Tio tidak pernah meminta untuk mati—apalagi tereinkarnasi dan bangun di dunia kultivasi brutal sebagai Ci Lung di Benua Tianlong.
Dengan tekad sederhana untuk hidup tenang di Lembah Sunyi, ia mencoba menjauh dari sekte, perang, dan orang-orang yang bisa membelah gunung hanya dengan bersin. Sayangnya, sebuah sistem misterius muncul, memberinya kekuatan… sekaligus hutang yang terus bertambah.
Lebih sial lagi, dunia mulai salah paham dan menganggapnya sebagai ahli tersembunyi yang menakutkan—padahal tingkat kultivasinya sebenarnya masih pas-pasan.
Di belakangnya berdiri Gu Shentian, guru di puncak Void Realm yang terlalu kuat untuk dijelaskan. Di sampingnya ada Yan Yu, murid kecil yang terlalu percaya bahwa gurunya adalah legenda hidup.
Ci Lung hanya ingin hidup normal.
Masalahnya…
Setiap kali ia mencoba, langit justru retak duluan.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Fandi Pradana, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Murid Yang Datang Sendiri
Ci Lung tidak melakukan apa pun.
Dan justru karena itu, rumor menyebar lebih cepat dari sebelumnya.
Di luar lembah, cerita tentang Penunggu Lembah sudah berubah bentuk. Ada yang bilang ia adalah leluhur yang menolak naik ke alam atas. Ada yang bersumpah melihat iblis berlutut setiap fajar. Bahkan ada yang menyebarkan kabar bahwa lembah itu bernapas—dan akan menelan siapa pun yang masuk tanpa izin.
Ci Lung sendiri sedang tidur siang.
Bangku kayunya masih miring. Ia tidak peduli.
Anak itu datang menjelang sore.
Usianya sekitar sepuluh tahun. Bajunya tipis, robek di beberapa bagian, dan kakinya penuh goresan kecil. Ia berdiri kaku di perbatasan lembah, menatap ke dalam dengan mata campur aduk antara takut dan putus asa.
Ia tidak tahu apa itu zona hitam.
Ia hanya tersesat.
Dan lapar.
Langkahnya ragu-ragu, tapi perutnya lebih keras kepala. Anak itu masuk.
Tidak ada iblis menyerang.
Tidak ada tekanan mencekik.
Ia berjalan sampai melihat bangunan tua—dan seseorang yang sedang tidur sambil mendengkur pelan.
“…orang?” gumamnya.
Ci Lung terbangun karena suara itu.
Ia membuka satu mata, lalu dua.
Mereka saling menatap.
Sangat lama.
“…kok ada bocah, darimana nih?” tanya Ci Lung.
Anak itu refleks mundur selangkah.
“A-aku nggak nyolong!” katanya cepat. “Aku cuma… nyasar.”
Ci Lung duduk, menggaruk kepala.
“Ini lembah larangan, loh.”
Anak itu berkedip. “Ohhhhh.”
Lalu perutnya berbunyi keras.
Ci Lung menutup wajah.
“…ya udah, duduk sini.”
Sistem muncul tanpa basa-basi.
[KONDISI KHUSUS TERPICU]
Target: Manusia Potensial (Usia Dini)
Status: Yatim Piatu
Ci Lung langsung curiga.
“Jangan bilang—”
[PERATURAN WAJIB AKTIF]
Host diwajibkan merekrut target sebagai murid
Ci Lung menoleh ke anak itu, lalu ke sistem.
“…aku gak pernah jadi guru, gimana sih sistem.”
Sistem tidak peduli.
[INSENTIF KHUSUS]
Diskon Kenaikan Level: 90%
Syarat: Rekrutmen Berhasil
Konsekuensi:None
Ci Lung terdiam.
Ia menghitung cepat.
“…ini murah banget.”
Anak itu memperhatikan wajah Ci Lung yang berubah-ubah.
“Senior?”
“Kamu kenapa mukanya kayak mau nyesel?”
Proses rekrutmen berjalan… buruk.
“Tenang, aku bukan orang jahat,” kata Ci Lung.
Anak itu mundur setengah langkah.
“Itu yang jahat selalu bilang.”
Ci Lung menghela napas.
“aku gak minta apa-apa.”
“Justru itu serem.”
Ci Lung memijat pelipis.
“aku cuma pengen ngajarin dikit, terus hidup tenang.”
Anak itu menatapnya ragu.
“Kata orang-orang, yang tinggal di lembah ini makan manusia.”
Ci Lung tersedak.
“…siapa yang nyebarin rumor kayak gitu.”
Akhirnya, Ci Lung menyerah dan melakukan satu hal yang paling masuk akal.
Ia mengeluarkan sup hangat.
Anak itu langsung luluh.
Setelah makan, anak itu duduk bersila, menatap Ci Lung dengan mata berbinar.
“Se-senior… kalau aku jadi murid, aku boleh makan tiap hari?”
Ci Lung terdiam sejenak.
“…boleh.”
Anak itu menunduk dalam-dalam.
“Kalau begitu… Guru.”
Sistem langsung menyala.
[REKRUTMEN BERHASIL]
Status: GURU–MURID TERBENTUK
Ci Lung menghela napas panjang.
“…selesai.”
Namun belum selesai.
[PERINGATAN]
Poin Pengakuan Dunia Tidak Cukup untuk Kenaikan Level
Ci Lung mematung membeku karena poin sebelumnya sudah diambil paksa untuk kultivasi.
“…LAH, APA APAAN?”
[OPSIONAL: SKEMA UTANG SISTEM]
• Bunga: 10 poin per 100 poin
• Contoh: Utang 100 → Kembalian 150
Ci Lung membaca dua kali.
“…ini rentenir kosmik, ada penagihnya gak ya nanti.”
Sistem tidak menjawab.
Ia menatap anak itu yang sedang mengantuk.
“…D-dewaaa, semua ini demi diskon.”
[UTANG DIAKTIFKAN]
Jumlah: 100 poin
Tekanan halus menyelimuti lembah.
Qi bergerak.
[KENAIKAN LEVEL BERHASIL MENCAPAI LAYER KE 4]
Biaya: DISKON 90%
Sisa Kewajiban: 150 poin
Ci Lung jatuh terduduk.
“…duhh, aku sih naik level, tapi punya cicilan juga.”
Anak itu menguap.
“Guru, cicilan itu apa?”
Ci Lung menatap langit.
“…sebuah kutukan.”
Di luar lembah, rumor baru muncul.
“Penunggu Lembah menerima anak?.”
Ketakutan naik.
Poin bertambah.
Dan Ci Lung sadar satu hal pahit:
hidup tenangnya barusan
resmi berakhir.
Dan kalo boleh jujur,
Kalau authornya konsisten pakai gaya ini, ini bisa jadi ciri khas yang beda dari pasar murim mainstream, aku bakal lanjut baca.
Inget thor aku bakal jadi salah satu pembaca yang marah kalo Yan yuu kenapa-kenapa😠