Lahir pada malam 1 Suro setelah dikandung dua belas bulan, seorang bayi menjadi incaran para pendekar aliran hitam dan putih. Di tengah pertumpahan darah, ia menghilang dari dunia manusia.
Diasuh oleh makhluk mitos di rimba purba, ia tumbuh dengan ilmu yang tak dikenal perguruan mana pun. Ia belajar dari angin, dari api, dan dari naluri alam.
Saat dewasa, Braja Geni kembali ke dunia persilatan.
Kehadirannya menggemparkan jagat kanuragan. Jurusnya tak berpihak pada putih maupun hitam—ia adalah kekuatan baru yang mengancam keseimbangan.
Namun di balik kesaktiannya, tersembunyi rahasia kelahiran dan takdir besar yang akan menentukan arah dunia persilatan.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Bang Jigur, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 17
Sang ibu yang melihat Jatisangkar pergi begitu saja akhirnya menyusul ke kamarnya. Ia mengetuk pelan, lalu masuk tanpa menunggu jawaban. Jatisangkar duduk di tepi ranjang, wajahnya masih kusut.
“Jati… kau tak boleh bersikap begitu kepada ayahmu. Bagaimanapun juga, ia ayahmu. Kau harus tetap hormat kepadanya,” ujar sang ibu lembut.
Jatisangkar menghela napas panjang.
“Tapi Ayah memutuskan tanpa meminta persetujuan anak-anaknya dulu. Laras mungkin setuju… tapi aku juga anaknya, Bu.”
“Ibu mengerti, Nak,” balas sang ibu sambil duduk di sampingnya. “Tapi ayahmu berbuat seperti itu bukan tanpa alasan. Ia ingin menolong Braja agar tak tumbuh liar. Justru kau harus bangga memiliki ayah seperti itu. Anak yang masih memiliki hawa siluman saja tetap diberi kesempatan untuk menjadi manusia seutuhnya.”
“Tapi bagaimana kalau Braja berbuat macam-macam pada kita, Bu? Bagaimana kalau suatu hari ia kehilangan kendali dan menghabisi kita semua?” suara Jatisangkar meninggi. “Ibu belum pernah melihat wajah aslinya saat ia menghabisi buaya di sungai itu. Matanya… bukan mata manusia.”
Sang ibu terdiam sejenak. Ia tahu ketakutan itu nyata.
“Namun bukankah ia juga yang menolongmu?” ucapnya pelan. “Kalau saja tak ada Braja, mungkin kau sudah tamat di sungai itu. Kau berutang nyawa padanya, Jati.”
Jatisangkar tak menjawab. Ia tahu itu benar. Ia memang berhutang budi. Tapi bayangan wajah Braja saat itu—urat-urat menegang, tatapan liar, aura kelam yang menyelimuti tubuhnya—masih menghantui pikirannya.
Bagaimana jika suatu hari wujud itu muncul lagi?
Bagaimana jika kali ini bukan buaya yang dihadapi… melainkan keluarganya sendiri?
Sang ibu menepuk bahunya pelan.
“Sudahlah. Mulailah belajar membuka hatimu. Kau sudah beranjak dewasa. Dunia ini keras, penuh perseteruan. Yang kuat akan menguasai yang lemah. Karena itu ayahmu melatihmu bela diri. Bukan hanya untuk bertarung, tapi untuk menguasai dirimu sendiri.”
Ia menatap putranya dalam-dalam.
“Jangan jadi laki-laki yang diselimuti ketakutan. Hadapi ketakutanmu. Kalau kau takut pada Braja, maka jadilah lebih kuat darinya. Bukan dengan membencinya… tapi dengan mengalahkan rasa takutmu sendiri. Kau paham?”
Jatisangkar menunduk.
“Iya, Bu…” jawabnya pelan.
Namun di dalam hatinya, badai belum juga reda.
Ia tak tahu apakah ia harus percaya pada penilaian ayahnya… atau pada naluri ketakutan yang terus berbisik dalam benaknya.
Dan untuk pertama kalinya, ia menyadari satu hal yang membuat dadanya sesak—
Bukan hanya takut pada Braja…
ia juga takut kehilangan perhatian ayahnya.
Malam semakin larut.
Angin berdesir pelan di sela dinding bambu. Lampu minyak hampir padam, menyisakan cahaya redup yang bergoyang lemah.
Namun Braja tak kunjung datang.
Laras duduk di ambang pintu sejak tadi, menatap jalan setapak menuju hutan. Matanya mulai berkaca-kaca. Setiap suara ranting patah membuatnya berharap… lalu kembali kecewa.
Sementara itu, Jatisangkar justru terlihat lega. Bahkan ada senyum tipis yang sulit ia sembunyikan.
Ki Baraya dan istrinya hanya bisa saling pandang, lalu mendesah panjang.
“Ini sudah larut malam, Kang. Tidurlah. Mungkin memang Braja tak diizinkan oleh ratunya,” ucap Nyi Lestari lembut.
Ki Baraya menatap ke arah hutan yang gelap gulita.
“Hm… sayang sekali. Kalau benar begitu, anak itu akan sulit dibimbing. Tanpa arahan, hawa silumannya bisa tumbuh liar. Suatu hari ia bisa menjadi bahaya… bukan hanya bagi desa, tapi bagi dirinya sendiri.”
“Benar, Ayah,” timpal Jatisangkar cepat. “Bukankah sudah kukatakan? Bocah itu bisa membawa bencana. Untung saja ratunya tak mengizinkan. Syukurlah kalau begitu.”
Ia melirik Laras dengan senyum tipis yang menyiratkan kemenangan kecil.
Laras mengepalkan tangan.
“Ayah… bagaimana kalau kita menyusulnya saja? Kita temui ratunya dan meminta izin langsung,” pintanya penuh harap.
Jatisangkar langsung berdiri.
“Hey, Laras! Kalau kau ingin melakukan itu, pergi saja sendiri! Jangan menyeret siapa-siapa. Kami tak peduli!” sahutnya tajam.
Laras berdiri, wajahnya memerah.
“Kau memang penakut, Kakang!”
“Cukup!”
Suara Ki Baraya membentak tegas. Rumah yang tadi tegang mendadak sunyi.
“Kalian ini kenapa terus bertengkar? Sudah malam. Tidak ada yang pergi ke mana-mana. Kembali ke kamar kalian. Jangan membuat keributan lagi.”
Nada suaranya tak keras, tapi penuh wibawa.
Laras menunduk. Jatisangkar mendengus pelan. Keduanya akhirnya beranjak ke kamar masing-masing.
Lampu minyak dipadamkan.
Rumah itu pun tenggelam dalam kegelapan.
Namun di luar sana—
Di batas hutan dan desa—
Seolah ada sepasang mata yang mengawasi rumah Ki Baraya dari kejauhan.
Malam itu Braja tergeletak di bawah pohon tempat ia kemarin bertemu dengan Ki Baraya dan Laras. Tubuhnya penuh luka melintang yang dalam. Darah meleleh perlahan dari luka-luka itu. Napasnya tersengal-sengal, dan ia sudah tak mampu lagi berjalan.
Di samping tubuhnya tergeletak sebuah sungut binatang sebesar pedang. Entah apa yang telah terjadi pada Braja. Tak lama kemudian ia pun pingsan.
Suara ayam berkokok bergema di pagi hari itu. Sudah semalaman Braja terbaring pingsan dengan tubuh penuh luka. Namun anehnya, luka-luka itu mulai mengering dengan sendirinya, seolah tubuhnya mampu menyembuhkan diri dengan cepat.
Tak lama kemudian ia terbangun. Braja membuka matanya perlahan dan memperhatikan sekelilingnya. Ternyata ia sudah berada di sebuah kamar.
Dari sampingnya terdengar suara lirih seorang gadis.
“Kakang Braja, kau sudah sadar? Apa yang telah terjadi padamu? Tubuhmu penuh luka, namun semuanya sudah mengering.”
“Oh, Laras… ternyata kau. Bagaimana caranya aku bisa berada di rumahmu?” ucap Braja lemah.
“Ayah menemukanmu tergeletak di bawah pohon tempat kita bertemu kemarin. Lalu Ayah membawamu ke sini,” jelas Laras.
Tak lama kemudian Ki Baraya yang mendengar suara dari dalam kamar segera masuk.
“Kau sudah sadar, Braja?” tanya Ki Baraya cemas.
“Ya, Ayah, aku sudah sadar. Terima kasih telah membawaku kemari dan mengobatiku" balas Braja.
“Tidak, Braja. Ayah tak mengobatimu. Luka-luka itu mengering dengan sendirinya. Tubuhmu memang luar biasa. Sebenarnya apa yang terjadi padamu, Nak?”
Braja memperhatikan tubuhnya sendiri. Ia terheran-heran melihat luka-luka yang semula menganga kini telah mengering.
“Aku minta maaf, Ayah. Aku terlambat datang. Sesungguhnya Ratu telah mengizinkanku tinggal di sini. Namun ia mengujiku terlebih dahulu. Aku bertarung dengannya. Ia benar-benar ingin melihat kemampuan dasarku sebelum melepaskanku. Dalam pertarungan itu, aku berhasil mematahkan sungutnya. Setelah itu pertarungan selesai. Ratu tidak marah. Ia justru melepaskanku, bahkan membiarkan sungutnya kubawa. Katanya, sungut itu bisa dijadikan senjata.”
Mendengar penjelasan Braja, Ki Baraya termangu-mangu. Banyak hal yang tak dimengertinya: kesembuhan Braja yang begitu cepat, pertarungan dengan Ratu, dan sungut itu.
“Apakah ratumu itu seekor binatang raksasa, Braja? Aku melihat sungut itu sebesar pedang dan tampak sangat beracun.”
Braja terdiam lama. Ia tak tahu apa yang harus dikatakan. Melihat keraguannya, Ki Baraya membujuknya.
“Aku tahu kau takut, Braja. Tapi jangan ragu pada Ayah. Katakanlah sejujurnya. Aku dan Laras akan merahasiakan hal ini. Tenanglah.”
“Ya, Kakang. Katakan saja yang sebenarnya. Ayah dan aku bisa dipercaya untuk menjaga rahasia itu,” timpal Laras meyakinkan.
Mendengar itu, Braja pun mulai tenang dan memutuskan untuk membongkar rahasia tentang dirinya dan sang Ratu.