raja kegelapan dan ratu cahaya" 2 entitas yang tidak seharusnya bisa bersatu dan kekuatan yang seharusnya saling tolak menolak namun dikalahkan oleh takdir yang berjalan secara mutlak...menjalin sebuah cinta yang membuat kesucian cahaya menjadi dianggap najis dan kekejaman kegelapan dianggap lemah karena hubungan yang mereka jalanii
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon fernan Do, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
riuh pasar dan harga sebuah tempat
Kota perbatasan yang terletak di pinggiran Lembah Aethelgard adalah tempat yang selalu hidup. Bau amis ikan, aroma rempah yang menyengat, serta suara teriakan para pedagang yang mempromosikan barang dagangan mereka menciptakan simfoni kekacauan yang sangat kontras dengan kesunyian hutan pinus tempat Ferdi menghajar para bandit tadi.
Ferdi menarik gerobaknya melewati gerbang batu kota. Meskipun ia berpakaian seperti petani biasa, postur tubuhnya yang tegak dan langkah kakinya yang berat namun tanpa suara membuat beberapa penjaga gerbang tanpa sadar menyingkir dan memberikan jalan. Ada sesuatu pada diri Ferdi yang secara alami menuntut ruang—sebuah gravitasi tak terlihat yang hanya dimiliki oleh mereka yang pernah berdiri di puncak piramida kekuasaan.
"Turunlah, Vani. Kita sudah sampai," ujar Ferdi lembut.
Vani melompat turun dari gerobak dengan lincah. Matanya berbinar melihat deretan kios yang penuh dengan kain warna-warni dan pernak-pernik mengkilap. "Akhirnya! Ferdi, kau jaga gerobak sayur ini di area dagang, aku akan mencari beberapa kebutuhan dapur. Jangan ke mana-mana dan jangan mencari gara-gara lagi!"
Ferdi hanya mengangguk pasrah. Ia membawa gerobaknya ke area khusus hasil bumi. Di sana, para tengkulak biasanya akan mendekat untuk menawar barang dalam jumlah besar.
Tak butuh waktu lama, seorang pria paruh baya dengan pakaian sutra yang agak ketat dan perut buncit mendekati Ferdi. Namanya Silas, tengkulak paling licin di pasar ini yang terkenal sering menekan harga petani desa sekecil mungkin.
"Wah, wah... sayuran yang luar biasa," Silas meraba sebuah tomat merah milik Ferdi dengan tangannya yang berminyak. "Segar, besar, dan tanpa cacat. Dari mana asalmu, Anak Muda? Aku tidak pernah melihat wajahmu di sini."
"Aethelgard," jawab Ferdi pendek.
"Aethelgard? Hutan terlarang itu? Pantas saja hasilnya sangat bagus, tanah di sana belum tersentuh sihir perang," Silas menyeringai, memperlihatkan gigi kuningnya. "Aku akan ambil semua ini. Lima keping perak untuk seluruh gerobak."
Ferdi terdiam sejenak. Ia bukan ahli ekonomi, tapi ia tahu harga itu bahkan tidak cukup untuk membeli satu kantong gandum kualitas menengah. "Harga pasar adalah dua puluh keping perak untuk kualitas seperti ini."
Silas tertawa meremehkan, suaranya sengaja dikeraskan agar pedagang lain mendengar. "Dua puluh? Kau bercanda? Kau hanya petani baru. Di pasar ini, aku yang menentukan harga. Terima lima perak atau kau tidak akan bisa menjual sayur-sayur ini ke siapa pun. Aku punya koneksi dengan penguasa kota."
Para petani di sekitar mulai berbisik, menatap Ferdi dengan rasa kasihan. Mereka tahu Silas adalah preman berkedok pedagang. Namun, mereka tidak tahu siapa yang sedang mereka hadapi.
Ferdi menatap Silas dengan pandangan datar. "Aku tidak peduli dengan koneksimu. Harganya dua puluh perak, atau kau bisa pergi dari hadapanku sebelum aku kehilangan kesabaran."
Silas merasa harga dirinya diinjak. Ia memberi kode pada dua pengawal pribadinya yang bertubuh besar untuk mendekat. "Kau pikir kau siapa? Berani menantangku di wilayahku sendiri?"
Tepat saat ketegangan memuncak, Vani kembali sambil membawa beberapa kantong belanjaan. Ia melihat kerumunan itu dan segera mendesah panjang. "Ferdi! Aku baru tinggal lima belas menit dan kau sudah dikelilingi orang-orang yang mencari mati lagi?"
Silas menoleh dan tertegun melihat kecantikan Vani. "Oh, jadi ini istrimu? Mungkin kita bisa bernegosiasi dengan cara lain. Jika istrimu mau menemaniku minum di kedai, aku akan memberimu sepuluh perak."
Suasana di area itu mendadak menjadi sangat dingin. Benar-benar dingin. Ferdi tidak bergerak, tapi aura yang ia lepaskan membuat Silas gemetar hebat secara mendadak. Gelas air di meja pedagang sebelah retak seketika.
"Vani," suara Ferdi sangat rendah, hampir seperti geraman harimau. "Berapa lama kau butuh waktu untuk memilih kain?"
"Hanya sepuluh menit lagi, kenapa?" tanya Vani polos.
"Pergilah. Selesaikan belanjamu. Aku akan menyelesaikan... transaksi ini."
Negosiasi di Balik Kios
Vani yang sudah hafal tabiat Ferdi hanya mengangkat bahu. "Jangan patahkan tangan mereka, Ferdi. Kita butuh uangnya untuk beli gorden."
Setelah Vani pergi, Ferdi melangkah maju. Satu langkahnya membuat dua pengawal Silas mundur tiga langkah secara otomatis karena insting bertahan hidup mereka berteriak kencang. Ferdi meraih kerah baju Silas dengan sangat pelan, namun terasa seperti cengkeraman maut.
"Kau ingin istriku menemanimu minum?" tanya Ferdi. "Tahukah kau? Dulu, seorang raja pernah mengatakan hal serupa padaku. Keesokan harinya, kerajaannya tinggal sejarah."
Silas tidak bisa bicara. Lidahnya kelu. Ia merasa seperti sedang menatap lubang hitam yang siap menelannya bulat-bulat. Ia melihat mata Ferdi yang sejenak berkilat dengan warna merah gelap yang mengerikan.
"Dua puluh perak," ujar Ferdi dingin.
Silas dengan tangan gemetar merogoh kantongnya. Ia mengeluarkan satu kantong penuh keping emas, bukan perak. "I-ini... ambil semuanya! Tolong... biarkan aku pergi!"
Ferdi melepaskan kerah bajunya. Ia mengambil dua puluh perak saja dari kantong itu dan melempar sisanya ke wajah Silas. "Aku bukan perampok. Aku hanya penjual sayur. Sekarang pergi sebelum aku merubah pikiran."
Silas dan pengawalnya lari terbirit-birit, bahkan mereka sampai menabrak beberapa tumpukan peti kosong karena panik. Seluruh pasar mendadak hening. Mereka menatap Ferdi dengan rasa takut dan hormat yang campur aduk.
Beberapa saat kemudian, Vani kembali dengan wajah ceria, membawa gulungan kain merah dan beberapa bumbu langka. "Sudah selesai! Bagaimana transaksinya?"
Ferdi menyerahkan kantong perak itu. "Dua puluh perak. Dia sangat kooperatif."
Vani tersenyum lebar. "Bagus! Nah, janji adalah janji. Ayo cari es krim madu!"
Mereka berjalan ke kedai es krim di sudut pasar. Vani memesan dua porsi besar dengan tambahan sarang lebah di atasnya. Saat mereka duduk di bangku kayu di bawah pohon rindang, Vani mulai bercerita tentang betapa indahnya kain yang ia beli.
"Rumah kita akan jadi yang paling cantik di lembah, Ferdi. Aku akan memasang gorden ini di jendela kamar utama, lalu kita bisa menanam bunga lili di depan teras," Vani berceloteh sambil menyuapkan es krim ke mulutnya, sedikit krim menempel di sudut bibirnya.
Ferdi memerhatikannya dengan tatapan lembut. Ia mengambil sapu tangan dan menyeka bibir Vani.
"Apapun yang kau suka, Vani."
"Kau tahu, Ferdi..." Vani terdiam sejenak, menatap kerumunan orang di pasar. "Dulu saat aku masih di istana Luxeria, aku punya segalanya. Emas, pelayan, pakaian mewah. Tapi aku tidak pernah merasa sedamai ini. Makan es krim di pinggir pasar dengan seorang petani kaku sepertimu ternyata jauh lebih berharga."
Ferdi menggenggam tangan Vani. "Aku juga. Menghancurkan musuh memberiku kepuasan sesaat, tapi melihatmu tersenyum karena es krim... itu memberiku tujuan hidup."
Vani tersipu, wajahnya merah padam. "Ih! Kau belajar gombal dari mana? Jangan-jangan kau diam-diam membaca buku puisi di perpustakaan desa ya?"
"Mungkin," jawab Ferdi dengan senyum tipis yang jarang ia perlihatkan.
Tiba-tiba, seorang pria berpakaian hitam dengan jubah tertutup lewat di dekat mereka. Pria itu berhenti sejenak, melirik ke arah Ferdi, lalu membungkuk sedikit sebelum melanjutkan perjalanannya dengan sangat cepat.
Ferdi menyipitkan matanya. Ia mengenali hawa keberadaan itu. Itu adalah salah satu bayangan dari Dunia Bawah.
"Ada apa?" tanya Vani menyadari perubahan ekspresi Ferdi.
"Tidak ada. Hanya debu di mataku," jawab Ferdi berbohong. Ia tahu, ketenangannya mungkin tidak akan bertahan lama. Irfan, Sang Raja Neraka, sepertinya sudah mulai mengendus keberadaannya.
"Ayo pulang, Vani. Matahari sudah mulai turun. Kita harus menyiapkan makan malam," ajak Ferdi sambil berdiri.
Mereka pun berjalan meninggalkan pasar, menarik gerobak yang kini kosong namun penuh dengan barang belanjaan baru. Di belakang mereka,
penduduk pasar masih membicarakan "Petani Misterius" yang membuat Silas si sombong lari ketakutan. Mereka tidak tahu bahwa hari itu, mereka baru saja menyaksikan salah satu makhluk terkuat di alam semesta sedang menikmati kencan sederhana dengan istrinya.