NovelToon NovelToon
Istri Sementara Di Bawah Hujan Luka

Istri Sementara Di Bawah Hujan Luka

Status: sedang berlangsung
Genre:Nikah Kontrak / CEO / Balas Dendam
Popularitas:8.4k
Nilai: 5
Nama Author: Eireyynezkim

Di malam ketika hujan mengguyur tanpa ampun, Raya diusir dari rumah yang dulu ia sebut surga. Suaminya menolak kehadirannya hanya karena ia tak mampu memenuhi harapan keluarga—seorang anak laki-laki. Dengan hati hancur dan tubuh gemetar, Raya berjalan tanpa tujuan hingga akhirnya tersungkur di trotoar. Di ambang putus asa, sebuah mobil berhenti di depannya. Pria asing bernama Arya menawarkan sesuatu yang terdengar tak masuk akal: sebuah pernikahan pura-pura sebagai solusi bagi masalah mereka masing-masing.
Arya membutuhkan seorang istri untuk meredam tekanan keluarganya, sementara Raya membutuhkan tempat berlindung dari dunia yang telah menolaknya. Tanpa cinta, tanpa janji manis, hanya sebuah kesepakatan dingin yang mengikat dua jiwa terluka. Namun di balik perjanjian tanpa perasaan itu, perlahan mereka mulai menemukan kehangatan yang tak direncanakan. Dari hubungan yang semula sekadar sandiwara, tumbuh benih perasaan yang menguji batas antara kewajiban dan cinta sejati.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Eireyynezkim, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

32

Langit sore tampak mendung ketika Daffa memarkir mobilnya di basement apartemen mewah yang dihuni Lestari. Nafasnya berat. Ia merasa dadanya sesak. Pertengkaran dengan Laras, tangisan anak yang tak berhenti, dan suara keras pintu kamar yang tadi dibantingnya kini menggema kembali dalam pikirannya.

Tanpa pikir panjang, ia melangkah masuk ke lobi dan menekan tombol lift menuju lantai lima lantai tempat adik perempuannya tinggal. Namun, saat tiba di depan pintu apartemen, ia mendapati kenyataan Lestari tidak ada di tempat. Pintu terkunci. Hening.

Daffa mencoba menelepon. Sekali. Dua kali. Tak ada jawaban.

"Kenapa sih HP-nya mati?" geramnya sambil membanting tubuhnya ke sofa di ruang tunggu lobi.

Ia menunggu hampir satu jam. Saat hendak turun untuk mencari kopi di minimarket terdekat, matanya terpaku pada sosok wanita yang baru saja turun dari mobil sedan hitam mengilap di depan lobi. Langkah Lestari tampak santai, tapi senyum di wajahnya segera lenyap saat melihat kakaknya berdiri di depan pintu masuk dengan wajah gelap dan rahang mengeras.

"Lestari!" panggil Daffa lantang.

Lestari tertegun. Ia menoleh cepat ke arah mobil yang baru saja pergi. Raut wajahnya berubah gugup.

"Kak? Kakak ngapain di sini?"

Daffa menatapnya tajam. "Aku yang harusnya tanya. Itu siapa yang baru nganter kamu barusan? Itu bukan Pak Yandris, kan?"

Lestari mendengus, menyilangkan tangan di dada. "Bukan urusan Kakak. Lagian Kakak ngapain repot-repot ngintilin aku segala?"

"Lestari! Aku udah bilang dari dulu, jangan main api di belakang Pak Yandris. Kamu pikir dia nggak tahu? Dia itu bukan orang sembarangan. Mata-matanya ada di mana-mana!"

"Tenang aja... Aku bukan anak kecil, Kak. Aku tahu apa yang aku lakukan." Lestari melengos santai, membuka pintu apartemennya. "Kalau aku cuma ngandelin duit dari Pak Yandris, sampai tua pun aku nggak akan bisa punya gaya hidup kayak sekarang. Kakak juga tahu, aku punya selera mahal."

Daffa mendorong pintu dan masuk bersamanya. Wajahnya masih muram, geram menahan amarah.

"Jangan sok tahu kamu, Les! Kamu pikir kalau dia tahu kamu selingkuh, kamu cuma bakal ditinggalin gitu aja? Salah besar! Dia itu kejam! Dia nggak main-main. Kalau kamu ketahuan... dia bisa habisin kamu!"

Lestari menegang sejenak. Wajah cantiknya mulai kehilangan warna. Tapi secepat itu pula ia menepis kekhawatirannya dan mencibir.

"Kakak cuma nakut-nakutin aku. Aku nggak sebodoh itu kok. Lagian kalau emang 'selesai' sama Pak Yandris, ya udah. Aku masih punya cadangan lain. Nggak satu-satunya dia doang, kan?" ucapnya sambil duduk di sofa, berusaha santai.

Daffa berdiri mematung. Matanya membelalak, rahangnya mengeras.

"Astaga, Lestari... kamu pikir ini mainan? Kamu pikir hidupmu bisa kamu backup kayak file komputer? Sekali kamu kena batunya, kamu nggak bakal bisa balik lagi!"

"Kakak terlalu lebay. Aku tahu batasannya."

"Kamu pikir dia nggak bisa sewa orang buat habisin kamu di jalan?! Kamu pikir kamu bisa kabur seenaknya?!"

Nada suara Daffa meninggi. Lestari berdiri, menyilangkan tangan dan mencoba melawan dengan nada lebih tinggi.

"Kenapa sih Kakak jadi sok jadi pelindung? Mau bilang apa? Aku perempuan nggak bermoral? Jangan munafik deh. Kakak juga bukan suami yang baik buat Laras!"

Daffa terdiam. Hening sejenak memenuhi ruangan itu. Hanya suara AC yang terdengar.

Lestari menghela napas dan melonggarkan nada suaranya.

"Ngomong-ngomong, Kakak ke sini mau apa sih sebenarnya? Jangan-jangan habis berantem sama istri ya?"

Daffa menarik napas panjang, duduk di kursi seberang.

"Aku butuh tempat tenang. Di rumah, Laras terus nyalahin aku. Bayi nangis terus, uang belanja ditanyain, padahal aku capek. Kepala rasanya mau pecah."

Lestari hanya mengangkat alis.

"Oh... jadi kamu ke sini buat ngeluh, bukan ngancem aku? Harusnya dari tadi bilang gitu. Aku juga capek. Aku mau istirahat. Silakan duduk, tapi jangan ganggu aku."

Daffa menyandarkan kepala ke belakang sofa, menutup mata.

"Kita berdua sama-sama capek, ya... tapi kayaknya hidup kita ini kayak nunggu bom waktu meledak."

Lestari bangkit, menuju kamar sambil melontarkan kalimat terakhirnya.

"Ya... tinggal nunggu siapa yang duluan hancur. Kakak atau aku. Tapi aku janji, aku nggak akan kalah."

Pagi itu rumah keluarga Atmajaya tampak begitu sibuk. Para pekerja lalu-lalang di halaman rumah, mengatur meja, mendirikan tenda putih berhiaskan dekorasi biru langit yang lembut dan elegan. Aroma masakan dari dapur menguar ke seluruh penjuru rumah-wangi kaldu kambing, nasi kebuli, dan kue-kue khas acara syukuran menggoda setiap yang mencium.

Di ruang tengah, Bu Atika tampak sibuk mengatur sesajen akikah sambil sesekali tersenyum bahagia. Pak Harun dengan bangga menunjukkan foto cucunya kepada tamu yang sudah lebih dulu datang. Hari ini adalah hari yang istimewa. Hari akikah bagi Khalif Azka Atmajaya, bayi mungil yang baru beberapa hari lalu lahir dan sudah menjadi pusat dunia mereka.

Raya berdiri di ambang pintu, memandangi semua itu dengan mata berkaca-kaca. Ia menggenggam erat boneka kecil di tangannya. Tak pernah ia menyangka bahwa dirinya yang dulu terlunta, kini berada di tengah keluarga besar yang menyambut kehadirannya dengan tangan terbuka.

"Kamu kenapa diem aja di situ?" suara Arya terdengar lembut dari belakangnya.

Raya menoleh dan tersenyum. "Aku cuma... terharu. Nggak nyangka semua ini buat Alif. Semua orang rumah antusias banget. Bahkan Bapak dan Ibu..." Matanya kembali berkaca.

Arya mendekat, menggenggam tangan Raya lalu menuntunnya duduk di bangku taman depan. Suara riuh pekerja terdengar samar dari kejauhan, tapi di tempat itu hanya ada mereka berdua dan semilir angin pagi yang sejuk.

"Kamu pikir anak kamu nggak layak disambut semeriah ini?" tanya Arya dengan nada menggoda.

Raya tersenyum, lalu berkata pelan, "Aku cuma... takut merepotkan. Apalagi kamu... sejak Alif pulang ke rumah, kamu jadi jarang banget ke kantor. Aku jadi nggak enak hati."

Arya tertawa renyah, menatap Raya dengan wajah santai.

"Raya... aku ini bosnya. Mau ke kantor atau nggak, itu suka-suka aku. Lagian, perusahaan nggak bakal bangkrut cuma gara-gara aku peluk Alif seminggu penuh."

Raya tersenyum polos. "Tapi kalau kamu terus-terusan di rumah, nanti karyawannya bingung. Terus, kalau perusahaan bangkrut beneran gimana?"

Arya tergelak, lalu memukul pelan bahu Raya.

"Denger ya, Ibunda Khalif... kerja itu bukan soal duduk di meja kantor dan pakai dasi. Aku bisa kerja dari rumah. Semuanya digital. Meeting tinggal Zoom, tanda tangan tinggal klik, laporan tinggal baca dari tablet. Dunia udah canggih."

Raya melirik Arya dengan penasaran. "Beneran bisa ya kerja dari rumah? Tapi kamu kok keliatan santai banget."

"Ya bisa dong! Makanya nanti aku ajarin kamu. Gimana caranya kamu bisa bantu aku, tanpa harus ninggalin Baby Alif. Kamu bisa tetap jadi ibu yang hebat sekaligus wanita cerdas. Gimana? Tertarik?"

Arya menatapnya dengan tatapan serius namun penuh kasih.

Raya terdiam sejenak, lalu mengangguk pelan.

"Kalau aku bisa bantu kamu, aku mau. Tapi jangan maksa aku belajar yang susah-susah dulu ya."

Arya tersenyum lebar. "Deal. Kita mulai dari yang ringan. Tapi kamu harus janji satu hal."

"Apa?" tanya Raya.

"Kalau aku kerja dari rumah, kamu yang siapin kopinya. Biar aku tidak ngantuk."

Raya tertawa geli sambil menepuk bahu Arya.

"Huh, modus. Tapi ya udah, aku terima tantangannya."

Tak lama wajah Arya berubah serius. "Kamu memang harus belajar banyak Raya. Karena lawan kamu adalah Daffa. Kamu harus jadi wanita yang penuh strategi dalam menjatuhkan lawan. Bermain cantik dengan hasil yang Waaoo."

"Iya, aku tahu itu. Daffa orang yang licik. 5 tahun aku menjadi bagian dari hidupnya. Cukuplah membuat aku mengenal dia."

Mendengar itu entah kenapa Arya merasa cemburu dengan Daffa.

"Tapi aku lebih baik darinya, tidak perlu menunggu 5 tahun kan?"

Raya mengernyitkan dahinya mendengar ucapan Arya. "Kamu kenapa ngomong kayak gitu? Cemburu? Hehehe."

"Siapa yang cemburu, sembarangan aja nuduhnya," protes Arya.

Mereka berdua tertawa bersama, mencairkan segala kekakuan. Tiba-tiba, dari dalam rumah terdengar suara tangisan bayi.

"Itu pasti Alif!" Raya langsung berdiri.

Tak lama, Bu Atika muncul dari balik pintu sambil menggendong bayi mungil itu. Wajahnya berseri-seri.

"Nih, mamanya Alif, bayinya udah nyariin kamu dari tadi!" goda Bu Atika sambil menyerahkan bayi itu ke Raya.

Raya dengan cekatan menerima Alif, menciumi pipi mungil anaknya yang hangat dan wangi. Arya mendekat, menyentuh jemari mungil anaknya dan mengelus kepala keduanya.

"Lihat, Alif... sebentar lagi kamu akan punya banyak tamu. Tapi tenang, Papa dan Mama selalu ada buat kamu.'

Raya menoleh ke Arya dan tersenyum lembut sambil berkata, "Terima kasih ya, udah buat aku ngerasa seperti perempuan paling beruntung di dunia."

"Bukan cuma kamu yang beruntung, Ra. Aku juga. Karena kamu dan Alif, aku tahu apa artinya pulang."

Dari kejauhan, suara tamu-tamu mulai berdatangan. Hari itu, rumah keluarga Atmajaya bukan hanya diramaikan oleh acara syukuran, tapi juga oleh cinta dan kehangatan yang tumbuh semakin kuat di antara mereka.

1
Ariany Sudjana
Arya ini bodoh sekali, baru juga kalang kabut kehilangan raya, sekarang sudah buka celah untuk jalang murahan masuk dan menghancurkan rumah tangga kamu dengan raya. kamu ga bisa jujur dengan raya, berarti kamu masih berharap rujuk lagi dengan Herlin, dasar ga tegas kamu Arya
Yeni Yeni: waoowwww.... 🤣🤣🤣kita lihat nanti😄
total 1 replies
Ariany Sudjana
ini ada pelacur murahan, Herlin, waspada terus yah Arya
Yeni Yeni
😄😄😄😄😄😄cerita nya luar biasa, cara penyampaian nya seperti obrolan sehari hari, beda author, beda cara penyampaian nya☺🤭
Iry: hehehe gitu deh😁🤗
total 1 replies
Yeni Yeni
iyalah raya menikah setelah akte cerai telah keluar... kalau tidak, mana mungkin bisa sah secara hukum negara
Yeni Yeni
bener ya author 10 bab Tiap-tiap hari sampai tamat... janjiiii😄
Yeni Yeni: 😍😍😍😍😍😍😍😍😍
total 2 replies
Yeni Yeni
author numpukin bab nih, sekian lama menunggu akhirnya.... 😄
Yeni Yeni
km ngumpulin bab author? saya jd geregetan nunggu nya. sekali muncul langsung 8bab🤭☺☺
Yeni Yeni: ☺☺☺☺☺☺☺☺☺☺☺
total 2 replies
Aviciena
ikutan dulu
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!