Karina rela melepaskan identitas dan membuang kemewahan yang dimilikinya sebagai putri tunggal keluarga Wijaya hanya untuk bersama Agus, ia jatuh cinta pada Agus karena kebaikan dan kejujurannya.
Pernikahannya tampak begitu sempurna dan bahagia, hingga Agus pun sudah menjadi pria sukses berkat dukungan dan bantuan Karina. Sayangnya dengan kesuksesannya, Agus justru terlena dan mengkhianati pernikahan yang sudah terjalin selama bertahun-tahun itu.
Bagaimana kisah selanjutnya? Apa yang akan terjadi pada pernikahan Karina dan Agus? Apa yang akan dilakukan Karina?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon elaretaa, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Perusahaanku Bersih?
Sidang putusan perceraian di Pengadilan berlangsung dengan atmosfer yang dingin, Agus duduk di kursi penggugat dengan dagu terangkat tinggi, ia mengenakan setelan jas Italia terbaru seolah-olah sedang menghadiri pesta peluncuran produk, bukan sidang perceraian. Di sampingnya, Sabrina tampak berseri-seri dengan gaun mini formal dan riasan wajah yang sangat tebal.
Ketidakhadiran Karina untuk kesekian kalinya membuat proses hukum ini berjalan sangat mulus bagi Agus.
"Karena tergugat, Nyonya Karina, telah dipanggil secara patuh sebanyak tiga kali namun tetap tidak hadir tanpa alasan yang sah, maka sidang hari ini dilanjutkan dengan pembacaan putusan secara verstek," ucap Hakim Ketua sambil mengetukkan palunya.
Mendengar kata hakim, Agus hampir saja bersorak. Dalam waktu singkat, hakim membacakan amar putusan yang menyatakan perkawinan mereka putus karena perceraian, Agus tersenyum puas saat hakim juga mengabulkan permohonan pembagian harta gono-gini yang sudah dimanipulasi oleh pengacaranya, di mana Karina hanya mendapatkan rumah tua dan tabungan yang jumlahnya tak seberapa dibandingkan aset jutaan dolar yang dikuasai Agus.
"Selamat, Mas! Akhirnya kamu bebas dari beban itu," bisik Sabrina sambil memeluk lengan Agus erat saat mereka keluar dari ruang sidang.
"Ini baru permulaan, sayang. Berkat Paman Jake, proyek Mega City berjalan lancar dan sekarang wanita pembawa sial itu resmi keluar dari hidupku, mari kita rayakan kemenangan kita!" seru Agus dengan nada angkuh.
Lalu Agus segera mengeluarkan ponselnya dan mengirim pesan terakhir kepada Karina.
[Hari ini hakim memutus cerai, kamu bukan lagi istriku. Jadi, jangan pernah tunjukkan wajahmu di depanku lagi atau aku akan melaporkanmu atas gangguan kenyamanan]
Di saat yang sama, di balkon kediaman Wijaya, Karina membaca pesan itu dengan ekspresi datar. Karina tidak membalas. ia hanya menekan tombol hapus dan mematikan ponselnya.
"Nona, Pengadilan sudah memutuskan perceraian anda dan mantan suami anda," tanya Yessi.
"Bagus, rantai yang mengikatku selama dua puluh tahun sudah putus. Sekarang, aku tidak perlu lagi menahan diri karena alasan istri," gumam Karina.
"Lalu apa yang selanjutnya dilakukan Nona?" tanya Yessi.
"Agus bisa mengatasi masalahnya karena si Jake sialan itu, maka kita buat Jake hancur. Jadi, saat Agus dalam masalah, ia tidak bisa meminta bantuan si Jake itu," ucap Karina.
Karina berdiri dari kursinya dan berjalan mendekati pagar balkon dan menatap taman luas kediaman Wijaya yang dulu sangat dicintai mendiang ibunya, angin berhembus pelan hingga menerbangkan beberapa helai rambutnya yang tertata rapi.
"Yessi," panggil Karina tanpa menoleh.
"Ya, Nona?" tanya Yessi.
"Cari tahu semua proyek yang pernah disentuh oleh Jake dalam lima tahun terakhir, Paman Andri pernah bilang bahwa orang-orang seperti Jake tidak pernah puas hanya dengan gaji negara. Dia pasti memiliki kantong-kantong rahasia," perintah Karina.
Yessi mengangguk, "Sudah saya duga Nona akan meminta itu, tim audit internal Wijaya sudah mulai menyisir aliran dana hibah di kementerian tempat Jake bernaung. Kami menemukan pola menarik, di mana setiap kali ada proyek strategis, maka selalu ada perusahaan konsultan yang baru berdiri mendapatkan jatah kontrak besar dan setelah kami telusuri, pemilik sah dari perusahaan-perusahaan itu adalah istri simpanan Jake," ucap Yessi.
Karina tersenyum sinis, "Apa buktinya sudah kuat?" tanya Karina.
"Sudah, Nona," jawab Yessi.
"Kalau begitu, serahkan bukti itu pada pihak berwajib. Aku ingin Jake segera di proses, agar rencanaku untuk menghancurkan Agus tidak ada yang menghalangi lagi," ucap Karina.
"Baik, Nona.
"Lakukan dengan rapi, Yessi. Jangan sampai ada jejak Grup Wijaya di sana. Gunakan pihak ketiga untuk mengirimkan dokumen itu ke pihak berwajib," ucap Karina.
"Baik, Nona. Dalam waktu kurang dari dua puluh empat jam, bukti itu akan berada di pihak berwajib," jawab Yessi dengan patuh sebelum melangkah pergi meninggalkan balkon.
Karina menarik napas panjang dan menghirup aroma tanah basah setelah hujan, pikirannya melayang pada Agus, pria itu baru saja mengiriminya pesan kemenangan dan merasa telah berhasil membuangnya seperti sampah.
Agus tidak sadar bahwa dengan putusnya ikatan pernikahan ini, Karina tidak lagi memiliki kewajiban moral untuk melindunginya dari kehancuran yang ia ciptakan sendiri.
Berita penangkapan Jake meledak seperti bom di seluruh stasiun televisi nasional dan portal berita daring keesokan paginya, cuplikan video yang memperlihatkan Jake digiring keluar dari kantornya dengan rompi oranye dan tangan terborgol menjadi headline di mana-mana.
Dugaan korupsi proyek strategis dan pencucian uang melalui perusahaan cangkang menjadi topik hangat yang membuat bursa saham bergejolak.
Di kantornya yang megah, Agus menjatuhkan cangkir kopi porselennya hingga pecah berkeping-keping. Wajahnya pucat pasi, keringat dingin membasahi kemeja mahalnya.
"Haris! Haris, kemari!" teriak Agus dengan suara serak.
Haris berlari masuk dengan wajah yang tak kalah panik, "Pak, anda sudah lihat beritanya? Pak Jake ditangkap! Nama perusahaan kita disebut-sebut dalam dokumen yang disita petugas!" ucap Haris.
"Itu dia masalahnya! Kalau dia buka mulut tentang aliran dana pelicin yang kita berikan lewat perusahaan konsultannya, aku tamat! Aku bisa menyusulnya ke penjara hari ini juga," ucap Agus.
Agus mondar-mandir seperti singa yang terjebak dalam sangkar, ia membayangkan masa depannya yang hancur di jeruji besi, kemiskinan dan hinaan publik. Namun, di tengah kepanikan itu, pintu ruang kerja terbuka perlahan. Sabrina melangkah masuk dengan tenang, bahkan ada seulas senyum tipis di bibirnya yang dipulas lipstik merah menyala.
"Mas, kenapa kamu berisik sekali? Suaramu terdengar sampai luar," ucap Sabrina sambil duduk santai di kursi sofa.
"Sabrina! Bagaimana kamu bisa setenang ini? Pamanmu ditangkap! Kita dalam bahaya besar!" bentak Agus.
Sabrina tertawa kecil, suara tawa yang terdengar sangat kontras dengan suasana mencekam di ruangan itu. "Tenanglah, Mas. Aku sudah mengatur semuanya sejak awal, kamu pikir aku sebodoh itu membiarkan suamiku terseret dalam masalah Paman Jake," ucap Sabrina.
Agus menghentikan langkahnya dan menatap Sabrina dengan penuh tanda tanya, "Maksudmu?" tanya Agus.
Sabrina mengeluarkan sebuah map transparan dari tasnya, "Semua dana yang kamu berikan kepada Paman Jake tidak pernah keluar atas nama Agus Materialindo. Secara administratif, dana itu dicatat sebagai investasi di sebuah yayasan pendidikan yang ternyata dikelola oleh orang suruhanku dan perusahaan yang menerima proyek di bawah pengaruh Paman Jake? Secara hukum, itu adalah sub-kontraktor independen yang tidak memiliki keterkaitan saham denganmu," ucap Sabrina.
Agus mengambil map itu, tangannya gemetar saat membaca dokumen-dokumen di dalamnya, "Jadi... perusahaanku bersih?" tanya Agus.
"Secara hukum, ya. Kamu aman dari kasus korupsi Paman Jake, aku sudah memutus semua jejak kertasnya bahkan sebelum kontrak itu ditandatangani. Paman Jake mungkin jatuh, tapi kamu tidak akan tersentuh hukum untuk saat ini," ucap Sabrina.
Agus mengembuskan napas lega yang sangat panjang, ia merasa seolah-olah baru saja diberikan nyawa kedua dan ia segera memeluk Sabrina erat-erat.
"Sayang, kamu luar biasa! Kamu benar-benar penyelamatku! Aku tidak salah memilihmu menjadi istriku," ucap Agus.
"Jelas sayang, aku bisa diandalkan bukan," ucap Sabrina dan diangguki Agus.
.
.
.
Bersambung.....