Hana, seorang anak yang tertukar pada saat dilahirkan, akhirnya bisa kembali kepada keluarganya. Namun, ia tak pernah menyangka, perasaan bahagia, kehidupan manis dengan orang tua, semuanya hanya harapan palsu semata. Ia diambil hanya untuk reputasi orang tua. Diabaikan, ditindas, bahkan mati pun tidak dipedulikan.
Jiwanya tidak menerima kematian, ia menoreh takdir pada langit, meminjam jiwa yang kuat.
Jiwa seorang Ratu hebat dari kerajaan Amerta, terpanggil untuk membalaskan dendam Hana. Jiwa leluhur yang terusik oleh derita sang penerus. Pewaris kehormatan dari kerajaan agung Amerta.
Nasib semua orang pun berubah.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon aisy hilyah, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 23
"Nyonya! Tuan!"
Seorang pelayan berlari ke dalam rumah dengan tergesa, berteriak memanggil majikannya dengan panik. Nyonya Haysa dan Shopia berlari keluar, menemui pelayan tadi. Di sana juga ada Evan yang hendak mengajak pergi Shopia.
"Ada apa? Kenapa kau berlarian panik begitu?" tegur Nyonya Haysa tak senang.
Ia sedang beristirahat di dalam kamar, merenungkan semua yang terjadi.
"Awas saja kau jika tidak ada yang penting," ancam Shopia kesal karena waktu berduanya terganggu.
"Nyonya, Nona, nona Hana memukuli tuan muda Ethan di luar gerbang!" ucap pelayan tersebut dengan cepat.
"Apa?" Keduanya memekik kompak.
Dalam kepanikan, mereka berlari keluar. Langkah mereka saling berlomba menuruni anak tangga, mengetuk lantai dengan cepat. Sementara Evan membuntuti dari belakang. Ia mendengus tak acuh, tapi ingin melihat bagaimana seorang perempuan lemah seperti Hana bisa memukuli laki-laki yang lebih tinggi darinya.
Saat mendekati gerbang, mereka melihat Hana yang menggenggam sebuah tambang dan memukuli Ethan tanpa ampun. Mereka pun berlari lebih cepat lagi, membuka gerbang dengan kuat.
"Hentikan!" Suara Nyonya Haysa naik beberapa oktaf, menghentikan Hana yang mengangkat tangan tinggi hendak memukuli Ethan lagi.
Ia menarik tangan Hana menjauh dari anaknya, kemudian membantu Ethan berdiri. Hana mencibir, membuang tambang itu dan menepuk-nepuk tangannya.
"Apa kau baik-baik saja?" Nyonya Haysa membantu anaknya berdiri, menatap ngeri pada pakaian Ethan yang memerah karena darah.
"Apa yang kau lakukan? Kenapa kau memukuli Kak Ethan seperti itu? Kau sudah gila!" hardik Shopia mendorong tubuh Hana menjauh.
Hana mundur satu langkah sambil mencibirkan bibir, menatap remeh pada mereka bertiga.
"Hana! Kau keterlaluan! Apa salah kakakmu hingga kau memukulinya seperti ini?" bentak Nyonya Haysa bengis.
"Ibu, sakit sekali! Dia sudah gila, Ibu. tiba-tiba dia datang terus menyeret ku dan memukuliku tanpa sebab," rengek Ethan mengadu pada ibunya.
Evan diam memperhatikan, ia menelisik Hana yang bersikap tak acuh. Wanita itu terlihat tenang, tak tampak di wajahnya rasa bersalah sama sekali. Sikap pengecut yang dulu sering ia perlihatkan, tak lagi menghias wajahnya.
"Pengecut! Bisanya hanya mengadu," sindir Hana, suaranya pelan tapi penuh penekanan.
Ethan seketika terdiam, mengunci mulutnya rapat. Ia bersembunyi di belakang tubuh ibunya, mengkerut ketakutan.
"Hana, jangan keterlaluan!"
Nyonya Haysa mengangkat tangan hendak menampar Hana, tapi Hana memiliki kecepatan di luar dugaannya. Ia menangkap tangan ibunya dan membalikkan tamparan.
Plak!
Argh!
Nyonya Haysa terpukul mundur ke belakang, memegangi pipinya yang terasa kebas.
"Kau ...!" Ia menuding Hana dengan tangan bergetar.
"Nyonya Haysa yang terhormat! Anak kesayanganmu berkelakuan buruk di luaran. Karena kau tidak bisa mendidik anakmu, maka aku hanya menggantikan dirimu untuk mendidiknya. Sebagai adik, aku peduli kepada kakakku. Di mana salahku?" ujar Hana, dia tidak merasa bersalah sama sekali.
Ethan menunduk, menghindari tatapan ibunya.
"Kau anak durhaka! Bagaimana kau begitu berani memukul ibumu!" Shopia membentak, membiarkan Evan melihat keburukan Hana.
Plak!
Argh!
Shopia terjungkal seandainya Evan tidak menangkap tubuhnya dengan cepat. Pukulan Hana datang begitu cepat.
"Kau ...!" Shopia menangis, merasakan panas di pipi.
Hana menghendikan bahu, berbalik meninggalkan mereka di luar gerbang. Dia sendirian di dunia itu, tak ada keluarga yang menginginkannya. Maka ia pun tidak menginginkan sebuah keluarga.
"Hana, kembali kau!" teriak Nyonya Haysa geram.
Hana mengangkat tangan tak peduli, kaki jenjangnya terus melangkah memasuki rumah. Melihat bagaimana Hana memukuli Ethan, para pelayan tak berani menatapnya. Hana terus menyusuri rumah sampai pada pintu belakang. Di sana, ia bertemu dengan seorang pelayan laki-laki.
"Berikan kunci gudang bawah tanah kepadaku!" titahnya sembari menadah tangan meminta kunci.
Hana menoleh saat pelayan itu tak kunjung memberikan kunci gudang. Lirikan matanya yang tajam juga mengintimidasi, membuat pelayan laki-laki itu ketakutan. Dengan tangan bergetar, ia memberikan kunci gudang bawah tanah kepada Hana.
Hana merebut kunci itu dengan cepat dan menendang pelayan tadi hingga terjungkal. Ia pergi menuju gudang bawah tanah dan membukanya dengan cepat. Saat pintu itu terbuka, Hana melihat Liana yang terikat di tengah ruangan dalam kondisi mengenaskan.
Tangan dan kakinya dirantai, tubuhnya penuh luka. Persis seperti dirinya sebelum dibuang ke jurang.
"Apa hukum tidak bisa menyentuh mereka? Bagaimana mereka bisa menyiksa pelayan seenak mereka?" umpat Hana seraya mendekat dan membuka rantai yang membelenggu Liana.
"Nona, Anda baik-baik saja? Saya senang bisa melihat Anda lagi," ucap Liana, suaranya lemah tak bertenaga.
"Diamlah! Aku tidak mengizinkanmu untuk berbicara!" sentak Hana seraya membawa Liana keluar dari gudang.
Pelayan laki-laki tadi masih terbaring
di lantai, belum sempat bangkit. Hana kembali menendangnya.
"Antarkan ke rumah sakit! Jika kau menolak, adik kesayanganmu ini akan aku hancurkan!" titah Hana mengangkat sebelah kakinya di atas milik laki-laki itu.
"Ampun, Nona!" Ia menutupi miliknya dengan tangan, "baik, baik. Saya akan mengantar Anda ke rumah sakit sekarang juga!" katanya seraya bangkit dari lantai.
Ia juga membawa tubuh Liana ke dalam gendongan agar cepat.
"Huga! Antarkan Ethan ke rumah sakit! Cepat!" panggil Nyonya Haysa kepada pelayan tadi yang merangkap sebagai supir.
"Huga harus mengantar Liana ke rumah sakit. Kau mintalah menantu baikmu itu untuk mengantar," ketus Hana yang kembali menendang kaki sang supir yang berhenti di hadapan Nyonya Haysa.
"Kau!" Tangan wanita paruh baya itu terangkat, tapi tak dapat melakukan apa-apa untuk melawan Hana.
Kenapa aku merasa Hana begitu berbeda? Seperti orang lain. Dia bukan lagi seorang pengecut seperti dulu. Hana ....
Hati Nyonya Haysa bergumam, mempertanyakan perubahan pada diri Hana.
"Evan, kenapa kau diam saja? Hana sudah keterlaluan, dia tidak bisa dimaafkan," rengek Shopia kepada calon suaminya.
"Kau tenang saja. Aku pasti akan memberinya pelajaran," ucap Evan membuat mereka mengangguk setuju.
hai jalang gk tau diri lo