Di dunia yang penuh dengan kilatan kamera, Alice Vane adalah satu-satunya hal yang nyata bagi Julian Reed. Namun, bagi Julian, mencintai Alice berarti harus mengawasinya dari kejauhan—sambil membenci setiap pria yang berani bernapas di dekatnya.
Alice adalah magnet. Dari penyanyi manis Sean Miller hingga rapper tangguh D-Rock, semua menginginkannya. Alice tidak pernah sadar bahwa setiap tawa yang ia bagikan dengan pria lain akan dibalas oleh Julian dengan lirik lagu yang menghujatnya di radio keesokan harinya.
Saat Julian mulai menggunakan diva pop Ellena Breeze untuk memancing cemburu Alice, permainan pun berubah. Di antara lagu sindiran, rumor palsu, dan kepemilikan yang menyesakkan, Alice harus bertanya pada dirinya sendiri: Apakah ia benar-benar pelabuhan bagi Julian, atau hanya sekadar inspirasi yang ingin dipenjara dalam sangkar emas?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Ariska Kamisa, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
32. The Sanctuary of the Innocents
Udara pagi di perbukitan yang asri itu terasa begitu menyejukkan, namun di dalam hati Alice, masih ada mendung yang tersisa. Sejak diagnosa dokter tentang kendala medisnya, Alice seringkali melamun di teras, menatap taman bunga yang mereka tanam bersama.
Julian, sang "permen karet", muncul dari balik pintu kaca dengan dua cangkir cokelat hangat. Ia tidak perlu bertanya apa yang sedang dipikirkan istrinya; ia bisa merasakannya dari bahu Alice yang sedikit turun.
"Al," panggil Julian lembut sembari duduk di sampingnya, meletakkan cokelat itu dan langsung merengkuh bahu Alice. "Aku sudah bicara dengan Papa Samuel dan pihak gereja kemarin. Kita butuh suasana baru. Bukan liburan mewah, tapi sesuatu yang bisa memberi kita perspektif berbeda."
Alice menoleh, matanya masih tampak sedikit sembab. "Maksudmu?"
"Ada sebuah panti asuhan dan sekolah kecil di pedalaman yang dikelola oleh yayasan gereja Papa Samuel. Namanya Grace Home. Mereka sedang membangun perpustakaan baru dan butuh tenaga sukarelawan. Aku berpikir... bagaimana kalau kita ke sana selama beberapa minggu?"
Alice terdiam sejenak, lalu tersenyum tipis. "Kau ingin kita menjadi tukang bangunan, Tuan Megabintang?"
Julian tertawa, mengecup pelipis Alice. "Aku ingin kita menjadi manusia, Al. Hanya Julian dan Alice. Aku ingin kita melihat dunia dari mata anak-anak yang tidak punya apa-apa tapi masih bisa tertawa."
Perjalanan itu membawa mereka ke sebuah desa terpencil yang hijau dan tenang. Di sana, tidak ada yang peduli dengan skandal The Shadow Syndicate atau siapa itu Julian Reed. Bagi anak-anak di Grace Home, Julian hanyalah "Paman J" yang pandai bermain gitar, dan Alice adalah "Bibi Al" yang cantik dan pandai menggambar.
Suatu sore, setelah membantu mengecat dinding perpustakaan, Julian duduk di bawah pohon beringin besar bersama seorang anak laki-laki berusia tujuh tahun bernama Leo. Leo memiliki rambut ikal gelap dan mata yang sangat cerdas, namun ia jarang bicara—sebuah ciri trauma yang sangat dikenali Julian.
"Kau tahu, Leo," ujar Julian sembari memetik senar gitarnya pelan. "Dulu, Paman juga sangat pendiam. Paman pikir dunia ini tempat yang sangat menakutkan."
Leo menatap Julian, lalu menunjuk gitar itu. "Kenapa Paman tidak takut lagi?"
Julian tersenyum, matanya beralih ke arah Alice yang sedang asyik mengajar anak-anak perempuan menari di lapangan. "Karena Tuhan mengirimkan seorang malaikat untuk menjagaku. Dan malaikat itu memberitahuku bahwa aku tidak sendirian."
Alice menghampiri mereka, wajahnya berkeringat namun tampak sangat bercahaya—sebuah binar yang tidak terlihat sejak mereka meninggalkan ruang dokter di New York. Ia duduk di samping Julian, menyandarkan kepalanya di bahu suaminya.
"Anak-anak ini luar biasa, Julian," bisik Alice. "Mereka punya luka yang begitu dalam, tapi cara mereka memeluk kita... itu membuatku merasa bahwa masalahku tentang kehamilan terasa sangat kecil dibandingkan perjuangan mereka untuk bertahan hidup."
"Itulah alasanku membawamu ke sini, Al," Julian menggenggam tangan Alice di atas rumput. "Tuhan mungkin belum menitipkan nyawa di rahimmu, tapi lihatlah... Dia menitipkan puluhan nyawa di tangan kita untuk kita sayangi sekarang."
Malam harinya, di dalam kamar penginapan sederhana mereka, Julian dan Alice duduk bersila di atas tempat tidur. Julian memegang tangan Alice, wajahnya tampak sangat serius namun penuh cinta.
"Al, aku ingin kita bicara jujur," buka Julian. "Bagaimana jika... bagaimana jika mukjizat itu tidak pernah datang? Bagaimana jika hanya ada aku dan kau selamanya?"
Alice menatap suaminya, air matanya perlahan jatuh, tapi kali ini bukan karena sedih. "Dulu, aku pikir tujuanku hidup adalah untuk memilikimu dan memiliki keluarga sempurna seperti Papa Samuel. Tapi setelah di sini, melihat Leo dan yang lainnya... aku sadar."
"Sadar tentang apa?"
"Bahwa menjadi ibu bukan soal melahirkan, tapi soal mencintai," Alice memeluk Julian erat. "Jika Tuhan mengizinkan, aku ingin kita mengadopsi Leo, Julian. Dia mengingatkanku padamu. Dia butuh seorang ayah yang tahu cara bangkit dari kegelapan."
Julian tersentak. Ia melepaskan pelukan, menatap Alice dengan haru yang luar biasa. "Kau... kau mau kita mengadopsi?"
"Ya. Tapi bukan sebagai pelarian karena aku tidak bisa hamil," tegas Alice. "Tapi karena kita punya begitu banyak cinta untuk dibagikan. Aku ingin rumah kita menjadi tempat perlindungan bagi anak-anak seperti Leo, terlepas dari apakah nanti aku bisa hamil atau tidak."
Julian menangis—tangis syukur seorang pria yang merasa bebannya diangkat. Ia mencium bibir Alice dengan penuh pemujaan, sebuah ciuman yang menjadi segel dari janji baru mereka.
"Kau adalah wanita paling luar biasa yang pernah Tuhan ciptakan, Alice Vane," bisik Julian di sela ciumannya. "Aku setuju. Mari kita bicara dengan Papa Samuel tentang prosedur adopsi Leo. Kita akan membawanya pulang."
Malam itu, mereka bercinta dengan perasaan yang sangat berbeda. Bukan lagi tekanan untuk mendapatkan keturunan, melainkan sebuah perayaan atas cinta dan keputusan besar yang baru saja mereka ambil. Julian begitu protektif, begitu mesra, memperlakukan Alice seolah-olah seluruh dunia ada dalam genggamannya.
Namun, di tengah kebahagiaan itu, sebuah kabar mengejutkan datang melalui telepon satelit dari Samuel Vane di New York.
"Julian! Alice!" suara Samuel terdengar sangat bersemangat di seberang sana. "Kalian harus segera kembali setelah urusan di sana selesai. Aku baru saja mendapatkan dokumen rahasia dari sisa-sisa server Syndicate. Ternyata, ada sebuah laboratorium medis ilegal yang dulu digunakan agensi untuk menyuntikkan zat 'penahan kesuburan' pada para modelnya agar mereka tidak hamil dan tetap bisa bekerja!"
Alice terperangah. "Apa maksud Papa?!"
"Artinya, kendala medismu mungkin bukan karena stres semata, Al. Tapi karena sabotase medis yang dilakukan agensi tanpa sepengetahuanmu saat kau masih di bawah kontrak mereka dulu. Dan kabar baiknya, tim dokter kami sudah menemukan penawarnya!"
Julian dan Alice terdiam, saling menatap dengan mata membelalak. Harapan yang tadinya mereka lepaskan, kini kembali dengan kekuatan yang luar biasa.
cemburu bilang /CoolGuy/
markicob baca...
se inter apa ya thor... /Tongue/