Marvel Dewangsa sadar bahwa hatinya sudah lama mati. Mungkin dari pengkhianatan oleh wanita yang ia sayangi, ditambah ia yang berkecimpung di dunia bawah yang tidak memerlukan simpati untuk bertahan hidup. Ia akhirnya percaya bahwa hidupnya akan seallau gelap sampai mati.
Namun, entah keajaiban apa, di hari itu seorang wanita yang bernama Elara , datang dan perlahan selalau ada di kehidupannya. Apakah marvel Dewangsa akan menerima Elara di kehidupannya dan hatinya akan luluh?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon erinaCalistaAzahra, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
tangan kanan "the silencer"
Tangan kanan marvel adalah Marco "The Silencer" Vega. Jika marvel adalah otak yang dingin, maka Marco adalah belati yang tak pernah meleset. Ia telah berdiri di samping Marvel sejak mereka masih merangkak di jalanan kumuh, jauh sebelum takhta Moretti dibangun di atas tumpukan emas dan peluru.
Pagi itu, saat marvel dan Elara sedang menikmati ketenangan di balkon, Marco muncul di ambang pintu kaca. Ia tidak bersuara, hanya berdiri tegak dengan setelan jas abu-abu arang yang rapi, namun matanya yang tajam menyiratkan bahwa dunia sedang tidak baik-baik saja.
Loyalitas Tanpa Batas: Marco adalah satu-satunya orang yang diizinkan marvel memegang senjata di ruangan yang sama dengan Elara. Ia bukan sekadar anak buah; ia adalah bayangan marvel.
Pembawa Pesan Kematian: Marco mendekat perlahan, menunggu isyarat mata dari marvel sebelum berbicara. Ia meletakkan sebuah map hitam di meja sarapan, tepat di samping cangkir kopi Elara, namun dengan gerakan yang sangat sopan.
Suara Logika: "Bos," suara Marco rendah dan parau, "penyusup semalam bukan dari klan yang kita duga. Nama yang dia bisikkan sebelum mati... itu adalah nama yang seharusnya sudah terkubur sepuluh tahun lalu."
Marvel menegang. Ia melirik Elara sejenak, lalu menatap Marco dengan tatapan yang bisa membekukan api. Marco mengerti tanpa perlu diperintah; ia segera berdiri sedikit di depan Elara, secara insting memposisikan dirinya sebagai perisai manusia kedua.
"Siapkan unit Spectre," desis marvel. "Dan Marco... pastikan tidak ada satu pun bayangan yang melewati gerbang ini tanpa izinmu."
Marco mengangguk kaku, menyentuh pinggiran topinya sebagai penghormatan kepada Elara, lalu menghilang kembali ke dalam kegelapan lorong vila secepat ia datang.
Bagi Marco, Elara bukan hanya istri bosnya; Elara adalah satu-satunya alasan marvel masih memiliki sisa kemanusiaan, dan Marco akan membakar seluruh Italia jika itu diperlukan untuk menjaga sisa kemanusiaan sahabatnya tetap hidup.
Marco bergerak dengan presisi yang hanya dimiliki oleh mereka yang telah lama menelan pahitnya dunia hitam. Sebagai tangan kanan marvel ,ia bukan sekadar pengawal, melainkan Consigliere—penasihat sekaligus eksekutor bayangan yang memastikan setiap langkah strategi Vico tidak bercela.
Interogasi di Balik Layar: Sementara marvel menikmati sarapan dengan Elara, Marco berada di ruang kedap suara di bawah vila. Ia sedang "berbincang" dengan sisa-sisa penyusup semalam. Marco tidak menggunakan kekerasan fisik yang berlebihan; ia menggunakan teror psikologis, menyebutkan nama-nama anggota keluarga si penyusup hingga pria itu menangis ketakutan.
Penyaring Informasi: Marco menyortir ratusan pesan ancaman yang masuk ke server rahasia Dewangsa. Ia hanya menyampaikan hal yang benar-benar krusial kepada marvel agar sang bos bisa tetap fokus pada ketenangan Elara.
Insting Pelindung: Setiap kali Marco melintasi ruang tengah, ia memastikan posisi para penembak jitu di perbukitan Amalfi melalui radio internal. Baginya, keselamatan Alya adalah perintah suci karena ia tahu, jika Alya terluka, marvel akan benar-benar kehilangan kemanusiaannya dan menjadi monster yang tak terkendali.
Saat marvel melangkah masuk menemui Marco di ruang kerjanya, Marco hanya memberikan sebuah amplop cokelat.
"Namanya terkonfirmasi, Bos," suara Marco tetap datar, tanpa emosi. "Ini bukan sekadar koalisi geng kecil. Ini adalah 'The Ghost', orang yang kau pikir sudah kau habisi di dermaga sepuluh tahun lalu."
marvel menatap foto di dalam amplop itu. Rahangnya mengeras. Marco menyadari badai besar akan datang, dan ia sudah menyiapkan senjatanya.
"Unit Spectre sudah dalam posisi, Bos," lanjut Marco. "Cukup katakan kapan kita mulai membakar markas mereka."
Pembersihan Senyap: Marco tidak menunggu perintah kedua. Sambil marvel menemani Elara, Marco memimpin unit Spectre untuk menyisir setiap sudut kota. Ia menggunakan jaringan informannya untuk melacak keberadaan "The Ghost". Marco dikenal dengan metode "tanpa jejak"—targetnya hilang begitu saja tanpa pernah ditemukan kembali.
Interogasi Psikologis: Marco berhasil menangkap salah satu kurir yang mengirim pesan ancaman. Alih-alih menyiksa secara fisik, Marco hanya duduk diam di depan pria itu selama berjam-jam dalam kegelapan, memainkan koin emas keberuntungannya. Keheningan Marco jauh lebih menakutkan daripada teriakan mana pun, hingga akhirnya si kurir membocorkan lokasi persembunyian musuh.
Sumpah Setia: Marco menemui marvel di ruang kerja. Ia meletakkan sepasang senjata kustom di atas meja. "Bos, jika masa lalu kembali untuk menjemput kita, mereka harus melewati tumpukan mayat yang kubuat lebih dulu. Elara dan bayimu tidak akan pernah melihat setetes pun darah di rumah ini."
Perisai Terakhir: Saat malam tiba, Marco berjaga di gerbang utama vila. Ia mengenakan earpiece taktis, matanya yang tajam memindai kegelapan melalui teropong malam. Baginya, tugas ini bukan lagi soal uang atau kekuasaan, melainkan menjaga satu-satunya keluarga yang tersisa bagi sahabatnya.
Sementara itu, di dalam vila, marvel menatap Elara yang tertidur. Ia tahu bahwa dengan adanya Marco di sisinya, ia memiliki peluang untuk memenangkan perang terakhir ini. Namun, "The Ghost" bukan musuh biasa—dia tahu semua rahasia masa muda marvel dan Marco.
Marco bukan sekadar tangan kanan; ia adalah anjing perang yang hanya patuh pada satu tuan: marvel Dewangsa. Jika marvel adalah "The Glacier" (Gletser) yang tenang dan masif, maka Marco adalah "The Scalpel" (Pisau Bedah) yang menyayat tanpa suara.
Malam itu, di ruang bawah tanah vila yang kedap suara, Marco menunjukkan mengapa ia adalah orang paling ditakuti kedua di seluruh Italia:
Interogasi Dingin: Marco duduk di hadapan tawanan terakhir dari unit penyusup. Ia tidak berteriak. Ia hanya menyesap espresonya dengan tenang sambil sesekali melirik jam tangannyanya .
"Kau punya tiga menit sebelum aku mulai mengirimkan potongan jarimu ke istrimu di Palermo," ucapnya datar. Tekanan mental ini jauh lebih efektif daripada siksaan fisik apa pun.
Kesetiaan Berdarah: Marco memiliki tato kecil di pergelangan tangannya—lambang keluarga Dewangsa yang terbakar. Itu adalah pengingat bahwa ia berhutang nyawa pada marvel sejak mereka remaja di jalanan Napoli. Baginya, melindungi Elara dan calon bayi marvel adalah tugas suci, bahkan jika ia harus mengorbankan nyawanya sendiri.
Membuka Rahasia "The Ghost": Marco menyerahkan sebuah dokumen tua yang sudah menguning kepada marvel. "Bos, pria ini... The Ghost. Dia bukan sekadar hantu dari masa lalu. Dia adalah alasan mengapa orang tuamu tewas dalam ledakan mobil itu dua puluh tahun lalu. Dia kembali bukan untuk bisnis, tapi untuk menghapus garis keturunan Moretti."
marvel meremas dokumen itu hingga hancur. Marco berdiri tegak, mengokang senjata otomatisnya. "Tim Spectre sudah di posisi, Bos. Kita tidak akan menunggu mereka menyerang lagi. Kita akan menjemput maut di depan pintu rumah mereka."
Di atas mereka, di kamar yang hangat, Elara masih terlelap. Namun di bawah tanah, dua pria paling berbahaya di dunia ini sedang merencanakan pembersihan massal yang akan diingat sejarah mafia selamanya.