NovelToon NovelToon
GERBANG YANG SAMA

GERBANG YANG SAMA

Status: sedang berlangsung
Genre:Kehidupan di Sekolah/Kampus / Cinta Seiring Waktu / Teen
Popularitas:3.3k
Nilai: 5
Nama Author: Ghuci Shintara

"Ini adalah Novel Ringan dan Santai".
Semua bermula dari hari pertama menjadi siswa SMK Pariwisata, dimana takdir mempertemukan mereka didepan gerbang yang telah tertutup rapat, mereka terlambat. Mereka berkenalan dan mereka terkejut karena mereka sama-sama jurusan yang sama dan sama-sama dikelas yang sama bahkan karena mereka terlambat, mereka hanya mendapatkan kursi kosong dipaling belakang dan mereka kembali sama-sama duduk di meja kelas yang sama. Seiring berjalannya waktu mereka sudah menjalin pertemanan dan hingga waktunya tiba kegiatan Study Tour yang menjadi program penting sekolah SMK Pariwisata untuk kelas 1 dan dari sanalah sebuah kesepakatan di bawah langit Bali terjalin.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Ghuci Shintara, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bab 34 - Tragedi Semifinal

Lembayung senja mulai menyelimuti langit Jakarta, memberikan warna keunguan yang kontras dengan hiruk-pikuk sisa tenaga para siswa di area sekolah. Gery, yang baru saja membasuh wajah dan mengganti jerseynya yang basah kuyup di kamar mandi sekolah, melangkah menuju parkiran. Deru mesin motor matic-nya yang khas terdengar membelah kesunyian area parkir yang mulai lengang.

Setibanya di depan gerbang, ia melihat Vanya masih setia berdiri di sana. Di sampingnya ada Nadia, yang tampak sedang memeriksa ponselnya berulang kali. Rupanya, motor Nadia sedang masuk bengkel untuk servis rutin, dan jemputannya tak kunjung datang.

"Duluan ya, Nad! Hati-hati nunggunya," pamit Vanya saat Gery menghentikan motor di hadapan mereka. Gery hanya memberikan anggukan sopan sebagai tanda perpisahan kepada Nadia sebelum memacu motornya perlahan meninggalkan area sekolah.

Di atas motor, suasana yang biasanya riuh dengan candaan mendadak berubah menjadi hening. Angin sore bertiup cukup kencang, membawa aroma aspal yang masih hangat. Vanya menyandarkan kepalanya sedikit ke bahu Gery, lalu memecah keheningan dengan suara yang nyaris tertelan deru angin.

"Ger, gue mulai sadar dan ngerti sekarang," gumam Vanya pelan.

Gery melirik sekilas dari kaca spion, fokusnya terbagi antara jalanan dan suara Vanya. "Ngerti apaan, Van?" selanya singkat.

Vanya tidak langsung menjawab. Ia terdiam cukup lama, seolah sedang menata kata-kata agar tidak salah ucap. "Nggak salah kalau Angela bisa sebegitu ngefansnya sama tim inti basket SMP lo dulu... terutama ngefans sama lo," lanjut Vanya dengan nada yang sulit ditebak. "Lo bener-bener memukau saat main basket, Ger. Auranya beda banget. Maaf ya kalau gue harus ingetin masalah ini lagi."

Nama Angela yang tiba-tiba muncul membuat Gery terdiam seribu bahasa. Ada memori-memori lama yang seolah ingin merangkak keluar, namun Gery memilih untuk menekan rem pada perasaannya.

Vanya melanjutkan lagi, suaranya kini terdengar lebih kagum sekaligus sedikit rendah diri. "Tadi Nadia juga bilang hal yang sama. Dia bilang, ini baru turnamen antar kelas, tapi lo mainnya udah kayak di liga profesional. Wajar sih, lo kan emang udah biasa main di tingkat kota sementara anak-anak lain cuma hobi doang."

Gery tetap membisu. Ia tidak ingin terjebak dalam pembicaraan sentimental tentang masa lalu atau status "bintang" yang disandangnya. Ia menyadari bahwa Vanya sedang merasa sedikit asing dengan sisi dirinya yang "terlalu bersinar" di lapangan hari ini.

Tanpa memberikan jawaban verbal atas keresahan Vanya, Gery tiba-tiba menyalakan lampu sein kiri dan membelokkan motornya ke sebuah kafe kecil yang tampak nyaman di pinggir jalan.

"Turun, Van. Makan dulu yuk, laper banget gue. Tenaga gue habis dikuras senior-senior tadi," ujar Gery sambil melepas helmnya, mencoba bersikap seolah tidak ada beban dalam percakapan tadi.

Gery sangat mengenal Vanya. Ia tahu bahwa cara terbaik untuk membuyarkan pikiran-pikiran melankolis dan kecemburuan tipis Vanya terhadap masa lalunya adalah dengan mengalihkan perhatiannya ke makanan. Di bawah lampu kafe yang mulai menyala temaram, Gery berharap porsi makan malam yang hangat bisa menutup luka lama yang tak sengaja tersenggol oleh euforia kemenangan hari ini.

Meja kafe yang tadinya sunyi berubah menjadi panggung pertunjukan kecil. Hidangan panas yang tersaji sejenak mengalihkan ketegangan. Vanya, dengan insting anak perhotelan yang kuat, mulai mencicipi pasta milik Gery dengan gaya "Juri MasterChef" sebelum menyentuh porsinya sendiri. Keduanya fokus makan, hingga rasa lapar yang menguras tenaga di lapangan tadi perlahan mereda.

Setelah piring bersih, Vanya menyandarkan punggungnya ke kursi. Matanya menatap Gery dengan serius. "Ger, lo tahu nggak?"

"Enggak!" sela Gery cepat tanpa beban.

Pluk! Sebuah tisu bekas mendarat mulus di wajah Gery yang sedang asyik menyeruput mocha float-nya.

"Ih, gue belum selesai ngomongnya!" gerutu Vanya kesal. Gery hanya terkekeh, bahunya berguncang pelan menikmati kemenangan kecilnya menjahili Vanya.

Vanya mencoba kembali ke mode serius. "Lo tahu nggak, Ger—"

"Mana gue tahu, kan lo belum kasih tahu!" sela Gery lagi untuk kedua kalinya.

Croot! Kali ini air mineral gelas yang tinggal sedikit disemprotkan Vanya ke arah Gery. Gery dengan sigap memasang gaya defense menyilangkan tangan di depan dada untuk menghalau percikan air yang melayang.

"Ih, sebel banget sama lo! Dengerin dulu gue ngomong!" seru Vanya dengan wajah cemberut maksimal. Gery akhirnya menyerah, ia mengangkat kedua tangannya sambil tertawa minta maaf, lalu mempersilakan Vanya melanjutkan.

"Tadi pas lo lagi di lapangan, cewek-cewek—terutama kakak senior—pada bisik-bisik di belakang gue," Vanya memulai dengan nada yang lebih rendah. "Mereka saling tanya, siapa sih yang deket sama anak-anak kelas 1 PH2? Terus ada yang tanya punya nomor HP lo nggak? Bahkan ada yang bisik-bisik, 'Si Gery udah punya pacar belum sih? Pengen banget gue jadi pacarnya'."

Vanya menatap mata Gery lekat-lekat. "Lo tahu nggak perasaan gue yang denger itu? Dibilang cemburu, ya pasti ada. Tapi di sisi lain, kalau mereka tahu lo itu 'milik' gue... gue sedikit bangga tahu, Ger."

Gery terdiam sejenak. Kalimat "milik gue" itu sempat membuat detak jantungnya melompat. Namun, karena tidak mau suasana menjadi terlalu melankolis atau serius, insting usil Gery kembali bangkit.

"Siapa, Van, yang ngomong gitu? Lo kenal nggak? Orangnya cantik nggak?" tanya Gery sambil menaik-turunkan alisnya, tertawa geli melihat reaksi Vanya.

"AU AH! Capek ngomong sama lo mah!" Vanya melemparkan botol kosong ke arah Gery, wajahnya kini merah padam karena kesal sekaligus malu. "Ayo ah pulang! Besok lo tanding lagi, butuh istirahat cukup biar otaknya nggak makin gesrek!"

Gery hanya tertawa puas melihat Vanya yang merajuk. Mereka pun meninggalkan kafe, membelah malam Jakarta menuju rumah Vanya. Sesampainya di rumah, Vanya hanya melambaikan tangan singkat tanpa menoleh—tanda masih sedikit "ngambek"—sementara Gery melaju pulang dengan senyum yang masih tersisa.

Malam itu, di dalam kamarnya yang tenang, Gery merebahkan tubuhnya. Kata-kata Vanya tentang "milik gue" terus berputar di kepalanya seperti kaset rusak, menjadi pengantar tidur yang jauh lebih manis daripada kemenangan 105 poin di lapangan tadi.

Matahari pagi baru saja naik, namun suhu di sekitar lapangan futsal sudah terasa mendidih. Penonton menyemut, berdesakan di pinggir garis lapangan untuk menyaksikan laga hidup mati demi tiket menuju final. Sorak-sorai bergema, menciptakan tekanan mental yang nyata bagi siapa pun yang berdiri di atas lapangan semen itu.

Bagi Dion dan Reno, pertandingan melawan Kelas 3 Jurusan Resto 2 ini bukan sekadar urusan class meeting. Ada luka lama yang belum kering. Di turnamen HUT sekolah tahun lalu, mereka dipaksa tunduk oleh tim yang sama. Kekalahan itu membuat mereka terlempar ke posisi ketiga, sebuah pil pahit yang masih terasa bekasnya hingga sekarang.

"Kali ini nggak boleh lepas lagi, No," bisik Dion dengan wajah yang luar biasa serius. Tatapannya tajam ke arah kapten tim Resto 2 yang bertubuh kekar.

Reno mengangguk, mengencangkan tali sepatunya. "Dulu kita salah strategi. Sekarang, kita punya kartu AS yang baru."

Pandangan mereka berdua beralih ke Gery. Di turnamen sebelumnya, Gery hanyalah pemain cadangan "pemanis bangku" yang baru dimasukkan saat waktu tersisa dua menit—saat kondisi tim sudah babak belur. Tapi hari ini, sejarah tidak akan berulang. Dion memasang Gery sebagai starter sejak peluit pertama dibunyikan. Gery adalah variabel yang tidak diprediksi oleh tim Resto.

"Ger, lo tahu tugas lo. Obrak-abrik pertahanan mereka dari sayap," perintah Dion singkat. Gery hanya mengangguk tenang, wajahnya tidak menunjukkan emosi, namun matanya fokus menatap pergerakan lawan.

Prrrriiiiiiitttt!

Peluit wasit melengking, membelah kebisingan. Babak semifinal resmi dimulai.

Tim Resto 2 langsung menerapkan permainan fisik. Mereka mengandalkan tubuh besar untuk memblokir pergerakan Reno. Namun, mereka melakukan kesalahan fatal dengan membiarkan Gery bebas di sisi kanan.

Dion yang menguasai bola di tengah segera mengirimkan umpan lambung yang sangat akurat. Gery melompat, mengontrol bola dengan dada, dan begitu kakinya menyentuh tanah, ia melakukan nutmeg (melewatkan bola di antara kaki lawan) pada bek senior Resto yang mencoba menutup ruangnya.

"Gila! Gery lincah banget!" teriak salah satu siswi di pinggir lapangan.

PH2 bermain dengan tempo yang jauh lebih cepat dari pertemuan mereka sebelumnya. Keberadaan Gery membuat aliran bola menjadi sangat cair. Senior-senior Jurusan Resto itu mulai tampak kewalahan; mereka seperti sedang mengejar bayangan. Dendam yang membara di hati Dion dan Reno kini terkonversi menjadi serangan-serangan mematikan yang terorganisir dengan sangat baik.

Peluit akhir babak pertama berbunyi. Skor kacamata 0-0 menghiasi papan skor, namun gestur tubuh tidak bisa berbohong. Para pemain senior Resto tampak membungkuk, memegang lutut dengan napas yang memburu—pertanda stamina mereka sudah terkuras habis oleh strategi "lari maraton" yang dipaksakan PH2.

Dion, yang memiliki insting kepemimpinan yang tajam, segera mengumpulkan timnya di pinggir lapangan. Ia menenggak air mineral sedikit lalu memberikan instruksi krusial.

"Sam, lo maju ke depan bareng Reno sama Gery," perintah Dion singkat. "Gue yang turun ke belakang gantiin posisi lo. Gue mau kita habisin mereka sekarang juga selagi mereka masih ngos-ngosan."

Perubahan formasi ini adalah langkah cerdas. Dengan Dion sebagai tembok di pertahanan, lini depan PH2 kini dihuni oleh trio maut: Reno sang playmaker, serta duet maut Gery dan Sammy yang sudah punya "batin" sejak zaman SMP.

Prrrriiiitttt! Babak kedua dimulai.

Visual permainan seketika berubah. Sammy, yang bertubuh kokoh namun lincah, bergerak sinkron dengan Gery. Chemistry mereka saat bermain basket terbawa ke lapangan futsal; mereka tahu kapan harus saling memberi ruang tanpa perlu bersuara.

Sebuah momen kunci terjadi. Sammy berlari menjemput bola umpan terobosan dari Dion. Bek senior Resto langsung menutup pergerakan Sammy, mengira dia akan melakukan kontrol bola. Namun, dengan kecerdasan luar biasa, Sammy melakukan gerakan tipuan—ia membiarkan bola meluncur melewati sela kakinya (dummy move) tanpa menyentuhnya sedikit pun.

Bek lawan terperanjat, ia sudah terlanjur berkomitmen untuk menekel Sammy, sementara bola itu terus bergulir bebas ke arah Reno yang berdiri tanpa pengawalan di sisi buta.

"No, hajar!" teriak Sammy.

Reno tidak menyia-nyiakan momentum emas itu. Tanpa kontrol, ia langsung melepaskan tendangan first-time yang sangat keras menggunakan punggung kaki.

BUM!

Bola melesat bak peluru, tak terjangkau oleh tangan kiper kelas 3 Resto 2 yang hanya bisa terpaku melihat jaring gawangnya bergetar hebat.

"GOOOOLLLLL!!!"

Seluruh siswa PH2 yang menonton langsung histeris. Skor pecah menjadi 1-0. Reno berlari ke arah sudut lapangan, diikuti Gery dan Sammy yang langsung mengerubunginya. Dendam dari kekalahan HUT sekolah tahun lalu perlahan-lahan mulai terbayar lunas.

Di pinggir lapangan, Vanya melompat kegirangan sambil tetap memegang kamera digitalnya. "Mampus lo senior! PH2 nih bos!" teriaknya tanpa sadar, membuat teman-teman di sekitarnya tertawa melihat sisi "preman" Vanya yang keluar karena terlalu semangat.

Ketertinggalan satu angka menjadi racun bagi mental para senior Resto. Mereka yang awalnya jumawa, kini mulai kehilangan arah. Alih-alih mengejar bola dengan teknik, mereka justru mulai mengejar kaki pemain PH2. Udara di sekitar lapangan memanas, diiringi teriakan protes dari penonton yang tidak suka melihat permainan kasar tersebut.

Dion memutuskan untuk keluar dan memasukkan Candra, memberikan kesempatan pada pemain segar untuk menjaga ritme. Candra masuk dengan semangat membara; ia menjadi penghubung yang sempurna, mengirimkan umpan-umpan manja yang membuat Gery dan Reno semakin leluasa menari di pertahanan lawan.

Saat jam digital di pinggir lapangan menunjukkan sisa dua menit, sebuah momen dramatis terjadi. Gery melakukan kerjasama one-two yang sangat rapi dengan Candra. Begitu bola kembali ke kaki Gery, ia langsung mengirimkan umpan pendek ke arah Sammy. Namun, tepat saat kaki Gery melepaskan bola, seorang pemain senior menerjang dengan sliding tackle yang sangat terlambat dan berbahaya.

Brak!

Gery terjatuh keras. Kaus kakinya robek, menampakkan tulang kering yang mulai membiru dan darah yang merembes tipis. Wasit tanpa ragu meniup peluit panjang dan merogoh saku belakangnya: Kartu Merah. Sorakan "Huuh!" dari penonton membahana, mengiringi pemain senior itu keluar lapangan dengan kepala tertunduk.

Dion dan Reno langsung berlari menghampiri Gery. "Ger! Lo nggak apa-apa?!" tanya Dion panik.

"Tenang... aman kok. Nggak usah panik," jawab Gery sambil meringis, berusaha bangkit meski kakinya berdenyut nyeri.

"Yakin lo? Habis ini lo masih ada basket!" seru Dion cemas.

Gery melirik ke arah luar lapangan. Di sana, ia melihat Vanya berdiri membeku, menutup mulutnya dengan kedua tangan, matanya berkaca-kaca menatap luka di kaki Gery. Melihat itu, Gery justru menguatkan diri. "Tenang, masih bisa gue atasi," tegasnya.

Pertandingan dilanjutkan dengan posisi 5 lawan 4. Reno mengambil ancang-ancang tendangan bebas. Ia melepaskan tembakan keras, namun bola menghantam tiang gawang dengan bunyi dentum yang nyaring. Bola liar memantul tinggi ke arah Sammy. Dengan cerdik, Sammy menyundul bola itu ke arah Gery.

Seorang senior lain mencoba "menghabisi" Gery lagi dengan tekel susulan. Namun kali ini, insting atlet Gery bekerja luar biasa. Dengan refleks cepat, ia melompat sembari memutar tubuhnya di udara untuk menghindari terjangan lawan. Secara ajaib seperti cerita di novel-novel drama, bola yang turun dari sundulan Sammy mendarat tepat di jangkauan kakinya saat ia masih melayang.

Wush! Sebuah volley kick tercipta tanpa sengaja. Bola meluncur deras, melengkung secara tidak masuk akal menuju sudut atas gawang. Kiper lawan hanya bisa melongo, terdiam membeku melihat bola masuk ke dalam jaringnya.

Skor 2-0!

Dion dan Candra langsung berhamburan ke arah Gery. Tanpa aba-aba, Candra mengangkat kaki Gery sementara Dion memegang tangannya. Mereka menggotong dan melemparkan tubuh Gery ke udara berkali-kali di bawah sorotan matahari yang terik. Gery tertawa di tengah rasa perihnya; tiket final futsal resmi menjadi milik PH2.

1
dewi
sampe bab ini mkin suka ma ceritanya thor
Shintara: terima kasih kak, semoga aku bisa memberikan yang terbaik lagi .
total 1 replies
Shin Nara
Tinggalin jempol dulu akh👍
Shintara: 😍😍😍 semoga terhibur
total 1 replies
Shintara
Bagi yang ingin mendengarkan lagunya "Lembayung Senja" dari Little Jack, bisa buka di YouTube ya dan akan hadir lagu-lagu berikutnya dari Little Jack pada Bab yang akan datang. ☺️
Shintara
iya 👍
only siskaa
pertama Thor jngn lupa mmpir ke karya aku juga yaa
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!