Nayla Safira Hanin adalah siswi jenius yang lebih suka tidur di atap sekolah daripada di kelas. Namun di balik hijabnya, ia adalah petarung jalanan tak terkalahkan yang sanggup melumpuhkan lawan dalam hitungan detik. Kebebasannya terenggut saat dosa masa lalu sang ayah terungkap: setahun lalu, ayahnya tak sengaja menabrak istri seorang konglomerat hingga tewas.
Keluarga Hasyim datang bukan untuk meminta ganti rugi uang, melainkan "hutang nyawa". Nayla dipaksa menikah dengan Adnan Hasyim, pria dingin yang membenci keluarga Nayla sedalam cintanya pada mendiang istrinya. Adnan hanya butuh pengasuh untuk putrinya, Adiva, yang berhenti bicara sejak kecelakaan tragis itu.
Kini, Nayla terjebak sebagai istri dari pria yang menganggapnya beban sekaligus musuh. Adnan tak menyadari bahwa istri "kecil" yang tengil ini adalah satu-satunya pelindung yang akan mempertaruhkan nyawa saat musuh bisnis mulai mengincar keluarganya. Mampukah kepalan tangan Nayla meruntuhkan tembok kebencian Adnan,?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Ramanda, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
BATER NYAWA DIATAS KERTAS.
"Berapa kali gue bilang, jangan pernah lo sentuh barang orang lain kalau nggak mau tangan lo berakhir di tukang urut?"
Suara cempreng namun penuh otoritas itu menggema di belakang gudang SMA Garuda Bangsa. Nayla Safira Hanin berdiri dengan kedua kaki yang terbuka lebar, membentuk kuda-kuda kokoh. Hijab putihnya yang melilit rapi sedikit berantakan karena ia baru saja mendaratkan tendangan sabit ke paha seorang preman sekolah yang badannya dua kali lipat darinya.
"Nay, ampun! Sumpah, cuma pinjem!" rintih siswa itu sambil terseret mundur, memegangi pahanya yang terasa seperti dihantam balok beton.
Nayla menyeringai tengil, memutar-mutar kunci motor di telunjuknya dengan gaya meremehkan. "Pinjem itu kalau yang punya tahu, kampret. Kalau diam-diam, itu namanya rampok kelas teri. Sekarang, balikin buku catatan dia atau gue bikin lo nggak bisa jalan ke kantin sebulan?"
Siswa itu lari terbirit-birit setelah melempar buku yang ia curi. Nayla menghela napas, merapikan sedikit ujung jilbabnya yang bergeser.
"Gila lo, Nay. Cantik-cantik tapi kalau udah keluar jurus bela diri, preman pasar pun lewat," puji Farah, sahabatnya, sambil menyodorkan botol minum. "Tapi lo nggak takut dilaporin ke guru? Tadi itu brutal, lho."
Nayla menenggak airnya dengan rakus, lalu menyeka bibirnya dengan punggung tangan, sebuah gerakan yang sangat tidak feminin. "Guru mana yang berani laporin aset emas sekolah? Gue baru minggu lalu sumbang piala olimpiade matematika. Selama gue benar, dunia ini cuma panggung sirkus buat gue, Far." Ia tertawa kecil, menunjukkan sisi tengilnya yang tak kenal takut. Baginya, hidup adalah tentang kemenangan—baik di atas kertas ujian maupun di atas aspal jalanan.
Namun, kepercayaan diri Nayla menguap saat ia tiba di depan rumahnya sore itu. Sebuah sedan mewah hitam terparkir kaku di depan teras rumahnya yang catnya sudah mulai mengelupas. Nayla mengernyit. Firasatnya memberikan alarm bahaya yang jauh lebih besar daripada sekadar tawuran antar sekolah.
Begitu ia melangkah masuk, ia melihat Ayahnya, Ibram Hanin, duduk bersimpuh di atas karpet ruang tamu. Kepalanya menunduk dalam, bahunya gemetar hebat seolah sedang memikul beban ribuan ton. Di hadapannya, duduk sepasang suami istri lanjut usia yang penampilannya sangat kontras dengan kesederhanaan rumah Nayla. Mereka adalah orang tua dari pengusaha besar, keluarga Hasyim.
"Nayla, kau sudah pulang?" suara Ibram terdengar parau, nyaris berbisik.
Wanita tua di depan Ibram, yang mengenakan perhiasan mutiara yang sangat mahal, menoleh ke arah Nayla. Matanya tajam, mengamati Nayla dari ujung kaki hingga ujung kepala. "Jadi, ini gadisnya?"
"Nayla, duduklah," pinta Ibram dengan nada memohon yang membuat hati Nayla tersayat.
Nayla duduk di samping Ayahnya, tangannya segera menggenggam jemari Ayahnya yang terasa dingin. "Ada apa ini, Yah? Siapa mereka?"
Pria tua di samping wanita itu, Hendra Hasyim, berdehem. Suaranya berat dan penuh wibawa. "Satu tahun lalu, ayahmu mengendarai mobil dengan kurang waspada di dekat taman kota. Putri kecil kami, Adiva, berlari ke jalan. Menantu kami istri Adnan melompat untuk menyelamatkan nyawanya. Adiva selamat, tapi ibu dari cucu kami tewas di tempat di bawah roda mobil ayahmu."
Nayla mematung. Wajahnya pucat pasi. Ia menatap ayahnya dengan rasa tidak percaya. "Yah... ini benar?"
Ibram hanya bisa menangis sesenggukan. "Ayah tidak sengaja, Nay. Semuanya begitu cepat... Ayah sangat merasa bersalah..."
"Kami memegang semua bukti kecelakaan itu," sela Hartati dengan nada yang tidak terbantahkan. "Satu tahun kami menunda tuntutan ini karena putra kami, Adnan Hasyim, sempat melarang. Tapi kami tidak bisa tinggal diam melihat Adnan menjadi pria dingin yang tak lagi peduli pada dirinya sendiri, dan melihat cucu kami, Adiva, trauma hingga tak mau bicara pada siapapun."
Nayla merasakan firasat buruk menyergapnya. "Lalu, apa hubungannya dengan saya?"
Hendra mencondongkan tubuhnya. "Adnan butuh seseorang yang bisa mengurus rumah tangganya dan terutama, seseorang yang cukup kuat untuk melindungi serta mendidik Adiva. Kami mencari tahu tentangmu, Nayla. Kamu cerdas, tangguh, dan punya nyali. Kami ingin kau menggantikan posisi ibu bagi Adiva."
"Maksud Anda... saya harus menikah dengan putra Anda?!" seru Nayla, suaranya naik satu oktaf karena terkejut. "Saya masih delapan belas tahun! Saya masih sekolah! Anak Anda itu... dia seorang duda!"
"Pilihannya sederhana, Nayla," Hartati meletakkan sebuah map hitam di atas meja. "Kau setuju menikah dengan Adnan minggu depan, atau kami akan menyerahkan berkas ini ke kepolisian sore ini juga. Dengan bukti yang kami miliki, ayahmu bisa dipenjara minimal sepuluh tahun karena kelalaian yang menyebabkan hilangnya nyawa."
"Tolong... jangan penjara saya," rintih Ibram, ia hampir hendak mencium kaki Nyonya Hasyim jika saja Nayla tidak menahannya.
"Yah, jangan!" Nayla menarik ayahnya kembali. Ia menatap kedua orang tua itu dengan mata yang berkaca-kaca namun penuh kemarahan yang tertahan. "Ini pemerasan! Kalian tidak bisa memaksakan pernikahan karena sebuah kecelakaan!"
"Ini bukan pemerasan, ini barter nyawa," balas Hartati dingin. "Adnan butuh seseorang yang bisa 'menjaga' rumah. Kami tahu kamu jago berkelahi. Gunakan bakat premanmu itu untuk melindungi cucu kami dari ancaman luar. Sebagai imbalannya, ayahmu bebas, dan seluruh biaya hidupmu akan kami tanggung."
Nayla menatap ayahnya yang tampak begitu rapuh. Ibram Hanin adalah segalanya bagi Nayla. Sejak ibunya meninggal, ayahnya adalah satu-satunya orang yang memeluknya saat ia menangis dan menyemangatinya saat ia bertanding. Ia tidak sanggup membayangkan pria tua itu harus tidur di lantai penjara yang dingin hanya karena satu kesalahan fatal di masa lalu.
Nayla mengepalkan tangannya hingga buku-bukunya memutih. Sebagai petarung, ia selalu diajarkan bahwa menyerah adalah penghinaan. Namun, kali ini, lawan yang dihadapinya bukan manusia yang bisa dijatuhkan dengan teknik double leg takedown. Lawannya adalah hukum dan rasa bersalah.
"Oke," ucap Nayla, suaranya bergetar namun matanya tajam. "Saya setuju. Saya akan nikah sama duda itu."
"Nayla, jangan, Nak! Jangan hancurkan masa depanmu!" Ibram berteriak histeris, memeluk kaki putrinya.
Nayla mengusap air mata yang luruh, lalu tersenyum tengil—senyum paling getir yang pernah ia tunjukkan. "Tenang aja, Yah. Nayla kan jagoan. Kalau si Adnan itu macam-macam, Nayla tinggal banting dia ke lantai. Lagian, lumayan kan punya suami kaya? Nayla nggak perlu pusing mikirin uang saku lagi."
Hartati berdiri, tampak puas. "Pilihan yang bijaksana. Persiapkan dirimu. Minggu depan pernikahan akan dilakukan secara tertutup. Dan ingat, Nayla... jangan coba-coba lari, atau kau akan tahu bagaimana rasanya dihancurkan oleh kekuatan uang keluarga Hasyim."
Begitu kedua orang tua itu pergi dengan langkah angkuhnya, pertahanan Nayla runtuh. Ia jatuh terduduk di lantai, memeluk tas sekolahnya yang masih berisi buku olimpiade matematika. Cita-citanya untuk kuliah di universitas ternama seolah meledak menjadi serpihan tak berarti.
"Satu duda kaku dan satu bocah trauma," gumam Nayla pada dirinya sendiri. Ia menyeka air matanya dengan kasar. "Dengar ya, dunia. Kalau kalian mau main-main sama Nayla Safira, kalian salah pilih lawan. Gue bakal jadi istri sekaligus bodyguard yang bakal bikin rumah kalian nggak akan pernah sama lagi."
Malam itu, di bawah temaram lampu kamar, Nayla menatap foto Adnan Hasyim yang dikirimkan melalui pesan singkat oleh asisten keluarga tersebut. Wajah pria itu sangat tampan, namun matanya kosong, sedingin es kutub.
"Siap-siap ya, Tuan Adnan," bisik Nayla sambil mengepalkan tangan. "Gue bukan cuma bakal tebus dosa Ayah, tapi gue bakal bikin lo sadar kalau punya istri 'preman' itu adalah mimpi buruk sekaligus keberuntungan terbesar dalam hidup lo."
kuueeeereeeeennnnn..........🌹🔥🔥🔥🔥🔥