NovelToon NovelToon
Reinkarnasi CEO Ke Dunia Murim

Reinkarnasi CEO Ke Dunia Murim

Status: sedang berlangsung
Genre:CEO / Balas dendam dan Kelahiran Kembali / Cintapertama
Popularitas:2.3k
Nilai: 5
Nama Author: Saundra Handara

Wei Chen, CEO perusahaan teknologi dan energi terkemuka di Asia Tenggara, mati di usia 40 tahun karena diracun oleh rekan bisnisnya sendiri, Hartono Lim — orang yang selama 15 tahun ia percayai.

Namun takdir berkata lain. Wei Chen terbangun di tubuh seorang pemuda di dunia asing: Shenzhou, dunia Murim yang dihuni para kultivator, pedang terbang, dan klan-klan besar yang menguasai segalanya.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Saundra Handara, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

PERSIAPAN AKHIR SEBELUM BADAI

Tiga hari setelah serangan malam itu...

Desa Qinghe perlahan bangkit dari keterpurukan.

Pagar kayu yang hancur kini diganti dengan yang lebih kokoh — bukan bambu lagi, tapi kayu ulin yang didatangkan dari utara, bekerja sama dengan Klan Naga Hitam. Tebalnya dua kali lipat, tingginya mencapai lima meter. Di empat sudut, menara pengawas baru menjulang, dengan pos jaga 24 jam.

Pos jaga utara, selatan, timur, dan barat kini masing-masing dijaga 10 orang bergantian. Mereka bukan lagi pemuda desa dengan latihan seadanya, tapi pasukan terlatih di bawah komando Pak Roto dan Guru Anta.

Wei Chen berdiri di menara utara, mengamati hamparan sawah di bawah. Matanya awas, mencari gerakan mencurigakan. Tapi yang terlihat hanya para petani yang kembali bekerja, dan anak-anak yang bermain di pematang.

Lim Xiu naik ke menara, membawa dua cangkir teh. Wajahnya lelah, tapi matanya bersinar.

"Wei, laporan dari semua pos sudah masuk. Semua aman."

Wei Chen mengangguk, mengambil teh. "Bagaimana persediaan senjata?"

"Lampu ledak sudah kita produksi 200 buah. Cukup untuk dua kali serangan besar." Lim Xiu menyesap tehnya. "Tapi Guru Anta bilang, jangan terlalu bergantung pada itu. Ledakannya tidak bisa membunuh kultivator level tinggi."

"Aku tahu." Wei Chen menatap kejauhan. "Tapi setidaknya bisa bikin kacau."

Lim Xiu menghela napas. "Wei, kau yakin Hartono akan datang lagi?"

"Pasti." Suara Wei Chen datar, tapi pasti. "Dia sudah kalah dua kali. Harga dirinya tidak akan membiarkan itu."

"Tapi 500 orang? Itu setengah dari penduduk desa kita."

"Bukan penduduk yang akan bertarung, tapi pasukan kita." Wei Chen menoleh. "Berapa sekarang?"

"80 orang. 50 pemuda desa, 30 dari desa tetangga yang minta bergabung." Lim Xiu tersenyum tipis. "Kabar kemenangan kita menyebar. Banyak yang kagum."

Wei Chen mengangguk. Itu kabar baik. Tapi 80 melawan 500 tetap tidak seimbang.

"Kita butuh bantuan klan," katanya.

"Klan Naga Hitam dan Klan Bunga Naga sudah kita hubungi. Mereka janji kirim 50 orang masing-masing." Lim Xiu mengeluarkan surat. "Tapi mereka minta imbalan."

"Apa?"

"Kontrak eksklusif untuk produk tertentu. Masing-masing beda."

Wei Chen membaca surat itu. Klan Naga Hitam minta hak eksklusif lampu qi untuk wilayah utara. Klan Bunga Naga minta hak eksklusif tungku hemat untuk wilayah selatan.

Mereka pintar. Memanfaatkan situasi.

"Setuju," kata Wei Chen.

Lim Xiu mengangkat alis. "Langsung? Tidak tawar?"

"Tidak punya waktu." Wei Chen menghela napas. "Yang penting mereka datang."

Lim Xiu mengangguk. "Baik. Aku kabari."

---

Sore harinya, Wei Chen pergi ke klinik Guru Anta.

Guru Anta sedang sibuk dengan ramuan-ramuannya, seperti biasa. Tapi kali ini, ada yang berbeda. Di sudut ruangan, terbaring seorang pria paruh baya dengan luka parah di sekujur tubuh.

"Siapa dia?" tanya Wei Chen.

"Pengungsi dari utara." Guru Anta menghela napas. "Katanya, desanya dihancurkan pasukan Hartono. Dia satu-satunya selamat."

Wei Chen mendekat. Pria itu terbaring lemah, napasnya tersengal. Matanya terbuka sedikit, melihat Wei Chen.

"Kau... pemimpin di sini?" suaranya serak.

Wei Chen mengangguk.

"Hartono... dia kejam. Desaku... habis." Air mata mengalir di pipinya. "Istriku, anakku... mati semua."

Wei Chen diam. Dadanya perih.

"Dia bilang... kalau tidak mau gabung kartelnya, akan dihancurkan." Pria itu terisak. "Kami tolak... lihat sendiri jadinya."

Wei Chen memegang tangannya. "Kau selamat. Istirahat."

Pria itu mengangguk lemah. Lalu tertidur.

Wei Chen berdiri. Menatap Guru Anta.

"Ini sudah di luar bisnis. Ini perang."

Guru Anta mengangguk. "Hartono tidak akan berhenti. Dia ingin kuasai seluruh timur."

"Aku tahu."

"Sekarang dia incar kita."

"Aku tahu."

Guru Anta menatapnya. "Kau masih yakin bisa menang?"

Wei Chen diam. Lalu, "Aku tidak punya pilihan."

---

Malam harinya, Wei Chen duduk di beranda bersama Mei Ling.

Bulan mulai muncul. Bintang-bintang bertaburan. Tapi malam ini tidak tenang. Angin berembus kencang, pertanda badai.

"Chen, pil itu... kapan aku bisa minum?"

Wei Chen menoleh. Mei Ling menatapnya dengan mata penuh harap.

"Guru Anta masih uji keamanannya. Mungkin minggu depan."

"Dan kalau berhasil... aku sembuh?"

"Mudah-mudahan."

Mei Ling tersenyum. Senyum yang membuat Wei Chen hangat.

"Kalau aku sembuh, aku mau bantu lebih banyak. Latihan kultivasi. Jadi kuat."

"Kau sudah kuat."

"Tidak sekuat kau." Mei Ling meraih tangannya. "Kau hadapi semua ini sendirian."

"Tidak sendiri. Ada kau. Ada Lim Xiu, Kakek Li, Guru Anta, warga desa." Wei Chen mengusap rambutnya. "Kita hadapi bersama."

Mei Ling memeluknya. "Aku takut, Chen."

"Aku juga."

"Tapi kita hadapi bersama?"

"Bersama."

Mereka berpelukan. Malam semakin larut. Tapi tidak ada yang mau tidur.

---

Di ibu kota, Hartono Lim bersiap.

Pasukan 500 orang sudah berkumpul. Kultivator level menengah, berpengalaman, bersenjata lengkap. Di depan mereka, Hartono berdiri di atas panggung, pidato berkobar-kobar.

"Kali ini, kita hancurkan mereka!" teriaknya. "Tidak ada yang selamat! Desa itu akan rata dengan tanah!"

Para prajurit berteriak. Semangat membara.

Mei Hua mendekat. "Tuan, semua sudah siap. Kita berangkat besok pagi."

Hartono mengangguk. "Bagus." Dia menatap ke arah timur. Ke arah Desa Qinghe.

Wei Chen... kau pikir bisa kau lawan aku?

Kau hanya CEO kecil. Aku Hartono Lim. Aku yang bunuh kau sekali, akan kubunuh lagi.

Dia tersenyum. Senyum predator.

Besok, semua berakhir.

---

Di Desa Qinghe, Wei Chen tidak bisa tidur.

Duduk di menara utara, mengawasi kegelapan. Pikirannya penuh.

500 pasukan. 80 pasukannya. 100 bantuan klan. Total 180. Masih kalah jumlah.

Tapi dia punya senjata rahasia. Lampu ledak. Jebakan di tiga jalur. Dan yang paling penting, semangat.

Orang-orangnya bertarung untuk rumah mereka. Keluarga mereka. Masa depan mereka.

Pasukan Hartono bertarung untuk uang.

Itu perbedaan besar.

Wei Chen memegang jepit rambut di sakunya. Hangat.

Besok, kita lihat siapa yang menang.

---

Chapter 35 END.

---

1
Jack Strom
Bikin puyeng, lawannya itu-itu saja... 😁
Jack Strom
Kill them all!!! 😁😛
Jack Strom
Sip!!! 😁
Jack Strom
Mantap!!! 😁
Jack Strom
Wow... Sangat mengharukan... 😁
Jeffie Firmansyah
cukup menghibur 👍💪
Jeffie Firmansyah
mulai tumbuh arti cinta
Jeffie Firmansyah
3 bab sudah di baca bagus natral💪
Jeffie Firmansyah: natural*
total 1 replies
Jeffie Firmansyah
3bab sdh di baca bagus alurnya natural semangat /Good/
Jeffie Firmansyah
sippp semangat Thor 💪💪💪
Jeffie Firmansyah
hadir gabung permulaan lumayan alur enak di baca semoga kedepannya tambah seru dan tdk ngegantung ceritanya karena lama update nya semangat Thor💪💪💪👍
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!