling menahan diri untuk tidak mengirim pesan, dan tiba-tiba malam ini Dayana meruntuhkan tembok itu.

"Dayana?" Aydan berbisik, suaranya kini penuh dengan nada perlindungan. "Kamu sakit, Ay?"

Panggilan itu keluar begitu saja. Ay. Aydan mengambilnya dari potongan nama Dayana. Sejak Dayana mulai berhijrah, Aydan diam-diam menyimpan nama itu sebagai panggilan khusus di dalam hatinya.

"Iya, aku sakit, Ay... tapi sudah minum obat tadi," sahut Dayana di seberang sana. Terdengar suara hidung yang tersumbat, menandakan ia sedang flu berat.

"Mungkin karena puasa Senin kemarin, terus kehujanan pas balik dari lab. Jadinya begini... kepalaku berat banget."

Mendengar itu, sisi lembut Aydan yang ia warisi dari ayahnya, Liam, mendadak mendominasi. Kedinginan yang selama ini ia tunjukkan di kampus menguap entah ke mana.

"Kenapa tidak bilang dari tadi?" suara Aydan melembut, begitu romantis hingga Dayana di seberang sana memejamkan mata, membiarkan suara itu menjadi obat penenang yang lebih manjur dari parasetamol mana pun.

"Sudah hampir dua minggu kita tidak bertemu di Bus Kuning, ternyata kamu malah tumbang."

"Makanya aku... rindu," suara Dayana mengecil, seolah malu dengan kejujurannya sendiri. "Rindu... rindu pada Bunda Ameera. Biasanya kalau aku sakit di rumah, Mama selalu ada. Tapi di sini aku sendiri, dan aku tiba-tiba kangen suasana rumahmu."

Aydan tersenyum tipis di kegelapan. Ia tahu Dayana menggunakan nama Bundanya sebagai tameng, padahal ia tahu persis siapa yang sebenarnya dirindukan gadis itu.

"Ya sudah, dengarkan aku," ucap Aydan dengan nada yang sangat perhatian, membuat Dayana merasa seolah Aydan sedang duduk di samping ranjangnya. "Jangan dulu puasa Kamis nanti. Tubuhmu butuh asupan. Jangan sampai sakit lagi, Ay. Kalau kamu tidak sehat, siapa yang akan berdebat denganku lagi di perpustakaan nanti?"

Dayana tertawa kecil, meski berakhir dengan batuk pelan. "Hmm... makasih, Ay. Suaramu... bikin kepalaku sedikit mendingan."

"Istirahatlah. Taruh ponselmu, pakai selimut yang tebal. Aku akan... aku akan mintakan Bunda kirimkan sesuatu untukmu besok pagi lewat online," janji Aydan.

"Makasih ya, Ay. Aku benar-benar merindukan... Bunda," Dayana menekankan kata Bunda, namun nadanya yang manja tidak bisa menipu Aydan.

"Iya, nanti sampaikan sendiri pada Bunda lewat telepon kalau sudah bangun," balas Aydan lembut. "Sekarang tidur. Assalamualaikum, Ay."

"Wa'alaikumsalam, Ay..."

Telepon tertutup. Aydan tetap memegang ponselnya di depan dada, menatap langit-langit asrama dengan perasaan yang membuncah.

Dua minggu tidak bertemu ternyata bukan hanya menyiksa Dayana, tapi juga menyiksanya. Namun, ia merasa bangga, Dayana tetap memegang prinsip untuk tidak menemuinya secara sembarangan, meski rindu itu sudah di ujung tandas.

Di asrama putri, Dayana menarik selimutnya hingga ke dagu. Suara Aydan tadi seolah menjadi bantal yang paling empuk. Ia merasa sangat dicintai dalam diam, dijaga dalam jarak, dan dihormati dalam ketaatan. Ia pun tertidur dengan senyum yang masih tersisa, menanti pagi di mana ia tahu akan ada perhatian-perhatian kecil lainnya yang datang dari pria dingin yang ternyata punya hati sehangat matahari itu.

🌷🌷🌷🌷

Happy reading dear 🥰

1
💗 AR Althafunisa 💗
Alhamdulillah...🥰🥰🥰
💗 AR Althafunisa 💗
😂😂😂😂😩
💗 AR Althafunisa 💗
Nyesel kan kamu Ay 😩😭
💗 AR Althafunisa 💗
Sudah kuduga pasti salah paham 😌
💗 AR Althafunisa 💗
ninggalin jas lab, perasaan dipake ya 😅
ros 🍂: Mohon Maaf Lupa author lupa🤭😭
total 1 replies
💗 AR Althafunisa 💗
Alhamdulillah... 🥰🥰🥰
💗 AR Althafunisa 💗
Aamiin Allahumma Aamiin...
💗 AR Althafunisa 💗
Alhamdulillah... 😍
💗 AR Althafunisa 💗
dan sejarah pun terulang 😁
💗 AR Althafunisa 💗
🥺🥺🥺🥺
💗 AR Althafunisa 💗
Ceritanya bagus 👍😍
ros 🍂: Ma'aciww kak😍
total 1 replies
💗 AR Althafunisa 💗
Ini cerita nya bagus koq pembacanya ga ada ya 🥺
Titik Sofiah
lanjut Thor 😍
💗 AR Althafunisa 💗
Alhamdulillah...
💗 AR Althafunisa 💗
Aku baca novel ini seperti kembali pulang 🥺🥺🥺
ros 🍂: Terharu aku kak 😭😍
total 1 replies
Sweet Girl
Naaah kesempatan... kamu bisa belajar sama Liam...
Selvia Sihite
aku suka alurnya, keren, tidak betele tele, semangat 💪
Titik Sofiah
awal yg menarik ya Thor
falea sezi
lanjut
falea sezi
baru nyimak moga bagus ampe ending dan g ribet atau bertele tele
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!