Ibarat luka jahitan saja belum sepenuhnya kering. Tepat 27 hari setelah kematian bayinya, Hana dikejutkan dengan surat gugatan cerai yang Dzaki layangkan untuknya.
Status Whatsaap Mona-sahabat Hana, tertulis "First day honeymoon". Dan Hana yakin betul, pria menghadap belakang yang tengah Mona ajak foto itu adalah suaminya-Dzaki.
Sudah cukup!
Hana usap kasar air matanya. Memutuskan keluar dari rumah. Kepergian Hana menjadi pertemuanya dengan sosok bayi mungil yang tengah dehidrasi akibat kekurangan Asi. Dengan suka rela Hana menyumbangkan Asinya pada bocah bernama~Keira, bayi berusia 2 bulan yang di tinggalkan begitu saja oleh Ibunya.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Septi.sari, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 27
Setibanya di rumah, langkah Hana dan Danish di hadang Bu Ana yang juga sudah bersiap keluar, rapi dengan jas kantornya. Wanita tua itu selalu tersenyum hangat, tidak pernah menampakan wajah murung kepada putra putrinya.
"Loh, cucunya Oma udah bobok aja sih," gemas Bu Ana mengusap lembut wajah Keira yang begitu nyenyak dalam dekapan Hana.
Hana juga ikut tersenyum kecil, pandanganya masih melekat pada sosok bayi mungil itu. "Kecapean dia, Bu! Ya sudah, Hana pamit mau tiduri Keira dulu," ucapnya seraya beranjak ke dalam.
Bu Ana mengangguk. Ia usap bahu Ibu susu cucunya itu. "Jangan lupa sarapannya, Han! Makan apa aja yang di masak Bik Jumi. Dan... Nggak usah sungkan-sungkan! Di dalam kulkas dan di lemari kaca sebelah meja makan juga ada beberapa cemilan. Makan saja ya!"
"Baik, terimakasih Bu!" Hana berlalu membawa Keira masuk ke dalam.
Danish masih bergeming tak terpengaruh. Barulah ia siap, ketika Ibunya membuka suara. "Sebentar, Lukman juga Mamah ajak meting, biar bisa lihat bagaimana cara kerja kamu."
Dan tak lama itu, sosok tampan anti wanita keluar dengan wajah cerah, penampilan terbaiknya. Lukman mengenakan setelan jas tanpa dasi, dan seperti biasa selalu menunjukan senyum pepsodentnya.
"Bagaimana, i'am ready Brother," godanya kepada Danish.
Begitu lengan sang adik merengkuh pundah kakaknya, Danish tetiba menutup hidung baikan mencium aroma khas toilet umum. "Buset... Kamu mandi nggak sih, Luk? Bau banget!" ledeknya.
Lukman seketika menurunkan tanganya, mengendus kedua bahunya secara bergantian. "Mana ada, kamu ngawur aja, Mas! Mahhhh...." rengeknya kepada Bu Ana. "Nih, wangi 'kan?" melasnya menyodorkan sebelah bahunya.
Bu Ana yang sudah lelah setiap hari melihat pertikaian kedua putranya, langsung saja berlalu sambil menjawab. "Percuma wangi kalau nggak suka wanita!"
Danish mengangkat pundaknya acuh, lalu juga melenggang mengikuti Mamahnya masuk ke dalam mobil.
"Eh, Mamah enak aja! Dia kira aku nggak normal apa. Aku juga bisa kok cinta wanita, tapi ya... Emang belum nemu jodohnya aja," gerutu Lukman dengan malas mengikuti langkah Mamah dan Kakaknya.
Mobil sudah melaju dengan kecepatan rata-rata menuju hotel yang akan Danish datangi untuk melalukan meting pagi ini.
Ke-3 orang di dalam tengah sibuk dalam fokusnya masing-masing. Lukman dengan kemudinya, Bu Ana dengan beberapa laporan di pangkuannya, sementara Danish tengah mempelajari beberapa visi dan misi untuk ia presentasikan nantinya.
Bu Ana tetiba membuka suara. "Oh ya, Dan... Mamah tadi habis telfon Rangga, emangnya bener ya, dia ada projek di Bangkok?"
Danish menoleh sebatas bahu. "Iya, bener, Mah! Kemarin malam Rangga habis telfon juga sama Danish. Tapi baguslah... Dia pinter cari peluang di sana."
Bu Ana semakin memajukan cara duduknya. Tanganya menepuk bahu sang putra sekilas, seakan pembicaraanya itu sangat sensitif. "Itu, kok adiknya-si Ruben nggak di ajak aja ya? Kan biar bisa bantu perusahaan juga."
Danish menghela napas berat. "Ya elah, Mah... Kok malah jadi gibahin orang sih?!" sahut Lukman merasa sebal.
Bu Ana menonyor kepala putra keduanya itu. "Kamu jomblo nggak di ajak bicara! Udah, diem aja!" ejeknya.
Lalu tak lama itu Danish menimpali, "Ya... Semua orang punya pandangan masing-masing, Mah! Ruben nggak akan bisa masuk dalam dunia kakaknya. Jiwa bisnis mereka udah beda. Sejak dulu pun anak itu sangat menggilai otomotif. Jadi, dunia Ruben nggak akan jauh dari bengkel, pabrik besar yang merancang keluaran mobil terbaru, dan ya... Ya kaya itu."
"Iya, Mamah itu aneh baget! Ruben sama Rangga jauh berbeda," sahut Lukman tanpa dosa.
Bu Ana menghela napas berat. Lalu kembali menyeret duduknya kebelakang. "Iya, itu sama kayak kamu dan Kakakmu! Kamu kaya Rangga nggak nikah-nikah! Mau tunggu apa lagi?"
Lukman menatap kaca yang menggantung didepanya. Senyum kuda kembali merekah. "Lukman tunggu Hana saja, boleh nggak Mah?" godanya.
Danish spontan menurunkan ipad kerjanya. Tenggorokanya tetiba terasa kering, hingga ia menyambar botol mineral untuk dirinya tenggak. Setelah itu, pandanganya jatuh pada Lukman yang tengah bersiul kecil menunggu jawaban Mamahnya.
"Ya... Nggak papa sih, Luk! Mamah nggak pernah permasalahi status sosial sebagai tolak ukur! Tapi, emang Hana mau sama pria belok kaya kamu?" balas Bu Ana berwajah lelah.
Di tambah kalimat Ibunya barusan, Danish semakin tercekik hingga menghela napas saja terasa sulit.
Lukman tak sengaja menoleh. Matanya tiba-tiba mendelik. "Kata Arka; Paman Danish cenyum dong? Janan galak-galak," ucapnya menirukan suara cadel Arka.
"Nggak bisa! Hana sudah aku kontrak selama 2 tahun. Kamu cari aja wanita lain," kecam Danish sambil memalingkan wajahnya kedepan.
"Ya... Biarin Mas. Kan nggak papa kalau cuma jadi Ibu susu. Aku bakal tetep terima kok," ucap Lukman seolah tengah meyakinkan.
Dada Danish sudah kembang kempis, ingin sekali mengajak adiknya itu adu boxing. Namun, di tengah suasana pecah itu, tiba-tiba saja gawainya bergetar.
Danish rogoh saku jasnya. Dan rupanya, sang Ayah lah yang tengah melakukan panggilan video padanya.
Danish melirik Ibunya sekilas. Meksipun ia tahu sedalam apa luka yang di rasakan sang Ibu, tapi, sebagai anak ia tak ingin Ibunya semakin terlihat sakit hati dengan ia menerima panggilan Tuan Pandu.
"Kok nggak di angkat, Dan?" tegur Bu Ana meskipun matanya masih begitu jeli pada layar gawainya.
Danish kembali menoleh sebatas bahu, "Jimy pasti sudah menunggu Danish, Mah! Udah, biarin aja."
Padahal, nyatanya, Danish hanya tidak ingin menambah beban pikiran sang Ibu kembali. Sudah cukup luka yang Tuan Pandu torehkan. Sebagai putra pertama, Danish cukup menyimpan rahasia itu selama ini.
Dan pantas saja sang Ayah lebih sering berada di luar kota dari pada hidup rukun bersama anak Istrinya di rumah. Ternyata, selama ini Tuan Pandu sudah memiliki keluarga tersendiri di Jakarta. Kenyataan pahit itu terungkap, ketika Danish dalam perjalanan bisnis 7tahun yang lalu.
Pada saat itu....
Projek pertama Danish yang ia ambil di usia 25 tahun pertamanya. Mewakili perusahaan Ibunya, Danish di temani tangan kanan Bu Ana-Pak Rahmad, kini sedang berada di sebuah resto ternama, tengah menunggu rekan bisnisnya yang akan mengajaknya berkolaborasi menggarap resort terbaru yang akan mereka bangun di dekat Ancol.
Sebelum Danish dan Pak Rahmad memasuki ruangan privat. Tiba-tiba saja Danish di kejutkan dengan sebuah pemandangan luar biasa di sudut ruangan terbuka, yang sukses merajam hatinya.
Di sana, orang yang ia anggap sebagai sosok pahlawannya. Tumpuan hidupnya beserta sang adik-adik, kini rupanya sedang asik memeriahkan sebuah pesta ulang tahun seorang gadis kecil berusia 5 tahun.
Dalam dekorasi balon tertulis, "Happy Birthday Jelina putri dari Bapak Pandu dan Ibu Lusi yang ke-5 tahun" di sisi layar bewarna merah.
Dada Danish sudah berdentum kuat, hingga membuat kepalan tanganya menunjukan otot biru yang menonjol. Dan tanpa aba-aba, pria dengan tinggi 185cm itu bergegas mendekat.
Pak Rahmad belum tahu. Pandanganya masih sibuk menelisik sebuah dokumen yang ia baca kini. "Danish, kamu nanti harus mempelajari poin pertama ini-" kalimat itu menggantung ketika Pak Rahmad menoleh, dan putra Bosnya tidak ada disana. "Loh? Keman-"
Baru saja mulutnya terbuka, Pak Rahmad juga tak kalah tersentak melihat Danish tengah menghampiri Papahnya disebrang.
"Ya Allah... Gawat, ini? Itu Tuan Pandu 'kan?" Pak Rahmad bergegas untuk menghampiri Danish disana.